Kimi No Shiranai Monogatari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 24 November 2016

“Sakura-chan! Ayo lihat bintang!” seperti biasa, dia memanggilku untuk melihat bintang bersama. Dia, sahabat kecilku. Selalu bersama apapun yang terjadi.
“Tunggu sebentar, Sakashita-kun!” jawabku. Ya, namanya Sakashita. Dia adalah anak laki-laki tetanggaku. Dan sudah bersahabat denganku sejak lama sekali. Mungkin saat usia kami lima tahun.

Aku segera ke luar dari kamar dan menjumpai Sakashita yang berdiri bersandar di dinding samping pintu kamarku sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan mengangkat sebelah kakinya. Kebiasaan kecilnya yang sangat sering dia lakukan saat sedang menunggu. Aku tersenyum padanya.
“Baiklah. Karena kau sudah siap, ayo kita pergi sekarang,” ajaknya mendahuluiku. Selalu saja begitu. Bahkan sampai kami sebesar ini, dia tak pernah menungguku. Yah, usia kami sekarang 17 tahun. Tinggal kalian hitung saja sudah berapa lama kami bersahabat.
“Sakashita-kun! Kau selalu saja begitu!” gerutuku ketika kami sudah memasuki jalan kecil yang gelap, jalan terdekat menuju bukit yang tak begitu jauh dari rumah kami. Sakashita menoleh.
“Begitu apanya?” tanyanya tak mengerti.
“Kau tak pernah menungguku!” jawabku kesal. Sakashita menatap lurus-lurus ke depan sambil tetap berjalan.
“Bukannya aku yang tak pernah menunggumu! Kau saja yang terlalu lama,” jawabnya enteng.
“Sakashita-kun!” ucapku gemas. Aku memasang raut wajah masam dan cemberut agar dia mau mengalah.
“Kenapa? Kau kan memang lama. Lambat. Coba kau pikir. Saat mengerjakan ulangan, kau yang selesai paling akhir. Saat pelajaran olahraga, selalu saja kau yang terakhir selesai lari. Lalu saat–”
“Iya, terus saja kau sebutkan kelemahanku! Sebutkan sampai bibirmu pegal! Memang Cuma kau yang sempurna! Aku tidak!” potongku cepat.
“Maka dari itu. Jika kau tidak sempurna, aku akan melengkapimu dengan segala kesempurnaanku. Jika aku bunganya, maka kau pupuk komposnya. Seperti itulah namanya persahabatan!” jelasnya.
“Ke.. Kenapa aku yang jadi pupuk komposnya?!” protesku.
“Kan tadi kau sendiri yang bilang. Kau penuh kekurangan. Sedangkan aku penuh dengan kesempurnaan. Ya, ambil saja contoh yang mudah. Bunga penuh dengan kesempurnaan. Dia cantik, indah dan harum. Sedangkan pupuk kompos penuh dengan kekurangan. Dia bau, busuk, dan aku jijik terhadap pupuk kompos. Jadi, aku bunganya, dan kau pupuk komposnya,” jawabnya santai tanpa peduli bahwa aku siap meledakkan amarahku padanya.
“Lalu kenapa kalau aku pupuk komposnya?! Bunga tak akan bisa hidup tanpa pupuk kompos! Itu artinya, kau tak akan pernah bahagia tanpa aku!”
“Dan karena itulah aku memilihkan pupuk kompos untukmu. Karena kaulah yang membuatku bahagia sampai saat ini. Yang membuatku bertahan hidup meski sedang dalam masa sulit sekalipun. Kau lah alasanku melupakan segala masalahku dan melupakannya,” jawabnya cepat. Aku terdiam. Aku menatapnya dalam. Sesaat kemudian, aku memeluknya.
“Terimakasih, Sakashita-kun!” ucapku senang.
“Iya, iya. Sudah cukup. Lepaskan. Kau tahu, kan, aku jijik dengan pupuk kompos,” ucapnya lalu melepaskan pelukanku.
“Apa?! Jadi kau masih menganggapku pupuk kompos?!”
“Iya. Dan selamanya akan begitu,” jawabnya lalu tersenyum.
“Apa?! Sakashita-kun!!” aku meledakkan amarahku dengan meninju-ninju lengannya.
“Hahahaha…!! Kau lucu jika sedang marah!” serunya senang. Aku menatap wajah tertawanya. Sesaat kemudian, aku tersenyum. Lalu, muncul ide jahil dalam kepalaku.

“Kalau kau bunganya, aku akan memilihkan bunga bangkai untukmu!” ucapku semangat.
“A..Apa?! Kenapa bunga bangkai! Bunga bangkai itu bau!” protesnya. Wajah marahnya, sangat lucu!
“Kau sudah memilihkan pupuk kompos untukku. Kini giliranku untuk memilihkan bunga apa yang cocok untukmu. Lagipula, pupuk kompos tetap akan memberikan kehidupan pada bunga bangkai. Dan, kurasa, bunga bangkai cocok untuk sifat jahilmu yang busuk itu!” jelasku lalu tertawa.
“Hei! Jangan sembarangan bicara kau, ya! Sini kau!” ucapnya marah lalu meraih tubuhku dan merangkulnya.
“Kau mau kuapakan, hah?!” bisiknya marah pada telingaku. Yang aku ketahui, amarah itu hanyalah sebuah candaan. Aku masih tetap tertawa lepas dalam rangkulannya.
“Oke. Aku mau kau melalukan sesuatu padaku. Ajak aku duduk dan melihat bintang seperti biasanya,” jawabku lalu tersenyum padanya.
“Baiklah,” ucapnya lalu melepaskan rangkulannya.
“Ayo duduk! Sudah sampai!” ucapnya lalu duduk setelah sampai di puncak bukit. Di sana tidak tertutup pohon. Sehingga dapat leluasa melihat langit.
“Baiklah, kali ini aku yang menghitung,” pintanya. Memang, sebelum kami melihat bintang, kami selalu menghitung sampai tiga lalu akan secara bersamaan melihat bintang.
“Baik,”
“Satu, dua, tiga!” dengan serempak, kami mendongakkan kepala. Menatap langit dengan hiasan ribuan bintang. Langit malam ini, sepeti hujan bintang!
Sakashita-kun… Sejak kapan aku ingin tahu? Sejak kapan aku mengejarmu? Tapi, bagaimanapun juga, tolonglah.. jangan terkejut, dan dengarkan, perasaanku ini…
“Sakura! Lihat!” panggilnya membuyarkan lamunanku tentangnya.
“Eh, apa?” tanyaku. Dia menunjuk langit. Aku ikut melihatnya.
“Lihat! Yang itu Deneb, yang itu Altair, dan yang itu Vega,” ucapnya seraya menunjukkan tiga bintang yang membentuk segitiga musim panas. Aku menatap langit malam. Menghabiskan waktu bersama Sakashita.
“Sakura-chan, sudah jam 11 malam. Kita harus segera pulang,” ucanya lalu bangkit dari duduknya. Aku ikut berdiri, lalu tersenyum.
“Baiklah!”

“Hei, Sakura-chan! Ayo berangkat!” panggilnya sambil menggedor-gedor pintu kamarku.
“Iya, Sakashita-kun! Sebentar lagi!” jawabku seraya merapikan dasi dan rompiku.
“Cepat!” ucapnya yang sepertinya mulai kesal. Aku segera membuka pintu dan menuruni tangga bersama dengan Sakashita.
Sakashita segera duduk di sepedanya, dan aku duduk di boncengannya.
“Sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk mantap.
“Ayo jalan!” ucapnya bersemangat. Sepanjang perjalanan, Sakashita dengan semangat bercerita tentang apa saja yang dilakukannya. Yang membuatku, serasa nyaman berada di dekatnya. Dan yang membuatku, tak bisa berkata apapun.
Sampai di dalam kelas, kami hampir terlambat. Dan Sakashita…
“Sakashita-kun..” panggil Mari-chan mesra. Mari adalah pacar Sakashita-kun.
“Hai, Mari-chan,” jawab Sakashita dingin. Sakashita memang selalu memasang sikap dingin pada Mari. Entah kenapa. Padahal, Mari adalah pacarnya. Bahkan, Sakashita lebih sering menghabiskan waktunya bersamaku daripada bersama Mari.
“Sakashita-kun, bagaimana jika kita nanti malam nonton bioskop? Ada film baru yang nanti malam akan ditayangkan,” ajak Mari sambil bergelayutan manja di lengan Sakashita.
“Maaf, Mari-chan. Tapi jika nanti malam aku tidak bisa. Besok ada ulangan. Dan aku harus belajar,” tolak Sakashita halus.
“Ehm… Baiklah. Tapi, bagaimana jika nanti sore kau temani aku membeli buku?” ajak Mari lagi. Aku membalikkan badan. Enggan menatap mereka berdua.
Sebenarnya, entah bagaimana aku menyadari perasaanku untukmu. Aku menemukannya, tapi ini tak menjangkaumu. ‘Sudahlah. Ini tak berguna. Jangan menangis,’ selalu kukatakan pada diriku sendiri…

“Hei, Sakashita! Koizumi-sensei memanggilmu!” panggil Takeshi-kun dari balik pintu kelas.
“Baiklah,” jawab Sakashita lalu segera menuju ruang guru. Aku penasaran apa yang akan Koizumi-sensei beritahu pada Sakashita. Setelah Sakashita kembali ke kelas, akan aku tanyakan.
Namun, bahkan sampai pulang sekolah, aku tak berani menanyakan apa yang Koizumi-sensei beritahu pada Sakashita. Dan akhirnya, saat hampir sampai di rumah, aku memberanikan diri bertanya pada Sakashita.
“Sakashita-kun, apa yang Koizumi-sensei beritahu padamu?” tanyaku pada Sakashita ketika dia menurunkanku di depan gerbang rumahku.
“Koizumi-sensei memberitahukan padaku bahwa, aku mendapat beasiswa sekolah internasional di Tokyo,” jawabnya.
“Dan, kau menerimanya?” tanyaku lebih lanjut.
“Iya, Sakura. Kapan lagi aku dapat beasiswa sekolah di Tokyo? Dan ini adalah kesempatanku satu-satunya!” jawabnya bersemangat.
“Dan, itu berarti, aku tak pernah bertemu denganmu lagi?” tanyaku. Kini air mataku hampir menetes. Namun tetap kutahan.
“Tentu tidak. Aku akan sesekali pulang kesini dan menjumpaimu. Tenang saja. Aku tak akan pernah melupakanmu,” jawabnya lalu tersenyum.
“Baiklah. Ini sudah jam 3 sore. Mari sebentar lagi menjemput. Aku harus segera bersiap,” ujarnya kemudian. Aku masih diam.
“Aku pulang dulu, ya..” pamitnya. Aku hanya tersenyum lalu mengangguk. Aku pun segera memasuki rumah. Berganti baju.
Tepat pada pukul setengah empat, aku melihat Mari dan Sakashita keluar dari rumah Sakashita dan memasuki sebuah mobil.
Aku berlagak jahat. Berakting seperti aku tidak tertarik. Tetapi, itu hanya menumbuhkan rasa sakit di hatiku. Ah… Itu benar. Seperti itulah jatuh cinta..

“Selesai!” seruku setelah menyelesaikan sesi belajarku yang membosankan. Aku mendengarkan lagu milik grup band Supercell yang berjudul Kimi No Shiranai Monogatari. Aku menghayati lagunya. Persis seperti apa yang aku alami. Ditambah lagi, suara vokalisnya, Nagi, yang sungguh merdu. Namun, aku menyadari sesuatu.
“Kenapa Sakashita belum memanggilku?” ujarku bermonolog.
“Ah, aku saja yang mengajaknya,” ucapku lalu mematikan lagu lalu memasukkan ponselku ke dalam saku bajuku.
“Ibu! Aku ke rumah Sakashita, ya?” pamitku.
“Baiklah. Tapi jangan terlalu malam!” jawabnya.
“Baiklah, Bu!” ucapku lalu keluar dari rumah menuju ke rumah Sakashita yang berada persis di depanku.
“Sakashita-kun!” panggilku dari luar rumahnya. Namun tak ada jawaban. Aku kemudian masuk ke dalam rumahnya dan menemukan Sakashita bersama kedua orang tuanya sedang terlibat pembicaraan serius.
“Kalau begitu, kita pindah saja. Kebetulan, Ayah pindah tugas ke Tokyo. Jadi, kau tidak perlu menyewa rumah di sana,” ucap Paman Hizashi.
“Maksud Ayah, kita menetap di Tokyo?” tanya Sakashita belum merngerti.
“Iya,” jawab Ayahnya singkat.
“Lalu bagaimana dengan–” kata-kata Sakashita terputus melihatku berdiri mematung di depan pintu. Mendengarkan percakapan mereka.
“Sakura-chan?!” aku langsung tersadar dan mengusap titik-titik bening yang sudah nyaris jatuh di pelupuk mataku.
“Maaf aku mengganggu percakapan kalian. Permisi,” ucapku kemudian keluar dari rumah Sakashita.
“Sakura-chan! Sakura!” panggilan Sakshita tak ku hiraukan. Aku berlari sekuat tenaga menuju kebukit tempat ku biasa melihat bintang bersama Sakashita. Melewati jalan kecil gelap yang menyimpan sejuta kenanganku bersama Sakashita.
Sampai di puncak bukit, aku berdiri mendongak menatap langit. Menatap segitiga musim panas yang baru kemarin kami berdua menunjuknya. Tangisanku tak lagi dapat terbendung.
Sakashita… Satu nama itu. Mampu membuatku terkesan dengan kepintarannya. Mampu membuatku marah dengan kejahilannya. Mampu membuatku menangis dengan segala dramanya. Mampu membuat hatiku senang dengan panggilannya. Mampu membuatku damai dengan wajahnya. Mampu membuatku terpaku dengan tatapannya. Dan mampu membuatku menahan rasa sakit demi cintaku padanya. Namun dia… Ah.. Dia akan pergi. Melupakan segala kenanganku bersamanya. Meninggalkanku dalam kesendirian bersama bayangannya..
“Sakura-chan…” suara itu… Panggilan itu… Wajah itu… Mata itu… Dan tatapan itu…
Aku menatapnya. Mungkin untuk yang terakhir kalinya sebelum dia pergi jauh memulai hidup baru tanpa diriku.
Aku hanya berdiri mematung sambil menatapnya. Hidungku saat ini pasti sudah merah. Mataku saat ini mungkin sudah sembab.
“Sakura-chan..” panggilnya sekali lagi lalu memelukku. Tangisku pecah dalam pelukannya.
“Sakashita-kun… Aku tak ingin kau pergi. Aku tak ingin kau pergi meninggalkanku bersama bayanganmu. Aku ingin kau disini. Menemaniku dan hari-hariku..” ucapku di sela-sela tangisku.
“Sakura-chan, aku juga tak ingin meninggalkanmu. Namun, aku tetap harus pergi. Tak ada alasan untukku tak pergi,” ucapnya sambil mengelus lembut puncak kepalaku. Aku masih saja menangis. Hingga dia mengajakku duduk sambil kembali menatap bintang. Aku tak tahu. Mungkin ini terakhir kalinya aku menatap bintang bersamanya.
Dia menyandarkan kepalaku ke dadanya. Sambil dielusnya puncak kepalaku, dia berkata,
“Besok, aku berangkat dari stasiun kereta api jam setengah 8 pagi. Jangan terlambat untuk menemuiku,” ucapnya. Aku mengangguk lalu memejamkan mataku.
Tolong katakan padaku apa ini salah? Hatiku coba mengatakan padamu bahwa, berada di sampingmu itu cukup. Namun, kenyataannya begitu kejam…

“Ehm… Ibu..” ucapku sambil membuka mataku.
“Ibu? Ini jam berapa?” tanyaku melihat ibu ada di dalam kamarku.
“Sudah jam 7 pagi,” jawab Ibuku santai.
“Jam tujuh?!” aku segera bangkit lalu mandi. Dan segera bersiap menuju ke stasiun. Aku mencari taksi. Dan, dapat!
Perjalanan dari rumah sampai ke stasiun kereta api memakan waktu setengah jam jika berjalan kaki. Namun lima belas menit jika memakai taksi.
Sampai di stasiun, aku melihat Sakashita berada di depan salah satu pintu gerbong. Namun, bersama Mari! Aku tak mau merusak momen perpisahannya bersama pacarnya. Namun, sepuluh menit lagi Sakashita akan berangkat. Aku tahu harus lewat mana!
Aku segera berlari menuju ke jalan raya. Tepat saat aku sampai di dekat rel, kereta yang ditumpangi Sakshita lewat. Aku menatap gerbong demi gerbong. Berharap menemukan Sakashita. Dan aku menemukannya sedang menatapku. Aku tersenyum padanya lalu melambaikan tangan. Tatapan mata yang terakhir kalinya. Senyum yang terakhir kalinya. Lambaian tangan yang terakhir kalinya.
Ku tak mengatakannya. Ku tak akan mengatakannya. Aku tak akan kembali sekarang!

Tiga tahun kemudian…
Aku berdiri menatap bintang di langit. Di tempat yang sama saat tiga tahun lalu aku menatap bintang bersama dengan Sakashita. Tempat terakhir kali aku berjumpa dengannya. Tempat dimana terakhir kali aku menatap matanya dalam-dalam. Tempat yang menyimpan sejuta kenangan indahku bersama Sakashita…
Musim panas hari itu, semua bintang berkilauan. Sekarang tetap aku masih ingat. Wajah tertawanya, dan wajah marahnya. Aku benar-benar mencintainya. Ini tak aneh, kan? Meskipun aku tahu itu… Kau tak akan tahu, rahasia yang hanya ku tahu. Malam panjang yang lalu itu. Dalam sebuah kenangan yang jauh, jarimu menunjuk pada bintang, dan dengan suara tak bersalah…

*Diadaptasi dari lagu Supercell-Kimi No Shiranai Monogatari. 1st ending theme Bakemonogatari.

Cerpen Karangan: Fatimatuzzahra Purnama Putri
Facebook: Fatimatuzzahra Purnama Putri
akun facebook: fatimatuzzahra purnama putri
akun wattpad: fatimaha137
akun instagram: @fatimaha130703
email:
fatimaha405[-at-]gmail.com
fatimaha307[-at-]gmail.com

Cerpen Kimi No Shiranai Monogatari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yuki Onna

Oleh:
“Shinjuku, shinjuku.. Terima kasih sudah memakai jasa kami semoga hari Anda menyenangkan.” Jam bundar raksasa berwarna putih yang menggantung tepat di dinding tengah stasiun berdetak dengan keras. Jarum jam

Hutan Setan

Oleh:
Ayu, Irma, Nisa, Aldo, Rama dan Yuda sedang liburan di perancis, mereka tinggal di rumah kakak Ayu yang bekerja disana. Mereka pun berjalan-jalan di kota yang penuh cahaya dan

Penyebab Hirako Mati Bunuh Diri

Oleh:
“Apa motifnya bunuh diri?” Sambil berjalan, pertanyaan itu terlontar dari mulut gadis yang sedang mengekorinya. Habara Ichika mencoba untuk memperjelas situasi yang sedang terjadi di sekolah mereka saat ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *