Ace’s Diary After Death

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 5 August 2017

Bocah 17 tahun itu mengerang. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Ia mengerang, menangis, memukul, berharap apa yang terjadi pada kakaknya hanyalah sebuah mimpi. Namun itu kenyataan.

Monkey D Luffy, bocah itu menangis sejadi-jadinya, sambil terus menyakiti dirinya.
“Aaaah! ACEEE!!!” Jeritnya.

Ah, sebelumnya perkenalkan, namaku Portgas D Ace. Seperti yang dikatakannya, aku kakaknya Luffy. Ah, rasanya menyesal meninggalkannya seorang diri. Tidak ada Sabo ataupun aku yang menjaganya. Namun tak apa, Luffy punya nakama yang bisa diandalkan.

Aku berharap aku bisa berbicara dengannya. Sayangnya, aku kini tinggal arwah. Yang bisa kulakukan hanya mengikutinya dan memastikan dirinya baik-baik saja.

“Kau janji, kan, kau tidak akan mati kan? ACEEE!” Bocah itu memukul-mukulkan tangannya ke tanah hingga berdarah. Namun ia tidak merasa kesakitan. Dapat kupastikan mentalnya hancur setelah melihat kematianku. Dapat kupastikan itu, lewat kata-katanya.

Jinbei datang dan duduk bersila di sebelah adikku. Sekedar mengingatkan kalau dia bisa mendengarku, itu tak kan membantu, sama sekali tidak.

Dan, Luffy, aku kini berada di alam yang sama dengan Sabo. Aneh, aku tak bisa menemukannya di manapun. Instingku berkata, Sabo masih bernafas.

Sudah 2 tahun. Kini Luffy kembali ke Shabody Island. Aku tak percaya ia dapat menghindar dari serangan musuh. Aku juga tak percaya kini dia menguasai Haki Raja. Fiyuh, untunglah wanita yang sombong dan angkuh itu telah pergi.

Senang rasanya melihat Luffy bahagia ketika kembali bertemu dengan nakama nya. Dari pada nakama yang kulihat, ada 3 orang yang belum pernah kutemui. Dari pembicaraan mereka, mungkin nama mereka bertiga adalah Robin, Franky, dan Brook. Aku tak percaya Luffy mempunyai nakama seorang tulang hidup. Aku geli juga melihat Luffy dipukuli Nami sampai babak belur atau melakukan hal konyol bersama si Hidung Panjang Pembohong Ulung dan si Rusa Imut Berhidung Biru. Kadang aku juga ngeri pada porsi makan Luffy yang bisa sampai lebih dari 10 porsi.

Dressrosa, kerajaan dimana Luffy akan singgah berikutnya. Aku tahu tempat itu karena berada di Shinsekai. Tempat itu dikuasai oleh Donquixote Family, yang dipimpin oleh Donquixote Doflamingo. Entah mengapa sejak aliansi Bajak Laut Topi Jerami dan Bajak Laut Heart, firasatku langsung menjadi-jadi. Seseorang yang sangat familiar buatku berada disini. Bukan Kurohige ataupun Donquixote Rosinante, tapi seseorang yang sangat ku kenal.

Aku agak geli waktu melihat Luffy memakai jenggot palsu dan helm itu. Wajahnya tambah manis. Dia menjadi gladiator di Clorrida Colleseum. Nama samarannya juga tak jauh beda dari nama aslinya. Lucy, tak jauh beda dari Luffy. Aku tertawa terpingkal-pingkal karena yakin tak ada yang dapat melihatku -aku kan arwah, jadi tak masalah.

Namun firasat itu terus saja menggangguku. Siapa dia? Apakah Sabo? Apa dia masih bernafas? Aku tak tahu.

“Tak kan kubiarkan kau memakan Mera Mera no Mi itu, Mugiwara no Luffy” orang itu membuatku, Luffy, dan Bartolomeo terkejut. Bartolomeo, orang yang sangat mengidolakan Luffy, langsung menghampiri orang itu sambil berkacak pinggang. Namun dengan mudahnya di dorong ke samping oleh orang itu.

Kini dia menghampiri Luffy. Jujur saja aku khawatir Luffy kenapa-napa. Namun aku kaget begitu dia membuka topinya. Bukankah itu Sabo? langsung saja kupeluk dia. Namun gagal -aku kan arwah, jadi nembus (sial!). Aku kecewa tapi tak apa. Yang penting aku dapat melihatnya masih dalam keadaan bernafas dan sangat sehat.

Luffy yang masih marah tadi, langsung memeluk Sabo begitu menyadari wajahnya. Jujur saja aku ikut menangis -ingat, walau cuman arwah tapi aku tetep bisa nangis, catat tuh, catat.

Kini kuharap Sabo terus ada untuk Luffy. Terus ada dan tak kan meninggalkannya. Ah, rasanya aku kembali menyesal meninggalkan Sabo, karena kematiankulah ia jadi koma selama 3 hari. Kudengar itu ketika ia menceritakannya di gubuk milik Kyros.

Jujur saja, walaupun lebih banyak kesedihan yang menghampiriku setelah kematian, aku memiliki secercah kebahagiaan. 2 kebahagiaan tepatnya. Pertama, aku membuat Sabo (secara tidak langsung) mendapat kembali ingatannya. Kedua, kini tidak ada yang akan khawatir padaku jika narkolepsi ku kambuh. Toh, aku sudah mati.

selesai

Cerpen Karangan: Portgas D Ace

Cerpen Ace’s Diary After Death merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bloody Angel

Oleh:
Aku adalah sebuah pisau dapur. Aku dibuat untuk para ibu-ibu yang ku pastikan memakai jasaku melayani suami dan anak mereka. Sebesit pikiran melintas, terbayang seorang ibu-ibu bertubuh gempal bercelemek

If I Can Say “I Love You”

Oleh:
Keiko memandang langit musim panas yang bertaburan bintang. Tapi perlahan air matanya mengalir, seakan-akan langit yang cantik menunjukkan sesuatu yang tidak menyenangkan padanya. Ya, kenangan manis yang berakhir dengan

Penyebab Hirako Mati Bunuh Diri

Oleh:
“Apa motifnya bunuh diri?” Sambil berjalan, pertanyaan itu terlontar dari mulut gadis yang sedang mengekorinya. Habara Ichika mencoba untuk memperjelas situasi yang sedang terjadi di sekolah mereka saat ini.

Unbelivable Love

Oleh: ,
Eiji Kazuhiko, itulah namaku. Aku bersekolah di salah satu SMA di Tokyo. Aku tergolong siswa sekolah yang kurang begitu populer, akan tetapi hampir semua siswa di SMA-ku mengenaliku. Entah

Indigo

Oleh:
Indra keenam adalah dimana seseorang bisa melihat makhluk halus, bisa mengetahui masa depan, hal-hal yang tak diduga dan bisa membaca pikiran orang lain. Itulah yang ku alami selama ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *