Hurt

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 30 August 2017

Semilir angin dingin memainkan rambut hitam pria berbintik tersebut. Tatapannya kosong. Ketinggian gedung tempatnya berpijak sekarang tidak membuatnya takut.
“Luffyko,” desahnya.

“Watashi wa Monkey D Luffyko desu. Yoroshiku” gadis berambut raven pendek itu membungkukkan badannya.
“Nah, Luffyko, silahkan duduk di bangku yang kosong” Robin-sensei tersenyum pada Luffyko.
Luffyko mengedarkan pandangannya. Satu-satunya tempat yang kosong sekarang adalah kursi paling belakang di sebelah gadis berambut biru laut. “Kau tidak menderita masalah pengelihatan, kan?” Tanya Robin-sensei.
Luffyko menggeleng, kemudian berjalan pelan ke tempat duduk tersebut.

“Hai” sapa Luffyko.
“Halo” balas gadis itu.
“Boleh aku duduk di sini?”
“Tentu!”

Luffyko meletakan tasnya di laci meja, kemudian duduk.
“Namamu siapa?” Tanya Luffyko.
Gadis itu menoleh ke arah Luffyko. “Watashi wa Nefertari Vivi desu. Yoroshiku”
“Yoroshiku” balas Luffyko.

Setelah beberapa jam pelajaran terlewati, bel istirahat berbunyi. Vivi mengenalkan Luffyko pada teman-temannya. Luffyko agak terkikik melihat salah satu teman Vivi yang berambut hijau seperti lumut.
“Namanya Marimo” kata Sanji, salah satu teman Vivi.
“Hoo, Marimo (bola lumut)” kata Luffyko mangut-mangut.
“Jangan dengarkan dia, Luffyko. Namaku Zoro, Roronoa Zoro” kata si Marimo.
Sekali lagi Luffyko mangut-mangut.
“Ja, ayo kita ke kantin” ajakan Vivi disambut anggukan dari teman-temannya dan Luffyko.

Bruk!
“Itai,” desah Luffyko.
“Eh, go, gomesasai”
“Eh?” Luffyko mengadah. Seorang pemuda berambut hitam acak-acakan mengulurkan tangan padanya, bermaksud membantunya berdiri. Luffyko menyambutnya fan berdiri. Setelah itu, pemuda tadi mengumpulkan buku-buku milik Luffyko yang berhamburan karena tertabrak tadi.

“Arigatou” kata Luffyko.
“Tak masalah”
“Nee, siapa namamu?”
“Ore wa Portgas D Ace”
“Kau juga D?”
Pemuda yang bernama Ace itu mengangguk. “Memangnya siapa namamu?”
“Watashi wa Monkey D Luffyko”
Luffyko merasa jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat. “A, ano, Jii-chan sudah menungguku. J, ja nee” Luffyko cepat-cepat pergi sebelum wajahnya blushing. Namun ia dapat mendengar suara Ace ketika berpapasan dengannya. “Kutunggu kau di Restoran Baratie nanti malam”

“Jii-chan, aku pergi dulu. Aku makan malam di luar!” Teriak Luffyko.
“Oi, matte!” Teriak Garp, kakeknya.
“Ja nee!” Luffyko cepat-cepat berlari sebemun Jii-chan nya melihatnya dengan pakaian mini.

“Brr, dingin sekali” keluh Luffyko.
Salahkan Luffyko. Dingin-dingin begini malah memakai tank top dan jeans pendek. ‘Sudahlah. Yang penting, hari ini aku tidak akan mendengar omelan Jii-chan karena tidak mengerjakan PR. Shishishi…’ Luffyko terkikik sendiri memikirkannya.

“Ho, Luffyko-chan mau makan di sini?” Seorang pria berambut pirang dan beralis spiral menyapa Luffyko.
“Ah, Sanji-kun” sapa Luffyko. “Kau bekerja di sini?”
“Aku koki dan pelayan di sini” sahut Sanji. “Tokorode, kau sendirian?”
Luffyko menggeleng. “Aku janji makan di sini dengan Ace”
“Yang mana? Ada 3 Ace yang makan di sini hari ini”
“Portgas D Ace”
Sanji menyalakan rokoknya. “Kau ditunggu di meja pojok” Sanji memberi isyarat agar Luffyko mengikutinya.
“Kau kan 16 tahun. Memang boleh merokok?” Tanya Luffyko.
“Aku sudah biasa” jawab Sanji.
Luffyko mangut-mangut.

Tak lama kemudian mereka sampai di tempat Ace menunggu Luffyko. “Ah, Ace!” Sapa Luffyko.
Ace tersenyum. “Luffyko,” balasnya.
Luffyko menarik kursi dan duduk. Tak lama kemudian Sanji membuka note miliknya sekaligus menyerahkan menu. “Kalian mau pesan apa?” Tawarnya.
“Salad saja. Dengan mayonais dan minumannya jus alpukan” kata Luffyko.
“Steak barbeque dan kopi” kata Ace.
“Baiklah” dan Sanji meninggalkan mereka berdua.

“Ace,” panggil Luffyko.
Ace menoleh. “Ada apa?”
“Kau kan baru mengenalku. Kenapa langsung mengajakku makan bareng?”
“Ada yang ingin kubicarakan”
“Apa?”
“Kamu mau tidak, jadi pacarku?”
Blush!
Perkataan Ace sukses membuat wajah Luffyko memerah bak tomat kelewat matang. “A, apa maksudmu? Kita kan baru saling kenal” kata Luffyko.
“Jika butuh waktu, aku bisa menunggu”

“EEEH?! Ace-senpai memintamu jadi pacarnya?!”
“Sst, jangan keras keras. Aku mali tahu!” Kata Luffyko.
“Enaknya, ya. Aku juga mau” kata Koala.
“Koala-chan. Kau kan sudah punya Sabo-senpai” kata Vivi. Ia menoleh ke arah Luffyko. “Jadi, kau terima atau tidak?”
“Aku masih memikirkannya” jawab Luffyko.
“Sudahlah, kau terima saja” usul Nami.
“Iya. Ace-senpai itu baik, tampan, pokoknya manis deh” dukung Koala.
“Lebih mudah bicara daripada melakukannya” kata Luffyko. “Oh iya, tadi kalian bilang Ace-senpai. Memang dia kakak kelas, ya?”
“Kau tidak tahu?!” Pekik Vivi, Nami dan Koala serentak.
“Wajar saja. Dia kan murid baru” kata Nami. “Luffyko, dia itu kakak kelas kita. XII-IPS-10”
Luffyko mangut-mangut.
“Jaa, kau terima atau tidak?”
Lagi-lagi Luffyko blushing. “A, Ace,” katanya.
“KYAAAAA! Ace-senpai~!” Jerit Vivi, Nami dan Koala senang.
Melihat tatapan teman-temannya, Luffyko membisiki sesuatu ke telinga Ace. Dan setelah itu Ace tersenyum senang. Dikecupnya kening Luffyko, membuat gadis berambut raven itu kembali blushing. “Ja nee, Luffyko” kata Ace.

Setelah pemuda itu pergi, Vivi, Nami dan Koala menyerbu Luffyko dengan ribuan pertanyaan. Untunglah bel masuk berbunyi, jadi Luffyko tidak perlu menjawab pertanyaan dari 3 teman perempuannya.

“Nee, Luffyko-chan. Apa kau menerima Ace-senpai jadi pacarmu?” Pertanyaan Vivi membuat Sanji menyemburkan minumannya ke wajah Zoro. Sementara wajah Luffyko memerah karena malu.
“What?! Ace-senpai melamar Luffyko-chwan?!” Pekik Sanji.
“Woy! Kalo nyembur lihat-lihat dong!” Protes Zoro.
“Hahaha… Wari, wari, Marimo” kata Sanji.
“Apa katamu, Alis Papan Dart?”
Dan mulailah pertengkaran 2 makhluk aneh tersebut. Nami yang sudah lelah melerai pertengkaran 2 makhluk yang bodoh tersebut, akhirnya hanya diam dan memperhatikan Luffyko.
“I, iya” jawab Luffyko malu-malu.
Sementara Sanji langsung nangis. “Hue, Luffyko-chwan lebih memilih Ace-senpai daripada diriku~” kata Sanji sambil nangis.
Nami langsung menjitak Sanji. “Kau lupa kau sudah punya pacar?!”
“Hue.. Wari, wari, Nami-swan! Kau selalu yang terbaik buatku” Sanji yang ingin memeluk Nami langsung kembali mendapat bogem mentah dari sang pacar.

“Hei, boleh aku ke rumahmu?”
Luffyko menoleh ke arah Ace, kemudian menggeleng. “Jangan sekarang. Jii-chan masih melarangku berpacaran” kata Luffyko.
“Kalau begitu, malam minggu nanti ayo kita jalan-jalan” ajak Ace.
“Mmm, baiklah”

Malam minggu datang. Sekali lagi Luffyko ‘kabur’ ketika Garp ingin memarahinya karena tidak mengerjakan PR. “Ja nee Jii-chan! Aku janji akan mengerjakan PR ku begitu pulang nanti!” Kata Luffyko.
“Jika kau pulang setelah jam 11 malam, kau tidak boleh masuk!” Kata Garp.
“Hai, hai~”

Luffyko berlari kecil menuju taman di dekat rumahnya, tampat kekasihnya menunggunya. “Ah, Ace!” Panggil Luffyko.
Ace tersenyum ke arah Luffyko.
“Sudah berapa lama kau menunggu?” Tanya Luffyko.
“Baru beberapa menit” kata Ace. “Dan sekali lagi kau hanya memakai tank top”
“Shishishi..” Luffyko terkikik. “Aku pakai jaket, jadi tidak akan kedinginan. Lagipula aku memakai jeans panjang, kan?”
“Sudahlah, ayo” Ace menggaet lengan kekasihnya. “Malam ini kita ke taman hiburan, okay?”
Luffyko mengangguk. “Tapi jangan sampai jam 11. Jii-chan akan mengunci pintu jika aku pulang lewat jam 11”
Ace mengambil motornya. Kemudian membonceng Luffyko dan pergi ke taman hiburan yang sering dikunjungi Ace jika sedang bersama Sabo, sahabatnya. Luffyko juga selalu kesini jika Dragon, ayahnya, pulang. Ayah Luffyko memang bekerja di luar negeri, tepatnya di Baltigo.

“Luffyko, kau mau?” Ace menyodorkan setusuk daging panggang.
Luffyko menggeleng. “Aku vegetarian” katanya.
Ace hanya mangut-mangut. Sekilas ia melihat sesosok bayangan hitam di balik gedung. “Luffyko, tunggu di sini,”
“Cho, chotto, Ace!” Terlambat. Ace sudah berlari duluan. “Huh, menyebalkan!”

Samar-samar Luffyko dapat mendengar suara orang dipukuli, namun ia tidak begitu mempedulikannya. Bisa saja ia salah dengar.

Tak lama kemudian Ace kembali dengan sebuah luka lebam di tangannya. “Astaga, Ace, kau kenapa?” Tanya Luffyko cemas.
“Aku tidak apa-apa, Luffyko. Hanya sedikit tersandung tadi” kata Ace berusaha menenangkan kekasihnya. “Ja, ayo kita pulang”
“Eh?”
Tidak dapat menemukan alasan, Ace melihat jam tangannya. “Ah, sudah jam 11 kurang 15 menit. Kau tidak mau dikunci oleh kakekmu, kan?” Akhirnya Ace dapat menemukan alasan tepat.
Luffyko menepuk jidatnya. “Ah, iya!” Dan ia menarik lengan Ace menuju tempat parkir.

Luffyko bingung. Entah mengapa, setiap kali ia dan Ace kencan, Ace selalu pergi entah ke mana, dan begitu kembali kekasihnya tersebut terluka dan langsung mengajaknya pulang, walaupun ia selalu menemukan alasan yang tepat untuk pulang. Pernah sekali, Ace langsung jatuh tak sadarkan diri begitu kembali. Luffyko yang tahu Ace punya narkolepsi langsung membangunkannya, namun ia tidak terbangun sama sekali. Saat itulah juga ia mulai khawatir pada keadaan Ace.

Untunglah kakeknya belum tahu bahwa ia sebenarnya berpacaran dengan Ace. Ia sangat tahu apa peraturan kakeknya. Tidak boleh pacaran sebelum berusia 19 tahun, yang berarti harus menunggu tiga tahun lagi karena kini usianya 16 tahun. Luffyko akan melanggar hal itu. Bukankah peraturan dibuat untuk dilanggar?

Ponsel Luffyko berdering, menampilkan foto dirinya sedang merangkul Ace dari belakang. Cepat-cepat Luffyko mengangkatnya sebelum Garp tahu siapa yang meneleponnya. “Moshi-moshi,”
“Luffyko, ini aku”
“Ace?!”
“Luffyko, dengarkan aku. Untuk sementara ini, jangan pernah mencariku, okay? Dan, sekali lagi kuingatkan, jangan pernah pergi ke gedung di dekat tempat kita pertama kencan. Nyawamu dalam bahaya jika pergi ke sana. Akh! Aku bodoh. Kenapa kuberitahukan itu padamu?!”
“Ace? Sekarang kau di mana?!”
“Jangan. Pernah. Mencariku! Argh!”
“ACEE!!”
Pip! Telepon itu berakhir begitu saja. Cepat-cepat Luffyko menyambar tas selempang dan mengambil ponselnya nya. Kemudian berlari keluar. “Jii-chan! Aku pergi dulu! Aku lupa aku ada janji temu dengan Vivi!” Teriak Luffyko.
“Oi, oi, Luffyko!” Teriak Garp dari dalam.

Luffyko berlari cepat menuju tempat taman hiburan yang ia dan Ace kunjungi tempo hari. Namun mengingat jauhnya tampat tersebut, akhirnya ia menyetop taksi. “Pak! Sekarang bawa aku ke gedung dekat taman hiburan Fusha!” Kata Luffyko.
“E, eh? Yang mana?” Tanya sopir taksi tersebut.
“Yang berwarna merah. Pokoknya cepatlah, temanku dalam bahaya!” Kata Luffyko agak membentak.
“B, baiklah, nona” kata sopir taksi tersebut.

Dalam perjalanan, perasaan Luffyko digelayuti rasa takut. Beberapa kali ia menendang kursi penumpang depan saking gelisahnya. “Sudah sampai, nona” kata si sopir.
Luffyko menyerahkan sejumlah uang dan berlari ke dalam gedung. “Ambil saja kembaliannya” teriaknya. “ACEEE!!!”

Semilir angin dingin memainkan rambut hitam pria berbintik tersebut. Tatapannya kosong. Ketinggian gedung tempatnya berpijak sekarang tidak membuatnya takut.
“Luffyko,” desahnya.
Ia berbalik. “Baiklah, aku siap” kata Ace.

Seorang pria berjubah merah darah menyirgai sambil menenteng sebuah pistol. “Wah, wah, kau berani juga, ya, Portgas” katanya.
“Kau boleh ambil nyawaku. Tapi jangan sekali-kali kau dekati Luffyko, Sakazuki. Atau harus kupanggil, Akainu” kata Ace.
Pria yang tadi dipanggil Akainu tersebut menodongkan pistol miliknya. “Kau adalah manusia berdarah kriminal paling berbahaya di dunia, sama seperti gadis itu. Maka kalian berdua harus dilenyapkan dari dunia ini” katanya.
“ACEEE!!!” Terdengar suara teriakan Luffyko.
“Luffyko!” Teriak Ace.
Dor!

Dor!
Luffyko makin mempercepat langkahnya. “Ace!” Teriaknya. Ia barusan mendengar suara tembakan, dengan suara Ace sebelumnya.
Akhirnya ia sampai. Yang dilihatnya adalah seorang pria berbaju merah darah dan Ace dengan kaos yang berlumuran darah. “Ace!”
“Luffyko!” Teriak Ace.
“Huh, putri Dragon datang juga. Apa ini hari keberuntunganku atau apa?” Akainu menodongkan pistolnya ke arah Luffyko.

Dor!
Luffyko menyilangkan lengannya di depan wajah dan menutup mata, namun ia tak kunjung merasakan sakit. Ia membuka matanya, dan dilihatnya Ace berdiri di depannya, melindunginya dari tembakan Akainu.

“Ace!” Luffyko menangkap tubuh Ace yang terjatuh ke arahnya.
“Tch!” Akainu kembali menodongkan pistolnya.

Dor!
Bukan suara tembakan dari Akainu. Yang dilihatnya adalah tubuh Akainu yang ambruk. Ia melihat ke sisi lain. Garp. Dengan pistol di tangannya. “Jii-chan!”

Bau alkohol adalah bau yang dibenci Luffyko. Namun karena Ace berada disini, ia rela masuk ke tempat yang paling dibencinya -rumah sakit. Sudah 2 jam lampu bertuliskan “sedang operasi” menyala, namun tidak ada tanda-tanda mereka akan mematikannya. Luffyko mondar-mandir di depan ruangan. Pikirannya digelayuti rasa cemas, dan…, takut. Takut akan kehilangan Ace.

Garp hanya duduk diam di kursi depan ruang operasi. Jujur, ia sedikit marah pada cucunya yang melanggar peraturannya. Namun, ia sadar bahwa kini Luffyko sudah SMA, sudah boleh mengenal cinta. Ia juga agak senang karena orang itu sudah melindungi Luffyko.

Pets!
Lampu ruang operasi mati. Dokter Law, dokter yang merawat Ace, keluar dengan wajah tertunduk. Cepat-cepat Luffyko menghampiri pria tersebut. “Nee, bagaimana keadaan Ace? Dia selamat, kan?” Tanya Luffyko cemas.
Dokter Law masih menunduk. “Sumimasen,” katanya. “Peluru itu bersarang di paru-parunya. Kami sudah berusaha mengeluarkannya, namun pasien tidak dapat bertahan”
Luffyko terdiam. Setitik air terbentuk di mata onyx nya. “Uso! USO!!” Teriak Luffyko. “Jangan bercanda! Ace tidak selemah itu!”

2 perawat datang membawa ranjang beroda dengan selimut putih menutupi sesuatu di bawahnya. Luffyko tidak mau mempercayainya. Ia membuka bagian atas selimut tersebut. Wajah pucat Ace menyapa pandangannya.
“Ace! Jangan bercanda! Kau tidak mungkin mati. ACE! Bangunlah! Ini bukan Ace yang kukenal!!” Teriak Luffyko.
“Luffyko. Ikhlaskan saja dia” kata Garp.
“Sonna,” kata Luffyko. “Sonna,”
Tangis Luffyko pecah. “ACEEEEEE!!!!”
Bruk!
“Luffyko!”

Luffyko masih tidak dapat mempercayainya. Ace, telah meninggal. Gadis berambut hitam pendek itu tidak mau keluar dari kamarnya, bahkan untuk pergi ke pemakaman Ace. Luffyko meraih ponselnya. Diketiknya nomor telepon rumah Ace. “Halo, kalau kau menelepon dan menerima ini, artinya aku tidak ada dirumah. Itu kalau kau orang asing. Tapi jika kau Luffyko, maaf aku tidak dapat mengangkatnya. Aku sedang sibuk. Jaga dirimu, Luffyko” dan kemudian terdengar bunyi pip yang panjang.

Luffyko mematikan ponselnya dan kembali meringkuk. “Ace,” desahnya.
Tok! Tok! Tok!
“Luffyko, ini aku!” Terdengar suara Garp dari seberang sana.
“Masuklah, Jii-chan” jawab Luffyko.

Clek!
‘Tumben. Biasanya langsung di dobrak’ pikir Luffyko.
Dilihatnya Garp datang dengan seorang pria yang sangat mirip dengannya, dengan tato di mata kirinya. “Oto-san,” kata Luffyko.
Dragon duduk di pinggir tempat tidur Luffyko. Ia mengulurkan seseatu pada putri semata wayangnya. Kunci.
“O, Oto-san, apa ini?” Tanya Luffyko.
“Kunci rumah pacarmu” jawab Dragon.
Blush!
“Da, darimana Oto-san tahu?” Tanya Luffyko dengan wajah memerah.
“Kau kira seorang gadis berusia 16 tahun yang selalu pergi tiap malam minggu dengan pakaian mini adalah hal normal?” Garp merangkul Luffyko.
Luffyko hanya diam, berusaha agar air matanya tidak jatuh.
“Kau mau ke rumahnya atau tidak?” Tawar Dragon.
Tangis Luffyko pecah. Ia langsung memeluk Dragon, yang kemudian dibalas olehnya.

Clek! Pets!
Luffyko langsung mebyalakan lampu begitu melihat kamar apartemen Ace yang gelap. Yang dilihatnya sekarang adalah sebuah meja di pojokan dengan sebuah buku dan sepucuk surat diatasnya. Pelan-pelan Luffyko berjalan ke arah meja tersebut.

‘For Luffyko’

Tulisan itu yang berada di atas amplop surat tersebut. Luffyko pun membuka surat tersebut dan membacanya.

‘Dear Luffyko….
Kalau kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tiada, atau…, sedang pergi jauh darimu. Hei, Luffyko, kau ingat ketika aku pergi sebentar pada kencan pertama kita? Ah, hari itu aku melihat ada yang terus menguntitmu. Dan ternyata itu adalah Akainu, polisi Raftel yang berpihak pada Gorosei. Karena kita adalah anak dari 2 kriminal terkejam di dunia–aku putra dari Gol D Roger dan kau adalah putri dari Monkey D Dragon–maka Gorosei mengincar kita. Namun mereka lebih mengincar dirimu ketimbang aku. Yah, walaupun aku tidak perlu melindungimu karena kau sudah sabuk hitam di karate, tapi aku punya 2 alasan untuk melindungimu. Pertama, karena kau seorang wanita. Dan kedua, karena kau pacarku. Luffyko, sekarang kau tidak perlu khawatir lagi. Gorosei sudah ‘dikudeta’ oleh ayahmu, jadi mereka tidak akan mengincarmu lagi. Okay, sampai sini saja surat terakhirku. Ingatlah Luffyko, IWALY, I will always love you. Sayonara…

From your boyfriend,
Portgas D Ace.

P.s.: kakekmu sudah tahu kita pacaran.
P.s #2 : buku yang ada dibawah surat ini, kuberikan
padamu. Kau harus menyimpannya, okay?’

Luffyko melirik buku yang ada dibawah surat tersebut. Tertulis ‘Ace and Luffyko memories’ di atas bukunya dengan front Comic Sans ms. Perlahan Luffyko membuka buku tersebut. Isinya adalah foto-fotonya dengan Ace -yang entah bagaimana bisa didapat oleh Ace- dengan sebuah paragraph panjang di halaman sebelahnya.

Di halaman terakhir terlihat foto dirinya dan Ace sedang menikmati kembang api tahun baru, itu foto beberapa hari lalu. Dan yang tertulis di halaman tersebut adalah, ‘I will always love you, Luffyko. This is we’re last photo’. Luffyko menangis melihatnya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Portgas D Ace

Cerpen Hurt merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Melody (Part 1)

Oleh:
Ayumi memegang dadanya, menahan detakan jantungnya yang terus berdetak. “Kenapa… rasanya perasaanku terus deg-degan seperti ini? Apa ini artinya?” kata Ayumi. Ia berjalan membawa dirinya ke arah yang tidak

Shinjiru (Part 3)

Oleh:
Keesokan paginya, aku segera pergi ke ruang OSIS dan menunggu Yui sambil mengerjakan beberapa tumpukan kertas yang ada di atas mejaku. Ketika Yui datang, aku lihat matanya sembab seperti

Senja Tolong Kembalikan Dia (Part 1)

Oleh:
“Ohayou… perkenalkan namaku Arumi Sakura, aku pindahan dari SMA Shizuka. Aku mendapat beasiswa, sehingga aku dipindahkan di SMA Tokyo ini. Sekian, mohon bantuannya, arigatou,” itulah sedikit perkenalanku di kelas

Midnight in Tokyo

Oleh:
Gemerlap cahaya kota tokyo menerangi sepanjangan jalan. Menerangi jalan seorang gadis yang kesepian, ia memilih untuk menyendiri di malam hari karena dia tidak mau bertemu siapapun, ia telah ditinggalkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *