Happy End

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 3 November 2018

Pernahkah kalian mendengar cerita dongeng putri yang berakhir indah bersama seorang pangeran tampan. Akhir bahagia atau disebut “Happy End” selalu diidam-idamkan semua orang, termasuk aku. Namun, sekarang aku mulai berpikir dua kali, “Apa di dunia yang kejam ini, ada akhir bahagia yang ditakdirkan untukku?”

Sekitar pukul 6 sore, aku barusaja pulang dari tempatku bekerja di toko roti dekat Stasiun Shibuya.

“Kuro-kun! Konbanwa!” Sapaku. Dia Kuro, sahabat sejak SMU, sekaligus cinta pertamaku. Seperti biasa, ia main ke rumahku sehabis seharian berkutat di kampus. Jurusan yang ia ambil cukup berat, jadi dia sering main ke sini untuk menenangkan diri. Aku cukup senang Kuro bisa kemari menemaniku. Aku jadi tidak kesepian lagi.

“Konbawa, Mirai-chan. Kau tidak bertambah tinggi, ya. Lihat kau tetap setinggi ini.”
“Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak pendek, hanya saja… kurang tinggi.”
“Tapi kenyataannya, aku lebih tinggi darimu.”
“Lihat saja! Setelah ini aku akan tumbuh, dan kau akan menyesal!”
“Cepatlah, umurmu hampir 20 tahun.”
“Ahh… akan aku buatkan ramen. Kau lapar kan? Tap-tapi aku melakukan karena kasihan padamu, dan sekarang aku juga lapar. Mengerti!?”
“Tsundere, kah?”
“Uuuh! Diamlah! Mau makan tidak?”
“Oke-oke… aku menyerah. Aku lelah tertawa. Arigatou Mirai-chan.”

Hari ini, angin malam berembus lembut. Kelembutannya dapat kurasakan dari jendela dapur bercampur dengan aroma ramen. Mungkin besok adalah hari yang baik. Aku jadi tidak sabar.

Tapi sepertinya tidak…

PRANG!
“Sumimasen!” Entah kenapa sedari pagi, aku selalu mendapat kesialan. Tiga piring telah kupecahkan, adonanku tak mengembang, saat kuulang lagi rotinya gosong. Ditambah aku ketinggalan bus, membuatku terlambat datang. “Setelah ini apa lagi!? Sial sekali aku…” Gumamku. Aku lelah sekali… tapi hari masih panjang, aku masih harus berkutat lagi dengan para pelanggan, dan roti.

“Mirai, kau di dalam? Aku masuk ya?”
“Ah, bos.”
“Tentang yang terjadi hari ini, sepertinya kau butuh istirahat. Mungkin kau kelelahan, jadi sekarang kau bisa pulang. Istirahatlah…” Pluk! Bos menepuk dahiku. “…dan, pulihkan pikiranmu.” Lanjutnya. Ah! Bos terlalu baik, perhatian sekali pada karayawannya.

“Matte… Mirai. Eto…”
“Kenapa bos?”
“Tidak apalah, aku lupa mau bilang apa. Nikmati waktu istirahatmu, jangan sampai jatuh sakit.”

Ya… mungkin inilah jalan terbaiknya. Bos benar, aku mungkin lelah, dan butuh istirahat. Untung saja, bosku adalah seorang yang baik hati. Kalau tidak salah umurnya tak jauh berbeda denganku. Jadi intinya, kami seumuran. Matahari masih betah di atas sana. Lagipula ini masih pukul dua, dan sekarang adalah musim panas. Jadi siang akan lebih lama dibanding malam. Di saat seperti ini, banyak hal yang seharusnya kulakukan di toko. Seperti memasak, melayani tamu, menghias kue, membersihkan dapur, dan banyak lagi. Lalu sekarang apa harus melakukan apa? Menemui Kuro kah? Apapun itu, semoga saja kesialan ini cepat berakhir.

“Mungkin aku main ke rumah Kuro saja.” Pikirku. Aku berjalan melewati persimpangan perumahan tempat aku, dan Kuro tinggal. Kebetulan dekat dengan taman. Disanalah kami dulu sering bermain. Tapi aku mendengar suara Kuro bercakap-cakap dengan orang lain. Suaranya yang berat terdengar jelas dari arah taman. Menguping pembicaraan orang mungkin bukan hal baik, tapi entah kenapa aku begitu penasaran. Dilihat dari nada bicaranya, sepertinya Kuro membicarakan hal serius.

“Misaki, ada hal yang ingin aku katakan.” Ujar Kuro. Hah? Misaki? Untuk apa ia memanggil Misaki ke sini? Aku jadi semakin penasaran.
“Nani Kuro-kun?”
“Hal ini sudah kupendam lama sekali.” Sudah dipendam? Lama? Gawat! Jangan jangan… dia…
“Eto… eto… Misaki, ore wa suki!” Lanjut Kuro. Ia mengatakannya dengan begitu lantang. Kalimat itu pun sukses melekat di otakku. Mungkin untuk selamanya. Spontan aku syok, kakiku bergetar hebat.
“Jadi dia masih tidak melihatku? Padahal kami bergitu dekat.” Ujarku. Bibirku bergetar, air mataku mengalir deras layaknya air terjun Niagara. Hampir lima tahun kami bersahabat, dan sampai detik ini, dia masih tidak melihatku. Setelah semua yang kulakukan padanya… aku berharap suatu hari nanti ia akan melihatku. Sungguh hari yang sial…

Mengalami kesialan diawal hari, lalu kehilangan pangeran yang merupakan cinta pertamaku. Dengan kata lain, aku tetap tinggal di zona sahabat. Kalimat yang Kuro ucapkan pada Misaki, meyakinkanku akan satu hal. “Tak ada happy end yang ditakdirkan untukku.”

Aku memutuskan untuk berbalik, dan berlari menuju tempat yang paling jauh untuk kupikirkan. Itu menurutku. Pada akhirnya aku hanya sanggup berlari ke jembatan. Sungai di bawah jembatan ini sangatlah jernih. Sampai kau dapat melihat pantulan dirimu di air. Terlihat dari bentuknya jembatan ini sudah kuno, dan kelihatannya ditinggalkan. Angin berembus kencang di sini, mengibaskan ratusan ilalang yang tumbuh di bawah jembatan.

“Aaaaaakhh!” Aku berteriak sekuat-kuatnya, membiarkan emosiku keluar. Angin meredam teriakanku dengan hembusan kencangnya. Emosiku mendorong untuk terus berteriak hingga aku benar benar lelah.

“Konnichiwa, Mirai” Sapanya. Reflek aku menoleh ke arah suara, dan orang itu adalah bos. Kenapa dia bisa di sini?
“Eh? Bos!?”
“Kenapa kau berteriak seperti itu? Suaramu terdengar sampai seberang jalan, apa kau tidak malu?” Ujarnya terus terang. Tenyata perkataan jujur bos itu kadang bisa menyakitkan.
“Heh? Terdengar, ya? Ah… malunya.” Ujarku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
“Dan kenapa matamu bengkak? Kau habis menangis?” Tanya bos. Aku mengangguk kecil.
“Bisa kau ceritakan padaku?” Tanya bos. Ia memang perhatian, beruntung sekali aku punya bos yang baik seperti dia.
“Maaf, ini masalah pribadiku, jadi harus kuselesaikan sendiri.” Tolakku. Aku tidak bisa mengatakan pada bos kalau aku hanya patah hati. Padahal aku bukan anak SMU lagi, tapi masih galau galauan.
“Oke, tapi setidaknya…” Gyut! Ia memelukku, dan tangan besarnya mengelus kepalaku. Aku merasa kesedihanku lenyap begitu saja mengikuti angin berembus. “…setidaknya aku bisa bantu menenangkanmu.” Lanjutnya.

Jantungku berdegup lebih kencang, dan sepertinya bos juga begitu. Aku tahu bos memang baik, tapi apa ini normal? Tubuhnya merenggang, ia melepas pelukannya. Memang, aku sudah lumayan tenang tapi bos benar benar sukses membuat wajahku memerah.

“Gomen, apa aku mengagetkanmu?” Tanyanya.
“Iie, kau membuatku tenang. Arigatou.” Ah! Canggung sekali.
“Jujur saja, jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Kau juga?” Ujarnya. Aku mengangguk.
“Kalau aku bilang, aku suka padamu, apa jantungmu akan berdetak tiga kali lebih cepat?” Pertanyaan macam apa itu? Apa bos serius? Oh ya ampun, jantungku hampir meledak.
“Eh? Ini benar bos kan? Bos tidak melantur kan?”
“Siapa bilang aku melantur, aku serius. Aku jatuh cinta padamu saat kau pertama kali bekerja di toko. Aku suka padamu, jadi… kau mau, jadi pacarku?”
“Bos… kau serius?”
“Of course, Mirai.”
“Baiklah kalau begitu.” Aku memgamgguk pertanda menerima bos sebagai pacarku. Raut wajahnya mengembang, bahagia sekali.
“Bahagianya. Karena kau pacarku, jangan panggil aku bos, namaku Sakagami Ryu.”

Di sore yang cerah di musim panas. Setelah melewati banyak kesialan, untuk pertama kalinya ada seorang pria yang menyatakan cintanya padaku. Aku agak kecewa dia bukan cinta pertamaku. Tapi mungkin Tuhan ingin melihatku bahagia dengan orang yang telah ia tentukan. Memang, aku tak ditakdirkan memiliki “Happy End”, tapi aku ditakdirkan untuk memiliki “Special End”.

Cerpen Karangan: Yukino Kinoshita a.k.a KNS
Blog / Facebook: Yukino Kinoshita
Kharisma Nur Shofiyya itulah namaku, mwnjadi penulis itulah jalan ninjaku!
Umur 14 tahun, dan tengah berada di 3 SMP
Pemula, moga aja bagus. Gila akan popularitas.
Juga membuat cerita di wattpad dengan akun gloriapw
Berjudul “Kuro to Shiro (black white)” cuman itu karya saya.
Vote…
Menerima kripik (kritik) dan saran…

Cerpen Happy End merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Futatabi Auyakusoku

Oleh:
Angin sepoi-sepoi yang berhembus di padang bunga ini, sangat menyejukkan sekali. Aku lihat ayah dan ibu tersenyum padaku, aku benar-benar merasa indahnya kehidupan saat ini, bercanda ria, tertawa, dan

Aishiteru

Oleh:
Aku menyukainya sejak lama. Mungkin sekitar 2 tahun atau lebih. Tapi selama itu aku tak pernah sekalipun mendapat lirikannya. Ya, sulit memang mendapat perhatian pria itu. Dia begitu dingin,

Secret Love

Oleh:
“Aiko-chan tolong bawakan air untuk kami ya” “Baik kapten, akan aku bawakan” Aku tersenyum pada lelaki itu. Lelaki yang sudah dua tahun ini menjadi pengisi hatiku. Aku, Fujiwara Aiko,

Anak yang Misterius

Oleh:
Bus sekolah kami yang kami tumpangi menjadi sangat tidak seru. Tidak seperti yang kami tumpangi kemarin. Seru sekali. Tapi saat ini tidak. Apa sih yang salah? Ban tidak bocor,

Frustrations

Oleh:
Sudah sebulan. Ya, sudah sebulan sejak Marineford War. Sejak kematian 2 orang yang sangat berharga bagi Marco. Shirohige, ayahnya -dan ayah mereka samua-, dan… Ace. Mungkin hanya anggota divisi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *