Haruskah Aku Kembali?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 16 June 2017

Namaku Koyuki, aku tinggal bersama kakak kandungku Ryusuke. Kakakku jarang ada di rumah karena sibuk bekerja, dan aku hanya ada di rumah setelah pulang sekolah.

Aku bersekolah di SMA Mishima, sebuah sekolah swasta yang terletak di daerah Osaka. Ayahku telah meninggal karena serangan jantung empat tahun lalu, dan ibuku meninggal karena sakit setahun lalu.

Sebelum masuk SMA, aku adalah seorang siswa yang sangat terkenal di SMP. Aku mendirikan sebuah band saat duduk di SMP. “Dying Breed”, itulah nama bandku. Kami membawa aliran rock alternatif dan aku adalah seorang vokalis dengan suara scream dan growl yang menyeramkan, bisa dibilang seperti suara Kyo, si vokalis band Dir en Grey. Tapi, setahun lalu aku memutuskan keluar dari band tersebut dan meninggalkan dunia musik.

Menurutku, musik adalah hal yang tak bisa dipisahkan dengan manusia, bahkan diriku sekalipun tak bisa dipisahkan dengan musik. Pertama kali aku bermain musik saat aku kelas tiga SD, alat musik pertamaku adalah drum. Saat kelas lima, aku mulai mendalami bass gitar dan ketika masuk SMP, aku memilih gitar sebagai alat musik yang aku tekuni.

Banyak hal yang membuatku ingin meninggalkan musik. Karena musik, aku jadi berandalan, karena musik, aku menjadi bodoh, dan karena musik, aku menjadi sulit untuk belajar. Tapi semuanya telah berubah setelah aku bertemu seorang pemain keyboard bernama Izumi.
Kami bertemu seminggu yang lalu di sebuah toko manga yang sering aku kunjungi setiap Sabtu. Aku selalu melihat dia membaca manga sambil mendengarkan musik.

“Hmmm hai, bolehkan aku duduk di situ?” tanyaku.
“Oh! Silakan…” jawabnya.
“Aku Koyuki Kousei,” kataku.
“Koyuki? Vokalis Dying Breed itu? Aku adalah penggemar beratmu! Aku Izumi Nara,” jawabnya.
Aku tidak percaya Dying Breed begitu terkenal, tapi aku sudah tidak ingin lagi mendengar nama itu.
“…”
“Kenapa Koyuki-san?” tanya Izumi.
“Tidak apa-apa…”
“Aku tidak percaya bisa bertemu dengan Koyuki-san di sini. Tapi mengapa kamu meninggalkan Dying Breed?” tanyanya.
“Karena aku tidak bisa bernyanyi,” jawabku.
“Koyuki-san… tahukah kau? Semua orang bernyanyi untuk mengungkapkan perasaannya, bahkan yang tunawicara pun bisa bernyanyi, walau dengan alat musik sekalipun,” katanya.
Kata-kata Izumi membuat diriku terhentak. Bernyanyi, alat musik, entah mengapa kata-katanya begitu membekas.

“Oh ya! Besok ada konser L’Arc~en~Ciel lho, kita nonton bersama yuk?” ajaknya.
“Ah tidak, terima kasih,” jawabku.
“Kamu harus ikut!!” gertaknya setengah memaksa.
“Aaaa…! Iii…iya,” jawabku kaget.

Keesokan harinya kami menonton konser L’Arc~en~Ciel, band Jepang paling terkenal sedunia. Sudah lama aku tidak menonton konser dan mendengar suara musik dan suara vokal Hyde sang vokalis. Suaranya indah sekali, tapi tak membuatku berubah pikiran untuk kembali bermusik.

“Koyuki…!! Besok aku ada kontes menyanyi, tapi aku tidak punya pengiring. Maukah kau jadi pengiringku? Kamu sangat hebat dalam bermain gitar,” pintanya.
“Pengiring? Ah tidak.. aku tidak bisa bermain gitar,” tolakku merendah.
“Koyuki, jangan membohongi jari-jarimu. Cobalah bermain gitar, kita akan hentakkan panggung!” katanya.

Sepulang nonton konser, aku mencoba bermain dengan gitar tuaku. Mendengar suara satu string saja aku sudah merinding. Tapi kenapa dia ingin aku jadi pengiringnya? Aku akan coba, mungkin ini langkah awal untuk mencari jati diriku.

Setelah berlatih sekuat tenaga, Izumi menjemputku. Kami pun pergi bersama menuju kontes menyanyi.
“Kita akan menyanyikan lagu apa?” tanyaku.
“Lagu Decision, milik One Ok Rock,” jawabnya.
“Hah!! Lagu laki-laki? Apa dia tak salah,” tanyaku dalam hati.

Sesampainya di tempat kontes menyanyi. Kulihat Izumi keluar masuk toilet. Mungkin dia gugup atau grogi. Akhirnya nomor urut kami pun dipanggil, dan kami pun menuju panggung. Sudah lama aku tidak merasakan atmosfer panggung selama setahun terakhir.

“You say it’s allright.. does that make it okay? What’s best for you is less for me it’s my decision!” Izumi bernyanyi.

Nafasku terengah setelah penampilan itu. Aku pun menemukan jati diriku di sana, yaitu musik. Tapi aku mendengar suara sesuatu yang jatuh dan teriakan penonton. Aku melihat Izumi pingsan di depanku.

“Izumi…! Izumi…! Bangun…!” Teriakku panik.

Izumi dilarikan ke rumah sakit. Dokter pun segera memberikan perawatan secara intesif. Dua jam kemudian, Izumi meninggal dunia karena kanker kronis yang ada dalam tubuhnya. Begitu singkat pertemuan kami bahkan aku belum mengatakan terima kasih telah menemukan jati diriku.

Kuharap dia tenang di sana, motivasi dan kata-katanya akan selalu kuingat setiap aku membuat sebuah lagu. Jangan berhenti melakukan sesuatu jika itu adalah jati dirimu, karena jika kau tinggalkan, kau akan kehilangan dirimu yang sebenarnya.

“Terima kasih… Izumi…!”

Cerpen Karangan: Muhammad Afsal Al-Fauzan Sobandi
Facebook: Muhammad Afsal Al-Fauzan Sobandi
Muhammad Afsal Al-Fauzan Sobandi. Pemimpin Perusahaan dan Reporter Majalah ISMA Cianjur, Indonesia.
bersekolah di MAN 1 Cianjur, Kelas X-Bahasa.

Cerpen Haruskah Aku Kembali? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ogenki Desuka

Oleh:
Kenangan masa kecil perjumpaan yang singkat. “Tsutae takute todoke takute ano hi no kimi e Itsu no hika no sayonara sae mo mune ni shimatte.” Refrain lagu milik ikimono

Sakura’s Boy

Oleh:
Suatu hari yang agak panas, aku dan sahabatku, ayumi, sedang latihan kendo di ruang klub kendo. Waktu itu aku sedang malas-malasnya latihan. Tiba-tiba sahabatku satu lagi, aiko, datang tergesa-gesa

Dying Wish (Part 1)

Oleh:
Saekokuchi Tsukasa adalah perempuan yang misterius. Itulah impresi awalku saat pertama kali kenal dengannya. Tidak, mungkin bahkan saat aku pertama kali melihatnya. Dan jika ditanyakan, sampai sekarang pun kesanku

Sakura Love (Part 1)

Oleh:
Teriknya mentari saat musim kemarau di Indonesia memang bisa membuat sebagian besar orang enggan untuk melakukan aktifitas seperti biasanya. Apalagi di kota-kota besar seperti di Jakarta. Cuaca yang tidak

True Love

Oleh:
Seorang gadis imut nan cantik menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur untuk melepaskan rasa penatnya. “Huaaa.. aku lelah!” keluhnya pada Kakaknya. “Itu karena kau membawa barang yang banyak.” Jawab

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *