Kedai Kecil Yang Hangat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 1 August 2016

Beppu yang letaknya berada di Prefektur Oita, bukanlah kota besar yang ramai seperti kota Nagoya, Osaka bahkan Tokyo. Tapi kenangan di kota kecil yang terkenal dengan pemandian air panas itu meninggalkan banyak kenangan indah yang tak bisa dilupakan.

Ayam goreng Jepang yang biasa disebut Toriten adalah makanan khas Prefektur Oita.
Saya ingat, ada sebuah kedai kecil favorit saya yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Beppu. Kedai kecil yang bertemakan masakan tradisional Jepang itu hanya dikelola oleh sepasang kakek-nenek dan menyediakan berbagai macam makanan khas Oita termasuk Toriten.

Sang nenek bekerja sebagai pelayan dan kakeklah yang memasak semua menu yang tersedia di kedai tersebut. Walaupun sang nenek memang jarang sekali memasang senyumannya ke arah pelanggannya, namun tak setengah-setengah ia melayani sang pembeli untuk mendapatkan kepuasan dari mereka. Sering kali saya melihat sang nenek membungkuk meminta maaf ketika terlambat dalam menyajikan makanan maupun tidak ada lagi kursi kosong yang tersedia.

Karena masakan si kakek yang tidak perlu diragukan lagi akan keenakannya, sering kali sehabis pulang dari sekolah, saya mampir untuk mengisi perut saya yang keroncongan itu di kedai kakek-nenek bernama marufuku. Namun anehya, sering kali saya mendapati sang kakek duduk termenung sendirian sambil menonton TV portablenya, terkadang bermain NDs-nya maupun merok*k. Walaupun memang waktu itu hanya ada saya sebagai pelanggan dan bukan waktunya untuk makan, namun saya merasa si kakek terlalu santai.

Sampai suatu sore hari, ketika saya hendak masuk ke dalam, si nenek yang biasanya menyambut kedatangan pelanggannya dengan ucapan irrashaimase atau selamat datang, beliau malah memasang tampang bingung dan melirik ke arah si kakek. Nenek bingung saya pun sebagai pelanggan juga bingung. Namun kebingungan kami dipecahkan oleh kakek dengan ucapan “Mau Toriten kan? Masuk saja.”
Saya yang kaget dan setengah terharu karena sang kakek mengingat pesanan saya selama ini pun masuk dan duduk di meja counter tanpa ragu.

Kira-kira sepuluh menit berlalu dan terdengar suara kincringan dari arah pintu yang menandakan bahwa ada pelanggan yang hendak masuk.
“Apakah sudah buka?” tanya pelanggan dari arah pintu.
“Belum, kira-kira 30 menit lagi kami baru buka.” jawab si nenek.

Astaga, saya sangat kaget ketika mendengar percakapan itu.
Setelah memutar kembali memori, saya memang selalu masuk tanpa melihat adanya tulisan “OPEN” maupun “CLOSE” dalam tulisan Jepang.
Yang saya tahu pada saat itu hanyalah jika pintu restoran itu terkunci, maka restoran itu tidak buka, dan berlaku sebaliknya.
Maklum, waktu itu saya memang masih belajar bahasa Jepang, jadi masih banyak yang belum saya mengerti.
Jadi saya selalu masuk tanpa ragu ketika pintu restoran tersebut bisa dibuka.
Tak heran jika saya sering kali saya mendapati sang kakek yang belum siap untuk menjamu para pelanggannya.

Saya yang sedang menunggu makanan, menahan malu dan merasa tak enak. Karena tidak ingin membuat masalah lebih panjang lagi, saya memasang poker face dan pura-pura tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan. Maklum, pelajar internasional, tidak bisa berbahasa Jepang.

Setelah selesai makan, saya pergi menuju arah kasir untuk membayar dan hendak meminta maaf atas kejadian selama ini. Namun, belum sempat saya meminta maaf, sepasang kakek-nenek ini melontarkan senyuman hangat ke arah saya.
“Bagaimana makanannya?” tanya si Kakek.
“Enak sekali, tak terkalahkan!” jawab saya tanpa ada keraguan sedikitpun.
“Syukurlah. Lain kali jangan lupa datang kembali ya.” senyum si nenek dengan ramah.
Sekejap saya terharu dan lupa untuk meminta maaf kepada mereka.
Sebagai gantinya, saya mengucapkan terima kasih untuk makanan yang mereka hidangkan selama ini.

Sejak saat itu, agar tidak mengulangi kejadian yang sama, sebelum masuk ke dalam kedai, saya pastikan untuk melihat tanda di depan kedai dan tidak masuk seenaknya seperti dulu. Walaupun ini peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, saya berharap pasangan kakek-nenek ini masih diberi kesehatan agar bisa tetap melanjutkan usahanya tersebut.

Cerpen Karangan: Deastari

Cerpen Kedai Kecil Yang Hangat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Daun Yang Gugur

Oleh:
Ini adalah kisah cintaku yang ketujuh. Semua bermula dari cinta lokasi. Dia bernama Akegami Tomoe. Aku melihat Tomoe pertama kali, saat Tomoe melewati kursi yang aku duduki. Aku melihat

Green Flash

Oleh:
Ku awali pagi ini dengan senyuman yang terukir di pipi ini. Walau hatiku berkata lain, tapi tetap saja Aku mencoba menyemangati diri ini dengan senyum semangat. Ku nyalakan air

Lain Kali Ke Rumahku Ya

Oleh:
Dingin. Hanya kata itu saja yang terlintas di otakku untuk mendeskripsikan hari burukku ini. Sudah dingin, lemas, dan aku hanya mengenakan rok panjang yang berwarna hitam gelap! Betapa ceroboh,

Under The Osaka Sky

Oleh:
“Klik, Cekeeetttt, Jeblog…” pintu kamarku terbuka. Spontan aku terbangun dari ranjang, padahal mataku baru saja mau memasuki alam mimpi. Dan lagi-lagi itu Yuuna, dia kembali mengganggu malam indahku. “Bisakah

Dhan, The Damn and The Bestday

Oleh:
Huh… seseorang dari atas langit “Gooood mooorniiiing Dhaaann” “Arrrrghhhh…” Brukkk. “sialan!!!, berani sekali ayah pagi-pagi begini sudah mau mematahkan leherku!” aku bicara setelah menjatuhkan ayahku di lantai. “masih pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *