Arigato nee, Ace

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 5 August 2017

Reina menendang-nendang kerikil yang berada di depan sepatunya. Ia sedang kesal hari ini. Bagaimana tidak? Bagaimana bisa ia tidak kesal jika Nata menumpahkan segelas jus pepaya di seragamnya dengan sengaja? Uhk, jika saja Nata bukan anak kepala sekolah, pasti Reina sudah menampar wajahnya.

“Hei, bagaimana harimu?” seorang arwah bertanya pada Reina. Reina dapat mendengarnya, hanya malas menjawabnya.

Reina memang indigo. Itulah mengapa Reina tidak memiliki teman. Sebenarnya ia memiliki teman, namun semuanya semu. Mereka hanya ingin berteman dengan Reina jika ada maunya. Jika sudah terpenuhi, mereka akan meninggalkan Reina begitu saja.

“Tadaima,” kata Reina sembari membuka pintu rumah.

Hening.

Ya, orangtua Reina sudah meninggal 2 tahun lalu. Kini Reina tinggal sendirian. Tidak sendirian, sih. Beberapa arwah mau membantu Reina jika bersih-bersih, makan, atau sekedar menyembunyikan buku komik milik Reina.

Reina melangkah gontai menuju kamarnya. Ia tidak menghiraukan Lisel ataupun Shuu yang sedang menatapnya. Kedua arwah itu tahu Reina sedang kesal. Reina menghempaskan tubuhnya ke kasur yang empuk. Namun, belum mata Reina tertutup, mata gadis itu melihat bayangan di balkon kamarnya. Ia pun bangkit dan berjalan menuju balkonnya.

“Ada orang?” Tanya Reina.

Hening.

Reina celigak-celiguk melihat ke arah sekitar balkon. “Haloooo…”

Sekali lagi hening.

Reina menghela nafas. Kemudian berbalik.
“Halo,”
“Hwa!” Reina hampir saja terjatuh dari balkon jika saja tangan orang yang mengagetkan Reina tidak menarik Reina.
“Daijobu dayou?” Tanyanya.
“Ah, hai. Arigato” kata Reina. Namun tiba-tiba ia terbelak. “Si, siapa kamu?! Kenapa kamu ada di kamarku?!”
“Wow, wow, wow, sabar” kata pemuda itu sambil tersenyum. “Aku bukan pencuri, kok”
“Eh?”
Reina terduduk di balkonnya, melihat sang pemuda yang menatapnya. “Watashi wa Portgas D Ace” katanya.
“Esu?” Tanya Reina bingung.
“Ace” Ace membenarkan ucapan gadis berambut coklat di hadapannya.
“Ace” kini Reina mengucapkannya dengan benar.
“Bagus” Ace tersenyum, antara getir dan sedikit, ehem, manis.
“Jadi, apa maumu di sini?” Tanya Reina hati-hati.
“Hanya ingin, membuatmu memiliki teman” kata Ace.
“Teman?”
Ace mengangguk. “Kau tidak punya teman manusia, kan?”
Kali ini Reina yang mengangguk.
“Baguslah kalau begitu” kata Ace sambil keluar dari kamar Reina. “Oh iya, kamar yang ada di ujung lorong kupakai, ya”
Entah mengapa Reina mengangguk.

“Ace-kun! Makan malam siap!” Panggil Reina dari ruang makan.
“Ace?” Tanya Lisel bingung.
“Siapa dia, Reina-chan?” Tanya Shuu.
“Kalian belum bertemu mereka?” Tanya Reina.
Kedua arwah di depan Reina menggeleng.
“Itu, lho, yang sekarang tinggal di kamar ujung” kata Reina. “Dia tidak seperti kalian”
“Dia jelek atau dia manusia?” Tanya Lisel.
“Aku manusia”
Seorang pemuda masuk ke ruang makan. Ace.
“Ace-kun, silahkan makan” kata Reina.
“Arigato” kata Ace sopan.
Lisel dan Shuu berpandangan.

“Re, Reina-chan…” Belum sempat Shuu berbicara, Ace sudah memotongnya.
“Reina, bolehkah aku makan di kamarku saja? Aku agak, terganggu dengan 2 orang di sampingmu” kata Ace.
“Kau juga indigo?”
Ace mengangguk.
Reina memperbolehkannya. Dan ketika ia menoleh ke arah Shuu dan Lisel, kedua arwah itu sudah menghilang.

“Ace!” Seorang arwah berambut panjang sepunggung mengejar Ace, diikuti dengan temannya yang memiliki rambut pirang.
“Ada apa?” Tanya Ace.
“Kami tahu siapa kau, Ace. Jangan membohongi Reina-chan” kata Shuu.
“Huft, kalian ini” kata Ace. “Baik, baik. Tapi jangan beritahu Reina tentang ini, okay?”

Reina terbangun. Sudah pagi, matahari sudah seperlimanya terbit. Reina pun beranjak ke kamar mandi. Setelah mandi, ia mengambil seragamnya. Seragam sailor putih merah dan rok merah selutut.
Reina turun ke lantai bawah. Samar-samar ia mencium wangi enak dari dapur. Rasanya tidak mungkin Lisel atau Shuu memasak. Jangan-jangan…, batin Reina. Ia melangkahkan kakinya ke dapur. Dugaannya tepat. Seorang pemuda dengan bintik-bintik di wajahnya terlihat sedang memasak. Ace.

“K, kau bisa masak?!” Pekik Reina.
“Sudahlah. Itu, aku sudah membuatkan bekalmu. Dan sebaiknya kau sarapan” suruh Ace.
Reina hanya mengangguk. Mmm, masakan Ace enak juga, batin Reina.

Reina berada di kelas, sedang membaca buku yang diberikan Ace. Entah dari mana ia mendapatkannya. Ia juga membawa buku novel lainnya,
“Oi, Misaki ada di kelas!” Seseorang seperti menyebutkan namanya.
“Akh, Nata,” gumam Reina.
“Ah, Rei-chan ada di sini. Bagaimana kalau kita sedikit ‘bermain’?” Nata menyirgai kearah Reina.
“Ie!” Tolak Reina tegas.
“Jaa, karena Rei-chan menolak, kita paksa dia!” 2 orang laki-laki menarik paksa lengan Reina. Reina meronta, namun tidak ada yang mempedulikannya. Atau lebih tepatnya, mereka takut pada geng Nata.
“Lepaskan!” Teriak Reina.
“Khu khu khu” Nata tertawa kecil.

Mereka membawa (baca: menyeret) Reina ke gudang. Oleh 2 orang tadi, Reina dihempaskan ke dinding gudang. “Uhk!”
“Jaa, Rei-chan. Jangan harap kau bisa lolos” Nata menyirgai ke arah Reina.
“Uhk! Apa maumu?!” Jerit Reina.
“Jelas, kan?” Nata maju ke arah Reina. Ia menjilati leher Reina dengan liar. Kemudian membuka kancing seragam Reina satu-persatu dengan pelan.
“Uhk, Ace-kun, tasukete…” Lirih Reina.

Entah ini keberuntungan Reina atau apa, namun tiba-tiba pintu dibanting paksa. Reina mencoba melihat siapa sang pelaku. Melihat rambut raven orang itu, hati Reina sedikit lega. “Ace-kun,”
Nata dan teman-temannya tampak ketakutan melihat Ace. “Kalian jangan mengganggu Reina-chan, oke?” Ace menyirgai ke arah Nata dan kedua temannya.
“A, A, Ace, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Nata terbata.
“Hanya ingin menyelamatkan sahabatku” kata Ace santai.

Derap langkah kaki terdengar dari luar gudang. Nata semakin panik. Namun anehnya, Ace tampak santai. “Nata! Kau diskors!” Suara berat itu menyapa pendengaran Nata dan Reina.
“O, Oto-san?!” Pekik Nata.
“Cukup! Nata dan teman-temannya di skors selama setahun! Jessy, Miranda, bawa Misaki ke ruang kesehatan!” Teriak kepala sekolah.
Jessy dan Miranda, petugas UKS membawa Reina ke ruang kesehatan. Sementara itu, Nata dan teman-temannya mengikuti kepala sekolah ke ruangannya. Reina dapat menduga mereka akan dimarahi habis-habisan. Namun ia tidak melihat Ace. Sama sekali tidak melihat pemuda ber freckled tersebut.

Reina POV (sampai cerita berakhir)
“Reina!” Beberapa siswi datang menjengukku di ruang kesehatan.
Aku sedikit curiga. “Apa kalian mau memanfaatkanku lagi?” Tanyaku penuh selidik.
“Jangan gila, Rei-chan. Kami seperti itu sebenarnya karena disuruh Nata” kata Hina.
“Benar. Mereka bilang akan memperk*sa kami jika tidak melakukan itu padamu” dukung Sera.
“Kami sebenarnya kasihan padamu, Reina. Namun, Nata adalah anak penuh dendam. Dia menyuruh kami karena tidak ingin kau menjadi anak dengan peringkat tertinggi di kelas” ujar Ghee Ah, seorang siswi pindahan dari Seoul, Korea Selatan.
“Minna,” lirihku.
Aku mencoba untuk berdiri. Namun tubuhku ditahan oleh Ace. “Jangan bergerak dulu” kata Ace.
Aku menunduk. “Hai,”

“Reina, kamu bicara pada siapa?” Tanya Ghee Ah.
“Aku bicara pada Ace!” Aku bersikeras.
“Hanya ada kita berempat di sini, Rei-chan” kata Sera.
“Uso!” Bantahku. “Ace ada di sini!”
“Reina-chan, kamu melantur” kata Hina.
“Iya. Sepertinya kau kurang tidur” kata Ghee Ah.

“Ah, Reina-chan! Apa maksudmu Portgas D Ace?” Tanya Hina tiba-tiba.
Aku mengangguk. “Nande?”
Mereka bertiga terkesiap. Membuatku cukup bingung.
“Rei-chan. Kamu sudah baca koran sekolah 2 bulan lalu?” Aku menggeleng mendengar pertanyaan Sera.
“Memangnya kenapa?” Tanyaku.

Ghee Ah memberiku sepotong koran yang entah darimana dia ambil. Aku terkesiap membaca potongan judul berita tersebut.
‘PORTGAS D ACE DITEMUKAN TEWAS DI TAMAN BELAKANG SEKOLAH’

Bulu kudukku merinding seketika. Ace…, sudah mati?
“Mianhae, kudengar Reina seorang indigo. Apa itu benar?” Tanya Ghee Ah tiba-tiba.
Aku mengangguk gemetaran.
Aku menoleh ke sampingku. Ace sudah menghilang.

‘Katanya, siapapun yang kesepian akan diikuti olehnya sampai orang itu memiliki teman’
‘Ace akan kembali ke alamnya setelah “pekerjaannya” selesai’

“Ace!” Aku terengah-engah kembali ke rumah.
Brak!
Aku membanting paksa pintu rumahku. Tak kupedulikan tatapan aneh dari Lisel dan Shuu. Aku berlari menaiki lantai 2, dan membanting pintu kamar Ace.
“Ace!” Aku melihat Ace berdiri menatap langit.
“Oh, Reina! Doushita no?!” Airmataku mengalir mendengar suaranya. “Reina?”
Ace menghampiriku. “Reina, doushite?” Tanyanya sekali lagi.
“Ace,” aku menatap wajahnya. “Nande? Nande? Kau tidak memberitahuku bahwa kau tidak akan di sini lagi?! Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau adalah hantu?!”
Ace mengusap air mataku. “Jangan menangis,”
Sontak aku memeluknya. Aku membiarkan air mataku membasahi dada Ace. Aku mungkin terlihat lebih bodoh daripada saat aku ditindas Nata. Tapi aku tak peduli.
Tak kusangka, Ace membalas pelukanku. Membuat tangisanku makin kencang. “Aishiteru nee yo, Ace!” Teriakku. “Arigato!”
Aku menatap wajahnya. Senyuman Ace yang biasa kulihat, getir dan sedikit manis menyapa indra mengelihatanku. Perlahan sosoknya memudar. “Aku harus pergi. Ja nee…” Katanya.
“Ace! Jangan pergi!” Pekikku.
Namun sosok Ace tetap memudar. Sampai akhirnya ia menghilang. “ACEEE!!!!” Jeritku.

Sebentar lagi aku akan lulus dari sekolahku. Rangkaian bunga lily orange berada di genggamanku. Taman belakang sekolah adalah tujuanku. Yah, tempat dimana Ace meninggal.

Aku melihat sebuah batu nisan, tempat tanda Ace meninggal. Kuletakan karangan bunga itu. “Ace, sekarang aku akan lulus. Kemungkinan besar aku jarang kesini. Tapi aku akan berusaha meluangkan waktuku untuk pergi ke sini, Ace” kataku.

“Kau tahu, karena kau menyelamatkanku dulu, saat hampir diperk*sa Nata, aku memiliki banyak teman. Arigato nee, Ace.” Kataku. “Nee, Ace. Aku masih mencintaimu. Sampai sekarang aku tidak ingin ada pria lain mengisi hatiku. Cukup kau saja, yang ada dihatiku”
Aku menyeka air mataku yang tadi jatuh. “Ace. Kau tenang di sana, ya. Jangan khawatirkan aku. Usiaku sudah 17 tahun. Aku bisa membela diriku sekarang” kataku.

Tiba-tiba aku merasa pundakku ditepuk seseorang. Sontak aku menolehkan kepalaku ke belakang. Aku terkesiap.

“Ace!”

TamaT

Cerpen Karangan: Portgas D Ace
One Piece cuman punya guru gue yang pinter, Oda-sensei. Gue cuman minjem si Ace buat dijadiin karakter cerita gue. Tapi cerita ini sama sekali tidak bersangkutan dengan One Piece.

Cerpen Arigato nee, Ace merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Through My Story

Oleh:
Namaku Banjiro Kiyoshi, aku bersekolah di SMA Date, aku duduk dibangku kelas 2C. Sesuai dengan namaku, Kiyoshi, yang artinya pendiam. Aku sangat jarang berkomunikasi dengan teman sekelasku, aku tidak

Hate To Love

Oleh:
Aku fans, bukan hanya sekedar fans. Tapi juga ‘suka’. Tapi apa mungkin orang sepertiku yang ia pilih? Iya kan?. Gadis yang aneh, jelek, dan yah… begitulah. Tak akan mungkin

Beauty Spirit

Oleh:
Dia cantik, lebih cantik dariku. Namun sayang ia tidak pernah bicara sama sekali. Penampilan dan sifatnya yang misterius membuat semua murid di kelasku tak mau mendekatinya sama sekali. Ia

Yume Monogatari

Oleh:
Angin bertiup lembut di siang panas nan terik, membuatku bisa merasakan sedikit rasa sejuk di saat badan ini terasa terbakar oleh matahari. Aku terus berjalan tergesa-gesa, berusaha secepat mungkin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *