Stasiun Balapan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 31 January 2017

Helaan nafas seakan sesak, Rahma melangkah dengan penuh kesibukan yang akhir-akhir ini membuatnya tak bisa bernafas lega. “Ma, kamu mau mudik lebaran ini?”, “Pengennya sih gitu Dit, tapi nggak tahu apa kata ortu aja” Adit meletakkan setumpuk berkas di mejanya, “Kalau saran gue sih mending kamu mudik, apa kamu nggak pengen nostalgia ke Solo?” Rahma tersenyum, ia seakan ingin mengulas kembali kenangan masa lalunya.

“Ada apa toh mas? Kok aku disuruh kesini?”, “Rahma, aku mau bilang sesuatu sama kamu, aku cinta kamu, aku tresno awakmu. Gelem ora Rahma dadi pacarku?” Rahma terkejut memahami ucapan orang yang ada di depannya. Ia tak menyangka bahwa Ivan yang selama ini diam-diam ia simpan dalam hatinya ternyata juga menyukai dirinya “Lhaa terus orangtua kita gimana mas? Bukankah orangtuaku dan orangtua mas tidak pernah akur dan entah ada dendam apa di antara mereka?” jeda Rahma. “Wis lah, kita kan nggak pernah ikut campur urusan mereka jadi apa masalah kita?” Rahma pun tersenyum, ia menerima cinta Ivan dengan bahagia.

“Rahma…” sapa pak Dhody, “Hai kamu ngelamun?” ia melambaikan tangannya di depan wajah Rahma, “Eh.. ada apa pak?” sontak ia membereskan bajunya dan duduk dengan tegak, pak Dhody menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Kamu dipanggil sama pak Jhon di ruangannya”, “Oh iya” manajer menawan itu melangkah kembali ke ruangannya, “Ada apa, Ma?” tanya Adit penasaran, “Nggak” kali ini Adit mendekati meja Rahma, “Kayaknya itu manajer ada perhatian sama kamu”, “Apa’an coba?”, “Lihat aja, kalau dia cuma mau nyuruh kamu ke ruangannya atau ruang yang lain, dia kan bisa telepon nggak perlu repot-repot ke sini”, “Mungkin dia mau ke kantin atau baru dari kantin”, “Yang jelas dia dari ruangannya dan kembali lagi ke ruangannya”, “Terserah deh” Rahma beranjak dari meja kerjanya menuju ruangan Jhon yang sejatinya adalah kakak pertamanya.

Sebenarnya seusai kuliah, ayahnya telah mencalonkan dia sebagai direktur atau HRD di perusahaan itu, tetapi Rahma lebih memilih menjadi karyawati biasa yang ingin bekerja maksimal hingga ia bisa mendapatkan jabatan itu dengan hasil kerja kerasnya sendiri. “Kamu itu aneh, sudah enak bapak mau ngasih kamu posisi tinggi malah kamu nolak” protes mbak Anis suatu hari, “Aku nggak mau jadi anak manja mbak, aku mau kerja seperti orang lain dan mencapai prestasi yang aku harapkan”, “Iya tapi sampai kapan kamu akan bertahan, mas yakin dalam waktu dekat kamu akan mengeluh” ujar mas Jhon, “Rahma bukan type orang seperti itu mas, meski dari kecil kita hidup serba kecukupan, itu tidak membuat Rahma lupa cara berusaha”, “Mas setuju dik, mas yakin kamu akan mampu mencapai apa yang kamu inginkan” hanya mas Amir yang selama ini selalu menjadi dewa pembela Rahma. Tapi sayang kakak yang satu itu harus hilang dari pandangan karena mendapat tugas mengelola perusahaan ke dua milik ayah mereka yang ada di Solo.

Ruangan ber AC itu cukup mewah, Jhon nampak serius dengan layar monitor miliknya yang melaporkan keuntungan perusahaan akhir bulan ini meningkat hampir mencapai 67 persen. Rahma mengetuk pintu dengan sopan, “Masuk” Jhon sudah tahu siapa tamu yang ada di balik pintu itu, “Sudah berapa kali mas bilang, ndak usah terlalu kaku” Rahma duduk dengan tersenyum, “Tapi biar bagaimanapun Rahma kan bawahannya mas Jhon, jadi Rahma harus sopan agar mas Jhon simpati” tatapan nakal itu hadir, Jhon tersenyum dan mengacak-acak rambut adik cantiknya, “Mas, kebiasaan deh rambut Rahma jadi berantakan”, “Kamu kan bisa perbaiki lagi” dua kakak beradik itu saling melepas penat. Sebagai pimpinan utama dalam perusahaan pertama itu, Jhon tidak memiliki waktu untuk bercanda bersama adiknya di rumah. Begitu pula dengan mbak Anis yang juga menjadi ujung tombak perusahaan ketiga, bahkan untuk tersenyum saja ia harus menangis terharu. Hanya Rahma yang sepertinya amat santai menjalani pekerjaannya, oleh karena itu ia tidak ingin langsung menerima tawaran tertinggi yang baginya akan mengguras tenaga jika ia tidak memiliki pengalaman. “Hah? Serius mas aja guyon?”, “Serius Rahma, kamu lihat sendiri pesan mbak Anis dia bahkan sangat ingin berlibur”, “Kalau mas Amir ada waktu nggak?”, “Ya ada lah, dia kan yang jadi tuan rumah kita” Rahma tersenyum namun tak lama kemudian senyum itu surut, “Bapak sama Ibu ndak bisa ikut ya mas?” Jhon memasang wajah sendunya, “Mereka sedang ada urusan dik, mungkin tahun depan mereka baru bisa libur”, “Mas Jhon selalu mengatakan seperti itu, sama seperti tahun lalu waktu kita berempat ke Australia” Jhon merasakan tatapan kecewa itu, “Harusnya bapak sama ibu itu tinggal hidup enak, menikmati hasil kerja keras mereka bukan melancong lebih jauh seperti ini” setelah lama berbincang, Rahma pun kembali ke mejanya, “Ada apa, Ma?” lagi-lagi Adit, “Ada masalah, Dit?” Rahma memasang wajah sedihnya, “Ada masalah apa?”, “Aku lebaran ini mudik ke Solo” ia mengerlingkan matanya pada teman baik yang ia temukan di kampus beberapa tahun lalu, “Kamu paling bisa…” Rahma mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantor, “Aku sangat merindukanmu, Mas” ucapnya lirih.

Mereka berangkat berempat, bukan dengan supir atau pembantu, bukan juga dengan mas Amir karena kakak Rahma yang satu itu sudah menyiapkan keperluan mereka selama berada di Solo. Tapi mereka membawa Adit, iya karyawan satu itu sangat istimewa di keluarga Rahma karena beberapa tahun lalu semenjak di pisah dengan Ivan ke Jakarta. Rahma cenderung berubah menjadi sosok yang pendiam dan menutup diri, bahkan teman sekolah tidak ada yang betah dengannya padahal semasa SMP ia memiliki begitu banyak sahabat di Solo. Pada saat masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri, Adit menjadi orang pertama yang berhati sabar mendekati dan mencari tahu satu rahasia dalam diri gadis cantik itu. “Aku paham, kamu datang dengan sebuah luka masa lalu, tapi apa kamu akan terus menghancurkan hidup kamu dengan cara seperti ini?” kata itu menjadi pembuka jurus Adit, selanjutnya Rahma mulai terbuka pada sosok keren yang sempat menjadi idola kampus itu. Namun sayang, bagi Rahma sejak awal sampai kapanpun Adit akan tetap menjadi sahabatnya dan tidak akan lebih dari itu.

“Hey ngelamun, udah sampai” ucap Adit, “Loh mas Jhon sama mbak Anis kemana?”, “Udah masuk tuh” tatapan Rahma tertuju pada sebuah rumah yang tetap sama, rumah dimana ia menghabiskan masa kecil dan setengah remajanya di sini. Rumah yang membentuk pribadinya menjadi seorang yang lemah lembut. Halaman ini, bunga dan juga rerumputan hijau membentang bagai karpet indah. Kota Solo tetap menjadi salah satu tempat sejarahnya, ia ingin pergi ke tempat yang dulu sering ia kunjungi, “Kamu mau kemana, Rahma?”, “Aku mau jalan-jalan, boleh kan?”, “Sama Adit aja, kamu kasih tahu kalau kota kesayangan kamu ini indah” ujar mas Jhon, akhirnya Rahma mengajak Adit mengelilingi perkampungan yang tetap asri dan sejuk tanpa ada pengaruh polusi itu. Ia tiba di suatu tempat, taman sekolah yang kini berubah lebih indah dibanding pada masanya dahulu, “Ini sekolah kamu dulu?” Rahma mengangguk, satu hal yang tidak berubah adalah kursi dan kumpulan bunga Lili yang indah. “Rahma, aku nggak mau pisah sama kamu, aku sangat mencintai kamu Rahma” ucap Ivan, “Tapi keluarga kita nggak punya hubungan baik mas, aku ndak mau mas Ivan kenapa-napa”, “Rahma, aku percaya dengan kekuatan cinta, aku percaya dengan takdir yang akan menyatukan kita”, “Aku minta maaf mas, aku janji ndak akan maksa mas Ivan ngelupain aku” Rahma meneteskan air mata. “Kamu kenapa?” Adit yang melihat bulir bening itu merasa bingung, “Ah nggak kok, kamu laper nggak?”, “Lumayan sih, cari makan yuukk?” Rahma mengangguk.

Tidak berapa lama mereka tiba di sebuah café, “Kamu sering makan disini dulu?”, “Nggak, aku aja baru tahu kalau di kompleks ini ada café?” Rahma melihat tulisan di depan, “RahVan Café?” tulisan itu seperti ia kenal, tapi ia tidak ingin melamun lagi karena ia tahu Adit sudah jenuh menemaninya.

Rahma masuk ke kamar tanpa peduli respon kakaknya, bahkan saat mas Amir bertanya pun ia hanya tersenyum. Di kamar yang sama, ia menangis hingga sulit bernafas seolah ia tidak menyangkan kenyataan akan seperti ini. Rahma baru saja keluar dari kamar mandi, “Iya ini bisa kita jadikan event untuk menarik pengunjung ke café, kalau bisa beri mereka discount besar masa lebaran ini”, “Ivan?” mata bening itu menatap Rahma antara percaya dan tidak. Dua sejoli itu kembali melepas rindu setelah sekian lama berpisah, “Aku minta maaf Rahma”, “Minta maaf? Untuk apa Mas?” belum sempat Ivan membuka mulut, seorang gadis kecil menghampirinya, “Papa, atu tudah bita naik tepeda roda empat” gadis itu mengleyot di pangkuan Ivan, “Mas?” Ivan seolah takut mengatakan yang sebenarnya, “Iya Rahma, aku sudah menikah tiga tahun yang lalu setelah wisuda di perguruan tinggi” tanpa perduli angin dan hujan, Rahma berlari keluar dengan ketidakpercayaannya. “Dik Rahma kenapa, buka pintunya mas mau ngomong” suara mas Amir begitu khas, Rahma pun membuka pintu dan membiarkan mas Amir masuk. Sejak dulu Rahma lebih dekat dengan mas Amir, karena pria yang satu itu selalu membela dan mengerti bagaimana posisinya. “Dik Rahma kenapa, tadi Adit bilang kalian ke café baru tapi kamu belum sempat makan” Rahma menatap mata itu, “Katanya kamu ke toilet tapi habis itu kamu keluar tanpa peduli ada Adit di sana, ada apa toh?”, “Mas Amir tahu café RahVan yang ada di jalan poros itu?”, “Iya tahu, itu café berdiri sekitar enam tahun yang lalu”, “Mas Amir tahu siapa pemiliknya?” yang ditanya hanya menghela nafas, “Itu café milik Ivan”, “Mas Amir juga tahu kalau Ivan sudah berkeluarga?” kali ini mas Amir mengangguk, itu sebuah pukulan yang amat dalam untuk Rahma, “Kenapa mas Amir nggak pernah bilang tentang itu pada Rahma, kenapa setiap Rahma tanya tentang Ivan mas selalu menyembunyikan dan mengalihkan pembicaraan” kali ini air mata Rahma kembali membanjir, “Kenapa mas Amir begitu tega, kenapa mas kenapa?” mas Amir memeluk adik kesayangannya, ia merasa bingung harus mengatakan apa karena selama ini ia ingin adik kesayangannya melupakan masa lalu yang keluarga mereka tidak kehendaki.

Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Rahma, ia pergi ke Stasiun Balapan yang dulu menjadi saksi cintanya dengan Ivan. “Aku ndak pernah menyangka mas, kamu akan mengkhianati cinta kita” Rahma kembali melayangkan lamunannya. “Rahma…” suara teriakan yang ia kenal membuat Rahma berpaling dan mencari sumber suara. Ternyata suara itu milik Ivan, tanpa mempedulikan orang lain dua sejoli itu berpelukan dan mengucap kata perpisahan. Setelah beberapa lama akhirnya jam keberangkatan Rahma pun tiba, mas Amir menggandeng tangan Rahma untuk segera menaiki kereta. Kini genggaman tangan Rahma mulai merenggang dan akhirnya terlepas dari tangan Ivan, mereka hanya bisa melambaikan tangan masing-masing. Air mata Rahma kembali mengalir bak bendungan yang jebol, “Aku mencintaimu mas, aku rela melakukan apapun demi menjaga cinta kita tetapi kamu yang tidak bisa menjaganya” Rahma merentangkan tangannya, ia berdiri di tengah rel kereta dengan selembar kertas yang selalu ia bawa kemanapun ia berada. Kertas itu terbang tertiup angin, beberapa detik kemudian tubuh itu hancur membiarkan kereta api menggilasnya dengan cepat. Mas Amir yang telah susah payah membujuk Ivan akhirnya berhasil mengajaknya menemui Rahma di Stasiun kenangan mereka, namun kedatangannya terlambat. Sudah banyak orang berkumpul membereskan tubuh Rahma, “Sepuntene Pak, wonten napa?” tanya mas Amir, “Anu dik, ana cah wadon bunuh diri”, “Bunuh diri?” sontak Ivan berlari memecah kerumunan orang yang sibuk memotret gambar Rahma yang hampir hancur. Ivan mengangkat kepala itu perlahan, “Rahma, apa yang kamu lakukan?” Ivan tak kuasa menahan air matanya, “Mas…” suara Rahma terdengar menyayat hati, “Aku di sini Rahma, aku mencintaimu dan aku tidak pernah mengkhianati cinta kita”, “Mas…” kali ini mas Amir ikut menangis, “Aku belum menikah, itu keponakanku yang biasa memanggilku dengan sebutan Papa. Aku minta maaf Rahma, aku benar-benar minta maaf”, “Aku… men..cintai..mu.. mas”, “Iya Rahma, kita akan bersama dan aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi” Rahma memaksa seulas senyum, “Ba..hag..ialah… tan..pa.. aku”, “Tidak Rahma, kebahagiaanku hanya bersamamu dan aku sengaja menamai café itu dengan nama kita berdua Rah dan Van” tapi sia-sia saja Ivan menjelaskan, Rahma telah mengambil hembusan nafas terakhirnya.

Penyesalan selalu datang di belakang, Ivan merasa sangat bersalah atas kepergian Rahma yang begitu tragis. “Apa yang kamu fikirkan saat itu, kenapa begitu tega kamu membuatnya sakit hati” Adit terpancing emosi, bagaimana pun juga Rahma pernah menjadi bidadari hatinya meski cinta itu tak terbalas. “Aku kira dengan begitu bisa membuatnya melupakan aku, mas Amir pernah bercerita bahwa Rahma bisa tersenyum sejak kamu menjadi sahabatnya”, “Kita hanya berteman” Adit menghela nafas, “Walau aku sangat mencintainya, Rahma tidak pernah bisa menerimaku seperti dia menerimamu karena baginya kamu adalah satu-satunya orang yang begitu dicintainya”, “Tapi keluarga kami tak pernah akur, keluarga kami tak pernah sejalan”, “Urusan keluarga itu di belakang, jika seorang anak sakit maka orangtua juga akan merasakan sakit itu” tak ada gunanya Adit meluapkan emosi pada Ivan. Ia berpamitan setelah meminta maaf dan memeluk cinta sejati Rahma, mereka menganggap mungkin ini sudah jalan takdir yang tertulis. Ivan menatap bahu Adit yang semakin menjauh, ia mengambil secarik kertas yang ia temukan di Stasiun.

“Janji lunga mung sedelo, jare sewulan ra ana… Lali apa pancen ngelali… Yen eling mbok enggal bali… Janji lunga mung sedelo, jare sewulan ra ana… Pamitmu nalika semana ning Stasiun Balapan Solo”

Cerpen Karangan: Ikke Nur Vita Sari
Facebook: Ikke N Vita Sari

Cerpen Stasiun Balapan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Penantian

Oleh:
“Kakak…” sapa seorang wanita dengan raut wajah yang bahagia. “Ya ampun.. Sisil, bikin kaget aja deh lo, kalo mau masuk ketok pintu dulu donk” ucap Rachel kepada wanita tersebut.

Dunia Satu Warna

Oleh:
Debur ombak malam di tepi lautan masih menusuki pori-pori kulit. Gadis mungil itu merapatkan jaket tebal yang dirasa masih kurang. Lelehan air mata telah mengering memoles wajah pucat tanpa

Cinta Yang Tak Terucap

Oleh:
Aku adalah seorang murid yang sering membuat masalah di sekolah. Sering kali, aku bolos sekolah. Teman-temanku memanggilku Irfan. Pagi yang cerah, langit berwarna biru. Mentari menyinari dunia dengan hangat.

Menjadi Pelampiasan Sementara

Oleh:
Ini cerita waktu menjelang akhir semester 1 kelas xii, tak kusangka akhir-akhir ini pertemana kami semakin dekat meskipun kami beda sekolah aku dan mira 1 sekolah tapi kalau dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *