Spring Of Hope

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 19 September 2014

Hari ini matahari menyapa dengan dengan hangat sinarnya. Aku sudah siap dengan seragamku karena hari ini adalah tahun ajaran baru. Setelah liburan panjang yang kuhabiskan di Kyoto tempat tinggal kakek dan nenekku kini, aku kembali lagi ke Osaka dan kembali lagi ke sekolah yang sudah aku rindukan sepanjang liburan. Tapi, yang paling aku rindukan adalah Daisuke hihi dia adalah sahabatku ya, sahabat sejak aku duduk di bangku SMA. Dan aku mengharapkannya lebih dari sahabat walaupun itu tidak mungkin, mana mungkin Daisuke yang tampan, keren, dan pintar itu menyukai gadis biasa-biasa saja sepertiku ini. Huh lagipula banyak gadis yang lebih cantik di sekolah dan di luar sana dibandingkan denganku.

Sekali lagi aku memandangi bayangan diriku di cermin “Apa yang menarik darimu Izumi, kau sama sekali tidak menarik” kataku pada diriku sendiri di cermin. “Izumi, kenapa lama sekali…, temanmu sudah menunggumu” teriak ibu dari bawah. Aku langsung tersadar dan merapikan sedikit bajuku lalu turun ke bawah. Aku menghampiri ibuku yang ada di dapur “Memangnya siapa yang menungguku bu?” tanyaku pada ibu yang sibuk memasak menyiapkan sarapan “Oh, Daisuke. Itu dia ada di ruang tamu” jawab ibu tenang. Aku terkesiap kaget dan segera menuju ruang tamu. Benar saja kata ibu, orang yang sedang menungguku itu Daisuke. Tumben banget dia datang ke rumahku tanpa membuat janji atau kirim pesan terlebih dahulu. Bisanya juga tidak menjemputku dan berangkat ke sekolah bersama.
“Daisuke? mengapa datang tiba-tiba?” tanyaku dengan heran
“Aina sedang ada urusan sebentar, jadi dia minta tolong kepadaku untuk menjemputmu agar kau tidak sendirian berangkat ke sekolah” ucapnya dengan senyum yang selalu membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aina adalah sahabatku juga dia duduk sebangku denganku sedangkan Daisuke tak lagi sekelas denganku.
“Ayo, nanti kita bisa terlambat” ajak Daisuke sambil beranjak dari duduknya, aku hanya mengangguk lalu berpamitan kepada ibu “Tidak sarapan dulu?” tanya ibu khawatir “Tidak usah bu, nanti Izumi sarapan di sekolah saja” jawabku sambil mencium tangan ibu “Hati-hati ya” kata ibu sambil mengelus rambutku
“Bibi, aku pamit dulu” kata Disuke sambil mencium tangan ibuku juga. Kami pun berangkat sekolah bersama. Di sepanjang perjalanan aku selalu gelisah, jantungku berdegup kencang aku berharap semoga saja dia tidak mendengarnya.

Musim semi yang indah dimana setiap jalan yang kulewati pasti diiringi dengan rontoknya bunga sakura yang indah itu. “Wah… bunga sakura yang indah, bukan begitu Izumi?” puji Daisuke dengan cerianya dan senyum yang mengembang “Ah iya, maka dari itu aku menyukai musim semi” jawabku dengan nada yang bahagia “Kau menyukai musim semi?” tanya Daisuke menghentikan jalannya dan memandangku lekat-lekat. Ditatap seperti itu, jantungku kembali berdetak lebih kencang dan wajahku mulai panas “Y…ya, memangnya kenapa? ada yang salah?” tanyaku gugup
“Mengapa kau tak mengatakannya padaku, padahal aku ini sahabatmu” katanya dengan nada kecewa dan memalingkan wajahnya dariku. Aku hanya tertawa kecil “Kau sendiri tak pernah menanyakannya padaku” jawabku
“Benar juga” jawabnya pendek.

Aku sudah berada di sekolah bersama Aina yang datangnya sedikit terlambat. Aku menyiapkan buku pelajaranku di atas meja “Mengapa kau menyuruh Daisuke untuk menjemputku?” tanyaku pada Aina
“Daisuke tak mengatakan alasanku padamu?” tanya Aina
“Ya, dia mengatakannya. Tapi, seharuskan kau tidak menyuruhnya untuk menjemputku kau tau sendiri bukan bagaimana perasaanku padanya” jawabku dengan nada pelan karena, tidak ingin rahasia ini terbongkar
“Gomen, aku hanya tidak mau kau berangkat sekolah sendirian aku khawatir” kata Ainan dengan wajah penuh penyesalan. Aku mengerti maksud baik Aina yang sangat mengkhawatirkanku itu. Aku merangkulnya “Sudahlah, jangan bersedih seperti itu” kataku dengan senyum yang lebar, Aina menatapku lalu tersenyum padaku.

Malam ini aku telah selesai mengerjakan Pr-ku. Aku pun turun ke bawah meminta Izin kepada ibu untuk ke luar rumah sebentar, ibu mengizinkanku. Aku pergi ke taman, taman yang selalu ku kunjungi hampir setiap malam, sore atau pada hari minggu. Aku hanya pergi seorang diri, Aina sedang menjaga rumah karena, kedua orangtuanya sedang pergi. Aku duduk di sebuah bangku taman tepat di bawah pohon sakura, tempat ini adalah tempat favoritku setiap musim semi.

“Kau disini juga?” tanya seseorang yang sudah duduk di sampingku “Daisuke, mengapa ada disini?” tanyaku setengah kaget “Tentunya, menikmati bunga sakura dan mencari udara segar” jawabnya sambil menebar senyum. “Kau sendiri?” tanyanya sambil menatapku “Sama sepertimu” jawabku.
“Kau menyukai musim semi bukan?” tanyanya lagi padaku
“Ya” jawabku singkat
“Lalu apa alasanmu menyukai musim semi?”
“Karena musim semi adalah musim yang indah untuk menyatakan perasaan, dan harapanku selalu sama pada saat musim semi harapan itu adalah. Semoga orang yang ku cintai atau orang yang mencintaiku menyatakan perasaannya di bawah pohon sakura ini, oh betapa indah dan romantisnya menyatakan cinta dihujani oleh bunga sakura yang berjatuhan. Dan menikmati indahnya musim semi bersama kekasih” ucapku panjang lebar, tanpa sadar aku memberi tau harapanku pada orang yang ku sukai ini. Aku segera menutup mulutku rapat-rapat “Maaf, aku harus pergi” kataku sambil berlari meninggalkan Daisuke yang masih duduk di situ dengan senyumannya.

Musim semi selanjutnya…
Musim semi kali ini sama dengan musim semi sebelumnya, angin yang berhembus pun masih sama adanya. Seharian ini aku tak melihat Daisuke di sekolah. Aina pun hanya menggeleng saat ku tanya tentang Daisuke. Aku hanya berpikir positif semoga saja dia baik-baik saja.

Bel pulang sekolah berdering, aku sengaja tidak pulang terlebih dahulu karena ingin duduk di taman belakang sekolah sambil menikmati angin yang berhembus. Saat aku sampai di taman sekolah, sesuatu menghentikan langkahku. Ya, disana seorang gadis yang bernama Natsumi itu sedang berdiri berhadapan dengan Daisuke. Aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh mereka berdua karena aku berdiri agak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang walaupun sama-sama berada di taman belakang sekolah. Natsumi yang memegang sebuah bingkisan berwarna pink itu langsung memeluk Daisuke erat-erat, Daisuke tersenyum bahagia dalam pelukan Natsumi dan membalas pelukan Natsumi itu.
Aku langsung menutup mulutku dengan kelima jari kananku, pupus sudah harapanku untuk bisa menjadi pacar Daisuke. Bodoh… bodoh… bodoh… aku ini memang bodoh menagapa aku terus berharap yang tidak akan pernah mungkin terjadi padaku. Harapan itu… harapan musim semi yang sangat ku idam-idamkan kini, hancur lebur tanpa sisa kepingannnya saja sudah tidak ada. Tanpa terasa air mataku menetes, tiba-tiba seseorang merangkulku dari belakang “Aina” kataku kaget saat Aina sudah berada di sampingku dan memandangku dengan senyumannya yang selalu menjadi penyemangat bagiku tapi, mengapa dia belum pulang ku pikir dia sudah pulang duluan tadi. “Kau tidak akan menghapuskan harapan musim semimu begitu saja bukan? pasti ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus dan menyatakan perasaannya di musim semi seperti harapanmu” ucapnya bijak sambil memelukku erat “Kau yakin akan hal itu?” tanyaku padanya
“Tentu saja, bukankah setiap orang itu sudah dituliskan jodohnya semenjak dia berada di kandungan”
“Kau benar” kataku sambil mengusap air mataku dan pergi dari taman belakang sekolah bersama Aina.

Bel pulang sekolah telah berdering, semua anak keluar sekolah dan pulang ke rumah masing-masing. Setelah sekolah agak sepi Natsumi menghampiri Daisuke yang berada di taman belakang sekolah, dengan sebuah bingkisan pink yang berada di samping Daisuke itu menambah rasa percaya diri Natsumi untuk menyatakan cintanya pada Daisuke. Natsumi memang menyukai Daisuke, “Daisuke” panggil Natsumi malu-malu “Natsumi? ada apa?” tanya Daisuke ramah
“Eummm… apakah aku boleh mengatakan sesuatu?” tanya Natsumi yang berjalan mendekati Daisuke
“Tentu saja boleh” jawab Daisuke sambil beranjak dari duduknya dan kini mereka berdiri berhadapan
“Daisuke… aku… aku menyukaimu, apakah kau menyukaiku juga?” tanya Natsumi sambil menatap mata Daisuke dengan penuh harap. Daisuke terdiam sejenak ini, memang bukan pertama kalinya dia ditembak cewek tapi, rasanya untuk menolak Natsumi harus menyusun kata-kata yang benar-benar bagus agar dia tidak salah paham dan tidak sakit hati. Karena Natsumi tipe cewek yang sangat mudah sakit hati dan pendendam “Maafkan aku Natsumi aku tidak bisa menerima cintamu, tapi kita masih bisa menjadi teman bukan?”
Natsumi tersenyum pahit lalu mengambil bingkisan berwarna pink itu “Ini? apakah ini untuk orang yang kau sukai?” tanya Natsumi dengan nada yang sangat rendah, Daisuke hanya menngangguk “Siapa orang yang kau cintai itu?” tanya Natsumi lagi. Kali ini Daisuke ragu ingin menjawabnya dia takut jika Natsumi akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada orang yang dicintainya itu atau bahkan menyakitinya Daisuke tidak ingin itu terjadi. “Aku tidak akan menyakitinya” kata Natsumi seakan tau isi pikiran Daisuke “I… Izumi” saat itu juga Natsumi tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia, Daisuke aneh sendiri melihatnya “Izumi gadis yang baik, kau beruntung mendapatkannya dan aku menyetujui bahkan sangat sejutu jika kau menjadi sepasang kekasih dengan Izumi. Aku akan membantumu untuk menyatakan cintamu padanya” Daisuke seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar
“Benarkah?”
“Tentu saja, tapi apakah kau mau memenuhi permintaanku yang satu ini?”
“Apa?”
“Memelukmu” Daisuke hanya mengangguk membiarkan Natsumi memeluknya dan Daisuke membalas pelukan Natsumi itu. Tanpa mereka sadari sedari tadi seorang gadis telah melihat mereka berdua dari kejauhan mungkin gadis itu tak dapat mendengar percakapan mereka tapi, gadis itu menangis saat melihat mereka berpelukan. Seorang teman gadis itu datang sepertinya memberi semangat dan gadis itu beserta temannya pergi meninggalkan taman belakang sekolah.

Malam ini aku enggan untuk ke taman karena, aku takut harapan musim semiku bersama Daisuke akan muncul kembali. Aku hanya berdiam diri di kamar memandang keluar jendela dan hanya itu yang sekarang bisa ku lakukan. Pip.. pip… ponselku berbunyi aku meraihnya “Daisuke” desisiku, ternyata satu pesan dari Daisuke yang berisikan

Daisuke
Datanglah ke taman biasa, ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepadamu sangat penting jangan sampai kau tidak datang ya…

Aku menimang-nimang ponselku sendiri, aku sangat bingung harus datang apa tidak. Aku pun menelpon Aina bertanya padanya dan dia menjawab “Kau harus datang bagaimanapun Daisuke adalah sahabatmu, apapun resikonya kau harus terima Fighting” aku pun mengambil baju rajutku dan mengenakannya, aku berjalan ke luar rumah menuju taman dan tentunya sudah mendapat Izin dari ibu. Disana aku melihat Daisuke dengan senyumannya yang khas melambai-lambaikan tangannya padaku seakan memberi tau keberadaannya. Aku pun menghampirinya dan berdiri di hadapannya, pasti dia akan memberitahu kabar bahagia kalau dia sudah jadian sama Natsumi. Tapi aku teringat kata-kata Aina yaitu apapun resikonya harus aku terima, aku memaksakan senyuman kecil yang hambar “Ada apa?” tanyaku dengan nada suara yang datar
“Izumi… aku ingin mengatakan sesuatu padamu” kata Daisuke serius aku yang juga menatapnya merasa ada yang aneh mengapa dia ingin memberitahukan kabar jadiannya dengan Natsumi sampai seserius ini? tanyaku pada diriku sendiri
“Apa?” tanyaku dengan nada yang di usahakan biasa-biasa saja
“Aku… Aku menyukaimu sejak pertama bertemu, mau kah kau menjadi pacarku?” tanyanya dengan sangat lancar dan dia sukses menbuatku kaget sehingga jantungku mau copot. Aku tidak langsung menjawab aku takut ini hanya mimpi di malam musim semi, aku takut salah dengar
“Izumi Tamura, apakah kau bersedia menerimaku menjadi pacarmu?” tanyanya sekali lagi dan kali ini aku sangat yakin kalau ini bukan mimpi dan ini sungguh nyata. Aku hanya mengangguk karena, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Tapi, Natsumi?
Daisuke memberikan bingkisan berwarna pink kepadaku dan boneka teddy bear kecil yang lucu “Bukankah kau, jadian dengan Natsumi?” tanyaku dengan penuh selidik
“Natsumi? jadian dengan Natsumi? jika aku jadian dengannya mana mungkin aku menyatakan cintaku padamu”
“Lalu kejadia di taman belakang sekolah itu?”
“Kau melihatnya?” tanya Daisuke, aku mengangguk lalu Disuke menceritakan kejadian sebenarnya padaku, aku pun percaya dan Daisuke memelukku erat “Terimah kasih sudah menerima cintaku” kata Daisuke. Kami berpelukan dengan dihujani oleh bungan sakura yang rontok.

“Wah senangnya bisa melihat kalian bahagia, aku juga bahagia melihatnya bukan begitu Aina?” kata Natsumi yang telah berada di belakangku bersama Aina
“Kalian, mengapa bisa ada disini?” tanyaku heran
“Bukankah sudah kubilang, Natsumi membantuku menyiapkan ini semua aku bisa menyatakan cinta selancar itu karena dia, aku hampir sepanjang sore latihan menyatakan cinta padamu” ucap Daisuke, aku jadi terharu mendengar itu
“Iya, sangat senang melihat kalian bahagia” kata Aina dengan senyuman bahagiannya.

Malam ini adalah malam yang sangat bahagia bagiku dimana di malam ini malam musim semi seseorang yang ku cintai dan ternyata dia mencintaiku juga menyatakan cintanya di bawah pohon sakura yang inda dan romantis. Tuhan terimah kasih akhirnya harapan musim semiku yang ku idam-idamkan terwujud juga.

The End

Cerpen Karangan: Mega Tri Ratnasari
Facebook: Mheme Sii Thulalit
Hy… namaku mega Tri Ratnasari aku biasa di panggil Meme, umurku 15 tahun sekarang ini aku kelas 1 SMA 🙂
aku memang suka benget nulis cerpen dan aku sekarang lagi nulis novel yang masih belum kelar
salam kenal ya….
😀

Cerpen Spring Of Hope merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Daun Yang Gugur

Oleh:
Ini adalah kisah cintaku yang ketujuh. Semua bermula dari cinta lokasi. Dia bernama Akegami Tomoe. Aku melihat Tomoe pertama kali, saat Tomoe melewati kursi yang aku duduki. Aku melihat

Penantian Di Bawah Sakura

Oleh:
Hitoshi melangkahkan kakinya dengan ringan memasuki Taman Ueno sambil bersiul kecil. Sesekali matanya melirik memperhatikan orang-orang yang duduk dan bersantai di bawah pohon sakura bersama teman atau keluarga. Ada

Yume Ni Azukete

Oleh:
Langit yang terbiaskan menjadi keunguan. Seorang gadis berdiri di balik tirai jendela kamar atas tanpa beranda. Melihat, tidak, tepatnya mengintip ke luar. Ke sebuah jalan besar yang berada tepat

My Sakura

Oleh:
“Hari yang membosankan” ucap yui sambil bersandar di sebuah pohon besar di dekat lapangan sekolahnya, ia lalu melihat seorang berlari “eiji” ucap yui, anak yang bernama eiji itu pun

Leon’s Horror Stories

Oleh:
“CPAKK.. CPAKK…” “ZAAA…” Suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari menuju ke sebuah halte untuk berteduh dari guyuran hujan yang tiba-tiba turun “Wah… Kau juga mau berteduh dari hujan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Spring Of Hope”

  1. Rechan says:

    whoaa..! sampe degdegan bacanya. sugoi, sugoi. ^o^ gk tau mo ngomong apa..

  2. Chika indriyanti suryana says:

    Bagus cerpennya ^o^ terus berkarya ya… oya, saran nih. Kalo bisa, percakapannya di longkap ya..

  3. Light Salma says:

    Keren bangeeeeet….top,deh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *