One Year’s Memorable

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 9 December 2016

Matahari sore mulai membenamkan diri di ufuk barat. Hujan salju tahun ini datang lebih awal dari biasanya. Aku menggosokkan kedua tanganku, hembusan angin dan salju yang beterbangan membuatku menggigil. Dingin sekali. Meskipun sweater biru muda yang kupakai membalut diriku, tidak cukup untuk membuat hangat tubuhku. Drrrtt! Drrtt! Bunyi getar ponsel mengagetkanku. Aku tengah melamun di bangku panjang depan sekolahku, SMA Nao Hikari sambil menunggu bus nomor 14 jurusan rumahku yang tak kunjung datang. Segera kulihat layar ponselku. Oh, satu pesan dari teman akrab sekaligus teman sebangkuku, Yuki Tatsumi.

Pesan baru: Yuki Tatsumi
‘Kau ada dimana? Apa kau sudah pulang? Kalau belum, tolong ke kelas musik ya, jemput aku. Aku tak ada teman untuk pulang bersama. Tolong ya, Seika-chan? Nanti, aku belikan sebotol yoghurt, deh!’

Aku menghela nafas panjang. Segera kubalas pesan singkat darinya.

Kepada: Yuki Tatsumi
‘Aku belum pulang, sedang menunggu bus datang di depan sekolah. Oh, baiklah, kali ini kau mendapatkan kebaikan hatiku untuk menemanimu pulang, Yuki-chan. Terlebih dengan yoghurt yang kau janjikan, aku memang sedang haus sekali..’

Huh, Yuki ada-ada saja. Apa aku harus kembali lagi? Dengan agak terpaksa, kulangkahkan kakiku menuju ke dalam lingkungan sekolah lagi. Terlihat salju yang masih saja turun seperti kapas putih bertebaran di seluruh penjuru kota Osaka, Jepang. “Seika-chan!” Aku menoleh ke sumber suara yang tidak asing di telingaku. Kulihat seorang remaja laki-laki tengah melambaikan tangannya padaku lalu berjalan menghampiriku. Ah, ternyata Tatsuya Kazuki. Dia kakak kelasku yang sekarang telah kelas 12 SMA. Sebenarnya, dia sangat baik dan humoris, meskipun terkadang tingkah lakunya aneh. Aku telah setahun ini mengenalnya. “Oh, sore Tatsuya-senpai! Ada apa?” tanyaku. “Kenapa kau belum pulang?” Tanyanya sambil menyodorkanku minuman kotak -Susu Coklat. “Arigatto Tatsuya-senpai! Aku sedang menunggu teman sekelasku, Yuki-chan. Dia ingin agar aku menunggunya sampai latihan biolanya selesai!” Tatsuya-senpai mengangguk paham. “Aku juga sedang menunggu Hiroyuki-kun, dia sedang latihan basket bersama timnya. Kalau begitu, kita duduk di bawah pohon gingko itu saja, yuk!” ajaknya. Aku mengangguk kemudian mengikuti langkahnya. “Oh iya, hari ini hangat sekali, ya? Haha!” Tatsuya-senpai tertawa dengan leluconnya sendiri. Aku pun ikut tertawa, sambil terus menikmati susu coklatku bersamanya duduk di bawah pohon gingko. “Sangat hangat!” balasku dengan lelucon juga. Kami berdua tertawa. Aku bingung apa yang akan kukatakan lagi padanya. “Hei, Tatsuya-kun! Kemari, ayo kita pulang!” Terdengar suara Hiroyuki-senpai yang juga merupakan teman akrab Tatsuya-senpai. “Ah, ada Seika-chan ya! Maaf kalau aku mengganggu kalian, tapi hari sudah sore dan aku sudah sangat lapar. Kita pulang saja, yuk!” Hiroyuki-senpai menyapaku, tertawa kemudian berlari terengah menuju pohon gingko tempat kami duduk. Aku mengangguk, Tatsuya-senpai melambaikan tangannya kemudian bergegas menaiki sepeda bersama Hiroyuki-senpai. Aku mengangguk sembari melambaikan tanganku juga. Ah, tak sampai lima menit berbincang dengan Tatsuya-senpai, pikirku dalam hati. Baru kali ini, aku merasa akrab sekali dengannya, karena selama ini kami lebih sering berbincang melalui pesan singkat. Itu pun hanya kalau ada rencana untuk acara-acara sekolah.

Namaku Seika Mitsuru. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang sekarang tengah menghabiskan libur kuliahnya di rumah. Namanya Ryoichi Mitsuru. Kakakku ini baik, namun kadang suka mengganggu apapun aktivitasku. Ayahku, Akihiro Mitsuru dan Ibuku, Aikko Mitsuru bekerja sebagai arsitek sebuah perusahaan di Hokkaido. Kakak kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tokyo. Karena semua sibuk, mereka jarang pulang ke rumah. Tinggalah aku sendiri di rumah. Tak kehabisan akal, aku sering mengajak Yuki untuk menginap di rumahku, sekedar menemaniku semalam dua malam. Jujur saja, aku penakut sekali orangnya. Sialnya, Yuki sering menceritakanku tentang cerita-cerita seram yang dia cari lewat internet hanya demi menakutiku. Kurasa, ada kepuasan tersendiri baginya kalau ia telah berhasil menakutiku. Menyebalkan memang, tapi dia sangat baik kepadaku. Yuki selalu bersedia membantu apapun untukku. Maka dari itu, aku tak sanggup kalau harus menolak permintaannya. Bus yang kutunggu bersama Yuki telah datang. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan Tatsuya.

“Yosh! Bagaimana, Seika-chan? Kau mendengarnya, kan? Indah, bukan? Waahh, aku tak sabar ingin menampilkan bakat biolaku saat kelulusan kakak kelas nanti! Bagaimana denganmu?” Yuki baru saja selesai memainkan biola dengan lagu ciptaannya sendiri. Sedangkan aku, sedang fokus pada not-not pianoku. Aku juga membuat lagu untuk kelulusan. “Gomenasai, Yuki-chan! Aku tidak terlalu mendengarkan permainan biolamu. Kau lihat sendiri, kan, apa yang sedang kulakukan? Tapi, kurasa sudah bagus, kok, permainan biolamu!” Aku menjawab pertanyaan Yuki. Yuki yang tadinya sangat antusias tiba-tiba seperti kehilangan semangatnya setelah mendengar jawaban dariku. “Ah, Seika-chan! Padahal, aku sudah berlatih dengan sugguh-sungguh. Tapi, kenapa aku masih merasakan ada yang tidak pas dengan nadanya, ya? Sebaiknya aku berdiskusi dengan Kyoko-sensei untuk mengoreksi nada-nadanya. Aku duluan ya, Seika-chan! Ganbatte!” Aku tertawa kecil, kemudian melanjutkan pekejaanku.

Tok-tok-tok! “Sumimasen! Apa ada orang di dalam?” Sekitar 10 menit Yuki meninggalkanku ke ruang guru, terdengar ada yang mengetuk pintu ruang musik tempatku berada. “Silakan, ada orang disini!” sahutku tanpa memperhatikan suara siapa barusan. “Ah, Seika-chan! Kau berlatih piano juga?” kulihat Tatsuya-senpai yang melangkahkan kakinya kemudian duduk di sebelahku. Aku mengangguk. “Bagaimana kalau kita membuat lagu bersama-sama? Aku juga menyukai piano, sama sepertimu! Biar ketika hari kelulusanku tiba, kau yang memainkannya sedangkan aku menyanyikan liriknya. Kau mau?” Tatsuya-senpai menawariku. Aku sangat tertarik. Kemudian, mulai hari itu aku dan Tatsuya-senpai berlatih tiap sepulang sekolah. Aku sangat senang, Tatsuya-senpai sangat baik, bahkan selalu menemaniku pulang. Disaat seperti ini, dekat dengannya bagaikan mimpi bagiku. Tatsuya-senpai termasuk anak murid andalan dewan guru dan populer di sekolah ini. “Sebentar lagi, acara kelulusanku. Tak terasa ya! Kuharap kita menjadi duet yang baik, ya, Seika-chan!” Tatsuya-senpai menatapku dengan senyum khasnya. Senyuman yang sama yang sering kulihat. Wajah itu, dengan lesung pipi kanan yang manis. Deg! Entah apa yang kurasa, sungguh baru kali ini aku merasakan ada yang berbeda. Sesuatu yang baru pertama kali aku rasakan saat bersama Tatsuya-senpai belakangan ini. Apakah, aku menyukainya? Aku harus memastikan perasaanku ini.

Aku berlari secepat mungkin tanpa menghiraukan teriakan Ibu yang mengatakan bahwa aku belum sarapan dan lupa membawa bekalku. Tak masalah dengan hal itu, hari ini aku hampir saja terlambat ke sekolah. Gawat! Gerbang hampir ditutup! Bergegas kupercepat lariku, tanpa memperhatikan keadaan sekitar. “Aduh!” Ah, aku tak sengaja menabrak seseorang. Dia segera bangun dan mengulurkan tangannya padaku. Deg! Aku kaget. Akemi-senpai?! “Gomenasai! Kau tidak apa-apa?” Akemi-senpai meminta maaf padaku. Akemi Itsuki, teman sekelas Tatsuya-senpai. Dia juga merupakan murid andalan dan populer, sama seperti Tatsuya-senpai. “Seharusnya, aku yang minta maaf, Akemi-senpai! Gomenasai!” Akemi-senpai mengangguk kemudian tersenyum. Dia seperti seorang puteri. Rambutnya terurai rapi berwarna cokelat tua. Anggun sekali. “Kalau begitu, ayo masuk kelas! Kita sudah terlambat, Seika-chan!” Aku membulatkan mata. Bagaimana Akemi-senpai bisa tau namaku? “Kau darimana saja, Seika-chan? Ah, pasti kau bangun kesiangan lagi, kan?” Sesampainya di kelas, Yuki mencibirku. Aku hanya mengangguk kemudian bergegas duduk.

Saat jam istirahat…
“Hei, Seika-chan! Kemari!” Akemi-senpai tiba-tiba muncul di hadapanku saat aku tengah bergegas ke kantin. “Ada apa, Akemi-senpai?” tanyaku penasaran. “Lihat ini! Bagaimana, kau tertarik?” Akemi-senpai menghampiriku dan menawarkanku beberapa cabang lomba yang semuanya dapat diikuti oleh semua murid di sekolah ini. Aku mengangguk, walaupun aku tak tahu apakah aku bisa memenangkan lomba-lomba tersebut atau tidak. “Baiklah, aku ikut, Akemi-senpai!” Akemi-senpai tersenyum kemudian menyuruhku mengisi semua formulir perlombaan. Akemi-senpai bercerita bahwa tidak banyak yang berminat dalam lomba tahunan ini. Teman-temanku juga kurang berminat. Begitu juga dengan Yuki, yang lebih sibuk pada biolanya.

Dua minggu kemudian…
Aku mengikuti lomba pertama, yaitu badminton tunggal putri. Lawanku adalah Akemi-senpai. Dan dalam lomba ini, aku gagal. Akemi-senpai juga pada akhirnya gagal setelah melawan Rein-senpai. Yang membuatku terkejut adalah Akemi-senpai menjadi lawanku dalam setiap perlombaan.
Lomba kedua, cerdas cermat. Aku kalah lagi, beda 20 poin dengan Akemi-senpai. Kali ini, Akemi-senpai yang memenangkan perlombaan.
Lomba ketiga sekaligus lomba terakhir adalah lari 100 meter. Kulihat dari pertama perlombaan, Tatsuya-senpai selalu memperhatikan Akemi-senpai. Semangatku dalam lomba terakhir ini semakin menurun. Aku cemburu. Ya, hampir setahun ini aku memastikan perasaan itu dan aku benar. Aku menyukai orang yang bahkan tidak melihatku. Pikiranku buyar. Kalau aku memenangkan lomba ini, maka aku akan seri dengan Akemi-senpai. Hampir mencapai garis finish, kakiku tersandung oleh Akemi-senpai. Aku dan Akemi-senpai jatuh, namun akemi-senpai segera dapat bangun dan berlari. Akemi-senpai pun memenangkan lomba ini, juara 2. Hebat sekali. Sedangkan aku, meringis dengan luka dan memar pada kakiku. Kulihat Akemi-senpai terduduk, yang juga meringis karena lukanya. Tatsuya-senpai segera menghampiri Akemi-senpai dan membawanya ke ruang kesehatan. Aku tertunduk. Wajar saja Tatsuya-senpai tidak melihatku, dia hanya terfokus pada Akemi-senpai. Tidak sedikitpun memperhatikanku. Yuki segera menghampiriku dan membawaku ke kelas. Dia selalu siap kotak P3K dalam tasnya. “Sudahlah, Seika-chan! Mari, aku obati dulu lukamu!” Yuki berusaha menenangkan tangisanku. Padahal, Yuki pun tak pernah tau kalau aku menyukai Tatsuya-senpai.

Aku sadar seseorang menepuk pundakku. Tatsuya-senpai! Aku terlonjak kaget melihatnya yang kini tengah berada di sampingku. “Apa aku mengganggumu, Seika-chan?” tanya pemuda itu. Aku menggeleng pelan. Pikiranku buyar. Segera kuhapus air mataku yang sedari tadi terus menetes. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku, juga hadiah yang tadinya ingin kuserahkan. Aku tak ingin bilang yang sebenarnya kurasakan, karena aku takut mengusik hubungan Tatsuya-senpai dengan Akemi-senpai. Kupikir, aku memang tidak pantas bersama dengan Tatsuya-senpai. Apa bisaku? Aku pun kalah dalam segala hal dengan Akemi-senpai. Tatsuya-senpai menatapku tajam, sambil terus memperhatikan. Dia menangkap ada yang aneh dariku. “Aku tahu, kau kan yang tadi bersembunyi di balik tembok kelas musik, kan? Jawab aku!” Tatsuya-senpai sedikit membentakku yang hanya bisa tergugu. Aku tidak dapat mengatakan apa-apa lagi, sudah cukup apa yang kulihat 5 menit yang lalu. Tatsuya-senpai terus menatapku, seolah khawatir dengan tangisanku yang meskipun nyaris tak terdengar olehnya, namun mengeluarkan airmata yang sedari tadi tak berhenti. “Gomene, Tatsuya-senpai! Aku tidak apa kok. Aku menunggumu dan Akemi-senpai selesai berbicara. Aku hanya sedih, hadiahku ini kacau sekali. Ini untukmu, Tatsuya-senpai. Happy Graduation!” Aku segera memberinya sweater itu. Sejenak, Tatsuya-senpai diam kemudian mengambil hadiahku dan segera membukanya. “Arigatto, ini bagus sekali, Seika-chan! Aku menyukainya. Nah, sekarang kau jangan menangis lagi, ya! Maafkan aku tadi membentakmu, aku terbawa emosi. Hanya saja, aku takut kalau aku melakukan suatu hal yang menyakitimu.” Senyum itu mengembang lagi. Aku tersenyum, mengangguk pelan kemudian tanpa menoleh lagi, aku berlari meninggalkan Tatsuya-senpai yang diam mematung. Aku tau kau tidak melakukan apapun, Tatsuya-senpai. Aku hanya terlalu berharap, hingga saat ini. Kuputuskan untuk meninggalkan hari kelulusannya itu. Pulang lebih cepat dari biasanya. Kakakku pun kaget, namun tidak bertanya apapun karena aku segera memasuki kamarku dan menguncinya.

Satu tahun kemudian…
“Ohayou gozaimasu! Kalian terlihat cantik sekali hari ini!” Aku memuji beberapa teman sekelasku. Ada Fuji, Harumi, Kazue dan Keiko. Mereka membungkukkan badan, membalas sapaanku. Aku sedang mencari gadis jahil itu, siapa lagi kalau bukan Yuki. Kemana dia? Ah, lama sekali datangnya. Sudah hampir satu jam aku duduk menunggunya di bawah pohon sakura. Hari ini adalah hari kelulusanku, juga semua teman-teman satu angkatanku. Tak terasa, kini kami akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku memakai gaun berwarna putih yang diselingi warna hitam di beberapa sisinya. Kubiarkan rambut panjangku terurai dan kuberi mahkota kecil untuk memberi kesan yang sedikit elegan. Terlihat beberapa orang guru tengah memperbincangkan kelakuan anak muridnya yang sangat mengesankan. Aku jadi ingat, memori satu tahun yang lalu. Masih ada Tatsuya-senpai. Masih dapat mendengar tawanya, leluconnya, teriakan ketika dia bermain sepakbola dan lagu yang kami ciptakan bersama dengan piano di ruang musik tahun lalu. Aku rindu, sudah setahun lamanya setelah hari kelulusan itu, kuputuskan untuk tidak menghubunginya lagi. Aku merasa sakit, kecewa, entahlah. Namun, tadi malam aku bertekad untuk mengiriminya pesan singkat, bahwa hari ini adalah hari kelulusanku. Kuharap, dia ada waktu luang dan datang melihatku. Kali ini, saja. Aku hanya ingin mengatakan apa yang seharusnya aku katakan dulu. Sudah satu tahun lamanya, kupendam setiap rasa yang ada, berharap suatu saat dia akan mengerti meskipun aku tidak mengatakannya. Tapi itu mustahil. Maka dari itu, aku harus melakukannya hari ini juga, itu pun kalau dia datang.

“Seika-chan! Kau cantik sekali!” Yuki muncul dari belakangku, dengan gaun pink yang sangat menawan. “Kau juga cantik sekali, Yuki-chan! Kenapa kau lama sekali? Aku lelah menunggumu!” Aku menatapnya kesal, tapi Yuki tetap saja tertawa. Ah, gadis ini. “Hei, ayolah! Acara sudah akan dimulai!” Teman-temanku yang lain berteriak memberi tahu. Lalu, kami mengikuti acara kelulusan dengan tenang. Sampai pada acara bebas, setelah Yuki memainkan biolanya dengan sempuna. Kemudian, kuberanikan diri untuk memainkan piano. Aku memainkan lagu itu, lagu yang aku buat bersama Tatsuya-senpai. Perlahan, airmataku menetes. Sepertinya, tak ada gunanya aku memainkan lagu ini dan berharap agar Tatsuya-senpai datang.

Semua bertepuk tangan saat penampilanku selesai. Ketika turun dari panggung, aku melihat sosok itu lagi. Senyum itu, wajah itu. Dia datang memakai sweater coklat pemberianku. Aku haru, menangis dalam diamku. Segera kuhampiri dirinya. Beruntung, tak banyak yang memperhatikan kami. Aku tersenyum dalam tangisku, menatapnya yang juga tersenyum dalam tangisnya. “Kau kemana saja, Seika-chan? Kenpa kau baru mengabariku?” “Gomenasai, Tatsuya-senpai! Aku hanya tidak ingin mengganggumu, itu saja.” Aku berbohong. Aku tidak dapat melanjutkan kata-kataku. Airmata ini terus saja menetes. “Tatsuya-senpai, aku ingin bilang sesuatu padamu. Sebenarnya… Sebenarnya, selama ini aku..” “Hei, Tatsuya-kun! Disini kau rupanya! Ah, Seika-chan! Aku rindu padamu!” Aku menghentikan bicaraku, kaget karena Akemi-senpai langsung berlari memelukku. “Akemi-chan, jangan seperti itu. Seika-chan kaget tentunya! Kau tidak kasihan dengan adikku ini?” Tatsuya senpai tertawa. Begitu pula Akemi-senpai yang langsung melepaskan pelukan eratnya. Adik? Ah, aku baru menyadarinya. Biarlah kupendam perasaanku. Tak ada lagi rasa suka pada Tatsuya-senpai. Karena kini, aku bahagia melihatnya bersama dengan Akemi-senpai. “Tentu, Tatsuya-niichan desu!” Kataku sambil tertawa. “Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Tatsuya-senpai. Aku menggeleng kuat-kuat. Kini, tangisanku semakin menjadi. Namun, ini bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan dan rasa lega. Aku akan memahaminya.

Aku meninggalkan perasaan yang cukup lama ini. Biarlah, seiring berjalannya waktu, luka ini akan segera pulih. Tak mengapa, meskipun harus menusuk di hati dalam waktu lama. Aku hanya perlu terbiasa. Arigatto, Tatsuya-senpai!

Cerpen Karangan: Delvina Damayanti
Facebook: Delvina Damayanti
Bagi yang ingin berteman denganku, silakan di Facebook ya!

Cerpen One Year’s Memorable merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Otsukai Sama

Oleh:
“ya, hanya sedikit orang sepertimu yang bisa melihat otsukai sama dan dia akan selalu melindungimu di manapun kau berada.” hanya itu yang ku ingat dari omongan ibu. Ah iya

Inarticulate, Love Ends In Spring

Oleh:
Kenapa perasaan itu harus hadir dan menyapa kehidupanku jika pada akhirnya hanya membuat rapuh, dan lelah hati kini sudah mulai berujung pada kesiksaan yang hanya meninggalkan luka di dalam

120 Bulan

Oleh:
“hai semua. Perkenalkan nama saya hiroharu higashiyama” Aku memperkenalkan diri di depan kelas baruku. Aku agak malu memperkenalkan diriku sendiri, mereka hanya menampakkan wajah datar mereka yang tanpa ekspresi,

Midnight in Tokyo

Oleh:
Gemerlap cahaya kota tokyo menerangi sepanjangan jalan. Menerangi jalan seorang gadis yang kesepian, ia memilih untuk menyendiri di malam hari karena dia tidak mau bertemu siapapun, ia telah ditinggalkan

Goodbye Hikkikomori

Oleh:
Hanya dengan sebuah joystick dan beberapa cemilan, remaja tampan ini rela seharian tidak keluar kamar. Dengan headset yang masih terpasang di telinganya, Shirou terus larut dalam aktivitasnya bermain game.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *