Nihon De No Seikatsu (Hidup Di Jepang)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 January 2016

Pukul 08.15. “15 menit lagi kelas akan dimulai, Ayah bisakah kita lebih cepat lagi?” omelku pada ayah yang tengah bersiap-siap berangkat kerja dan mengantarkanku ke sekolah. “Apa yang akan kau katakan saat perkenalan di kelas barumu nanti? Ayah ingin mendengarnya” ucap ayah sembari mengemudikan mobilnya.

“Ohayogozaimasu, watashinonamaeha Eruyasumin desu. Watashi wa Indoneshia kara kite, imakoko ni ido shimashita. Tasuketekudasai. Arigatogozaimasu.” (Selamat pagi, namaku Elle Yasmin. Aku berasal dari Indonesia dan sekarang pindah di sini. Mohon bantuannya. Terima kasih). kataku sambil membuka-buka kamus Ind-Japan. Sekarang aku kelas 2 SMP.

Ya, tiga hari yang lalu aku pindah ke sini, tepatnya di Hokkaido. Sebenarnya orangtuaku sudah merencanakan kepindahan ini dua tahun yang lalu jadi ayah menyuruhku, kakak dan ibu untuk les berbahasa jepang, kami menetap di sini karena pekerjaan ayah. Alhamdulillah bahasa jepang dan huruf kanjiku lumayan bagus, tapi masih ada yang harus ku pelajari dan harus membuka kamus lagi.

“Baiklah sudah sampai, semoga harimu menyenangkan.” kata ayah padaku yang bersiap-siap ke luar mobil.
“Aku tidak percaya diri, baiklah. Assalamualaikum Ayah.” jawabku dan berpamitan dengan ayah seraya mencium tangannya.

Sebenarnya aku tidak nyaman dengan sekolah ini, apalagi dengan seragam sekolah untuk mereka perempuan yang panjang roknya hanya selutut. Aku tidak mengenakan seragam, seragamku belum jadi. Pasti penjahit itu bingung bagaimana modelnya, aku ini berjilbab. Ya hanya dengan rok hitam panjang dan baju polkadot serta kerudung hitam aku mulai memasuki gerbang sekolah. Banyak yang melihatku dengan raut wajah mereka yang aneh, dan aku balas dengan senyuman. Ah! Bahkan aku belum tahu kelasku di mana. Pertama-tama aku harus tahu di mana kantor guru.

“Sumimasen, permisi?” tanyaku pada seorang perempuan di sebelahku. Dia menghiraukan keberadaanku, seharusnya tadi ayah mengantarkanku. Aku harus tanya anak lain.
“Sumimasen, doko sensei no jimusho wa arimasu ka?” (Permisi, di mana letak kantor guru?) tanyaku pada seorang laki-laki yang sedang duduk dan.. dia sedang membaca al-qur’an, ah syukurlah ada seorang muslim lagi, aku kira hanya aku saja yang muslim di sekolah ini.
“Watashi ni shitagatte kudasai. Watashi ga o todoke shimasu” (Ikuti aku. Akan aku antarkan) ucapnya yang kemudian langsung pergi jalan begitu saja.

Sekarang aku sudah berada di tempat dudukku, memahami apa yang sensei bicarakan, aku agak kesulitan memahaminya karena dia bicara begitu cepat. Untungnya aku sudah memiliki buku paket pelajaran, jadi aku lebih paham yang ada di buku ketimbang penjelasan sensei. Dan untungnya aku ini siswa berprestasi, saat di Indonesia aku selalu ranking 1, entahlah di sekolah ini apa aku bisa mengambil ranking itu lagi.

Yang aku suka dari sekolah ini adalah fasilitas sekolah dan begitu banyak prestasi yang diraih dari siswa-siswa di sekolah ini. Ah ya, aku suka sekali dengan kelasku sekarang ini sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia. Saat mulai memasuki dalam sekolah kita harus mengganti sepatu kita dengan uwabaki, semacam sepatu keds berwarna putih. Dan kami memiliki loker masing-masing untuk menyimpan sepatu ataupun barang yang lain.

“Kringgg, kringgg..”

Akhirnya bel istirahat, sampai sekarang pun aku belum memiliki teman. Istirahat ini aku ambil untuk salat dhuhur. Sebenarnya aku juga kebingungan dengan waktu di jepang, ya aku masih terbawa suasana waktu di Indonesia. Bel pulang pun akhirnya bunyi juga, aku masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan ini. Saat aku berjalan menuju gerbang sekolah tidak sengaja aku menabrak seorang perempuan, kita sama-sama terjatuh.

“Watashi wa itotekini shimasendeshita, gomen’nasai.” (Maafkan aku, aku tidak sengaja) kataku sambil menunduk dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
“Migi no pasu ga areba! Watashi no ashi ga totemo itamumashita!” (Kalau jalan yang benar! Kakiku jadi sakit!) ucapnya ketus dan menampar tanganku dia tidak butuh bantuanku dan berlalu pergi begitu saja.

Sehari sekolah terasa begitu lama. Aku memutuskan untuk menelepon ayah agar menjemputku. “Astagfirullah, hp-ku ketinggalan. Bagaimana ini?” aku terlalu panik, aku tidak tahu daerah di sini. Aku teringat ibu memasukan kertas berisi alamat rumah baruku. Langsung aku tanya ke beberapa orang, aku dibuatnya bingung. Beberapa orang mengatakan berbeda-beda. Jadi mana yang harus aku ikuti?

Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang menarik paksa tasku. “Anata no baggu o ataemasu!” (Berikan tasmu!) ucapnya dengan suara keras dan membuatku sangat ketakutan.

“Masaka! Shite kudasai! Shite kudasai!” (Tidak! Tolong! Tolong!) sontak aku langsung berteriak meminta tolong, aku benar-benar ketakutan. Aku kira tidak akan ada yang mau menolongku, untung sekali ada seorang yang menyelamatkanku. Ternyata dia anak yang tadi membantu mengantarkanku ke kantor. Berkat jurus karatenya orang pemalak itu pun lari terbirit-birit ketakutan. Ah lega sekali, akhirnya aku selamat.

“Watashi o hozon shite itadaki arigatogozaimasu.” (Terima kasih telah menyelamatkanku) kataku sangat-sangat berterima kasih, aku berhutang budi padanya.
“Kau harus tetap berhati-hati di mana pun itu. Mengapa kau sampai ke tempat ini, tempat ini sangat berbahaya. Ayo aku antarkan kau pulang, di mana rumahmu?” katanya panjang lebar menasihatiku. Aku melongo saat mendengarkan dia berbicara. Ya! Dia bisa berbahasa indonesia. Aku belum mengeluarkan sepatah kata pun, aku benar-benar kaget dibuatnya.

“Hey!” ucapnya sambil melambaikan tangannya di depan mukaku yang masih bengong. Aku pun tersadar, dan langsung mengambil kertas yang berisi alamat rumah di kantong celanaku dan memberikan padanya. Tunggu bahkan aku belum tahu namanya.

“Namaku Alif Ramadhan, jadi ini alamat rumahmu?” ucapnya sambil membaca tulisan di kertas itu dan seakan-akan tahu apa yang ada di pikiranku ini. Jangan jangan! Ah! Tidak tidak aku tidak boleh berpikiran negatif seperti ini. Lupakan. Sambil berjalan pulang, aku pun memulai percakapan.
“Jadi kau bisa berbahasa Indonesia?” tanyaku heran.
“Aku juga asli Indonesia, menetap di sini satu tahun yang lalu” ceritanya. Aku benar-benar tidak menyangka.

“Hem.. siapa namamu? Dan mengapa pindah ke sini?” lanjutnya lagi.
“Aku Elle Yasmin, yah karena pekerjaan Ayahku yang memaksakan keluargaku menetap di sini.” ceritaku juga.
“Baiklah sudah sampai, lain kali kau harus hati-hati.” perintahnya dengan tegas, ah aku seperti anak kecil yang sedang dinasihati sang ayah. Tanpa terasa kami sudah sampai rumahku.
“Terima kasih untuk semuanya.” kataku malu-malu, dia sangat baik padaku, mungkin ke semua orang juga begitu.
“Ya, kapan-kapan akan ku ajak kau berkeliling di sekitar sini. Dah, assalamualaikum..” ucapnya salam dan melambaikan tangan kepadaku. Lagi-lagi dia membuatku kaget.

Ya, hari ini cukup begitu lama berjalan, dan tentunya semua kejadian yang terjadi hari ini memiliki hikmah masing-masing. Dari harus bersabar dan berhati-hati dalam segala hal. Oke, aku penasaran ada kejadian apa lagi besok. See you! Oyasumi, soshite yoi yoru. (Selamat malam dan selamat tidur).

Cerpen Karangan: Hasna Asjad Allamah
Facebook: Hasna Asjad

Cerpen Nihon De No Seikatsu (Hidup Di Jepang) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ugly To Be Beautiful

Oleh:
Entah mengapa di sekolah, sifatku berubah 180 derajat. Di sekolah aku menjadi pribadi yang berbeda, menjadi seorang yang pendiam, diajak ngomong gak nyambung, dan tingkahku seperti orang bodoh. Aku

Mantan Terindah

Oleh:
Pagi pun datang diriku telah terbangun dari alam mimpiku, namun tak seperti biasanya dalam benakku, ada sesuatu yang mengganjal di hati ini, entah kenapa yang terjadi namun, aku mencoba

Tak Lagi Ku Galau

Oleh:
Namaku Sandra Dwi Irma si ratu galau. Aku anak kedua dari 2 bersaudara, kakakku bernama Dio Wahendra. Aku duduk di kelas 2 SMP. Aku memiliki Sahabat yang baik, pengertian

Mengapa Ada Spasi Di Antara Kita?

Oleh:
Dunia terasa tak secerah hari-hari sebelumnya. Dengan mengendari sepeda motor kesayanganku aku pun sampai di sekolah tepat pada pukul 7 pagi. Seperti yang lainnya. kali ini aku merasa akan

Persahabatan

Oleh:
Namaku Nurullia Annisa, biasa aku dipanggil Nurul. Aku memiliki tiga orang sahabat yaitu Fifah, Ami, dan Asri. “Nurul… Bangun Nak sudah jam 05.00 ayo bangun salat subuh dulu,” perintah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Nihon De No Seikatsu (Hidup Di Jepang)”

  1. qq says:

    TASUKETE KUDASA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *