Fire Fly (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 4 February 2016

Juni. Setelah sekian lama aku tak menghirup bau aneh buku-buku tebal dan acuh dengan sepasang seragam model pelaut yang menggantung di depan lemari, kini saatnya bertemu mereka kembali. Waktu liburan kenaikan kelas sudah habis, dan sekarang saatnya berkutat dengan buku-buku pelajaran yang menyebalkan.

Jam belajarku ditambah menjadi 2 jam lebih lama, begitulah yang tertulis di Buku Laporan Kegiatan Harian Siswa. Buku itu buku yang menuliskan jadwal kegiatan sehari-hariku dan semacam koneksi antara orangtua dan guru. Aku yakin, pasti Ibuku yang menuliskannya. Tulisan tangannya sangat mirip denganku. Mau tak mau, aku tidak bisa menggantinya -tulisan jadwal itu ditulis dengan pulpen, dan aturannya tidak boleh menggunakan tipe-x. Ini buruk, sangat buruk. Jadwal menonton anime di Sabtu dan Minggu akan terganggu.

Rasanya, hidup ini semakin membosankan saja. Tidak menarik dan menantang seperti di anime yang sering ku tonton. Haahhh. Aku dengan malas mengenakan seragam pelautku dan membawa tas biru muda ke ruang keluarga. Sudah ada Ibu, Kenta, dan Ciel. Kalau tidak ada Ayah, artinya dia sudah kembali ke kantornya di kota lain dan pulang minggu depan. “Ohayou, Hanae! Tadi aku lihat di Buku Laporan Harian Kegiatan Siswa, kau menambah jam belajarmu ya? Hohoho, kau rajin sekali! Ibu akan membantumu membeli dan meminjam soal-soal latihan masuk SMA favorit di dekat Stasiun Jii!”

“Diamlah,” kataku kasar, lalu mengambil potongan telur dadar kornet yang tampaknya lezat. Tapi setelah ku coba, rasanya agak hambar. “Bumbu tanpa MSG,” Ibu terkikik geli melihat wajah bingungku. “MSG tak bagus untuk otak anak kelas 9.” Aku terus memakan telur dadar kornetku tanpa mempedulikan ucapan ibu barusan. Segalanya sudah diatur olehnya, kan? Menu sarapan. Jam belajar. SMA Favorit dekat Stasiun Jii. Aku bahkan tidak bisa menentukan, sekali saja, aku ingin menambahkan pecin dalam sup miso. Ini membosankan. “Terima kasih atas makanannya,” aku segera beranjak begitu menelan suapan terakhir, dan bergegas mengenakan sepatu. “Hati-hati di jalan, Nee Chan!”

Suara bising di Stasiun Jii terdengar memekakan telinga. Sebenarnya, ini wajar, karena sekarang tahun ajaran baru. Murid-murid dengan seragam sekolah baru mereka tampak berjalan berdampingan dengan teman-teman baru. Ada juga yang berjalan sendiri dan tak peduli dengan sekitarnya. Mungkin, aku termasuk orang di tipe kedua. Dengan malas, aku melangkah ke luar Stasiun. Jangan bertanya tentang temanku ataupun apa. Aku dekat dengan banyak orang, tapi mereka hanya bersamaku bila sedang bermusuhan dengan sahabatnya. Lagi pula, berteman bergerombol itu tidak menyenangkan. Terus bersama. Membosankan.

Langkah kakiku tiba-tiba terhenti saat aku merasa pundaku ditepuk halus oleh seseorang. “Apa kau murid SMP Nichijii?” Seorang laki-laki berambut hitam dan berkacamata. Dia memakai seragam hitam dengan kancing berwarna emas berlambangkan buku dan akar, seperti lambang sekolahku, SMP Nichijii. Tubuhnya tinggi, mungkin sekitar 175 cm, seperti Ayah. Entah mengapa, sepertinya aku tidak asing dengan orang ini. Mungkin, karena kami satu sekolah?

“Haloo! Apa kau murid SMP Nichijiii??” orang itu mengulang lagi ucapanya.
Aku tersedak, tersadar dari lamunanku. Yang tadi itu pasti memalukan. Jangan sampai orang ini mengira aku sedang mengaguminya! Cih, menjijikkan. “Tidak perlu mengulangnya bodoh, aku tidak tuli!”

Dia menyerngitkan alisnya, seperti bingung. “Apa kau marah?” Aku berbalik badan dan berjalan begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya, baik yang pertama atau yang terakhir tadi. Aku tidak peduli. Memangnya siapa dia, tiba-tiba menyapaku begitu saja, dan membuatku risih? Menyebalkan. Membosankan. Mungkin seperti di shoujo manga yang sering aku baca, tapi aku bukanlah tokoh utama yang terlalu lemah dan gampang tertipu. Cinta pada pandangan pertama itu tidak ada! Kalau ada, maka itu akan menjadi hal yang memalukan. Kecuali di Shoujo Manga. Itu prinsipku.

Karena aku takut -ralat, aku tidak takut apa pun. Maksudnya, karena aku risih- aku segera berjalan dan memasuki gerbang sekolahku, berbaur dengan ratusan murid lainnya agar dia tidak bisa mengenaliku. Hei. Tidak biasanya aku.. ingin menghilang seperti ini. Aku memasuki ruang kelas baruku, kelas 3-F. Tidak seperti sekolah lainnya, di sekolahku menerapkan sistem acak untuk murid di kelas. Jadi, setiap tahunnya, aku tidak sekelas dengan murid yang tahun lalu, walaupun ada beberapa yang aku kenal. Menurut pihak sekolah, hal ini dilakukan demi membantu murid belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Yah, mungkin, dalam arti lain, mereka ingin sedikit bermain dengan kami, para murid.

Kali ini, ruang kelasku hanya ada beberapa orang. Mereka bergerombol dan tertawa keras. Membosankan. Selalu pemandangan seperti ini yang aku lihat. Coba sekali-kali mereka bertengkar dan mencoba memukul teman mereka sendiri sampai berdarah. Itu akan sedikit menarik dan tidak monoton. Lalu, mereka akan dikeluarkan dari sekolah dan aku tidak peduli dengan hal itu. Aku memutuskan untuk memilih tempat duduk di kedua paling belakang. Ada semacam pertanda tak tertulis.

Barisan depan, untuk anak-anak pintar yang tidak tahu cara menikmati hidup, karena mereka akan senang hati menghabiskan waktu istirahat untuk belajar. Barisan tengah, untuk anak-anak sok tahu dan tidak sepintar di barisan depan. Mereka senang main-main dan diam-diam menyelipkan komik di kamus bahasa Inggris. Dan barisan terakhir adalah barisan anak-anak yang tidak terlihat pintar, tapi bisa lolos ujian tanpa mengulangnya. Barisan ini tidak peduli dengan keadaan kelas. Barisan ini, barisan yang membosankan.

“Ohayou!” sapa seseorang, begitu aku baru saja duduk di bangku.

Sebentar. Rasa-rasanya aku mengenal suara ini. Mungkin, salah satu teman di kelasku tahun lalu. Ah, orang yang sama. Membosankan. Aku memutuskan untuk tidak menoleh ke belakang. Jika aku menoleh, maka dia akan mengajakku mengobrol dan kami akan dekat. Aku tidak mau seperti itu. Membosankan. “Haloo! Ohayouuu! Kau ini, apa benar-benar tuli ya?” Eh? Tuli?
“Cih, tapi barusan kau yang bilang loh, kalau kau tidak tuli! Balas dong, bilang ohayou juga!” Aku? Barusan? Kapan? “Kau benar-benar marah gara-gara tadi ya? Maaf, aku memang agak gugup, jadi mengagetkanmu, deh.” Marah? Gara-gara tadi? Tadi Kapan?

“Hohoho, sepertinya kau masih marah.” Sebentar. Jangan bilang kalau orang yang di belakangku ini.. Aku menoleh dengan cepat ke belakang. Orang tadi, berambut hitam berkacamata, seragam Nichijii, cengiran yang khas. Orang ini, orang yang tadi membuatku malu di Stasiun Jii. “Haaiii!” katanya tersenyum lebar, sampai-sampai matanya menyipit. Tangannya terulur begitu saja. Aku tidak tahu, tapi aku refleks menjabat tangannya dan terdiam.
“Namaku Nagi. Kotoishi Nagi. Salam Kenal.”
“..Hanae. Kayasi Hanae.”

Dan, di hari pertama sekolah itu, aku rasa ini hari tersial. Bertemu dengan seseorang yang membuatku malu di depan umum, satu kelas dengannya dan bahkan dia duduk di belakangku!
“Namaku Nagi. Kotoishi Nagi.” Aku terhenyak. Seperti ada suara lain yang terdengar. Seperti.. aku pernah mengalami ini sebelumnya.
“Nagi! Nagi-kun! N-a-g-i! Begitu cara mengucapkan namaku!”
Nagi. N-a-g-i. Na-gi.
“Kenapa, Hanae?”
“Kenapa, Hanae-chan?”

Aku terhenyak lagi. Suara-suara lain terdengar, dan aku seperti ditarik oleh sesuatu yang menyenangkan. Rasanya seperti, aku ingin terus mendengar suara-suara lain tadi. Sesuatu ini terdengar menyenangkan, tidak seperti kehidupanku sekarang yang sangat membosankan. “Aku..” Bingung. Bingung, kenapa tiba-tiba? Rasanya seperti..
“.. pernah mengenalmu,” Nagi hanya terdiam dan tersenyum lebar. Matanya tidak menyipit lagi -matanya menatapku dalam. “Tidak mungkin,” katanya pasti. “Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Mutiara Fauziah
Blog: mutiarawl.tumblr.com
Facebook: Mutiara Fauziah Nur Awaliah

Cerpen Fire Fly (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hopeless and Step

Oleh:
Musim semi terasa sangat indah hari ini. udara desa Konoha terasa sejuk dan pemandangannya yang indah menjadi nilai plus mengapa desa Konoha menjadi desa terindah sekaligus desa terbaik di

Surat Kapten (Part 2)

Oleh:
Seraut wajah yang benar-benar kurindukan apa yang ada padanya. Ia pucat, kenapa? tubuhnya terbaring, sakitkah? Ia tak menjemputku seperti yang lainnya, tak mendekapku dan hanya tersenyum sayu padaku. Dadaku

Di Bawah Rindang Mapel Haruizawa

Oleh:
Siang hari yang begitu cerah di pinggiran kota. Ujung-ujung sengatan panasnya menghujani ubun kepala. Seisi kota bagai kelap-kelip berlian yang ditumpahi taram temaramnya sinar mentari. Desahan angin senduh bergantian

Kesialan Yang Berakhir Manis

Oleh:
Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 sore. Langit di luar sana telah berubah warna menjadi jingga kemerahan. Aku berhenti sejenak untuk mengelap tetesan keringat yang telah jatuh satu per satu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *