Sakura’s Boy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 26 May 2015

Suatu hari yang agak panas, aku dan sahabatku, ayumi, sedang latihan kendo di ruang klub kendo. Waktu itu aku sedang malas-malasnya latihan. Tiba-tiba sahabatku satu lagi, aiko, datang tergesa-gesa dengan wajah kusut seperti baju yang tidak pernah disetrika. Rasanya dia sedang kesal.

“akane..!” panggil aiko.
Aku menghentikan latihanku.
“ada apa?” tanyaku malas.
“aku perlu bantuanmu! Tolong kalahkan sakura dalam pertandingan kendo minggu depan!” pinta aiko.
“pertandingan kendo?” ulangku.
“iya! Kamu pasti bisa mengalahkan sakura! Sakura itu sahabat kiyoshi, musuh bebuyutanku itu, lho!” ujar aiko.
“oh, jadi kau meminta akane untuk mengalahkan sahabat musuhmu agar kau menang dan merasa puas, begitu?” tanya ayumi dengan pandangan tajam.
“sekali ini saja, kok. Kalian pasti akan membantuku, kan?” tanya aiko dengan wajah berharap.
Aku dan ayumi saling lirik. Sahabatku yang satu itu agak suka cari masalah dengan orang yang dia sukai. Aku dan ayumi tahu kalau aiko menyukai kiyoshi yang keren itu. Kami sebagai sahabatnya hanya mengawasi jika aiko melakukan hal yang diluar kendali kami. Misal, terjun bunuh diri saat melihat kiyoshi jalan sama cewek lain. Maklum, kiyoshi populer, sih, cewek mana yang tidak bertekuk lutut padanya.
“hanya sekali ini saja, lho!” kataku.
“iya! Kau hanya perlu mengalahkan si sakura itu saja.” kata aiko tersenyum lega.
“aku setuju, deh! Lawannya, kan, cewek. Pasti bisa kau kalahkan, akane.” ujar ayumi.
“hah? Sakura itu…”

Aku dan ayumi pun berlatih lagi tanpa mendengarkan perkataan aiko. Pasti aiko cemburu karena kiyoshi membela cewek yang menjadi sahabatnya itu yang bernama sakura. Hm, rasanya, sih, seperti cewek yang lemah lembut yang tertarik dengan kendo karena anggota klub kendo cowoknya keren dan jago berantem, dia ingin ikut klub kendo agar dekat sama salah satu anggota klub kendo cowok. Hah, aku jadi terlibat ke masalah mereka. Tapi yang terpenting, aku harus kalahkan si manis sakura itu.

Tibalah hari pertandingan kendo. Aku agak gugup karena melihat banyak siswa yang tertarik untuk melihat pertandingan ini.
“nah, akhirnya pertandingan kendo pun dimulai antara orang bijak dengan orang kuat!” kata seorang siswa cowok yang berdiri di tengah arena sebagai pembawa acara.
“orang bijak dan orang kuat dari segi mana, sih?” tanya ayumi heran, apalagi aku orang yang pemalas dan ceroboh.
“dari samping kiri saya sudah berdiri seorang penantang dari pihak aiko! Ini dia, akane nobuyuki..!” kata siswa yang berdiri disana sambil menunjuk kearahku dengan semangat yang berkobar.
Aku pasang wajah bodoh saat mendengar kalimat orang itu. Pihak penantang? Ini pasti perbuatan aiko, pikirku sambil melirik ke arah aiko dengan tatapan kesal.

“mari kita sambut orang yang menerima tantangan ini dari pihak kiyoshi, sakura hanzo..!”
“hanzo!!???” aku kaget.
Rasanya aku kenal nama belakang orang itu, dan sepertinya ayumi juga mengucapkan hal yang sama denganku.
Aku pikir lawanku itu seorang cewek manis yang suka kendo. Ternyata yang muncul seorang cowok tinggi tegap dengan rambut diikat ekor kuda memasuki arena pertandingan. Dia, kan, atlet kendo termuda yang sudah masuk ke level senior? Aku lebih kaget lagi saat dia menatapku. Saking takut bercampur gugupnya aku, aku pun teriak.
“aaiikooo…!!! Kamu bilang lawannya sakura, kaaan!!?? Yang muncul, kok, cowok begini, sih!? Horor, lagii!!” kataku panik. Horor, maksudnya menakutkan. Lihat saja matanya. Hiiiy…
“kamu nggak tahu sakura yang kumaksud, ya? Ahahaha…” aiko agak takut melihatku.
“ngomong, dong, kalau sakura-nya cowok!!” kataku lagi.
“maaf-maaf..” ujar aiko membungkukkan badan.
Ayumi juga kaget saat yang muncul cowok itu karena kami berpikir sakura itu nama seorang cewek. Lagian, kok, ada sih, cowok dikasih nama sakura sama orangtuanya. Sudah tahu nama sakura itu lebih cocok untuk nama cewek. Orangnya kayak mafia begini namanya ‘girly’ banget. Itu adalah kesan pertama pertemuanku dengan si sakura itu. Setahu-ku, sih, dia sering dipanggil hanzo oleh ketua klub kendo. Aku tidak tahu banyak tentang dia karena dia pendiam dan menakutkan (menurutku). Shock juga aku jadinya.

Aku malah jadi takut karena ingat kehebatannya itu. Lawanku seorang cowok yang sudah mengikuti pertandingan kendo tingkat asia itu. Aku pernah dengar tentang dia dari ayumi, tapi aku tidak begitu perduli. Kalau tanganku patah, gimana, dong? Pikiranku terus yang muluk-muluk. Yah, kendo pakai pelindung, sih. Tapi…

“petandingan dimulai!!!”
Ayumi mendorongku memasuki arena. Entah gugup atau apa, aku tersandung dan tersungkur ke tengah arena pertandingan. Sakit, sih, nggak. Malunya ini, lho. Uugh… Aku jadi ditertawakan semua orang, kecuali sakura itu. Aku benar-benar takut. Dia membungkukkan badan memberi salam sebelum duel dimulai. Aku cepat-cepat ikutan dia. Ini pertandingan tersulitku.

Tanganku gemetar memegang pedang kayu ini. Dia menatapku dengan tatapan tajam, tapi sepertinya kosong, atau seperti orang yang punya banyak masalah begitu. Tatapan yang aneh. Lama-lama aku tidak berani menatapnya. Gerakannya cepat sekali dan pukulannya kuat. Tanganku sampai memerah menahan serangannya yang mengincar pedang kayu-ku.

Entah apa yang kupikirkan, kuhentakkan satu serangan perlawanan, yang mengenai bahu kirinya. Dia agak hilang keseimbangan dan hampir terjatuh karena pukulanku tadi menurutku paling kuat yang pernah kulakukan. Raut wajahnya terlihat agak kesakitan, aku jadi terdiam. Disaat sepeti itu dia menyerang dan aku langsung kalah.
“walaupun akane kalah, setidaknya akane bisa menghajar sakura!” kata aiko yang sudah mulai berdebat dengan kiyoshi.
“sakura tetap yang jadi pemenang! Perempuan sepertimu hanya bisa omong besar saja! Buktinya, akane tidak sekuat yang kau katakan!” kata kiyoshi.
Saat mereka berdebat, aku hanya beristirahat sambil meminum sekaleng softdrink pemberian ayumi.
“kau juga hebat, kok.” kata ayumi menghiburku.
“terima kasih.” ujarku tersenyum kecil.
Kulirik cowok yang bernama sakura itu saat dia membuka bajunya. Otot dada yang keren. Bahunya juga keren. Bahu kiri-nya dibalut perban dan agak memar. Jangan-jangan yang ku pukul tadi? Pikirku. Dia agak mendesis saat seorang temannya mengompres bahu kirinya.
“sepertinya kamu salah memukul.” kata ayumi.
“mana aku tahu.” aku menyahut.
Oh, ayumi memperhatikan cowok itu, pikirku. Aku pura-pura cuek, tapi rasa bersalah pun muncul. Aku mengajak ayumi menghampiri cowok itu.
“ehm..”
Sakura menoleh ke arahku. Matamu itu, sakura…
“em.. Sakura, maafkan aku, ya!” kataku gugup sambil membungkukkan badan.
“untuk apa?” tanya sakura dengan nada yang bisa dibilang jutek.
“itu… Aku tidak tahu kalau bahumu sakit. Aku asal memukul saja untuk membalas seranganmu.” jawabku.
Cowok itu memandangiku dari ujung kaki ke ujung rambut. Jujur, aku tidak suka dipandangi begitu. Dia menepuk bahuku. Aku hanya tertunduk.
“itu bagus. Kau telah menemukan kelemahanku.” katanya.
Ayumi memandangiku sambil tersenyum kecil.
“tadinya, akane dan aku mengira kalau kau itu seorang perempuan karena namamu sakura. Ya, kami kaget saat yang muncul kau.” kata ayumi.
“ya, agak shock juga saat pemilik nama sakura itu orangnya kamu.” sambungku.
Cowok itu memandangi kami dengan tatapan lain. Tidak seperti saat pertama kali bertemu di arena tadi. Pandangannya menakutkan buat aku nyaris mati. Sekarang, sepertinya dia gampang diajak bicara.
“kau hebat sekali! Walau bahumu seperti itu kau masih bisa menyerangku dalam satu serengan telak. Ajari kami, dong!” kataku agak berharap.
Dia diam sejenak. Apa dia pikir aku orang yang mudah terpengaruh hal apa saja, ya? Memang iya, sih.
“boleh.” jawabnya sambil tersenyum kecil.
“benarkah?”
“tentu.”
Aku melonjak kegirangan sambil melompat-lompat dan menggenggam tangan kanannya. Semua tampak diam saat aku memeluknya karena terlalu senang.
“terima kasih, ya!”
Ayumi sempat terdiam saat sakura tersenyum lepas. Maniis… Sekali, seperti bunga sakura. Mungkin tidak ada yang pernah melihat sakura tersenyum, makanya semua orang terdiam heran dan terpana. Saat aku sadar dengan apa yang kulakukan, aku pun terdiam juga.
“ekspresi kegirangan yang agak berlebihan.” cetus ayumi jail.
Aiko dan kiyoshi pun terdiam. Mereka terlihat kaget melihat sakura yang jadi manis walau sebentar. Wajah bodoh mereka itu, lho yang buat aku nggak kuat tahan tawa.
“kalau kau tersenyum seperti tadi aku baru percaya kalau kau memang sakura. Maniiis!” kataku.
“begitu, ya?”
“ya, tapi jangan sering tersenyum juga, deh. Nanti jatah kemanisan ku berkurang.” sahutku bergurau.
Ayumi menepuk bahuku. Aku terseyum jail. Aku suka senyumnya.
“sudah siap berdebat?” tanya sakura agak jutek pada kiyoshi dan aiko.
Kiyoshi dan aiko buang muka. Sepertinya mereka cocok sekali, menurutku. Aku setuju jika mereka pacaran. Tapi rasanya sulit sekali menyatukan mereka. Sakura pun pergi dengan temannya yang membantunya tadi.

Ini musim semi. Pohon sakura menyelimuti taman sekolah. Saat angin berhembus, kelopak-kelopak sakura berterbangan seperti hujan sakura. Saat aku melihat hujan sakura, aku terbayang senyum sakura yang menawan itu. Walau sejak saat itu dia jarang tersenyum lagi, aku bisa membayangkan senyuman manis itu. Semoga saja musim semi itu selamanya.
“kau pasti selalu melihat senyumannya, kok.” sahut aiko.
“maksudmu?” tanyaku.
“ya, dia suka padamu, sih. Hanya kau yang bisa membuatnya tersenyum.” jawab aiko.
Dengan kekonyolanku waktu itu? Pikirku.
“kau ini bicara apa, sih?” tanyaku salah tingkah.

Di sekolah, aku masih memikirkan ucapan aiko itu. ‘benarkah begitu?’ terus yang kupikirkan. Aku bertemu sakura. Tadinya hanya saling sapa saja. Lalu, dia menghampiriku dan membuat semua orang terheran-heran. Mana pernah dia bergaul selain dengan kendo dan kiyoshi.
“kau pasti sibuk dengan pertandinganmu ke korea sampai jarang mengobrol denganku lagi.” kataku.
“iya. Maaf ya, baru ada waktu sekarang.” kata sakura sambil tersenyum. Seperti sama pacarnya saja ucapannya itu.
“oh, iya. Apa kau tahu bunga apa yang terus bersemi walau musim berganti terus?” tanyaku.
“hm? Entahlah. Bunga matahari?” tanya sakura menebak.
Aku menggelengkan kepala.
“bunga sakura.” jawabku.
Dahinya berkerut tidak mengerti.
“sakura akan terus bersemi meskipun musim berganti.” kataku menjelaskan.
“kau ini ada-ada saja.” sahutnya sambil tersenyum.
“tuh, benar, kan? Sakura-nya bersemi. Kelopaknya merekah, lho! Maniis sekali!” kataku sambil menunjuk bibirnya.
Kami pun tertawa. Dia baru sadar kalau sakura yang kumaksud adalah dirinya, dan kelopak sakura itu adalah bibirnya. Tawanya yang lepas itu membuat musim semi semakin indah. Dia berbeda sekali saat pertama bertemu.
“aku akan jadi bunga sakura untukmu. Walau musimnya berganti, lihat saja aku jika kau ingin lihat bunga sakura.” ujarnya.
Rasanya kehidupanku akan menjadi musim semi selamanya karena ada kelopak sakura yang merekah walau musim berganti. Karena sekarang, aku punya bunga sakura yang selalu ada untukku, sakura’s boy-ku.

Cerpen Karangan: Dinda Bestari
Facebook: AyuMa Hanagisa Chiie DHienda

Cerpen Sakura’s Boy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hopeless and Step

Oleh:
Musim semi terasa sangat indah hari ini. udara desa Konoha terasa sejuk dan pemandangannya yang indah menjadi nilai plus mengapa desa Konoha menjadi desa terindah sekaligus desa terbaik di

Shinjiru (Part 2)

Oleh:
Sekarang, aku benar-benar dibuat bingung oleh Yui senpai. ”Senpai sen…,” Ucapanku langsung dipotong oleh Yui senpai. ”Aku hanya bercanda Himuro. Jangan terlalu dibawa serius. Sudah ya aku masuk dulu,

Bukan Kau, Tou Kun Yang Kumau (Part 1)

Oleh:
Dari kacamata bulat berjenis minus ini kupandang lekat dirimu. Entah apa yang menarik perhatianku, aku tak tahu. Kau tampan, namun tak indah. kau tak atletis, meski tubuhmu terlihat proporsional.

Telephone Number 1

Oleh:
“boleh ya.. please…” ucap Liza di depan Zaldi sambil memohon. “nggak ah aku nggak mau..” ucap Zaldi acuh, padahal ia ingin sekali memberikannya pada anak tomboy di depannya ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *