Senja, Antara Suka dan Duka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 3 December 2016

Kala itu, jarum di dinding tak bosannya memutarkan masa, ya masa dimana manusia kian dikejar waktu. Ada seorang pria, -ia baru berkepala dua- lihat jarum jam itu sembari menyandarkan bahu di atas permukaan dipan usang, ia pandanginya sekali-kali pandangan mata ini mengarah pada Pesona –elok nan rupawan- di luar sana. Pesona keindahan yang telah membuyarkan pandangannya terhadap jarum itu. Lantas, ia dengar getaran dari ponsel –yang semula ia taruh di atas toples- kecil. Seketika itu ia buka ponsel, ia dapati pesan, pesan yang mengisyaratkan hendak membawanya ke peraduan Pesona Elok itu. Ya, ternyata dugaannya tak bertepuk sebelah tangan. Ia ambil Kuda Merahnya, terbang menuju ke suatu tempat. Tempat dimana ia dapat dari pesan tempo kala itu. Sempat ia berpikir agak gila, barangkali pesan itu –yang ia tangkap dari lemparan seorang Teman- dikirim Malaikat dari-Nya. Setelah beberapa menit Kuda Merahnya menerbangkannya, tak selang beberapa lama, mereka pun mendarat dengan mulus. Ia pun meletakkannya sekejap, guna bersua dengan temannya –beserta temannya- di sudut keramaian kota kecil nan suci. Memang benar adanya, sebuah pitutur dari seorang Piyantun Mulia (red; Kiai), “bahwasanya silaturahmi itu akan mendatangkan sebuah rezeki.” Rezeki itu pun muncul tak terduga-duga sebelumnya.

Kembali ke perjumpaan tadi, disela-sela percakapan teman-teman dengan seorang Ibu Muda, seketika itu pun pandangannya memutarkan pada arah jauh nan tak berujung. Barangkali peristiwa elok itu yang ia dapati dengan keberuntungan. Bisa dibayangkan elok nan indahnya, pandangan yang sekejap menyita perhatian sang pemuda kala itu, berada di balik Rumah-Nya yang tampak penuh ramai dari orang bersembahyang. “Subhanallah, ayune nda, koyok widodari,” batinnya berkelakar dalam Bahasa Jawa. Pandangan mata pria berbadan tinggi itu pun beralih ke kiri tatkala ibu muda tadi bertanya padanya sembari menawarkan, “Badhe mileh nopo, Mas?,” tanyanya. Sontak ia pun menimpalinya dengan kaget, “Oh gih, niku mawon, Bu. Sate usus, Sate Bakso kaleh Bakwan,” sahutnya sembari menunjuki ke nampan-nampan tersebut.

Lantas, percakapan yang semula terputus mereka sambung sedikit, diselingi dengan pertunjukan penampakan fenomena bak lukisan alam dari Sang Pencipta. Rasa-rasanya seketika itu, batinnya bergejolak meningkahi keindahan lukisan-Nya. Ya bergejolak, “antara suka dan duka”.
Sang Ibu Muda yang sejak tadi telah menyiapkan kudapan yang ia pilih tadi, menawarinya kembali, “Mas, niki pedes nopo mboten?,” tawarnya. “Kedik mawon gih, Bu,” pintanya. Lalu, tawar-menawarpun berhenti sekejap. Setelah pesanan jadi, mereka berempat pun hendak melepaskan dudukan dari atas dipan kayu panjang. Perjumpaan –singkat nan berkesan- ini mungkin akan jadi kenangan kedepannya. Sembari mereka berpamitan dengan Ibu Muda serta Suami yang sejak tadi membantu di samping kanannya, mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu lantaran waktu itu sang Cakrawala telah memadamkan Pancaran kemerah-meronanya. Dengan saling berpisah satu sama lain, ia yang sedari perpisahan perjumpaaan tadi, terus setia menunggangi Kuda Merahnya kembali.

Dalam perjalanan pulang, ia dalam batin pun kembali bergejolak menafsirkan tiap-tiap peristiwa tadi, utamanya “Pesona Elok” yang sinarnya memancar dari ufuk barat. Ya menafsirkan, antara dua tafsiran. Pertama, dirinya gembira telah jadi saksi akan dahsyat nan luar biasa elok Lukisan-Nya. Kegembiraan yang cukup mengobati perasaan getir yang ia alami akhir-akhir ini. Kedua, dimana kontrak tinggalnya di dunia ini yang penuh dengan coretan hitam, telah berkurang. Serta ia pun semakin menua dengan tanpa ia sadari sendiri.

Kudus, 8 Agustus 2016

Cerpen Karangan: Muhammad Khoirul Faizin
Facebook: Muhammad Khoirul Faizin
Muhammad Khoirul Faizin, seorang mahasiswa semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di Kabupaten Kudus

Cerpen Senja, Antara Suka dan Duka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Orang Baru

Oleh:
Aku berjalan menyusurui gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu buah sepedah motor. Disini suasana cukup nyaman. Penduduknya hidup saling akur dan tentram. Tidak ada pembeda antara warga

Bersyukur Menuju Kebahagiaan

Oleh:
Di sebuah desa yang sangat jauh dari kota, dimana desa itu terletak di malang di jalur perjalanan gunung semeru yaitu desa ranu pane. Di desa ranu pane ini ada

Sandiwara Agustus

Oleh:
Pada sore hari terdengar langkah kaki yang menuju ke kamarku, pelan-pelan langkah kaki itu semakin dekat. Saat aku membuka mata, Ibu sudah ada di depan mataku. Aku menatap Ibu

Bidadari Dalam Mimpi (Part 2)

Oleh:
Benar-benar hari yang melelahkan pikirku. Setelah seharian aku berjuang demi proposal ku tersayang. Selepas shalat isya’ aku membaringkan tubuh ku yang sudah sangat lelah, tapi kali ini aku sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *