New Student And Love (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 15 August 2017

Sebuah obrolan hangat menyelimuti kelas XI-1 di Rouran Senior High School. Mereka membicarakan apa? Ada 3 murid baru katanya! Sang Guru memberitahu bahwa akan ada murid baru hari ini. Semua tampak membicarakannya. Namun, tidak dengan dua orang gadis yang justru asik dengan kegiatan mereka sendiri

Gadis berambut cokelat kemerahan panjang sepinggang yang diikat pony tail dengan sepasang mata merah seperti batu ruby, hanya sibuk mendengarkan musik melalui headshetnya dan lebih memilih menikmati pemandangan di luar jendela. Sementara di sebelahnya gadis berambut biru pendek sebahu, dengan sepasang mata hazel sibuk bermain game melalui i’podnya tanpa peduli pada ocehan teman-temannya.

“Hey kalian berdua, kira-kira yang jadi murid baru cewek atau cowok ya?” tanya gadis berkuncir dua, berwarna kuning cerah dengan sepasang mata shappire.
“Memang apa masalahnya? mau cewek kek mau cowok, peduli amat,” jawab gadis bernama Nagi itu.
“Aish.. bagaimana menurutmu Haruka?” tanyanya pada gadis berambut coklat kemerahan itu.
“Apa peduliku? Memang kenapa sih kau menanyakan itu?” tanya Haruka, seraya melepas headshetnya.
“Tidak, sih! Bagaimana kalau murid barunya cowok terus tam…” Belum sempat gadis bernama Sayuri itu menyelesaikan kata-katanya, Kuzuki-sensei masuk. Ia adalah Guru yang killer dan membosankan.

Kuzuki-sensei masuk membawa tiga cowok tampan yang memasang tampang datar, kecuali yang terakhir. Yang pertama berambut hitam dengan mata onix-emerald, yang kedua berambut biru dongker dengan mata blue sky yang cerah, dan terakhir berambut cream dengan mata green-milky yang polos, serta senyumannya. Para cewek berteriak-teriak kegirangan. Terkecuali Haruka yang memandang lagi keluar jendela di sampingnya dan mendengus bosan, sementara Nagi justru asik menggambar sesuatu di bukunya.
“Berisik, Sayuri!” gerutu Haruka.
“Hey, lihatlah dia! Tampannya luar biasa, mengalahkan Kay dan Shin. Wow!” serunya. Dua pemuda yang dimaksud mendengar ucapan Sayuri hanya memandangnya bete.
“Tampan apanya?” kilah Nagi.
“Huh! Dasar kau Nagi! tidak tahu selera yang benar!,” olok Sayuri, membuat Haruka memutar bola mata bosan, Nagi mengangkat bahu.
“Lihat saja aku akan berkenalan dengan mereka khususnya dua cowok cool itu,” tunjuk Sayuri pada dua pemuda sok cool itu.
“Tch silahkan saja..” kata Nagi.
“Saranku, biasanya cowok ganteng itu angkuh loh, kalo si rambut cream itu masih ada kemungkinan.” kata Haruka.
“Huh kau bilang begitu, karena itu incaranmu!” kata Sayuri.
“Cih mimpi apa semalam?” kata Haruka.

“Silahkan kenalkan diri kalian,” Pinta Kuzuki-sensei.
“Hajimemashite! Ore no namae wa Kyoshi Kagayama desu. Yurushiku.” ujar pemuda berambut cream, seraya tersenyum.
“Boku wa Kaito Shion,” ujar si rambut biru, seraya membungkuk sopan.
“Shinji..Konosuke Shinji.” ujar si rambut hitam tanpa memasang ekspresi hanya membungkuk pelan dan membuang pandangan ke arah lain. Sontak membuat para gadis berteriak lagi.
“Ehm! Diam atau belajar di lapangan?” tanya Kuzuki-sensei. Serempak seisi kelas menjadi diam, meski meninggalkan kesan menjijikkan, disebabkan karena para siswi yang memasang senyum mengerikan, dan make up mereka yang dipertebal dan mata bergerak liar, membuat Kaito dan Shinji bergidik, sementara Kyoshi hanya tertawa canggung. Hanya para siswa yang diam di kelas itu ditambah Haruka dan Nagi yang memilih berjibaku dengan aktivitas sendiri.

Kuzuki-sensei menyuruh Shinji dan Kaito duduk di belakang Haruka dan Nagi, sementara Kyoshi duduk di bangku di depan Sayuri. Kedua gadis itu hanya memasang wajah bete, saat semua pasang mata para siswi melirik ke arah belakang bangku mereka.
“Cih, mengerikan.. membuatku merinding,” desis Haruka, sementara Nagi yang tadinya asik menggambar kini mencorat-coret gambar yang hampir selesai itu, moodnya bertambah buruk hari ini. Sementara Sayuri tengah berblushing ria, mendengar Kyoshi yang berbicara dengan pemuda, teman sebangkunya yang baru, membuat Sayuri mengurungkan niatnya untuk berkenalan, dan sekarang matanya melirik dua pemuda di belakang kedua kawannya.

“Hallo, aku Watari Sayuri desu,” sapa Sayuri. Namun apa yang menjadi balasannya membuatnya menyesal telah menyapa dua makhluk es itu, sapaannya sama sekali tak di gubris, hanya senyum kecut dan tatapan merendahkan. Haruka dan Nagi yang diam-diam melirik dan mendengarkan, sontak terkikik geli.
“Pfft.. kwkwkw.. ckck.. kasihan.” bisik Haruka, seraya menahan tawa.
“Haha.. rasakan!” desis Nagi, yang tentu saja di dengar Sayuri yang berada di seberang bangkunya, yang kini memasang tampang cemberut.

Teng teng teng …
“Aaah, kenapa sih harus Pulang awal?” keluh Sayuri setibanya di gerbang sekolah.
“Lho, memang kenapa? Bukannya kau suka Pulang awal?” tanya Haruka.
“Tidak untuk hari ini! Aku belum berkenalan dengan mereka terutama yang duduk di depanku ituuu,” rengek Sayuri.
“Ada-ada saja kau, memang apa Istimewanya mereka?” tanya Nagi. Tak disadari, dua anak yang dibicarakan mendengar obrolan mereka.
“Hah, kau bilang mereka tak Istimewa? Gila kau! Mereka tuh tampan, keren, cool, dan bla.. bla.” Sayuri bersemangat ketika mengucapkannya. Membuat Haruka dan Nagi saling pandang keheranan.
“Menurutku biasa saja! Yang gila kau, Sayuri. Bisa-bisanya menyukai mereka!.” teriak Nagi.
“Seleramu sungguh buruk, Nagi!”
“Biarlah, aku memang benci cowok sombong dan sok keren seperti mereka itu! tak pantas disebut ‘teladan’ atau ‘tampan’,”. Balas Nagi. Mendengar itu, dua pemuda itu nampak geram. Mereka mendekat ke arah tiga gadis itu.
“Hey, sudah.. sudah.. kalian ini.. kau juga Sayuri, kami memberitahumu agar kau tidak terlanjur menyesal nanti dan tidak datang merengek pada kami dengan air mata bercucuran.. apa tak cukup saat mereka mengacuhkanmu tadi? Kalau aku jadi kau, aku takkan mau mengenal siapa mereka.” kata Haruka, dan disetujui Nagi.

“Heh, memangnya siapa juga yang minta dikenal dengan seorang gadis bermata iblis sepertimu?”, serentak ketiganya menoleh mendapati Shinji dan Kaito di belakang mereka.
“ma.. mata iblis?”, Haruka membelalakkan mata rubynya.
“SIAPA YANG KAU BILANG MATA IBLIS HEH?!! PANTAT AYAM SIALAN?!!”, jerit Haruka. Kontan saja membuat Nagi yang berada di sampingnya terpaksa menutup telinga.
“Tentu saja kau, dan oh ya soal yang tadi, siapa juga yang mau berkenalan denganmu? Dan aku tak memintamu untuk mengenalku..” ujar Shinji.
“Cih, siapa peduli?!” bentak Haruka.
“Sudahlah tak perlu dibahas Haruka, ocehan mereka yang bukan murid ‘teladan’ tak perlu didengar.” pungkas Nagi dengan santainya, membuat perempatan siku-siku muncul di kepala Kaito.
“Heh kepala biru aneh!” bentaknya pada Nagi yang mengerutkan keningnya.
“Apa? Kau tak sadar heh? Kau sendiri berkepala biru.. secara tak langsung kau mengatai dirimu sendiri, otak udang.” ujar Nagi, dengan tatapan tajam.
“Oh ya?! Dasar gadis sok sempurna?! Ow ow iya.. tadi kau bilang kami bukan murid teladan? Jadi kau salah satu murid teladan ya?”,
“Kenapa heuh? Kau iri?”, judes Nagi.
“tch.. Apa ada ‘Murid teladan’ yang hobinya membicarakan atau merendahkan orang lain.” sindir Kaito.
Jleb,
Tepat sasaran, perkataan Kaito membuat Nagi terdiam.
“Heh anak baru diam saja! Di sini di sekolah ini.. yang paling dijunjung itu kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteladanan.. melihat diri kalian rasanya kalian tak pantas berada di sekolah ini! Lihat saja tatapan meremehkan kalian, membuatku ingin menusuknya.. kalau ingin dihargai hargailah orang lain,” sindir Haruka.
“Oo.. kita digurui oleh gadis-gadis terbaik di sekolah ini eh Kaito,” ujar Shinji.
“Baguslah kalau kau mengakuinya,” ujar Nagi. Serempak perempat siku-siku muncul di kepala dua pemuda itu. Nagi dan Haruka memandang kedua pemuda itu dengan tatapan lebih merendahkan seakan kedua pemuda itu adalah yang terburuk di dunia ini.
“kau..” desis Shinji.
“Apa?” tantang Haruka.

“Rambut aneh,” desis Kaito.
“Otak udang,” balas Nagi tak mau kalah.
“Lihat saja aku akan melaporkan kalian pada Kuzuki-sensei,” kata Kaito dan di setujui Shinji.
“Cih, tukang ngadu.. lapor saja idiot, aku tak takut.. tak ada guru yang akan memarahi murid teladan,” ujar Nagi percaya diri.
“Huh, awas saja kalian! Terutama kau mata iblis,” tunjuk Shinji pada Haruka, yang mendelik padanya.
“Heh aku punya nama Haruka Shinohara kalau kau mau tahu! Dasar pantat ayam!.” kata Haruka, balas menunjuk Shinji.
“oh.. jangan-jangan… Kalian bersikap begini pada kami karena kalian ingin diperhatikan oleh kami kan?” ujar Kaito. membuat Nagi dan Haruka tertawa lepas.
“Apa yang lucu?” sanggah Shinji.
“Haha! Percaya diri sekali.. dasar otak udang,” ujar Nagi.
“Sudah sombong idiot lagi,” sahut Haruka.

“Hey!”
“Apa?!”
“Haruka, Nagi, sudah!! Jangan memperlakukan mereka seperti itu.” ujar Nagi.
“Heuh? bilang saja kau mencari Perhatian dan membela dia!” kata Haruka geram. Sayuri blushing, karena dia memang membela dua pemuda tampan itu.
“Idiot benar kau! Membela dua orang cowok berotak udang yang tak patut dianggap,” komentar Nagi enteng, lalu berlalu. Baru saja Shinji dan Kaito ingin berkata, seorang pemuda berambut perak datang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Aderisma Pertiwi
Facebook: Adherissmaa Pertiwii

Cerpen New Student And Love (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arigato nee, Ace

Oleh:
Reina menendang-nendang kerikil yang berada di depan sepatunya. Ia sedang kesal hari ini. Bagaimana tidak? Bagaimana bisa ia tidak kesal jika Nata menumpahkan segelas jus pepaya di seragamnya dengan

Cinta Taka

Oleh:
“Hikari-chan, aku sudah muak dengan Taka. Dia menyebalkan sekali! Setiap bertemu, pasti memanggilku otemba” Uuh … konsentrasiku buyar ketika mendengar suara Eiko. Entah sudah berapa kali, ia telah menyebut

Inarticulate, Love Ends In Spring

Oleh:
Kenapa perasaan itu harus hadir dan menyapa kehidupanku jika pada akhirnya hanya membuat rapuh, dan lelah hati kini sudah mulai berujung pada kesiksaan yang hanya meninggalkan luka di dalam

Semangat Puasa Sakura

Oleh:
Nisa menatap lurus ke depan. Dalam hati, ia begitu mengagumi arsitektur Masjid Kobe, masjid pertama sekaligus tertua di Negeri Sakura, Jepang. Nisa berdiri di luar pagar Masjid Kobe, masjid

Hopeless and Step

Oleh:
Musim semi terasa sangat indah hari ini. udara desa Konoha terasa sejuk dan pemandangannya yang indah menjadi nilai plus mengapa desa Konoha menjadi desa terindah sekaligus desa terbaik di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *