Anata no Koto ga Suki Deshita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 17 November 2018

BRUK! Kertas kertas berterbangan tidak beraturan saat dua orang bertabrakan di koridor kelas XII IPS I. Ya, itu pertemuan pertama yang sangat mengejutkan. “Ittai.. (Sakit..)” rintihku. “Gomenasai. Daijoubu? (Maaf, kamu tidak apa-apa?)” ucap panik orang tersebut. Mendadak kepalaku pening sesaat. Kemudian kulihat sebuah uluran tangan di hadapanku, ternyata orang tersebut mengulurkan tangan kepadaku. Kuraih tangannya untuk membantuku berdiri. “Hai, daijoubu desu. Gomenasai. Tashikete kurete arigatou. (Ya, aku tidak apa-apa. Maaf. Terima kasih sudah menolongku.)” balasku. Cepat-cepat kukumpulkan kertas kertas berserakan itu. “Kubantu ya?” tawarnya. “Kekkou desu. (Tidak, terima kasih.)” Setelah terkumpul, aku kabur secepat mungkin sambil berkata, “Sayounara. (Selamat tinggal.)”.

Sekira orang tersebut sudah tidak terlihat, langsung berjalan menuju ke ruang guru. “Shitsurei shimasu. (Permisi.)” ucapku. Hanaya melihat sekitar untuk mencari seorang guru. “Ah, Hayumi-san, kocchi! (Ah, Hayumi, di sini!)” Hanaya menuju sumber suara tersebut. “Shinanami-sensei, douzou. Omatashe shimashita. (Guru Shinanami, silahkan. Maaf menunggu lama.)” ucapku seraya membungkukkan badan sebentar. “Iie, o-sewa ni narimasu. Arigatou. (Tidak, maaf telah merepotkan. Terima kasih.)” ucap Shinanami. Hanaya kembali menmbungkukkan badan dan berkata “Dou itashimashite. Shitsurei shimasu. (Terima kasih kembali. Permisi.)”. Hanaya meninggalkan ruang guru.

Setelah menutup pintu dan berbalik badan, Hanaya terkejut di belakangnya terdapat pria tadi yang ditabraknya. Saat ingin kabur, pria tersebut menghalanginya. “Chottou matte! (Tunggu!)” katanya. Wajah Hanaya tiba-tiba memerah karena mereka terlalu dekat. ‘Kenapa aku deg-deg an begini?’. Hanaya mundur satu langkah untuk jaga jarak. “Nani? (Apa?)” ujarku. “Kebetulan kita bertemu di sini. Aku mencarimu, tapi tidak ketemu. Cepat sekali larimu. Tunggu sebentar, ada yang ingin kubicarakan setelah ini. Aku harus menemui Shinanami-sensei. (Guru Shinanami.) Jangan lari ya! Tunggu aku!” tuturnya. “Hai (Iya)”. Sementara menunggu pria itu di kantor guru, Hanaya duduk di kursi depan kantor guru.

3 menit kemudian
“Omatashe (Maaf menunggu lama)” katanya. “Ada apa kamu ingin berbicara denganku? Kamu ingin balas dendam padaku? Kan aku sudah minta maaf” “Bukan itu. Aku sudah memaafkanmu. Aku ingin berkenalan denganmu. Kimi no namae wa nan desu ka? (Nama kamu siapa?)” “Hayumi Hanaya desu. (Hanaya Hayumi.) Aku kelas XII IPS I. Kimi wa? (Kamu?)” “Kotarou Hidate desu. (Hidate Kotarou.) Aku kelas XII IPA II.” “Sebagai ganti permintamaafanku, aku traktir kamu di kantin. Mau ya?” “Sebenarnya sih tidak usah, arigatou. (terima kasih.). Tapi, ya sudah aku terima ya? Aku akan menjemputmu ke kelasmu. Gimana?” “Iiyo, Jaa nee .. (Boleh, Daahh..)” ucap Hanaya sambil jalan cepat. “Jaa naa.. (Daahh..)”

Di kelas XII IPS I
“Hanaya! Kok lama sekali ke kantor guru saja?” protes sahabatnya, Rikka. Hanaya duduk menghadap belakang ke tempat duduk sahabatnya. “Gomen, gomen. (Maaf, maaf.) Ada masalah sedikit tadi. Aku menabrak seseorang” “Hah? Kok bisa sih? Kamu ceroboh. Yasudah, nanti bareng ke kantin kan?” “Gomen, Rikka-chan. (Maaf, Rikka.) Aku ada janji ke kantin dengan orang yang kutabrak tadi, sebagai ganti minta maaf” “Yaahh..” Raut muka Rikka jadi kecewa. “Okotteru? (Kamu marah?)” cemas Hanaya. “Okottenai. (Aku tidak marah.) Yasudah, aku sama Shiina-chan saja. Lain kali kita ke kantin bareng lagi.”

Jam istirahat
“Hayumi-san!” panggil Hidate. Hanaya melihat ke arah pintu kelas dan mengangguk. “Rikka-chan, Shiina-chan. Aku duluan ya! Jaa nee..” “Bye bye!” balas mereka. Hanaya berlari ke luar kelas. “Kotarou-san, Ikkou! (Kotarou, ayo!)” Mereka berjalan bersebelahan hingga ke kantin sambil mengobrol.

“Kotarou-san, ada meja yang kosong di sebelah sana. Ayo kita ke sana!” Mereka pun menuju meja yang kosong tersebut. “Kotarou-san, mau pesan apa? Biar aku saja yang pesan dan bayar.” “Jangan terlalu formal gitu dong! Biasa aja. Kamu bisa panggil aku Kotarou saja atau Hidate. Apa aku boleh memanggilmu Hayumi?” Tanya Hidate. “Baiklah. Aku akan memanggilmu Kotarou-kun.” Hidate mengangguk. “Hayumi, aku dengar satu angkatan kita kamu peringkat 1 ya selama dua tahun ini ya?” “Bagaimana bisa kau tahu? Iya, hehehe…” Hanaya tersipu malu. “Waah.. Sugoi! Omedettou! (Waah.. Hebat! Selamat!)” “Arigatou! Aku juga tahu, kamu yang peringkat 2 kan? Omedettou Kotarou-kun!” “Arigatou Hayami”
“Oh ya, makan. Mau pesan apa?” “Aku ingin pesan somay dan es jeruk saja. Kamu?” “Hm.. Aku pesan batagor dan jus jeruk saja deh. Aku saja yang berangkat dan jalan” Saat Hanaya ingin berdiri, Hidate menahan Hanaya pergi dengan menggenggam tangannya. “Tidak. Aku saja yang jalan dan traktir. Aku cuma terima ajakan makan di kantin bareng, hehehe…” Wajah Hanaya memerah tangannya digenggam oleh Hidate. Wajah Hidate pun memerah secara tidak sadar menggenggam tangan Hanaya kemudian refleks melepas ganggamannya. “Gomen. Refleks tadi” Hanaya menggeleng tanda ‘tidak apa-apa’. Hidate berdiri dan jalan memesan makanan dan minuman itu. Hanaya pun duduk kembali menunggu Hidate membawa makanan. ‘Ada apa ini? Kok aku deg-deg an?’ gumam mereka.
“Nih Hayumi pesananmu!” “Arigatou Kotarou-kun. Kok selera kita mirip ya? Temenan gitu pesanannya?” Hanaya tertawa kecil. “Sou ne (Begitulah)” Mereka tertawa bersama. Mereka pun lanjut makan dibarengi obrolan kecil.

Di depan kelas XII IPA I
“Kotarou-kun, terima kasih sudah mentraktirku. Tuh kan, malah kamu yang bayar bukan aku? Aku jadi merepotkan kamu. Arigatou-nee! (Terima kasih!)” “Dou itashimashite (Terima kasih kembali) Hayumi, santai aja. Ima kara, watashitachi tomodachi na? (Mulai dari sekarang, kita jadi teman ya?)” “Hai. (Iya.) Aku masuk kelas dulu. Terima kasih sudah mengantarku. Bye-bye!” ucapku sembari memasuki kelas dan melambaikan tangan. Hidate pun membalas.

Keesokan harinya
Hanaya, Rikka, Shiina berangkat sekolah bersama seperti biasanya. Ketika melewati kelas XII IPA II, mereka berpapasan dengan Hidate dan teman-temannya. “Yagami-kun! Kebetulan kita bertemu di sini!” sapa Shiina. “Yo! Shiina!” balas Yagami. “Hayumi!” ”Kotarou-kun!” sapa Hanaya dan Hidate berbarengan. “Loh? Kalian saling kenal? Jangan jangan ini orang yang kau tabrak dan kau traktir di kantin itu?” Tanya Shiina. “Shiina-chan! Uuhh..” Protes malu Hanaya. “Gomen, gomen (Maaf, maaf)” “Hai, (Iya,) itu orang yang kumaksud waktu itu. Lebih tepatnya sih, dia yang jadinya traktir aku, sou ne Kotarou-kun? (begitu kan, Kotarou?)” Hanaya dan Kotarou tertawa kecil. “Daripada ngobrol di sini, lebih baik kita ngobrol di taman gimana?” usul Rikka. “Boleh tuh” jawab Shiro. Hanaya, Rikka, dan Hanaya menaruh tas mereka ke kelas kemudian langsung ke taman dan duduk.

“Perkenalkan. Ini dua sahabatku.” Ucap Shiina. “Hayumi Hanaya desu (Hanaya Hayumi)” ucap Hanaya. “Yumi Rikka desu (Rikka Yumi)” ucap Rikka. “Kotarou Yagami desu. (Yagami Kotarou.) Dan ini dua sahabatku” balas Yagami. “Daijime Shiro desu (Shiro Daijime)” ucap Shiro. “Kotarou Hidate desu (Hidate Kotarou)” “Nama marga Hidate-kun dan Yagami-kun sama. Berarti…” ucap Hanaya. “Yap. Kita bersaudara, beda 11 bulan” Semua serempak ber-oh ria. “Oh ya, aku lupa memberi tahu kalian, aku dengan Yagami-kun pacaran!” ucap Shiina. “Hah?” ucap serempak Hanaya dan Rikka. “Shiina-chan, zurui! (Curang!) Punya pacar tidak bilang-bilang!” protes Hanaya. “Gomen-nee, kalian tidak tanya sih, jadi tidak aku beritahu, hehehe..” kekeh Shiina. “Kau juga, baka otoutou! (adik laki laki bodoh!)” protes Hidate. “Gomen, aniki! (Maaf, kakak laki-laki!)”. Mereka berenam pun bercanda hingga bel masuk sekolah berbunyi.

Mereka berenam pun semakin dekat, dan menjadi sahabat. Mereka selalu bersama, mulai dari berangkat sekolah, pulang sekolah, makan di kantin, belajar ke perpustakaan, belajar bersama kadang-kadang. Sampai suatu hari di hari terakhir masuk sekolah untuk libur musim panas.

Seperti biasanya, mereka berenam pulang sekolah bersama. “Kotarou Hidate! Dipanggil Chika-chan. Ditunggu di depan gedung olahraga.” Panggil teman Chika. “Hai! Arigatou.” Balas Hidate. “Minna, (Semuanya,) aku ke Chika-san dulu ya. Tunggu di tempat duduk dekat gerbang sekolah saja. Sebentar ya!” ucap Hidate sebelum berlari menuju gedung olahraga.
Hanaya terlihat muram, cemas terjadi sesuatu. ‘Ada hubungan apa antara Hidate-kun dengan Chika-san? Kenapa aku sakit hati begini sih? Memangnya aku suka Hidate-kun? Tidak, tidak. Dia sahabatku, tidak lebih. Kenapa aku deg-deg an begini? Aku harus melihat sendiri.’ gumam Hanaya. “Minna, aku mau ke toilet dulu ya?” seru Hanaya. “Aku antar Hanaya-chan!” usul Rikka. “Kekkou desu! (Tidak, terima kasih!)” tolak Hanaya. “Itekimasu! (Aku berangkat!)” seru Hanaya sambil melambaikan tangan. “Iterasshai (Hati-hati di jalan)”. Hanaya sudah menemukan keberadaan Hidate dan Chika. Hanaya sembunyi dan menguping pembicaraan mereka.

“Hidate-kun suki dakara! (Aku suka Hidate-kun!)” Hanaya sangat terkejut mendengar pernyataan itu. Hanaya keluar dari persembunyian dan berlarian ke arah gerbang sekolah sembari menangis dengan perasaan berkecamuk. ‘Ternyata lebih baik aku tidak menyukai Hidate-kun, karena aku yakin Hidate-kun pasti menerima perasaan Chika-san. Chika-san cantik, kelihatannya baik, dia pun pintar berada di posisi peringkat 5. Aku harus membuang perasaan ini’ rutuk Hanaya. Hidate sekilas melihat Hanaya berlari dari dekat gedung olahraga sambil menangis. Hidate pun langsung mengejar Hanaya secepat mungkin dengan pikiran kacau. ‘Aku yakin Hanaya melihat dan mendengar pembicaraan aku dengan Chika. Ayolah Hanaya, aku suka padamu bukan Chika. Kuharap aku bisa menjelaskan semua ini padanya’ pikir Hidate. Hidate terus memanggil Hanaya, namun tidak digubris oleh Hanaya dan terus berlari.

Teman-teman heran Hanaya bukan menghampiri mereka, namun keluar sekolah sendirian dan Hidate mengejarnya. Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang menuju ke arah Hanaya. “AWAS! HANAYA STOP!” teriak teman-temannya. Hanaya berhenti seketika melihat mobil begitu dekat dengannya. Tubuh Hanaya beku tidak bisa bergerak. ‘Tuhan! Tolong aku! Berilah aku keselamatan, aku belum siap mati! Hidate, tolong aku!’ pikir Hanaya.
BRUK! Seseorang tiba-tiba terpental mobil sejauh lima meter. “HIDATE-KUN! HANAYA-CHAN!” “HIDATE! HANAYA!” histeris teman-temannya. “Ittai!” desis perih Hanaya. Hanaya tiba tiba sudah dipinggir dekat mobil, dan terselamatkan. Seketika melihat Hidate terpental lima meter darinya berlumuran darah. “HIDATE-KUN! WAAAA!” teriak histeris Hanaya. Hanaya pun berlari menuju ke Hidate. Tangis Hanaya pecah. “Hidate-kun! Bangun! Hidate-kun! Bangun! Waa!! Hidate-kun! Jangan mati!” Teriak Hanaya sambil memeluk Hidate yang sudah tidak sadarkan diri. Teman-temannya pun menangis histeris. “Bawa mobil saya saja nona! Maafkan saya sudah menabrak teman nona!” ucap pria yang menabrak Hidate. Teman-temannya pun mengangguk. Rikka dan Shiina di bangku belakang, Yagami dan Hanaya di bangku tengah dengan menopang tubuh Hidate, Shiro di bangku depan. “Bawa ke Rumah Sakit Hotohara jii-san! Hayaku! (Bawa ke Rumah Sakit Hotohara, paman! Cepat!)” seru Shiro.

Di RS Hotohara
Mereka berenam pun bergegas menuju ke ruang UGD dengan Hideki dibopong oleh Yagami dan Shiro. Hanaya bergegas menuju ke salah satu ruang dokter. BRAK! Hanaya membanting pintu ruang tersebut. “Hanaya, Nani shiteru no? (Apa yang kamu lakukan?) Rusak pintu itu kamu banting! Hanaya? Kenapa kamu menagis?” “Nee-chan harus cepat ke ruang UGD! Temanku kecelakaan, operasi dia! Cepetan! Hidate-kun! Aku akan ikut operasi!” histeris Hanaya. “Hai, Nee-chan mengerti. Sudah jangan menangis. Tapi kamu tidak boleh ikut bantu Nee-chan operasi temanmu itu. Kamu sedang begini! Kamu pasti bakal kacau kalau membantuku. Lebih baik kamu bersama temanmu dan berdoa. Aku yakin temanmu itu selamat! Ayo cepat!” Hanaya dan Dr. Mikasa berlari ke ruang UGD dan langsung memulai operasi.

Mikasa tunggu di luar ruang UGD. Dia pun masih menangis dan memeluk Rikka dan Shiina. “Rikka-chan, Shiina-chan. Hidate-kun!” tangis Hanaya semakin keras. “Sudah, sudah Hanaya-chan. Aku yakin Hidate-kun selamat. Jangan menangis lagi ya!” tutur Rikka. Yagami mengelus kepala Hanaya seraya berkata “Iya, sabar dan berdoa ya Hanaya.” Hanaya semakin lama mulai berhenti menangis. Hanaya pergi ke tempat perawatan dan merawat luka luka yang ia dapat.

1 jam kemudian
Tanda ruang UGD sudah berhenti menyala pertanda bahwa operasi sudah selesai. Dr. Mikasa pun keluar ruangan. Hanaya bertanya “Nee-chan, bagaimana keadaan Hidate-kun? Dia baik baik saja kan?” “Dia selamat. Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, saya ingin bertanya kepada kalian. Bagaimana kejadiannya?” tanya Dr. Mikasa. Mikasa menjelaskan semua kejadian yang dia ketahui. Setelah itu dilanjutkan oleh Yagami kejadian kecelakaan tersebut.
Dr. Mikasa menjitak kening Hanaya. “Baka Imoutou! (Adik perempuan bodoh!) Itu semua jelas-jelas kesalahanmu. Kenapa kamu sangat ceroboh? Kalau Hidate tidak menolongmu, apa yang akan terjadi padamu. Kamu bisa lebih parah darinya. Minta maaflah pada keluarga Kotarou!” “Iya Nee-chan, gomenasai” “Yagami-kun, hontou ni shumimasen! (Yagami, aku benar-benar mohon maaf!)” Hanaya membungkukkan badannya. “Hanaya, bangunlah” Hanaya kembali menegakkan badannya. “Sudahlah, tidak apa-apa. Aku memaafkanmu. Aku juga yakin, Aniki akan memaafkanmu juga” ujar Yagami sambil memeluk menenangkan Hanaya sejenak. “Arigatou Yagami-kun”

Yagami bertanya kepada Dr. Mikasa “Dr. Mikasa, berapa biaya administrasinya? Keluarga kami akan membayar sepenuhnya. Tolonglah rawat Aniki sepenuhnya” “Tenanglah Yagami, keluargamu tidak usah membayar, karena sejak awal memang kesalahannya Hanaya, maka dia yang akan membayar sepenuhnya hingga Hidate sembuh total. Dia punya tabungan yang cukup. Ya kan Imoutou?” Dr. Mikasa tersenyum mengejek ke arah Hanaya. “Nee-chan… Hehe iya Yagami-kun. Tenang saja. Aku yang akan bayar semuanya. Dan aku yang akan merawat dia sepenuhnya. Nee-chan juga tenang aja. Aku tidak akan merepotkan Nee-chan” “Apa kau yakin Hanaya? Aku jadi tidak enak” “Iyap. Tenang aja! Serahkan semuanya padaku!” yakin Hanaya. “Arigatou Hanaya!” ucap Yagami. “Dou itashimashite (Terima kasih kembali)”

“Nee-chan, kenapa kau mengalihkan permbicaraan? Bagaimana keadaan Hidate-kun?” protes Hanaya. “Gomen. Lupa. Hidate baik-baik saja. Dia hebat. Dengan tabrakan begitu tulangnya tidak patah. Dia hanya luka saja, tapi tidak dalam. Hidate pun sudah sadar, aku akan membawa Hidate ke ruang VIP, tentunya dengan uangmu kan?” jelas Dr. Mikasa dengan senyum mengejek ke Hanaya. “Iya, aku mengerti Nee-chan. Aku akan mengambil uang di ATM dahulu” ucap Hanaya. Teman-temannya pun pulang setelah menjenguk Hidate, hanya tinggal Yagami dan Hanaya. Hari demi hari Hanaya yang men-handle semuanya. Hanaya merawat Hidate dengan sepenuh hati hingga sembuh total.

3 hari sebelum ulang tahun Hanaya
Hanaya, Rikka, Shiina, Hidate, Shiro, dan Yagami berangkat mendaki ke Gunung Fuji pukul 11 siang. Mereka pun menginap di penginapan khusus pendaki di badan Gunung Fuji setiap malam hari hingga 2 hari. Mereka pun tiba di puncak Gunung Fuji pukul 12 malam kurang 10 menit. “Hh.. Samui! (Dingin!) Tidak kusangka akan sedingin ini” ucap Hanaya sedikit kedinginan. “Jelas saja. Puncak Gunung Fuji kan bersalju. Bagaimana kau ini? Dasar!” ucap gemas HIdate sambil mengacak rambut lurus Hanaya. “Iya, aku lupa” Mereka bernenam pun tertawa.

Sekarang tepat pukul 12 malam. “Otanjoubi Omedettou (Selamat Ulang Tahun) Hanaya!” teriak Hidate, Rikka, Shiro, Yagami, dan Shiina. “Arigatou minna! Bagaimana kalian tahu ulang tahunku? Hm.. Pasti dari keran bocor Shiina-chan kan?” “Iya dong! Makanya, kami bawa kamu kesini, untuk merayakan ulang tahunmu. Douzou! (Silahkan!)” Shiina menyerahkan kado untuk Hanaya. Selanjutnya Rikka, Yagami, dan Shiro. “Arigatou! Ureshii! (Terima kasih! Senangnya!). Mana kadomu Hidate-kun? Atau jangan-jangan kau tidak memberiku hadiah?” Hanaya murung karena tidak diberi hadiah oleh Hidate. Hidate memberi kode kepada Yagami, dan Yagami menutup mata Hanaya. “Ada apa ini? Lepaskan tanganmu Yagami-kun!” “Tidak akan!” kekeh Yagami. Setelah Hidate mempersiapkan kadonya dan menyembunyikan di belakang badannya, Yagami membuka mata Hanaya. “Ada apa ini? Kok Yagami-kun menutup mataku?” tanya heran Hanaya. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Hanaya” Hanaya menatap Hidate dengan heran. Hidate menekuk lututnya dan menjulurkan 2 kadonya ke hadapan Hanaya. “Otanjoubi Omedettou Hanaya. Anata no Koto ga Suki Deshita! (Selamat ulang tahun Hanaya. Aku menyukaimu!)” Hanaya memandang Hidate takjub dan menangis karena terharu. Yagami, Shiro, Rikka, dan Shiina yang menyaksikan terharu dan bertepuk tangan. “Terima saja Hanaya-chan!” seru Rikka dan Shiina. Hanaya menerima kado Hidate, Hidate kembali berdiri. Tiba-tiba, Hanaya memeluk Hidate sambil berkata “Hai. Suki dayo! Arigatou! (Iya. Aku menyukaimu! Terima kasih!)”

Cerpen Karangan: Fitri Asri Nur Fatimah
Blog / Facebook: Fitri Asri Nur Fatimah
Karya: Fitri Asri Nur Fatimah
Ada Part 2 nya loh! Harap dinanti ya! 😀
Douzou! ( Silahkan! ) Arigatou! ( Terima kasih! )
Semoga suka!
Salam, Fitri Asriest

Cerpen Anata no Koto ga Suki Deshita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Michio dan Ceritanya

Oleh:
Karena aku di sini, selalu merindukanmu, di tempat yang sama, di relung hati dan mimpi. Aku terus berlari, tak peduli seberapa banyak hamparan sawah yang kulalui. Tak peduli seberapa

Teru Teru Bozu

Oleh:
Kisah ini bermula saat seorang anak dari Jepang yang bernama Asami Akari. Ia adalah seorang anak semata wayang dari kedua orangtuanya. Sekarang ia hanya tinggal bersama ayahnya karena ibunya

Ame to Niji (Part 1)

Oleh:
Negera di Asia Timur dengan julukan negeri matahari terbit, negara yang terkenal dengan bunga eksotis berwarna merah jambunya yaitu bunga sakura, negara maju dengan segala teknologi yang super canggih,

Because You are Our Hero

Oleh:
Aku memiliki sebuah cerita. Cerita ini tentang perjuangan diriku dan teman-temanku dalam meraih mimpi kami. Dan cerita tersebut dimulai pada hari itu. — Terengah-engahlah aku di lintasan lari lapangan

Wanita di Ujung Lorong itu

Oleh:
Selalu begini, setiap pulang sekolah, aku harus melewati sebuah lorong yang gelap sendirian di ujung jalan Kota Sakurayami. Aku sebenarnya tidak suka lewat lorong tersebut, tapi apa boleh buat,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Anata no Koto ga Suki Deshita”

  1. Gita Hanum Indriyani says:

    Kamu pecinta jepang y???

  2. Gita says:

    Kamu pecinta jepang y???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *