Si Hanako Chan

Judul Cerpen Si Hanako Chan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 December 2016

Urban jepang Hanako-san. Menceritakan tentang hantu anak anak yang bernama Hanako-san yang menghantui toilet di sekolah. Kau bisa memanggilnya jika kau mengetuk pintu toilet sebanyak 3 kali lalu memanggil namanya. Tapi…

“Hey, Hanako-san sekarang ada di dalam kelas lho…”
“Benarkah?”
“Iya, tuh lihat di pojok belakang.” Ucap salah satu dari kedua orang itu sambil menunjuk ke arahku. Sebal… padahal hanya namaku saja yang mirip.

Namaku Kiyomizu Hanako. Karena namaku yang mirip sama tokoh hantu Hanako-san aku sering diejek teman sekelasku. Bahkan beredar rumor, bahwa aku bisa melihat hantu atau bahkan sebagai reinkarnasi Hanako-san.

“Lihat Kiyomizu Hanako! Apa benar benar dia reinkarnasi Hanako-san?

Hiii… rambutnya benar benar panjang dan mengerikan. Dan tatapannya juga dingin. Apa dia benar benar Hanako-san?”
Seperti itulah rumor yang beredar di sekolahku. Hari hari yang kujalani selalu diliputi dengan ribuan gosip yang menyelimutiku.

Hingga akhirnya…

Aku berjalan ke toilet. Tempat dimana rumor itu berasal. Aku berjalan ketika jam pelajaran masih berlangsung. Dimana
toilet menjadi sepi.

Tok… tok… tok… aku mengetuk pintu toilet.
Bisa dibilang aku cukup berani juga. Aku menarik nafas dalam dalam dan berteriak. “Hey… Hanako-san seperti apa sih kamu. Jahat sekali jika aku disamakan denganmu!!”.

Aku diam sejenak dan mengambil nafas panjang dan kembali berteriak. “Aku benci denganmu Hanako-san…”. Selepas itu, aku berlari ke luar dari toilet. Tidak kusangka, hanya berteriak seperti itu dapat membuatku menangis.

“Berani sekali kau berteriak seperti itu.” Ucap seseorang yang berdiri di luar toilet wanita. Wajahku pucat.
Sejak kapan dia disana dan apa dia mendengarkan teriakanku tadi. Terlihat seorang laki laki bersandar di tembok. Dari karet sepatunya, sepertinya dia anak kelas 2 sama sepertiku.

“Sejak kapan kamu disini?” Tanyaku pada laki laki itu.
“Sejak kamu lewat dari kelasku dengan berlari sambil nyaris menangis.” Ucap laki laki itu. Dia memasang kembali earphone miliknya lalu pergi. Aku menundukkan kepala. Kupikir dia memperhatikanku. Dasar buat ge-er orang saja.

“Oh… kupikir kau akan menangis setelah kutinggalkan.” Ucapnya.
“Untuk apa?” Tanyaku berusaha untuk cuek.
“Kau sedih kan? Makannya kau berteriak seperti itu di toilet. Benar kan?” Tebaknya tanpa berbalik. Aku terkejut, apakah dia benar benar memperhatikanku?
“Aku tidak ingin disamakan hantu.” Keluhku. Tidak terasa air mataku menetes. Dari TK- SMA. Aku selalu saja disamakan sama si Hanako-san karena namaku.
“Aku tahu.” Ucap laki laki itu. “Tidak ada orang yang ingin disamakan oleh hantu.” Lanjutnya. Jujur, aku tidak mengerti apa yang laki laki ini pikirkan.

Dia melepas aerphonenya dan berbalik menghadapku. “Jika dilihat lihat, wajahmu tidak menakutkan sama sekali.”
Ucapnya sambil tersenyum. “Dan lagi, kurasa Hanako bukan nama yang buruk. Bukankah arti namamu adalah ‘anak bunga’?” Lanjutnya dengan menambahkan sedikit pujian. Pipiku merona dan aku mencoba mengalihkan pandanganku dari wajahnya.

“Dan lagi, kenapa kau tahu tentang masalahku? Bukankah kita tidak saling kenal?” Tanyaku sambil sedikit berbasa basi.
“Kau bodoh ya? Seluruh sekolah sudah tahu rumor itu. Rumor bahwa ‘Reinkarnasi Hanako san ada di salah satu kelas 2. Aku pikir, siapa yang mau disamakan dengan hantu Hanako-san. Ternyata itu kamu ya, Kiyomizu-san.” Ucap laki laki itu sambil tersenyum.

Pssh… lagi lagi, mukaku merah. Mungkin ini pertama kalinya ada seseorang memanggil nama keluargaku. Biasanya orang orang selalu menyebutku dengan nama panggilan dengan tujuan mengejek.

“Ha… ha… ha… lalu kau ingin aku bertanya kenapa kamu mau tahu masalahku atau kenapa kau memperhatikanku sampai seperti ini?.” Sindirku. Kurasa, kali ini aku dianggap ge-er padahal hanya menyindir.
“Karena aku menyukaimu.” Tanggapnya yang lagi lagi membuatku tersipu malu. Aku menuundukkan kepala karena aku tidak mau dia melihat wajah maluku.
“Kenapa?” Tanyaku.
“Semenjak aku tahu kamu si Hanako-san yang dimaksud teman teman. Aku jadi tidak bisa melepas pandanganku darimu. Apalagi kamu kuat menghadapi semua rumor yang beredar di sekitarmu. Aku malah jadi ingin melindungimu. Seperti itulah kira kira.” Jelasnya sambil tersenyum lebar. Aku menangis. Bukan menangis sedih tapi aku menangis terharu. Ternyata, ada yang mau memperhatikanku.
“Tapi nggak masalah nih? Nanti reputasimu turun lho…” Tanyaku ragu.
“Tidak masalah aku justru senang kalau reputasiku turun. Jadi tidak terlalu merepotkan.” Ucapnya sambai melambaikan tangan. “Oh ya namaku Igarashi Yuuta. Kau bisa memanggilku Yuuta.”
“Eh… aku…”
“Aku ingin memanggilmu Hanako-chan. Terdengar imut kan?” Tanyanya. Aku mengangguk.
“Itu terlihat sangat jauh lebih baik dari pada dipanggil Hanako-san.” Ucapku sambil tersenyum. Sejenak aku berpikir kalau urban lagend Hanako-san tidak terlalu buruk juga. Berkat kisah Hanako-san aku bisa bertemu dengan orang baik yang mau menerimaku. Untuk saat ini aku bahagia.

Cerpen Karangan: Farani Nabila

Cerita Si Hanako Chan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Kinclong

Oleh:
“Al!” “Paan?” “Ada si kinclong!” “Mana?”, ujarku penasaran. “Haha! Cieeee nyariin… Wkwkwkwk”, Bela menertawakanku. Pipiku langsung memerah. “Apaan sih?! Nipu aja kerjaan lo!”, ujarku sambil menjitak Bela. “Aduh duh…”,

Friendzone

Oleh:
Nama gue Nadila Salshabila yang akrab disapa Nadil. Disini gue mau cerita tentang kisah cinta gue yang amat sangat rumit dengan seseorang panggil saja Dav. Kita ketemu di sekolah

Cinta Lain Kali (Part 2)

Oleh:
Dua hari setelah aku mengalami kesialan yang luar biasa, aku harus bersekolah. Seperti biasa, aku berangkat sekolah naik angkot, ku nikmati pagi dan mengumpulkan semangat untuk menjalani hari ini.

False Conclusion

Oleh:
Terkadang aku suka membandingkan hidupku dengan orang. Dan malah suka menyalahkan keadaan. Padahal tak seharusnya aku merasa seperti itu. Diusiaku yang ke delapan belas aku mulai diajarkan oleh Allah

Gaya Batu

Oleh:
Orang jahat selalu bangga dengan kejahatannya, orang baik selalu bangga dengan kebaikannya. Orang kota selalu bangga dengan kemewahan kekotaannya, orang desa juga selalu bangga dengan kesederhanaan kedesaannya. Orang pintar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *