Zenzen Chigaimasu (Part 1) Kopi di Malam itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Ini bukanlah romansa seorang Pangeran dengan Putri Kerajaan. Ini juga bukan cerita cinta Protagonis dengan Sang Heroine dalam filmnya. Berulang kali dipikirkan kisah-kisah tersebut hanya bisa diciptakan dalam mimpi. Lalu apakah arti sebuah mimpi bila tidak bisa diwujudkan? Pertanyaan baru berkumpul dalam hati yang rapuh akan hal tersebut. Namun, berapa kali aku pikirkan. Aku tidak akan pernah percaya akan hal itu. Tidak sama sekali.

Orang lain pasti akan kecewa bila mendengarkan cerita cintaku. Laki-laki berumur 23 tahun yang hanya fokus kepada kopi memang sangat membosankan. Aku tak pernah berharap akan datangnya cinta. Lalu aku pun mengutuk cinta. Bukan sebuah problematika besar sebenarnya. Hanya saja itu membuka luka lama yang sudah dilupakan.

Angin bulan Desember berbeda dari tahun sebelumnya. Rasanya lebih tajam menusuk tubuh. Jendela yang aku buka terembuni oleh salju-salju. Melihat keadaan luar membuatku lebih bersemangat lagi. Kusiapkan payung untuk melewati malam yang berat. Aku meninggalkan rumah tanpa khawatir dan terus melaju dengan sepeda merahku yang berada di belakang rumah. Kayuhan pertamaku sangat berat. Karena salju yang turun lebih cepat dari biasanya.
“Bukankah ini baru awal Desember?” gumamku dengan terus berjalan menuruni bukit dekat rumahku.

Lampu merah di persimpangan jalan membuatku berhenti. Di pinggir jalan aku melihat para pejalan kaki menggunakan jaket yang lebih tebal dari biasanya. Daun-daun telah berguguran. Jalur yang biasa kulewati untuk bekerja kini sudah ditumpahi salju semalam. Perubahan musim jelas sudah terlihat. Kemudian kukayuh kembali pedal sepedaku dan melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjaku.

Inilah tempat kerja ideal bagi seseorang sepertiku. Kedai Kopi Kazuoka. Kazuoka adalah nama keluargaku. Kedai kopi ini diwariskan ayah kepadaku akhir tahun lalu. Sebenarnya aku sudah sering membantu ayah di kedai ketika masih menjadi pelajar. Setelah lulus sekolah, aku membulatkan tekad untuk belajar tentang meracik kopi. Lima tahun berlalu. Ayahku kemudian mewarisi kedai kopi ini kepadaku dan pensiun. Tiap kali ayah menceritakan sejarahnya, membuatku merasakan perasaan ayah. Sebab kedai ini didirikan saat ayah bercerai oleh ibu. Tanpa sebuah alasan ibu meninggalkan kami saat aku berumur lima tahun. Kedai inilah yang menjadi bukti kesungguhan ayah terhadap ibu. Setelah ditinggalkan oleh ibu, ayah membangun kedai ini. Berharap suatu hari nanti perasaan ayah tersampaikan. Namun hingga sekarang ibu tidak pernah merasakannya. Itulah pengalaman yang membuat diriku menjadi tidak percaya akan namanya cinta.

Aku pun memulai pekerjaan dengan membersihkan kedai dan juga pelataran di sekitarnya. Tak lama kemudian pegawaiku datang. Mashiro Kyou, salah satu pelayan di kedai. Aku pikir dia cukup ulet untuk orang berumur tiga tahun lebih tua daripada aku. Lalu Asakura Chie. Bisa dibilang dia pegawai tetap baru karena dia melamar kurang lebih 2 bulan lalu. Dan juga ada beberapa pegawai part-time yang datang pada tengah hari.

“Selamat pagi, Manager” Sapa hangat Asakura dan Mashiro kepadaku.
“Selamat pagi” Balasku sambil memegang cangkir kopi yang sedang dibersihkan.
“Manager semangat sekali pagi-pagi begini” Asakura memulai percakapan ringan diiringi senyuman.
“Tidak kok, memang biasanya aku datang sepagi ini”
“Kalau begitu aku akan mengganti seragam kerja dulu” ucap Mashiro.
“Aku juga…” Ikut Asakura.

Setelah bersiap-siap akhirnya kedai pun dibuka. Pelanggan berdatangan dan menikmati waktu santainya. Memang tidak terlalu ramai. Namun rasa puas dalam membuat kopi itulah yang membuat diriku tidak pernah menyesal akan pekerjaan juga kehidupan yang kujalani. Semakin banyak yang datang, membuat racikan kopi yang kubuat menjadi lebih nikmat. Bagiku, membuat kopi adalah cara menyampaikan perasaan dari Sang Peracik kepada Si Penikmat. Semakin besar perasaannya maka semakin besar perasaan yang tersampaikan. Itu adalah filosofi kopi bagi Keluarga Kazuoka.

Cuaca malam di daerah Kanto cukup dingin. Salju yang datang malam itu seakan menandakan suasana hati yang sedang semerawut. Keadaan kedai begitu sunyi. Siklus yang datang mulai menurun. Jarum jam sudah menandakan malam telah berakhir.

“Terima kasih atas kerja samanya”
“Terima kasih juga” Balasku kepada Asakura.
“Salju turun sangat lebat daripada malam kemarin, kau yakin tak apa-apa?”
“Tenang saja…, aku membawa payung kok” Mencoba menghilangkan rasa khawatirku.
“Kalau begitu hati-hati di jalan”
“Baik, Manager”

Malam mulai mengetuk kedai. Jam kerja para pegawai sudah habis dan mereka pun pulang. Di kedai hanya menyisakan diriku yang sedang termenung di dalam kedai. Suara lonceng di pintu masuk berbunyi membuatku terkejut. Deringnya datang bersamaan dengan seorang perempuan berpakaian mantel hitam tebal. Mataku terus tertuju padanya. Rambut pendeknya yang berwarna hitam membuatku terdiam sejenak. Datang masuk ke dalam kedai bagaikan salju semalam yang muncul tiba-tiba di awal desember ini.

“Permisi, apakah kedainya sudah tutup?” Perkataan yang dilontarkannya membuat diriku tidak bisa menolak. Efeknya sangat terasa dengan raut wajah yang kuberikan.
“Maaf jika merepotkan, lebih baik aku kembali besok saja”
“Aaahhh… tidak apa-apa, kurasa kau akan menjadi pelanggan terakhir” Balasan yang kuberikan diluar dugaanku sendiri.
Perasaanku terasa tergerak. Khawatir atau Senang? Mereka semua bercampur aduk tanpa ada logika pemisah. Prinsip yang kujalani mulai teretakan olehnya. Tanpa kusadari perasaan ini mulai mekar. Keraguan muncul terhadap diri ini. Sekali lagi aku membangun tekad lalu mengutuk cinta lagi. Bisa dibilang aku orang yang paling jahat di dunia ini. Kemudian ia duduk dan membersihkan dirinya dari sisaan salju yang ada di mantelnya.

“Terima kasih sudah menerimaku”
“Tak apa, keadaan di luar memang sedang tidak bersahabat”
“Lebih baik menunggu di sini” tambahku untuk meyakinkannya.
“Terima kasih lagi. Maaf merepotkanmu.”
“Baiklah, aku pesan Espresso dengan tambahan sedikit susu” dengan senyuman kecil dari dirinya motivasiku bertambah.
“Silahkan menunggu. Aku akan segera buatkan pesanannya”

Takdir atau Kebetulan bukanlah hal yang harus dipertanyakan. Ini adalah kenyataan. Dimana di malam itu aku membuatkan dua kopi untuk melalui malam yang berat. Seburuk itukah? Pertanyaan itu muncul di dalam benakanku. Akan tetapi jawaban yang muncul adalah tidak seburuk itu kok. Setelah pesanannya jadi aku mengantarkannya ke mejanya. Ia duduk di meja paling pojok dekat dengan jendela. Ekspresinya saat menatap salju yang turun menggambarkan suatu kesedihan.

“Kau tidak apa-apa? Apa ada yang salah?”
“A-ahh… tidak, aku baik-baik saja kok”
“Baik, maaf menunggu” sambil memberikan pesanannya.
“Bolehkah aku bergabung?”
“Boleh kok”
“Hhmmm… nikmat sekali kopinya”
“Terima kasih, tetapi aku masih harus banyak belajar”
“Mengapa? Bukankah ini sudah baik?”
“Memang… tapi aku merasa belum puas dengan keahlianku”
“Masih banyak yang harus kupelajari. Kalau seperti ini masih jauh dari baik” tambahku.
“Hebat sekali. Inikah rasa serakah para idealis. Atau malah kerendahan hati?” nada bicaranya yang bercanda membuat kami berdua tersenyum.

Suara jarum jam terasa sangat lamban. Interval diantara suaranya menjadi suka cita di perbincangan ringan. Kami pun hanyut di dalamnya dan melupakan keadaan sekitar. Aku begitu senang dapat mengobrol dengannya. Dan akhirnya waktu yang mengakhiri perbincangan kita.

“Maaf, kurasa sudah waktunya aku pulang” mendadak melihat jam tangannya di pergelangan tangannya.
“Mungkin kau benar, namun salju di luar masih turun sangat lebat” menatap ke luar jendela.
“Ohh yaa… aku ada payung. Pakai saja payungku.” saranku.
“Terus bagaimana kau pulang kalau payungnya aku pakai?”
“Tidak apa-apa. Gunakan saja”
“Dan juga di rumahku salju sudah menutupi jalan. Jadi lebih baik aku menginap di sini saja” meyakinkannya.
“Apakah tidak apa-apa?”
“Tenang saja. Tidak usah segan”
“Baiklah, kalau begitu terima kasih atas kopinya. Benar-benar sangat enak”
“Kapan-kapan aku akan datang lagi ke sini. Di sini sangat nyaman” tangannya pun membuka pintu kedai.
“Terima kasih kembali. Datanglah lagi. Tidak usah sungkan” mengucap dan memberikan salam kepadanya.

Ketika pintu dibuka, suasana luar yang dingin menandakan kepergiannya. Menyeberangi jalan dengan payung berwarna biru punyaku. Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Aku merasa tidak dapat menggapainya karena prinsip yang sudah kususun ulang. Akan tetapi, kepergiannya memberikan sebuah lubang kecil yang tak terlihat. Kegoyahan di dalam diri ini menjadikanku seperti orang yang linglung akan perasaan.

Malam di kedai lumayan dingin hingga aku mengalami mimpi di dalam tidurku. Bukan mimpi buruk namun juga tidak dapat dibilang mimpi indah. Mimpi itu mempertemukanku dengan seorang perempuan. Aku pun membuat janji dengannya. Rasa ingin tahu membuatku ingin menelusuri lebih dalam. Aku ingin mencari tahu siapa perempuan di dalam mimpiku itu. Ketika aku telusuri lebih dalam, aku sontak terbangun. Rasa bingung dan kaget menyelimuti hatiku. Tanpa tersadar air mataku sudah menetes. Dadaku terasa sesak. Aku seperti melupakan suatu hal dan itu membuat diriku terasa sakit.

Malam kemarin telah berakhir. Sang Fajar pun kembali ke singgasananya. Membuat jalan cerita baru untuk kehidupanku. Namun akankah ceritanya lebih baik daripada sebelumnya? Atau malah lebih buruk? Rasa itu lebih baik aku simpan dan berprasangka baik kepadanya. Pada akhirnya memang kita harus melanjutkan hidup. Walaupun tidak jauh berbeda dengan hari kemarin. Aktivitasku sebagai pembuat kopi dan pemilik kedai terus kujalani. Merasakan kepuasan pelanggan untuk menyambung kehidupan ini.

Merasakan kenangan yang jauh di sana. Tetapi terasa jarak yang sangat dekat. Aku pun tidak mengetahui seberapa jauh sebenarnya jarak ini. Hingga hari-hari yang kulalui terkumpul semua dalam beberapa halaman. Tidak, bahkan sampai beberapa Bab. Ia terus datang. Di waktu yang sama, malam yang sama, tempat yang sama, hingga kota yang sama. Kami bercengkrama hangat pada saat salju mulai menunjukkan kebimbangan. Sedikit demi sedikit perasaan ini mulai bergerak. Kopi hangat yang kubuat telah membangun kenangan di antara kita. Melihat caranya tersenyum membuat waktu terasa berhenti. Namun aku merasakan firasat bahwa pertemuan ini suatu saat akan berakhir. Obrolan ringan yang biasa kulontarkan berubah menjadi suatu pertanyaan dari perasaanku terdalam.

“Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?” momen terhenti sejenak dan kesunyian datang menghampiri.
“Tidak. Tidak pernah. Kita pertama kali bertemu di sini”
Rasa kecewa didalam diriku menyadarkanku bahwa kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
“Ahh… maaf mungkin aku salah orang”
“Tidak apa-apa kok”

Malam yang sama telah berlalu. Meninggalkan diriku sendiri di kedai beserta sisa-sisa dari perasaan kita malam ini. Rasa egois di dalam diriku mulai memikirkan hari esok. Nama yang tidak kuketahui. Alamat yang tidak pernah kutemukan. Dunianya yang tidak pernah aku pahami. Tidak masalah bila aku tidak mendapatkannya. Kurasa sudah cukup dengan perasaan ini. Namun tidak ada yang pernah benar dari prasangka itu. Tidak sama sekali.

Cerpen Karangan: Ichiro Keiichi
Seorang pemuda yang terus berjuang dan belajar didalam label “Tidak Berbakat”

Cerpen Zenzen Chigaimasu (Part 1) Kopi di Malam itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesialan Yang Berakhir Manis

Oleh:
Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 sore. Langit di luar sana telah berubah warna menjadi jingga kemerahan. Aku berhenti sejenak untuk mengelap tetesan keringat yang telah jatuh satu per satu

Mizuki, I’m Sorry

Oleh:
Angin musim gugur berhembus lembut menggugurkan helai perhelai bunga Sakura yang sudah terjatuh sebagian banyak dari pohonnya. Mizuki yang menyandarkan kepalanya di bahu Minaru hanya terdiam menatap setiap kelopak

Death Are Pending

Oleh:
Aku Tachibana Myuura. Aku dilahirkan oleh keluarga yang terpandang di Indonesia. Sebenarnya, aku dan keluargaku asli orang Jepang. Tetapi, karena alasan pekerjaan, ayah memutuskan untuk pindah ke Indonesia. Ada

Lelaki Bulan

Oleh:
Begitu tenang dan terang dengan sang dewi malam yang bersinar di tengah kegelapan malam ini. Tidak lupa dengan udara dingin yang menyelimutiku disini. Duduk sendiri di bawah pohon cemara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *