Stasiun Balapan

Judul Cerpen Stasiun Balapan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa
Lolos moderasi pada: 13 August 2016

“Ning Stasiun Balapan Kuto solo sing dadi kenangan kowe karo aku… nalika ngeterke lungamu..” lagu milik Didi Kempot itu yang menjadi lambang utama Stasiun Balapan, Solo. Di Solo, Rahma lahir dan menetap sampai ia berusia 14 tahun, baginya kota Solo adalah kota yang paling indah dan penuh dengan sopan santun. Begitupun dengan bahasa yang dipakai masih bahasa jawa krama, Rahma terlahir di keluarga ningrat yang mewah, ayah dan ibunya berbisnis kesana kemari dan jarang berdiam di rumah. Hanya ia dan ketiga saudaranya yang selalu menjaga rumah, mereka adalah mas Jhon, mas Amir dan mbak Anis yang selalu menjadi kakak terbaik yang membimbing dan menjaga Rahma selama orangtuanya ke luar kota.

Malam ini Rahma duduk menyendiri di teras rumah, “Nduk arep ngapa toh ning njaba dewean?”, “Mboten wonten mbak, kulo badhe ngeces!!”, “Oh iyo wes mengko nek kadhemen enggal mlebu yo, ora pantes perawan ning njaba bengi-bengi”, “Inggih mbak”. Rahma memang anak yang patuh, ia tidak pernah sekalipun membantah kakak-kakaknya. “Dhek Rahma ana apa toh kok yo di luar sendirian?” ucap mas Amir yang baru saja pulang kerja. “Mboten mas niki loh kulo ngeces, cari angin gitu kalau bahasanya mas Amir”, “Oh, mbak Anis ada?”, “Ana mas teng wengkeng”. Mas Amir adalah mahasiswa fakultas Ekonomi Pembangunan di Universitas Negeri Kota Solo, ia mendapat beasiswa semenjak SMP. Hanya mas Amir yang selalu memakai bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, sedangkan mas Jhon, mbak Anis dan Rahma masih kental dengan bahasa jawa khas Solo.

Hari berganti hari, kini mas Amir telah lulus dari kuliahnya dan mulai menyusul mas Jhon bekerja meneruskan pekerjaan ayah dan ibunya yang masih di luar kota. mbak Anis juga sudah masuk Perguruan Tinggi di Solo sedangkan Rahma yang kini duduk di kelas IX SMP 05 Solo masih tetap rendah hati dan baik. Baru beberapa hari sudah banyak teman–teman di kelas Rahma yang ingin menjadi sahabatnya, bahkan banyak pula siswa yang mencoba mendekati Rahma yang memang terkenal cantik itu.

Suatu hari ada sebuah surat di atas bunga Lili yang tergeletak di atas meja Rahma, dalam surat itu Rahma diminta untuk ke taman sekolah menemui sang pengirim bunga. Betapa terkejutnya Rahma sewaktu melihat sosok yang menungunya di taman, “Ada apa toh mas? Kok aku disuruh kesini?”, “Rahma, aku mau bilang sesuatu sama kamu, aku cinta kamu, aku tresno awakmu. Gelem ora Rahma dadi pacarku?” Rahma terkejut memahami ucapan orang yang ada di depannya. Ia tak menyangka bahwa Ivan yang selama ini diam-diam ia simpan dalam hatinya ternyata juga menyukai dirinya “Lhaa terus orangtua kita gimana mas? Bukankah orangtuaku dan orangtua mas tidak pernah akur dan entah ada dendam apa di antara mereka?” jeda Rahma. “Wis lah, kita kan nggak pernah ikut campur urusan mereka jadi apa masalah kita?” Rahma pun tersenyum, ia menerima cinta Ivan dengan bahagia

Hari-hari Rahma dan Ivan semakin ceria, namun kekhawatiran Rahma tentang keluarganya pun terjadi juga. Kakak-kakaknya telah mengetahui bahwa Rahma berhubungan dengan Ivan, spontan mereka marah dan memperingatkan Rahma untuk memutuskan hubungannya dengan Ivan, “Kowe iki yo’opo toh nduk, kowe kan wes ngerti nek bapak lan ibu iku ora seneng karo keluargane Ivan, kok dadi kowe malah pacaran karo Ivan!” ucap mas Jhon, “Anu mas… kulo mboten saget pisah kaleh mas Ivan, kulo tresno kaleh mas Ivan”, “Alaaah kowe iki nek dikandani yo ngeyel, wes tah tinggalen ae iku Ivan, gawe opo nek pacaran tapi gak direstui karo bapak lan ibu. Percuma Rahma!” sergah mbak Anis. “Mbak, kulo mboten mangerteni masalah nopo ingkang wonten teng keluargane mas Ivan kaleh bapak lan ibu, kulo mboten saget pisah kaleh mas Ivan. Kulo niki pun tresno kaleh mas Ivan”, “Nduk, masalah sing ono antarane bapak ibu lan keluargane Ivan pancen ora mbok ngerteni tapi sejatine kowe kudu nurut opo kang dadi omongane bapak lan ibu nek keluagane dewe gak oleh bergaul karo keluargane Ivan, pokok’e mas Jhon gak kepingin krungu Rahma cedek karo Ivan maneh lan mulai saiki kowe kudu pisah kaleh Ivan” mata Rahma mulai berkaca-kaca, ia tidak mengerti kenapa masalah ini harus ada pada dirinya dan Ivan.

Keesokan harinya, Rahma menemui Ivan dan menceritakan apa yang terjadi di rumahnya kemarin, tentang marahnya mas Jhon dan sikap tidak sukanya mbak Anis cukup membuat Rahma kebingungan. Tetapi Ivan tetap saja membantah dan ingin mempertahankan hubungan ini bagaimananpun caranya, “Rahma, aku nggak mau pisah sama kamu, aku sangat mencintai kamu Rahma”. Tanpa mereka ketahui ternyata ada yang memata-matai mereka selama di sekolah, mata-mata itu suruhan mas Jhon yang ingin Rahma benar-benar jauh dari Ivan. Rahma pulang dengan bus langganannya, ternyata di rumah telah berkumpul ayah, ibu dan kakak-kakaknya, “Alhamdulillah bapak kaleh ibu sampun wangsul, kepripun kabaripun bapak kaleh ibu?” ucap Rahma setelah ia menyalami ayah dan ibunya. “Wis toh nduk, kowe lungguh disek kunu bapak arep takon”, “Wonten nopo pak?”, “Apa iyo kowe pacaran karo Ivan anak’e pak Bayan musuh’e bapak iku?”. Rahma terdiam ia tak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada ayahnya, akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada semua yang hadir di ruang tamu itu, “Enggih pak” ucap Rahma sambil menganggukkan kepala. Seketika wajah ayah berubah garang dan memerah karena terbakar emosi, ia meminta Rahma untuk melupakan Ivan karena 2 minggu lagi mereka akan membawa Rahma ke Jakarta. Dalam kebimbangan Rahma tidak bisa mengatakan apa-apa pada Ivan, ia hanya bisa menghindar dengan harapan Ivan akan mudah melupakannya.

2 minggu kemudian…
Hari ini Rahma dan semua keluarganya pindah ke Jakarta untuk menempati rumah baru hasil kerja keras ayah dan ibu mereka. Keberangkatan kerata 3 jam lagi, tapi belum ada tanda-tanda Ivan menemui Rahma. Padahal ia sudah memberitahu Ivan tentang jam keberangkatan ke Jakarta, “Rahma…” suara teriakan yang ia kenal membuat Rahma berpaling dan mencari sumber suara. Ternyata suara itu milik Ivan, tanpa memperdulikan orang lain dua sejoli itu berpelukan dan mengucap kata perpisahan. Setelah beberapa lama akhirnya jam keberangkatan Rahma pun tiba, mas Amir menggandeng tangan Rahma untuk segera menaiki kereta. Kini genggaman tangan Rahma mulai merenggang dan akhirnya terlepas dari tangan Ivan, mereka hanya bisa melambaikan tangan masing-masing.

“Ning Stasiun Balapan Kuto Solo sing dadi kenangan kowe karo aku, nalika ngeterke sliramu… Ning Stasiun Balapan rasane koyo wong kelangan kowe ninggal aku, ra kroso netes eloh ning pipiku… Da… dada sayang… Da… selamat jalan…”
Sebuah perpisahan adalah awal dari sebuah pertemuan baru…

Cerpen Karangan: Ikke Nur Vita Sari
Facebook: Ikke N Vita Sari

Cerita Stasiun Balapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Impian Bulan Menggapai Bintang

Oleh:
Dusun Pilanggeneng di pagi hari tampak sepi. Hanya sesekali terlihat beberapa orang petani atau pedagang dengan keranjang yang hendak menjual dagangannya ke pasar desa. Sementara aku, seorang gadis kecil

Rajutan Asa Mak Yus

Oleh:
Pagi ini suara ayam bersahutan, dengan diringi suara adzan yang damai. Yang selalu memberi semangat di tengah hawa dingin yang menusuk balung (tulang), karena memang hawa hari ini lebih

Simbahku Veteran

Oleh:
Almarhum Mbah kakungku namanya Moch. Kaelani, beliau adalah veteran perang, setelah tidak bertugas di dunia militer, beliau menjadi Kamituwo (kepala dusun) di kampungku. Beliau mendapat gelar pahlawan dan setelah

Pasir di Pucuk Ilalang

Oleh:
Gelap malam yang begitu menyelimuti bumi kecil dengan warna hitamnya yang menggugah kalbu, untuk terus menyebut asma-NYA seiring deras hujan bak air terjun dari pegunungan dan kilatan petir yang

Cintaku di Kereta Api Kertajaya

Oleh:
Akhirnya tiba juga Hari yang kunantikan selama ini, rasanya seneng banget karena hari ini aku bisa mudik ke kampung halaman. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera ketemu keluarga di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *