When Friend Become Worst Enemy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 May 2014

Perubahan sikap Allam yang semakin mencurigakan membuatku penuh rasa kepo. Sudah 3 hari belakangan ini dia menjadi aneh. SMS, chat, sama sekali tidak ada. Tadi pun dia tak tampak di perpustakaan. Padahal biasanya kami belajar bersama sebelum masuk ruangan UTS.

Aku mencoba membuka akun facebook Allam yang kuketahui e-mail dan password-nya. Segera ku klik pada “Pesan”.

Allam Prasetyahadi
Jri, sakjane aku kii pengen balikan ro Mitha, mantanku kelas 8 mbiyen. Tpi aku wes dhue Dhea!! Njok py?

Apa? Mitha? Allam mau balikan sama Mitha, sahabatku sendiri? Jadi yang dikatakan Nikka tempo hari itu benar? Aku tak menyangka Mitha di belakangku seperti ini, padahal dia tahu kalau aku benar-benar mencintai Allam.

Muh Fajri Novriansyah
yoo sak’ake dhea tho lam, pye e we ki!! nek kwe arep balikan ro mitha yoo kwe kudu medotke dhea sek

Setelah membaca pesan itu, aku langsung keluar dari facebook, lalu kumatikan handphone-ku. Air mata membanjiri pipiku. Soal Bahasa Indonesia tahun lalu yang sedang kupelajari basah seketika. Aku tak sanggup jika harus kehilangan Allam, apalagi besok adalah hari jadiku yang ke 15. Mengapa wanita itu harus sahabatku sendiri? Sahabat yang selama ini kelihatannya baik, tapi dalamnya? Busuk! Aku pun tertidur dengan air mata yang terus mengalir.

Drrt.. drrt.. You’re insecure.. Don’t know what for.. drrt.. drrt.. You’re turning heads when you walk through the door.. drrt.. drrt.. Bunyi alarm tadi seakan membuka mataku untuk menyambut pagi ini, hari ulang tahunku yang ke 15. Aku menghadap cermin dengan mataku yang masih sembab. Kuambil handuk kuningku, aku segera masuk ke kamar mandi. Seperti tiga hari sebelumnya, aku berangkat pukul 06.15 untuk belajar bersama Allam terlebih dahulu di perpustakaan.

Setibanya di sekolah, aku langsung naik melewati tangga utara menuju perpustakaan. Perpustakaan itu tampak sepi, hanya ada tiga orang anak kelas tujuh yang sedang belajar. Setelah 15 menit menunggu dan tidak ada tanda-tanda kedatangan Allam, aku turun dan menuju ruangan UTSku.

“Dhea! Happy birthday, ya!” Nikka orang pertama yang mengucapkan selamat kepadaku. Diikuti teman-temanku yang lain, Sabrina, Rio, Laras, Pia, Ita, Tuti, Anita, Arum dan Nindya.
“Selamat ulang tahun, ya, Dhe. Semoga langgeng sama Allam,” ucap Laras. Aku terdiam mendengar kata-kata itu.
“Oh, eh.. Iya. Aamiin. Makasih ya, Ras” jawabku dengan tersenyum. Eh, Mitha mana ya? Jangan-jangan dia beneran takut ketemu aku di hari ulang tahunku ini, dengan kondisi dia yang sedang PDKT sama Allam.
“Nik, Mitha mana sih? Dari tadi kok belum dateng juga?”
“Mitha? Emm, tadi dia udah dateng sebelum kamu dateng. Tapi sekarang dia lagi nangis di kamar mandi.”
“Kenapa?”
“Jadi… Jadi, tadi malem Allam nembak Mitha lagi lewat SMS. Mitha belum nerima. Dia bingung, apa yang harus dia lakuin. Dia tahu kok, kalau kamu cinta banget sama Allam. Makannya, sekarang dia takut ketemu kamu.”
“Hah? Jadi Allam udah nembak Mitha beneran? Hmm, aku kemarin lihat pesan-pesannya Allam sama Fajri. Dan bener, Allam katanya mau balikan lagi sama Mitha. Tapi Allam bilang kalau dia juga masih punya aku. Seharusnya kalau Mitha emang ngerti perasaanku, dia nggak boleh nerima Allam, apapun alasannya!”
“Tapi apa kamu nggak pengen lihat Mitha seneng? Mitha kan baru putus sama Eri, bisa jadi, dengan adanya Allam, dia bisa…”
“Bisa apa? Move on ke Allam gitu? Nggak! Dulu Mitha udah pernah ngeduain Allam, dan sekarang apa Mitha bener-bener cinta sama Allam? Nggak! Jadi, apapun alasannya, MITHA NGGAK BOLEH NERIMA ALLAM!” Aku langsung pergi meninggalkan Nikka.

Bel tanda masuk berbunyi. Aku benar-benar kehilangan semangat untuk menegrjakan soal UTS ini. Fikiranku hanya tertuju kepada kelanjutan hubunganku dengan Allam. Mengapa pacar dan sahabatku sendiri tega membuatku sedih di hari yang seharusnya menyenangkan ini? Aku terlanjur membenci hari ini dan kegalauan yang terus menggangguku.

Ting tong.. Sisa sepuluh menit untuk mengerjakan soal ini. Aku taruh lembar jawabku, kukumpulkan soalku, dan aku segera naik untuk ke perpustakaan lagi. Sebelum aku memasuki area itu, aku mendengar percakapan antara dua orang lelaki di dalam. Aku memutuskan untuk tetap di luar, memasang pendengaran setajam-tajamnya.
“Dadine njuk piye, Lam?”
“Aku isih bingung e, Jri. Aku pengen balikan karo Mitha, tapi aku isih nduwe Dhea. Apa meneh nek Mitha karo Dhea iku kanca. Aku ora siap nek kudu nyakiti Dhea.”
“Kuwi wis resikomu. Kowe seneng karo wong sing salah. Istilahe cinta terlarang, ngono kuwi lah. Sakjane, kowe tetep kudu medhotke Dhea sikek, sakdurunge Mitha nampa kowe!”
“Tur dina iki kan ulang tahune Dhea…” Aku sudah merasa tak sanggup untuk melanjutkan mendengarkan pembicaraan Allam dan Fajri tadi. Aku berlari sekencang mungkin menuju ruang UTSku. Terlihat Mitha, Sabrina, dan Nikka yang sedang belajar. Aku melirik Mitha dengan sinis, lalu menarik tangan Nikka untuk menceritakan hal yang tadi di kamar mandi.
“Kamu kenapa lagi?” tanya Nikka.
“Barusan aku ke perpus. Aku udah denger semuanya tentang Allam sama Mitha.” Aku pun mengulangi dialog Allam dan Fajri dengan bahasa Jawa yang sangat menyakitkan hati tadi.
“Sekarang aku tanya sama kamu, mending Allam putusin kamu di hari ulang tahunmu ini, atau Allam ngeduain kamu sama Mitha?”
“Nggak mending semua! Aku nggak mau kehilangan Allam, aku udah terlanjur cinta sama dia!” Tak terasa air mata membasahi pipiku. Bel masuk pun mengusir kami dari kamar mandi itu.

Setelah aku keluar dari ruang UTS, aku tak tahu harus melangkahkan kaki ke mana. Mitha? Dia sudah menjadi pengkhianat. Nikka? Dia tak mengerti akan perasaanku. Sabrina? Nah, aku akan mencarinya. Ketika aku di depan gerbang sekolah, kebetulan Sabrina mengahmpiriku.
“Dhe, beli jus, yok!”
“Hah? Beli jus? Nggak salah, Sab?”
“Emang kenapa?”
“Kan kamu jarang jajan. Hahaha.. Ya ayo!”

Setelah beli jus, aku dan Sabrina jalan ke depan lapangan besar yang ada di samping sekolah. Teringat masa laluku saat aku dan Allam ada di sana. Kami berfoto berdua di depan sebuah pohon besar di lapangan itu. Sungguh kenangan manis yang takkan terlupakan.
“Kamu dulu waktu foto sama Allam di mananya, Dhe?” tanya Sabrina. Ternyata Sabrina tahu apa yang sedang aku fikirkan.
“Itu, di depan pohon besar itu” jariku menunjuk ke pohon itu tanpa aku melihatnya. Sepertinya Sabrina menuju tempat yang kutunjuk tadi, entah apa tujuannya. Tiba-tiba… Brukk.. Byurr.. Telur, tepung, dan air mendarat di kepalaku. Entah siapa saja pelaku dari semua ini. Mataku masih terpejam karena telur dan tepung yang mengenai mataku.
“Hari ini.. Hari yang kau tunggu.. Bertambah satu tahun usiamu.. Bahagialah kamu..” Lagu itu terdengar dari sebelah kananku. Suara itu… Allam! Hah? Tapi mana mungkin.
Aku membersihkan mataku, lalu kubuka perlahan. Allam, Fajri, Babas, dan Anto berdiri di samping kananku. Tangan Allam membawa kue tart keju kecil yang bertuliskan “HAPPY BIRTHDAY DHEA VINESYA ELVIRA 15th” Apa Ini benar-benar bukan mimpi. Tapi, soal Mitha?
“Dhea sayang, selamat ulang tahun, ya. Semoga panjang umur, sehat, sukses, tambah cantik, unyu, pokoknya tambah yang plus-plus. Dan yang penting tambah disayang Allam. Hehehe,” kata Allam.
“Kamu nggak salah? Hmm, bukannya kamu…”
“Apa? Allam kenapa? Allam mau balikan sama aku? Nggak! Itu bohong, Dhe!” kata Mitha sambil tertawa terbahak-bahak.
“Hah? Tadi itu Allam sama Fajri…”
“Ini semua cuma skenarionya Allam sama temen-temenmu itu, Dhe. Allam itu masih sayang sama kamu, nggak mungkin kalau dia tega mutusin kamu demi Mitha. Ternyata aku jago akting juga, ya?” Fajri menjelaskan.
“Maaf ya, selama tiga hariini sikapku berubah sama kamu. Aku nggak pernah dateng ke perpus, padahal aku ngelihatin kamu lho pas lagi nunggu aku. Hehehe.. Mukamu tuh unyu banget. Aku tahu, kamu nangis kan waktu kamu tahu aku mau nembak Mitha? Tenang aja, Dhe, itu nggak akan terjadi. Aku kan masih sayang kamu.” Dari mana Allam tahu kalau aku nangis?
“Maaf? Gampang banget, sih! Kamu tuh jahat!”
“Aaah.. Sayangku ngambekan banget! Nih, aku kasih ini aja deh biar nggak ngambek lagi,” kata Allam sambil mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kotak. Ternyata kotak itu berisi cincin. Allam memegang tangan kananku dan memasang cincin itu ke jari manisku.
“Jika kau rindu aku, pakailah cincin yang kuberikan. Mungkin itu bisa mengobati rasa rindu kamu, meskipun ini bukan cincin emas namun kuberikan dengan setulus hati. Namun jika saatnya tiba kuberikan cincin emas untukmu, kalau bisa setambang-tambangnya buat kamu.”
“Aduh.. Makasih ya Lam. So sweet banget deh kamu,” ucapku dengan pipi merah dan tersenyum malu.
“Cieee…” Tiba-tiba banyak adik kelas yang berdatangan menonton kejadian yang dramatis ini.

Cerpen Karangan: Rianna Andayani
Blog: www.andynriana.blogspot.com

Cerpen When Friend Become Worst Enemy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Zizi

Oleh:
Setiap malam aku selalu di rumah seorang diri, tak ada satu pun orang di rumah kecuali bibi yang selalu memenuhi apa yang aku butuhkan di rumah. Orangtuaku yang selalu

Tangga Nada Berjalan

Oleh:
Cahaya terang itu berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya. “Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan

Silk Road (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya sebelum matahari terbit jayanegara membangunkan dewi kumala. Dewi kumala segera berdiri dan mengambil sikap siaga, “ada apa? Apa mereka datang?” “tidak, aku ingin membawamu ke suatu tempat.”

Sahabat Pria Bukan Berarti Pacar

Oleh:
“Bukan keluarga, bukan saudara, bukan kekasih. Tidak terlahir dari rahim yang sama, juga tidak memiliki ikatan darah yang sama.” Ryan adalah salah satu nama yang ku kenal sejak 4

Gadis Pejalan Kaki

Oleh:
Manusia terlahir sebagai pejalan kaki, begitulah kata orang. Tapi di era modern ini, kalimat itu mulai sirna. Semua serba canggih, tak kalah dengan dunia otomotif yang selalu berkembang. Motor

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *