Frustrations

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 23 August 2017

Sudah sebulan. Ya, sudah sebulan sejak Marineford War. Sejak kematian 2 orang yang sangat berharga bagi Marco. Shirohige, ayahnya -dan ayah mereka samua-, dan… Ace. Mungkin hanya anggota divisi 1 bajak laut Shirohige, serta beberapa ketua divisi, yang tahu ini. Marco. Sejak kematian dua orang yang sangat berharga bagi seluruh anggota bajak laut Shirohige itu, Marco sangat depresi. Mungkin, kata yang lebih tepat mengungkapkan perasaannya adalah frustasi.

Haruta sedang berada di dapur ketika ia melihat Izou kebingungan.
“Ah, Haruta” kata Izou. “Kau lihat pisauku?”
“Pisau yang mana?” Tanya Haruta.
“Yang baru saja kita beli kemarin, di pulau yang terakhir kita kunjungi -entah apalah namanya, aku tak peduli” kata Izou sambil terus mencari pisaunya tersebut.
“Oh, yang itu” kata Haruta. “Aku tidak melihatnya”
Wajah Izou berubah cemberut. Namun sebelum Pria Cantik itu memberi sentilan mautnya pada Haruta, wajahnya berubah panik. “Haruta, coba kau lihat Marco. Terakhir kali aku melihatnya ia mencoba bunuh diri dengan pisau milik Thatch dulu” kata Izou.

Daripada terkena sentilan maut sang okama, Haruta cepat-cepat pergi ke ruangan Marco.
“Marco,” Haruta mengintip ruangan si Pemuda Phoenix.
Yang didapatinya hanyalah ruangan gelap. Entah Marco sedang tidur, atau… ia hanya malas menyalakannya. “Marco..” Kali ini Haruta masuk ke dalam ruangan -lebih bisa disebut kamar- Marco.

Clak!
“Hmm?” Haruta membungkuk untuk melihat apa yang diinjaknya, namun terlalu gelap untuk melihat. Haruta pun menggesek jari telunjuk dan jari tengahnya ke sesuatu yang diinjaknya. ‘Da-darah?!’ Haruta cepat-cepat menyalakan lampu. Dan ia melihat tubuh ketua divisi 1 tersebut bersimbah darah. Pisau yang tadi dicari-cari oleh Izou berada di genggaman Pemuda Phoenix tersebut.

“Marco?! Ya ampun, MARCO!!” Teriak Haruta.
“Haruta, ada apa?!” Izou tiba-tiba berada di depan kamar Marco. Izou terhenyak. “MARCO!!!”

Perlahan-lahan mata itu terbuka, menangkap sebuah ruangan serba putih (atau entah apa warnanya), dan beberapa ketua divisi bajak laut Shirohige. Haruta tampak tersenyum dan berlari meninggalkan tempat tersebut. “Minna! Marco sudah siuman!”
Terdengar sorakan dari anggota lain, beberapa mengucap syukur.

Izou menyentil kening Marco, membuat Pemuda Phoenix itu meringis kesakitan. “Dasar kau ini. Sampai kapan kau akan terus begini?!” Tanya Izou. “Berhentilah melakukan hal konyol yang bisa membahayakan nyawamu”
“Izou benar” dukung Vista yang duduk di samping Izou.
“Vista,” gumam Marco.
“Jika kau mau bunuh diri, ceburkan saja dirimu ke laut” Izou membekap mulut Haruta sebelum ia berbicara lebih banyak lagi.
Marco termenung sebentar. Setelah Izou, Vista, dan Haruta pergi dari ruang rawat tersebut, Marco merebahkan diri, setidaknya ia ingin tidur lelap sekarang.

“Oi, kau lihat Marco?” Pertanyaan Blamenco membuat Haruta yang kebetulan berjalan lewat sana menoleh ke arah Blamenco dan Curiel.
“Tidak. Ada apa?” Tanya Curiel balik.
“Yah, firasatku tidak bagus. Lagipula, aku belum melihat Marco seharian ini”
“Mungkin ia sedang tidur”
“Hahaha… Benar juga, ya”
“Hei, kudengar pisau milik Izou menghilang lagi”
“Ah, yang kemarin itu? Bukankah sudah ketemu? Marco memakainya untuk bunuh diri, untungnya gagal”
“Tidak. Pagi ini Izou bertanya padaku, namun kujawab tidak karena aku tidak tahu”
“Ya sudah, ayo pergi”
“Ya”
Kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan Haruta yang terkejut. ‘Marco, jangan-jangan dia..’

Sementara itu…
Di pinggir dek kapal…
Pemuda 20 tahun itu menatap langit dengan mata terpejam. Tangan kirinya memegang pisau dapur. Yang ia inginkan hanyalah, bertemu kembali dengan Ace dan Shirohige, walau harus mati sekalipun.

“Oyaji, Ace, aku menyusul, ya?” Marco tersenyum getir, kemudian mengiris pergelangan tangan kanannya. Sakit, namun Marco tak peduli. Segera, ia melompat, terjun ke laut.
“MARCO!!” Samar-samar, ia dapat mendengar teriakan Haruta. Namun ia tidak peduli lagi. Ia hanya ingin mati sekarang.
“Sayonara, minna” dan Marco menutup matanya begitu dinginnya air laut menyambut tubuhnya.

“Ohok!” Marco memuntahkan air laut sebelum kesadarannya setengah pulih.
Okay, kini ia dapat melihat Izou, Vista, Jozu, Blamenco, Curiel, dan beberapa orang lain yang akan memakan waktu seharian jika disebutkan. Namun ada satu orang yang tidak dia lihat. “Di mana Haruta?” Tanyanya.
“Mencariku?” Pemuda Phoenix itu mendongak ke atas. Ia dapat melihat Haruta yang memangku kepalanya.
Lagi-lagi Izou menyentil kening Marco. “Sudah berapa kali kubilang agar tidak melakukan hal konyol? Itu dapat membahayakan nyawamu!” Omel Izou.

Marco terdiam sebentar. Ah, kini ia dapat merasakan sakit di kedua lengannya. Namun, sekali lagi ia melihat Haruta tersenyum. “Tenang, aku sudah mengobati lukamu” katanya. Ketua divisi 1 tersebut menoleh ke arah kedua tangannya bergantian. Benar saja, kedua tangannya terbalut perban, yang jelas-jelas ternoda rembesan darah walaupun sedikit.

“Nah, sekarang kau istirahat. Dan jika kau berbuat hal sembrono lagi, aku bisa membunuhmu” ancaman Izou membuat Marco ingin tertawa. Namun melihat wajah marah ketua divisi 16 tersebut, Marco pasrah saja. Jelas ia -dan semua orang- tahu apa jadinya jika Izou marah.

Haruta dan Jozu membantu Marco kembali ke kamarnya. “Marco, kalau ada apa-apa, panggil saja aku atau Izou. Atau siapapun” kata Haruta sebelum ia dan Jozu pergi meninggalkan kamarnya.

Ah, rasanya Marco ingin menangis jika mengingat Shirohige dan Ace. Namun dengan adanya saudara-saudara yang melindunginya, ia juga dapat merasakan kehadiran 2 orang kesayangannya. “Bagaimana rasanya di sana, Oyaji? Ace? Kapan-kapan aku akan mengunjungi makam kalian lagi, bersama keluarga besar kita” kata si Pemuda Phoenix sebelum ia tertidur lelap.

TAMAT

Cerpen Karangan: Portgas D Ace
Ini hanya karangan belaka dari sang penulis. Jadi kalau ada yang bertentangan dengan alur cerita One Piece, ya, maafkan saja (hahaha…). Dan ingat juga One Piece sepenuhnya milik Oda-sensei. Saya hanya meminjam.

Cerpen Frustrations merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


100 Hari Menuju Cahaya Abadi

Oleh:
KRING! KRING! Suara bel sepeda terdengar mendekati pekarangan rumahku. Ku lihat, ternyata Hitori. Dengan mengenakan baju lengan pendek dan celana jeans pendek selutut, dia tampak mempesona. Senyumnya yang bagaikan

Misteri Ledakan Keempat

Oleh:
Pagi yang kurang bersahabat, langit tampak mendung, seperti menandakan akan terjadi sesuatu, di sebuah sekolah menegah pertama, saat itu para siswa sedang mengerjakan ulangan mid semester. Saat sedang sibuk

Pernyataan yang Terlambat

Oleh:
Selesai bekerja, Karen beristirahat di bangku taman Ueno sembari membaca novel kesukaannya. Ia bekerja sambilan sebagai pemandu wisata di taman Ueno, Tokyo, Jepang. “Lucy pun memeluk Aslan.. eh?” gumam

Welcome To My Japan

Oleh:
Grissel, yap! Nama lengkapnya adalah Grissel Fanabishi Noi Sakurashi. sungguh panjang bukan? Dia biasanya dipanggil dengan sebutan Grissel atau jika temannya sedang iseng dipanggil dengan ‘Sel Tubuh’. Dia akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *