Tadaima

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 22 July 2017

“Tadaima!” Seorang anak lelaki yang kira-kira berusia 7 tahun itu membuka pintu rumahnya sambil berteriak lantang.
“Oh, Luffy. Okaeri” seorang anak yang lebih besar darinya, kira-kira berusia 10 tahun, dengan bintik-bintik di wajahnya menyambut adiknya.
“Ace, kau tahu, di padang rumput tadi aku menemukan sarang ular yang besar!” Anak yang dipanggil Luffy itu mengangkat kedua tangannya dengan riang.
“Hontou? Yosh, besok kita lihat ularnya” kata anak yang tadi dipanggil Ace.
“Kenapa tidak hari ini?” Luffy menggembungkan pipinya.
“Sebentar lagi malam. Kau mau dimakan ular itu?” Kata Ace.
“Tidak, tidak mau”

“Tadaima!”
“Oi, Luffy? Mengapa badanmu penuh luka begini?!” Ace yang kini berusia 12 tahun menghampiri adiknya dengan membawa kotak P3K.
“Shishishi. Tadi seorang anak dari desa sebelah membawa kucing liar, jadi aku dicakar sama kucingnya” kata Luffy yang kini berusia 9 tahun dengan riang.
“Huh, dasar!” Keluh Ace sambil membalut luka adiknya dengan perban.
“Shishishi..” Luffy hanya tertawa riang.

“Tadai…, ma,” suara anak itu tidak begitu keras hari ini. Membuat kakaknya panik.
“Oi, Luffy!” Teriaknya ketika menyadari adiknya tergeletak tak sadarkan diri di gekkan. “Kuso, demamnya tinggi sekali. Kalau tahu begini tak kubiarkan dia keluar untuk bermain” keluhnya sambil menggendong adiknya ke kamarnya untuk diobati.
“Ne, Ace” anak itu mengigau. “Aku menyayangimu. Arigato..”
Ace hanya tersenyum.

Wajahnya memucat. Tak menyangka kakaknya sendiri akan melindunginya dari serangan seorang tentara yang ingin menyerangnya.
“Ace, jangan mati” remaja berusia 17 tahun itu mendekap kakaknya yang penuh luka di tengah-tengah perang saudara yang semakin memuncak.
“Gomena, Luffy” lirih kakaknya.
“Yakusoku ja nee ka, ore wa, mitanne shina mette, apapun yang terjadi, ACEEE!!!” Suara anak itu menggelegar di tengah suara ledakan meriam dan bom.
Sang kakak hanya diam.

“Apakah aku, pantas terlahirkan ke dunia ini?”
“Andaikan tidak ada adik yang merepotkan sepertimu, aku tak memiliki keinginan untuk hidup”
“Dengar, Luffy. Kita harus hidup tanpa penyesalan. Kita akan hidup, sesuai keinginan masing-masing, dan menjadi lebih bebas dari siapapun” sang kakak pernah mengatakannya saat kecil.
“Dan itu benar, aku tak memiliki penyesalan apapun dalam hidupku ini”
“Uso na, uso suke yo..” Teriak sang adik.
“Aku tidak berbohong”
“Yang kuinginkan bukanlah harta atau apapun”
“Pantaskah aku, terlahirkan ke dunia ini?”
“Hanya jawaban dari pertanyaan itulah, yang ingin kuketahui”
Sang kakak mulai melemas. “Luffy, ada hal yang ingin kukatakan padamu”
“Terima kasih, telah menyayangiku. Menyayangi orang yang memiliki darah iblis ini, ARIGATO!”

Sang kakak semakin lemah. Namun ia putuskan untuk tersenyum. Karena apa? Karena berhasil melindungi adiknya, adik yang sangat disayanginya, adik yang begitu bodoh dan polos. Ia jatuh, dari dekapan sang adik. Guratan senyuman itu masih terukir manis di wajahnya yang penuh darah.
“A, Ace…,”
Ia menangis, sangat keras dan dalam, hingga membuat perang terhenti. Namun tepat setelah perang itu terhenti, anak itu sudah tak sadarkan diri.

“Tadaima,”
Hening. Tidak ada yang menyambutnya pulang lagi. Seorang Monkey D Luffy kini tinggal sendiri. Tanpa kehadiran sosok Portgas D Ace yang selalu menyambutnya pulang. Sosok yang selalu ceria ketika menyambutnya pulang, ataupun panik karena malihatnya penuh luka. Walaupun Nami atau Law sering kesini untuk membantunya memasak, namun itu tetap tidak bisa menghilangkan rasa kehilangan seorang Luffy. Kesedihan tidak kan hilang begitu saja.

‘Oi, Luffy!’
Luffy menoleh ke arah suara, namun yang didapatinya hanyalah angin yang saling kejar-mengejar.
‘Luffy!’
“Ace?!” Luffy menoleh ke belakangnya. Didapatinya sosok Ace yang sedikit samar. “Ace!!”
Luffy hendak berlari memeluknya, namun ia hanya bisa membatu tanpa bisa berbuat apa-apa. “Aku hanya ingin mengucapkan, sayonara, ototou” dan sosok itu hilang terbawa angin. Luffy hanya bisa diam, dengan air mata yang pelan-pelan jatuh.

FIN

Cerpen Karangan: Portgas D Ace
Portgas D Ace, usia 20 tahun dan sebenernya udah mati (bercanda….) Sebenernya ini cuman pen name. Penulis ga mau nama aslinya ketahuan. Usia penulis sebenernya 12-13 tahun, dan penulis 100 persen perempuan!

Cerpen Tadaima merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Cerita Sesaat (Part 1)

Oleh:
Mentari pagi yang hangat begitu menyilaukan pandangan ini. Jendela kamar yang sengaja kubuka, tampak memantulkan sinar dan menerangi kamarku yang masih berantakan. Kulihat ke arah jam dinding, sudah menunjukkan

Sakura Garden

Oleh:
Nama pemuda itu Gaara lebih tepatnya Gaara Sabaku ia berjalan menyusuri alun alun kota. Lelaki bermata Azure itu melihat ke seliling taman. ‘Sakura Garden’ nama taman itu. Ia kembali

Lain Kali Ke Rumahku Ya

Oleh:
Dingin. Hanya kata itu saja yang terlintas di otakku untuk mendeskripsikan hari burukku ini. Sudah dingin, lemas, dan aku hanya mengenakan rok panjang yang berwarna hitam gelap! Betapa ceroboh,

Kristal Sang Bidadari

Oleh:
Sabrina anak yang rajin membantu orangtuanya. Pada hari minggu sabrina pergi ke sungai Nglerep untuk mencuci pakaian. Setelah semua pakaian yang dibawanya telah bersih semua Sabrina segera pulang ke

Michio dan Ceritanya

Oleh:
Karena aku di sini, selalu merindukanmu, di tempat yang sama, di relung hati dan mimpi. Aku terus berlari, tak peduli seberapa banyak hamparan sawah yang kulalui. Tak peduli seberapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *