Manik Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 3 July 2017

Sudah seminggu ini Luffy murung. Hanya berdiam di kepala Sunny dan terkadang terlihat menangis. Semua kru heran, apalagi Sanji, karena selama seminggu ini nafsu makan Luffy berkurang. Bahkan ada hari dimana kaptennya itu tak makan sama sekali. Padahal biasanya Luffy makan banyak.

Pada hari ke-7, tiba-tiba sebuah kapal menyerang mereka. Hanya satu serangan dan kemudian kapal itu berlalu seolah tak terjadi apa-apa. Namun, guncangan tersebut sukses membuat Luffy terjatuh.

“Hwa! Luffy!” Teriak semuanya panik. Zoro, Usopp, dan Sanji segera terjun ke laut dan membawa Luffy yang tenggelam kembali. Untunglah Luffy baik-baik saja.
“Oi, Luffy, kamu kenapa?” Tanya Nami.
“Eh,” tiba-tiba wajah Luffy berubah panik. “Di mana itu? DI MANA ITU?!”
“Maksudmu topimu?” Tanya Robin.
Luffy menggeleng. Sontak seluruh kru terlonjak kaget.
“Maksudmu ini?” Zoro menyodorkan sebuah manik berwarna merah.
“Waa, di mana kau menemukannya?!” Tanya Luffy sambil mengambil manik tersebut dan menaruhnya di kantung celananya.
“Kau menggenggamnya tadi” kata Zoro. “Memangnya apa itu?”
“Ini barang yang berharga untukku” kata Luffy. Air matanya kembali jatuh.
“Oi, Luffy!” Kata Usopp panik. Semua kru juga panik.
“Ada apa, Luffy-san?” Tanya Brook.
Luffy hanya menggeleng. Kemudian berjalan gontai menuju kamarnya sambil mengusap air matanya.
‘Ada apa dengan Luffy?’ Itulah yang berada di pikiran para kru SHP.

Hari ini berjalan seperti biasa. Namun Luffy masih seperti seminggu ini, murung dan terus duduk di kepala Sunny. Hal ini membuat resah seluruh kru SHP. “Ace,” hanya itu yang terus keluar dari mulut Luffy tanpa orang ketahui. Manik merah itu terus ditatapnya.

Robin punya rencana. Ia berencana memata-matai Luffy dengan kekuatannya. Kemudian memberitahukan apa yang didapatnya pada anggota kru SHP lainnya.
Maka pada hari ke-9, Robin melancarkan aksinya. Ia memunculkan mata dan telinga di kepala Sunny di tempat yang tidak terlihat oleh Luffy. Dan hasilnya adalah semua ratapan dan amarah Luffy.

“Nande? Nande?! Aku tak bisa menyelamatkan Ace?!”
“Ace, kenapa kau pergi?”
“Kau janji, kan, kau tidak akan mati”
“ACEEEEEE!!!”
“Sialan kau, Akainu!”
“Sial! Sial!”
Luffy terus memaki, menangis, dan mengeluarkan semua amarahnya. Semuanya dilakukan dengan tetap memandang manik merah tersebut.

Semua itu didengar oleh Robin. Ia pun memberitahukan hal yang di dapatkannya kepada kru SHP. Sekarang semuanya mengerti, Luffy kembali mengingat apa yang dialaminya selama di Marineford. Dan kenangan pahit itu kembali hinggap di pikirannya.

“Tapi, mengapa bisa?” Tanya Sanji dalam rapat dadakan SHP.
“Mungkin semuanya karena, entahlah” kata Robin.
“Yang membuatku heran, apa arti manik merah yang selalu digenggam Luffy?” Tanya Chopper.
“Dia begitu terkejut mendapati manik merah itu tidak di tangannya” timpal Zoro.
“Sepertinya terlalu spesial” kata Franky. “Awww, suuupeeerrr!!”
Usopp keluar sebentar. Dia ingin menghirup udara sekaligus menyapa Luffy. Sesampainya di kepala Sunny, ia mendapati Luffy telah pingsan sambil menggenggam manik merah tersebut.

“Oi, Luffy, ini tidak lucu” kata Usopp sambil menggoyang goyangkan tubuh Luffy. Namun kaptennya itu sama sekali tak bergeming.
Sontak ia berlari ke perpustakaan yang merupakan tempat rapat tersebut.
“Gawat! Luffy pingsan!” Katanya.
Sontak semua yang berada di sana terkejut. Chopper segera berlari ke arah kepala Sunny. Diikuti dengan anggota SHP yang lainnya.
“Luffy!” Kata Chopper panik. Sanji dan Zoro membopong Luffy ke ruang kesehatan.

Chopper yang merawat Luffy, didampingi oleh Usopp. Sementara yang lainnya menunggu di luar. Ketika berjalan keluar, tak sengaja Zoro menendang sesuatu. Zoro pun membungkuk untuk mengambilnya. ‘Manik merah?’ Pikirnya. Zoro pun mengambilnya dan mengantunginya. Akan dikembalikan pada Luffy ketika ia sadar. Sekaligus bertanya untuk apa manik merah tersebut.

Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Tak terasa sudah 5 jam. Namun Luffy belum juga sadar. Thousand Sunny terasa sepi karena biasanya Luffy selalu berbuat hal konyol, yang membuat anggota lain berbuat demikian. Tiba-tiba Usopp berlari menghampiri kru SHP yang tengah berkumpul.

“Lu, Luffy sudah sadar, hah, hah” kata Usopp sambil mengatur nafasnya.
“Luffy!” Kata Nami yang benar-benar mengkhawatirkan Luffy.
Singkat cerita pergilah mereka semua menuju ruang kesehatan. Luffy saat itu sedang meringkuk dan menundukkan kepalanya ke kakinya. Terdengar suara tangisnya yang samar. “Luffy” kata Chopper sambil menenangkan kaptennya.

“Luffy” kata Usopp.
“Luffy, berhentilah menangis” kata Nami.
“Ya” kata Sanji. “Ayo, kubuatkan makanan yang enak”
“Aku tidak mau!” Kata Luffy sambil berteriak.
Semuanya tertegun.
“Yang ku mau, yang ku mau, hanya ACE!”
Sekali lagi semua tertegun mendengar penuturan Luffy.

“Luffy” Nami menatap Luffy.
“Luffy,” Zoro menyodorkan manik merah itu padanya. “Sebenarnya apa arti manik ini?”
Luffy menatap Zoro dan cepat-cepat mengambil manik itu. “Ini manik milik kalung Ace” kata Luffy. “Entah kenapa ada di sakuku”
Luffy tertegun melihat teman-temannya yang kaget. Bayang-bayang Ace terlihat di belakang mereka. “Kutitipkan ini, Luffy. Jagalah dengan baik. Anggaplah pengganti vivre card milikku. Sayonara”
Luffy diam sebentar.
“Ja nee, Ace”
Pandangan Luffy kembali kabur. Seakan-akan Ace menyuruhnya untuk mengikutinya, dan Luffy setuju. Para nakama Luffy langsung kaget.
“Luffy!!!”
Luffy terjatuh, namun dengan cepat ditahan oleh tangan besar Franky. Dan kembali, Luffy pingsan. Mengakibatkan jerit dan teriakan dari nakama nya.

Luffy POV
Aku berada di ruangan yang gelap. Kulihat teman-temanku berada di sampingku, memanggil-manggil namaku, saat Chopper kembali memeriksaku. Ini aneh, bukankah aku sudah sadar?

“Oooi, minna!” Aku setengah berteriak. Namun anehnya, mereka tetap melakukan hal yang sama. Ada apa ini?
“Luffy!” Suara yang sangat familiar.
Aku menoleh ke samping. Seketika mataku terbelak.
Pria itu, bukankah, bukankah dia…?!
Aku hendak memeluknya. Namun seakan-akan aku direkat lem tak terlihat. Aku hanya bisa menoleh ke arahnya.
“Luffy, kau mau mengikutiku atau apa?” Tanyanya. “Ayolah, kau sudah besar dan punya nakama. Lagipula, aku harus pergi”
“Jangan pergi!” Teriakku. “Jangan seperti Sabo”
Kini kurasakan air mataku mulai menetes.
“Tak bisa” katanya lagi. Membuat air mataku semakin mengalir deras. “Jangan sia-siakan pengorbanan. Aku akan selalu berada di sisimu, sembari terus mencari Sabo. Aneh, tak kulihat dia di manapun”
“Sudah ya, aku pergi dulu”
Sosok itu beranjak pergi. Meninggalkan jejak kobaran api yang tak dapat kulupakan. Seketika kobaran api itu menjadi cahaya yang sangat silau. Membuatku kembali tersadar dari pingsanku yang sebenarnya tidak kusadari.
End Luffy POV

“Luffy!” Nami memeluk Luffy yang tersadar.
“Ace,” gumam Luffy.
“Oi, daijobu dayou?” Tanya Usopp.
“Ace! Aku bertemu Ace!”
Zoro dkk menatap Luffy dengan tatapan bingung.
“Ace?” Tanya Zoro.
“Ya!” Luffy langsung bersemangat. “Yosh, tak kan kusia-siakan pengorbanan dari Ace” semangat 45 Luffy langsung membara. Namun karena baru sadar dari pingsan (yang sebenarnya tak disadarinya) Luffy masih agak lemah.
“Luffy, sebaiknya kamu istirahat dulu” saran Chopper.
“Oh, oke” jawaban Luffy membuat kru SHP sweatdrop berat, mengingat Luffy biasanya menolak.

‘Dengar, Ace, pengorbananmu tak kan kusia-siakan. Akan kucapai mimpiku demi dirimu’.

TamaT

Cerpen Karangan: Portgas D Ace
Portgas D Ace cuman nama samaran, bro. Dan email yang ku pakai milik bunda. Karena ga punya email makanya aku pakai punya bunda. Dan ingat, biar nama samaranku nama cowok, aku 100% cewek. Catet, cewek. Cerita sekaligus fic ini kubuat untuk penghormatanku pada Portgas D Ace yang melindungi adiknya Monkey D Luffy dari serangan Akainu (hiks, sedih banget). Plus aku sangat menyukai trio ASL (Ace, Sabo, Luffy). Oke, tunggu ceritaku berikutnya, ya…

(Biodata macam apa ini?! Gila dan kacau balau!!!)

Cerpen Manik Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yuki Chan

Oleh:
Aku mengayuh pedal sepedaku semakin pelan. Bunyi kicauan burung bunga sakura terdengar riang bersahutan menyambut pagi musim semi. Semua orang tampak bahagia pagi ini. Orang-orang berjalan bergandengan tangan, tertawa

Ketupat Untuk Prilly

Oleh:
“Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Laailaahaillallaah huallaah huakbar. Allaahu akbar walillaa hilham.” Begitulah takbir berkumandang, esok adalah hari besar yaitu hari raya Idul Fitri. Aliando sedang duduk di

Terpenting

Oleh:
Hai perkenal namaku Hayako Ririmi umurku 15 tahun aku masih duduk di kelas 9 SMP dan aku punya satu sahabat yang aku sayang dia sangat baik namanya Yuko Ayame.

Haha No Yogen (Nubuat Ibu)

Oleh:
Terdengar deru pesawat terbang yang menuju langit biru Haruka hanya bisa terpaku melihatnya, entah apa yang dia pikirkan tetapi sepertinya serius untuk diselidiki, Haruka selalu pergi ke lapangan dekat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *