Preciuos Memories

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

Aku.. Ah aku Kazeyuki Hiroya temanku terkadang memanggilku kaze, yuki dan hiroya. A~~ Yoroshiku ne. Aku tidak tahu kalau itu takdir atau bukan, dan aku juga tidak tahu banyak tentang takdir. Karena ketidaktahuanku. Aku dapat mengetajui yang sebenarnya dan dapat melihatnya. Entah itu salah atau tidak, aku tidak bisa mengatakannya karena aku bukanlah dewa yang menciptakan takdir itu. Kedo, boku no monogatari wa hajimerunda. Hiroya no monogatari. Kitekudasai. Ano hi. Ano natsuyasumi..

-Natsuyasumi-
Aku bingung harus melakukan apa di liburan musim panas hari pertama ini. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk saja di tepian sungai pinggir kota yang jernih dan bersih ini. Namun..
“KONNICHIWA! Nani shiteru no kai?!” tiba-tiba saja seorang gadis yang tidak ku kenali mengejuti sambil memelukku dari belakang yang benar-benar membuatku kaget.
“A? AAaa!!? Da-dare da! Omae!!!” aku membentaknya dan melepas pelukannya dengan cepat.

Sambil memandanginya. Aku terus memperhatikannya.. Mataku.. Berhenti setelah melihat ke wajahnya. Pipinya yang sedikit memerah, mata yang berkaca-kaca, dengan senyuman tipis yang benar-benar lembut. Sepasang taring yang menghiasi senyum manisnya, hah? Taring? Bukan, bukan! Tentu saja bukan taring sungguhan, itu hanyalah sepasang gingsul. Ya, itu hanya gingsul. Hehe.. Semua berpadu dengan wajah yang manis dengan kombinasi gadis moe dan rambut panjang dengan gaya ikatan pony tail berwarna orange.

“E? Orange?”
“Hm? Apa ada yang salah?” memiringkan kepala.
Yah, rambut orange yang diikat dengan gaya pony tail membuatnya tampak sangat manis.
“Nekomori azusa desu. Hajimemashite ne!”
“A~ boku nawa..” aku belum sempat memperkenalkan nama ku dan…
“Yosh! Sudah diputuskan!” azusa berdiri sambil memangku kedua tangannya di pinggang dan berdiri tegak dengan gaya sedikit menyombongkan dirinya dan mata yang menatap tajam ke arahku.

“Huh? Apa maksudmu?” bingung. Aku terus menatapnya dengan penuh tanya.
“Tentu saja! Mulai hari ini kau adalah pacarku!!” Dari sini aku bisa melihat kembali senyumannya yang benar-benar manis dengan pikiran yang melintas di kepalaku tentang menjadi pacarnya. He? Apa? Menjadi pacarnya? Are..!!! “A- apa?! menjadi pacarmu?! Apa kau sudah tidak waras?!” setelah mengatakannya suasana menjadi hening seketika. Hanya terdengar suara percikan air sungai yang berada tidak jauh dari kami, karena sebelum ia datang aku terus memandangi sungai itu.

“H-huh?” Kini ia hanya menatap kosong ke arahku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia duduk di atas rumput yang kami pijaki dan menangis sambil menundukkan wajahnya di antara lipatan tangan yang memeluk kedua lututnya. Aku tidak tahu dia sedih karena aku telah membentaknya atau karena ia berpikir kalau aku menolaknya… “Gomen na…” aku memeluknya.

Beberapa bulan setelah natsuyasumi berakhir. Setelah beberapa bulan sejak hari itu. Kami berdua menjadi pasangan kekasih. Meskipun kami saling mencintai. Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku ‘kenapa aku tidak pernah punya kesempatan mengatakan namaku padanya?’ Aku selalu berpikir. ‘Mungkin nanti di perjalanan pulang’ atau ‘mungkin aku harus menunggu waktu yang tepat untuk hal itu.. Tapi, kenyataannya aku tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. ‘Mungkin dia tahu’ atau ‘dia bisa membaca pikiranku? Dan memotong pembicaraanku?’

Kami selalu memiliki waktu dan kesempatan untuk bersama. Kami juga telah melakukan banyak hal beesama-sama. Seperti membicarakan hal yang kami sukai, bahkan jika kami terpisah untuk beberapa saat. Tapi, kami selalu mengirim e-mail di waktu yang sama. Bermain seperti anak kecil yang polos dan pergi ke toko es krim yang sudah cukup tua. Membicarakan hal yang tidak kami ketahui seperti rasi bintang. Bahkan setiap sore sebelum hari berakhir, kami selalu pergi ke tepian sungai tempat pertama kali kami bertemu. Dan mengatakan, “Ingat ini baik-baik, Azusa-chan. Aku tidak akan pernah mengalihkan perhatianku darimu!” dan itu membuatnya tertawa karena tepat setelah mengatakan itu perhatianku langsung teralihkan pada kucing manis yang sedang memperhatikan kami.

“Lihat! Kau baru saja mengalihkan pandanganmu dariku, kawara no michi-kun. Hahaha..” dan aku tidak pernah bisa melupakan saat itu sampai sekarang. Juga saat kami benar-benar akan berpisah. Saat pelukan terkhir kami mulai memudar dan kami mulai berhadapan. Azusa mendekatkan wajahnya lalu mengatakan.
“Suatu hari, aku harap kita berdua akan dipertemukan kembali. Jadi, kita bisa memulai semuanya dari awal lagi..”
“Aku juga, aku juga berharap suatu hari saat kita dapat dipertemukan kembali. Kau tidak perlu memotong pembicaraanku dan mengalihkan pembicaraan saat aku ingin mengatakan namaku. Nekomori Azusa!”

Tanpa mengatakan apa pun dia hanya membalasku dengan senyumannya dan, “Sayonara kawara no michi-kun…” Yah.. Selama ini ia selalu memnggilku dengan sebutan itu dan tidak pernah berubah. Apa karena pertama kali kami bertemu di sisi sungai? Entahlah yang aku tahu, hal terakhir yang aku pikirkan sebelum ia berbalik dan pergi adalah.. ‘Nawa kazeyuki hiroya tte ne!’ Aku harap ia benar-benar bisa membaca pikiranku.

-OWARI-

Memimpikan suatu hal dan membayangkannya tidak akan pernah berakhir. Menghapus masa depanku sendiri. Seseorang yang tertawa bersamamu, dia bukanlah diriku. Saat hampir kehilangannya aku sampai di tempat kecil yang kami temukan berdua. “Nee, meguu-chan, bukankah ini tempat yang bagus?” Hari itu.. Kami berdua menaiki ayunan bersama-sama. Sambil terus berpegangan tangan sepanjang perjalanan pulang. Aku berpikir kalau kami adalah teman yang benar-benar mirip. Bermain kejar-jejaran, menangis saat terjatuh tertawa saat melihat atau mendengar hal aneh yang belum pernah kami dengar. Dan berlari karena ingin saling menangkap satu sama lain. Namun, itu tidak berlangsung lama sejak saat itu kau yang mulai marah padaku.

“Gomen na.. Meguu-chan, aku tidak berpikir sebelumnya kalau itu akan membuatmu marah. Hontou ni gomen!!” Ketika aku hampir kehilangan hal yang paling berharga bagiku aku sadar kalau aku tidak pernah ingin kehilangan ataupun melepaskan tangannya. “Jika kau tidak mengerti tentangku, aku tidak perlu repot-repot untuk mengerti tentangmu kan, yuuki-kun!!” di taman kecil sepulang sekolah itu. Aku rasa ia benar-benar marah padaku dan pergi begitu saja.

Dengan jari-jari yang sedikit kaku, aku mulai bermain piano di ruang musik yang kosong tanpa seorang pun di sana. Kita selalu bersama dan melakukan banyak hal. Padahal ada banyak hal yang ingin ku sampaikan. Lelucon dan kata-kata cinta yang tidak pernah sempat ku katakan padamu. Begitu banyak sampai aku tidak dapat menghitungnya lagi. Bahkan saat perjalanan pulang, bukankah kita selalu datang ke toko tua yang ada di persimpangan tidak jauh dari sekolah.

“Irashai!!”
“Tadaima.”
“Are? Kau tidak bersama dengan meguu-chan yuuki?”
“Ah? Um.. Dia sedang sibuk untuk saat ini oaman.”
“Ah.. Aneh ya akhir-akhir ini kalian berdua jarang datang ke sini, hahaha. Padahal, dulu kalian berdua selalu datang ke toko ini.. Huh.. Jadi terkenang,”
“Uh.. Benar.”

Ya, itu benar kita selalu datang ke toko tua ini setiap pulang sekolah. Bahkan saat kibur sekali pun.
“Ah! apa kau ingat saat kalian maaih SD? Hm.. Saat itu kalian masih memanggilku dengan sebutan ‘kakak’ tapi sekarang tahun demi tahun telah berlalu dan sebutan ‘kakak’ itu pun berganti ‘paman’ hahaha.. Aku jadi sering tertawa saat mengingatnya!”
“Hm. Benar saat itu kami membeli es krim yang pertama kali paman jual.”
Benar, dua es krim berbeda rasa lalu saling bertukar.

“Lalu, apa kau ingat saat meguu-chan bilangkalau dia ingin rasa yang kau pilih. Dan begitu juga denganmu yuuki. Ah~ kalian berdua benar-benar dekat…”
Setiap memikirkan banyak hal. Setiap kali berpelukan. Aku merasa takut untuk berpisah. Untuk melarikan diri kenyataan yang mulai mengering. Saat aku menciummu tanpa meberitahumu terlebih dahulu ketika kau melihat kembang api yang ditembakkan ke langit malam saat festival musim panas itu. “A-apa… Yang kau.. Lakukan.. Yuuki..-kun?”
Aku benar-benar tidak mengharapkan apa yang akan terjadi berkutnya. Festival musim panas ini. Aku hanya berdiri seorang diri disini, dan angin malam yang nertiup terasa dingin.

“Hal yang berhubungan denganku, tidak selalu berhubungan denganmu dan kebahagiaanku tidak selalu menjadi kebahagiaanmu! Begitu juga sebaliknya? Yuuki-kun.”
“Saat-kita bersama, saat-saat kita berpegangan tangan. Apakah sekarang kita berdua terlalu berbeda, meguu-chan?”

Ya, benar. Kita memang mulai berbeda sejak saat itu. Bahkan perbedaan itu terus berlanjut sampai sekarang. Seandainya kalau perbedaan itu juga dapat kita cintai, mungkin saat ini kita masih bersama bahkan untuk seterusnya. Saat kita berdua berada di ruang UKS kau mulai terganggu dengan ponimu yang mulai mungganggu matamu dan mencoba untuk memotongnya sendiri. “Biar aku potongkan meguu-chan.”
“Tidak boleh. Jika aku membiarkanmu yang memotongnya. Pasti kau akan memotongnya sangat pendek!”
Kau yang tersipu malu lalu menutupi ponimu yang terpotong terlalu pendek dengan tangan kananmu.

“Hehe…”
“Hentikan, yuuki-kun. Jangan menertawakanku terus!!”
“Hehehe. Habisnya tingkahmu benar-benar lucu meguu-chan! Aku sudah bilang kan biar aku potongkan. Tapi kau tidak percaya padaku. Dan akhirnya, kau sendiri yang memotongnya terlalu pendek. Hahaha.” Semua tingkah maniamu itu. Apakah aku bisa melupakannya?

Cerpen Karangan: Roy
Facebook: Roy Kim Fourtyeightver

Cerpen Preciuos Memories merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dhan, The Damn and The Bestday

Oleh:
Huh… seseorang dari atas langit “Gooood mooorniiiing Dhaaann” “Arrrrghhhh…” Brukkk. “sialan!!!, berani sekali ayah pagi-pagi begini sudah mau mematahkan leherku!” aku bicara setelah menjatuhkan ayahku di lantai. “masih pagi

Daisuki, Hatori Sama

Oleh:
“Meong,” aku menjilat pipi majikanku, membangunkannya dari tidur panjang. Ia menggeliat lalu mengelus kepalaku, aku melanjutkan menjilat pipinya yang putih bak susu. “Sudah pagi, ya?” ia membuka matanya yang

Day Dreamer (Part 2)

Oleh:
Sementara itu, di Restoran “Hiratsuka-san. Aku akan pergi ke toilet dulu, sementara kau memilih menu yang akan dipesan. Sebentar saja.” kata ku pada nya, “Baik, tidak apa-apa.” Itu hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *