06.15.30

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 April 2014

Minggu, 17.30 WIB.
“Keputusan Astrid sudah bulat! Apapun yang ayah dan ibu bilang gak akan mengubah pendirian Astrid untuk kuliah di Yogya!!!” bentak Astrid ketus kepada kedua orangtuanya. Sore itu memang sedang terjadi ketegangan di rumah itu, karena perbedaan keinginan antara Astrid yang ingin melanjutkan kuliah di Yogya mengambil jurusan perfilman, dengan kedua orangtuanya yang menginginkan anaknya pergi ke Bandung untuk kuliah keguruan.
“Tapi nak, di sana kita tidak mempunyai saudara, ibu khawatir kamu kenapa-napa nantinya. Kalau di Bandung kan ada tante Rita yang bisa jagain kamu” jelas ibu beralasan halus kepada anaknya yang langsung disambung oleh perkataan ayah “Betul kata ibu kamu, lagi pula jurusan yang mau kamu ambil kan masih baru dan belum jelas masa depannya, mau jadi apa kamu nanti!”
“Astrid gak peduli, mau masa depannya cerah atau gelap, Astrid cuma mau nyalurin apa yang sudah jadi kesukaan Astrid dari kecil!” Astrid bersikeras
“Coba sekarang pikir, kalau kamu ambil keguruan terus jadi orang sukses, kamu bisa melakukan apa aja, termasuk nyalurin hoby kamu nanti. Sekarang sih urusin masa depan dulu, dan gak usah macem-macem!!” kata ayah agak membentak. Sementara ibu tidak henti-hentinya mengelus pundak anaknya di sofa.
“Kenapa sih ayah gak pernah ngertiin apa yang Astrid mau, dari kecil sampe segede ini selalu diatur, Astrid cape!!!” tuntut Astrid lalu bangun dari sofa dan masuk kamarnya untuk mengambil tas kemudian menuju pintu depan.
“Hei mau kemana kamu!? Pembicaraan kita belum selesai. Cepet duduk lagi!!!” perintah ayah kepada Astrid tetapi tidak ditanggapi olehnya, Astrid tetap melenggang menuju garasi dan dua menit kemudian meluncur pergi bersama motornya.

Minggu, 18.05 WIB.
Motor itu melaju dengan kencang di jalanan yang agak sepi. Di kejauhan terdengar sayup-sayup azan magrib berkumandang mengiringi perjalanan gadis yang sedang kacau hatinya itu. Pikirannya masih dipenuhi rasa marah karena orangtuanya tidak mendukung apa yang diinginkannya. ayah dan ibu gak sayang sama aku gerutunya dalam hati sambil terus melaju dengan kecapatan penuh di jalan.

Hampir setengah jam Astrid berkeliling kota menenangkan perasaannya, hingga akhirnya ia memutuskan menuju masjid besar di pusat kota untuk menunaikan sholat magrib. Astrid menuju tempat parkir motor yang ternyata sudah penuh sesak dengan kendaraan roda dua lain, sehingga cukup susah baginya mencari tempat untuk memarkirkan motornya. Karena terburu-buru akhirnya ia memutuskan untuk memarkir motornya di dekat sebuah truk kontainer yang cukup besar di pojokan. Pikirnya toh aku hanya sholat sebentar lalu pergi jadi tidak masalah melanggar sedikit peraturan ia pun bergegas menuju tempat yang dimaksud.

Saat motornya melaju santai di samping truk untuk menuju tempat tersebut, tiba-tiba dari kolong truk muncul laki-laki paruh baya yang telah selesai melakukan perbaikan pada mesin mobilnya. Astrid terkejut dan mengerem motornya mendadak, jika saja reaksinya terlambat maka lelaki itu akan terlindas oleh motor yang sedang dikendarainya. Dengan cepat Astrid turun dari motor dan menghampiri orang yang hampir dicelakakannya itu.
“Aduh pak maaf, saya gak tau kalau bapak tadi ada di kolong mobil” ucap Astrid panik sambil membantu lelaki itu berdiri.
“Gak apa-apa, bapak juga salah, gak masang tanda peringatan dulu tadi. Udah tenang aja, bapak baik-baik aja” kata lelaki itu menenangkan Astrid.
“Tapi bapak hampir mati karena saya tadi” balas Astrid gugup
“Udah jangan dipikirin. toh bapak baik-baik aja” ujar lelaki itu tersenyum.

Setelah meminta maaf berkali-kali dan memarkirkan motornya, Astrid pergi menuju masjid. Selesai sholat magrib dan isya, Astrid kembali menuju parkiran untuk mengambil motornya. Saat tiba di parkiran dirinya mendapati lelaki tadi sedang tertidur sangat nyenyak di samping mobil beralaskan kain-kain bekas. Ingin rasanya ia berpamitan tetapi tidak tega membangunkan lelaki itu, maka ia memutuskan untuk langsung pergi. Astrid sempat membaca tulisan besar yang terdapat pada sisi-sisi mobil besar itu “Sumber Kehidupan”. Setelahnya Astrid meluncur kembali menuju jalanan.

Minggu, 20.09 WIB.
Entah apa yang membuat Astrid merasa ingin pergi melihat sekolahnya, tetapi ia turuti saja apa kata hatinya. Maka segera ia menuju sekolah setelah sebelumnya hanya berputar-putar saja melihat keramaian malam kota. Begitu tiba di depan sekolah, ia menghentikan motor di pinggir jalan dan duduk di atasnya sambil memandang gedung yang terpampang di depannya. Pikirannya segera melayang mengenang masa-masa indah bersama teman-temannya saat pertama kali kenal di kelas II SMA, dua tahun lalu

-Astrid anak pindahan, dia pindah ke SMA 28 saat kelas II- dan kini tanpa terasa ia akan segera lulus meninggalkan tempat yang telah mendidiknya selama ini. Ujian akhir akan diadakan satu minggu lagi dan besok pagi adalah pembekalan terakhir dari sekolah setelah berjalan satu bulan lamanya program tersebut. Ia membayangkan rencana-rencananya setelah lulus nanti, seperti berkuliah di Yogya walau ditentang kedua orangtuanya, belajar perfilman, dan menjadi orang yang sukses di bidang itu, lalu setelah semuanya tercapai Astrid membayangkan akan ada lelaki tampan yang melamarnya dan berumah tangga. Mempunyai anak-anak yang lucu serta bayangan-bayangan indah lainnya tentang masa depan dirinya kelak. Saat itu ia merasa bahwa dapat mencapai semua impiannya tanpa ada yang bisa menghalangi termasuk orangtuanya.

Astrid tersenyum puas lalu kembali mengendarai motornya untuk pulang ke rumah karena hatinya sudah mulai tenang.

Hari semakin larut, jalanan pun sudah sepi saat Astrid pulang melintasi perempatan jalan besar dekat sekolahnya. Di tengah perempatan tersebut terdapat patung orang sedang tersenyum sambil membawa buku pelajaran sebagai simbol bahwa daerah sekitar merupakan pusat perkumpulan kampus dan sekolah-sekolah, hanya saja kini penampilannya sudah agak rusak karena tangan-tangan jahil. Astrid melirik patung itu dan membatin tersenyum patung ini akan menjadi saksi kesuksesanku nanti, karena aku akan memperbaiki patung ini setelah semua yang kucita-citakan tercapai. Lalu setelahnya langsung memacu motornya pulang.

Minggu, 21.21 WIB.
Kedua orangtua Astrid mulai cemas karena anaknya belum pulang juga, padahal biasanya Astrid lebih senang tinggal di rumah daripada keluar pada malam hari. Ibunya sudah menghubungi teman-teman terdekat Astrid untuk menanyakan keberadaannya tetapi semuanya tidak tahu. Astrid sendiri tidak bisa dihubungi karena ponselnya dimatikan. Sedangkan ayahnya tidak henti-hentinya memandang ke luar rumah, berharap anak semata wayangnya segera datang, karena mereka akan memberikan kabar gembira padanya tentang masalah perkuliahan. Setelah Astrid pergi sore tadi, mereka berunding dan sepakat untuk mengijinkan anaknya memilih apa yang menjadi keinginannya walau dengan berat hati, karena mereka takut anaknya akan nekat jika terus-terusan dipaksa.

Setelah lama menunggu akhirnya apa yang ditunggu-tunggu datang, kecemasan langsung hilang dalam diri ayah dan ibu Astrid saat melihat buah hatinya pulang.
“Sayang, kamu darimana? Ibu kuatir kamu kenapa-napa nak” tanya ibu kepada Astrid
“Ga kemana-mana! Ya udah Astrid cape mau tidur dulu, besok kan pengayaan terakhir!” jawab Astrid kesal karena pikirnya ibunya sok perhatian.
“Astrid, ayah sama ibu mau bicara dulu sebentar, jangan tidur dulu ya. Lagi pula kamu pasti belum makan malem, yuk sambil makan” bujuk ayahnya
“Enggak, Astrid ngantuk! besok aja.” jelas Astrid lalu menuju kamarnya dan menutup pintu. Ayah berjalan hendak menuju kamar anaknya, tetapi ditahan oleh ibu
“Udah pak! jangan sekarang, besok aja kalau anak kita sudah tenang” saran ibu
“Iya…” ayah menyetujui, dan akhirnya mereka semua tidur dalam kegelisahan masing-masing.

Senin, 05.30 WIB.
“Astrid, bangun sayang! Sekarang sudah jam setengah enam, kamu telat bangun, nanti kesiangan datang ke pembekalan” sahut ibu dari luar kamar berusaha membangunkan anaknya.
“Iya bu, Astrid udah bangun!” balas Astrid dari dalam kamar.

Astrid bangun dari tempat tidurnya dan langsung ke kamar mandi. Pagi ini ia mandi agak cepat karena takut telat datang ke pembekalan. Selesai mandi dan sholat, Astrid berpakaian seragam bersiap untuk berangkat. Begitu membuka pintu, ayahnya sudah menunggu di depan kamar.
“Astrid ayah mau bicara sebentar aja, boleh ya.” bujuk ayahnya halus
“Pulang sekolah aja, Astrid udah telat!” kata Astrid yang langsung menyalami ayahnya kemudian menuju dapur untuk berpamitan pada ibunya.
“Bu, Astrid berangkat dulu!” ujar Astrid menyalami ibu
“Gak makan dulu nak? Ibu lagi buatin dadar telor buat kamu” tanya ibunya
“Nanti aja makan di sekolah, udah telat banget nih. Ya udah ya” kata Astrid yang langsung menuju garasi untuk mengambil motornya.

Langit pagi itu gelap karena tertutup oleh awan mendung yang cukup tebal. Bau hujan sudah tercium di udara menandakan langit akan segera menumpahkan butiran-butiran airnya ke bumi. Di bawah awan mendung itu seorang gadis cantik mengendarai motornya dengan kecepatan cukup tinggi di jalanan sambil sesekali melirik ke arah jam tangannya, sudah telat pikirnya. Program pembekalan sebelum ujian yang diadakan sekolahnya dimulai pada pukul 06.00 sudah telat lima menit bagi Astrid yang masih berada dalam perjalanan. Astrid pun semakin mempercepat laju kendaraannya.

Senin, 06.07 WIB.
Sebuah truk kontainer besar dengan berat sekitar satu ton melaju dengan kencang di jalanan. Mobil itu berisi muatan semen yang akan dikirim ke kota lain untuk pembangunan. Sang supir berusia sekitar 45 tahun ditemani oleh seorang teman yang duduk santai di sampingnya sambil menikmati sebatang rok*k.
“Man, ini remnya udah diberesin tah?” tanya teman di sampingnya kepada supir yang bernama Maman itu
“Udah, kemaren” jawab Maman singkat
“Oh, ya enggak cuma ngingetin aja. Eh nyetirnya pelan aja sih, jangan ngebut” saran temannya
“Maunya mah santai, tapi tadi bos udah nelponin terus katanya harus cepet” kata Maman menjelaskan.
“Oh, ya udah” ujar temannya datar, dan truk itu tetap melaju kencang.

Senin, 06.15.01 WIB.
Astrid berhenti di lampu merah perempatan jalan dekat sekolahnya. Dirinya semakin panik karena sudah sangat terlambat datang ke pembekalan. Pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang akan dimarahi kepala sekolah saat tiba nanti, karena kepala sekolah selalu menghukum kehadiran siswanya yang terlambat datang ke pembekalan. “Duh lampu merahnya lama baget sih!” gerutunya pelan.

06.15.10… Truk pengangkut barang berat itu masih melaju dengan kencang dan stabil. Tidak lama lagi kendaraan itu akan melintasi perempatan jalan besar yang terdapat patung pelajar di tengahnya sebagai penghias jalan. Dari kejauhan, rambu lalu lintas menunjukan lampu hijau tanda kendaraan boleh melintas, sehingga sang supir tidak terpikir untuk memelankan laju kendaraannya. Kendaraan itu terus melaju.
06.15.23… Astrid sudah tidak sabar lagi menunggu lampu merah, pikirannya mulai kacau dan tanpa pikir panjang ia menjalankan motornya lurus ke depan menuju sekolahnya yang terletak di seberang perempatan jalan besar itu. Pikirnya dari arah samping tempatnya berada juga tidak ada kendaraan jadi buat apa menunggu lama. Butiran-butiran air mulai turun jatuh ke bumi sebagai pertanda bahwa matahari tidak akan menampakkan sinar terangnya pagi itu. Angin dingin pun mulai berhembus pelan. Astrid semakin panik dan mulai kesal karena dirasanya hari ini sangat sial. Sudah terlambat hujan pula. Ia makin bernafsu meng-gas motornya lebih cepat. Motor itu pun melaju lurus dengan kecepatan tidak wajar.
Rasa panik campur kesal yang berlebihan menyebabkan Astrid hilang kendali, motor yang dikendarainya menabrak patung simbol pendidikan yang berada di tengah jalan sehinga menyababkan motornya oleng, jatuh dan meluncur ke depan dengan cepat.

06.15.27… Supir truk itu terkejut setengah mati saat melihat motor yang dikendarai seorang gadis membentur patung penghias jalan dan jatuh tepat berada di lintasan yang akan dilalui kendaraannya. Sang supir berusaha mengerem kendaraannya sambil sebisa mungkin membunyikan klakson dengan tangannya yang gemetar, sementara teman di sebelahnya panik.

06.15.28… Perempuan itu terkapar kesakitan. Tubuhnya penuh luka memar dan gores. Motor yang dikendarainya masih menindih kakinya. Perempuan malang itu berusaha berteriak meminta pertolongan sebelum akhirnya dikejutkan dengan suara klakson yang keras memekakkan telinga. Perempuan itu menoleh ke sumber suara dan diam terpaku.

06.15.29… Truk itu semakin mendekati tubuh perempuan yang tergeletak tidak berdaya. Sementara sang perempuan terpaku diam mulutnya mengaga tanpa bisa berkata-kata. Badannya terasa dingin dan kaku. Dalam keadaan seperti itu sang perempuan sempat melihat gambar-gambar yang diputar sangat cepat di otaknya tentang cita-cita, angan-angan, teman-teman, orangtuanya, dan semua kejadian yang pernah dialaminya selama ini sampai akhirnya muncul gambaran tentang pertanggungjawaban di hadapan sang pencipta.
Truk semakin mendekat… dekat… dan…

06.15.30… _________________

Senin, 06.35 WIB.
Jalanan itu ramai dipenuhi polisi, wartawan, ratusan siswa, guru, dan orang-orang yang kebetulan melintas pagi itu. Jerit histeris dan tangis mewarnai evakuasi korban kecelakaan maut yang menewaskan seorang supir truk beserta rekannya dan seorang siswi kelas tiga SMA Negeri 28 yang tewas mengenaskan tertabrak oleh truk kontainer seberat satu ton. Pagi kelabu itu menjadi saksi bahwa segala sesuatu bisa saja terjadi diluar kehendak kita. Secermat apapun kita berencana, hasil akhir tetaplah misteri.

Rumah itu ramai oleh orang-orang yang hendak mengucapkan bela sungkawa. Suasana haru terasa sangat kental menyelubungi setiap sudut ruang yang ada di sana. Di hari yang tidak terduga Astrid berpulang meninggalkan kedua orangtuanya dan semua orang dalam usia muda. Sang ibu tergeletak lemas di kamar meratapi anaknya ditemani para ibu-ibu tetangga. Sementara sang ayah berusaha tegar menyambut para pelayat yang terus berdatangan. Berbagai macam obrolan tentang kecelakaan itu pun terjadi di antara para pelayat itu.

“Jadi si Astrid itu matinya gimana?” tanya seorang pelayat kepada pelayat lain.
“Katanya sih ditabrak truk, tapi akhirnya sih truknya nabrak pohon jadi ikut mati juga supirnya” jelas pelayat yang ditanya.
“Kasian pisan ya… emang truk apa sih?” tanya pelayat lain.
“Wah saya belum dapet kabar lengkap, yang jelas mah orang-orang pada nyebutnya truk Sumber Kehidupan.”. Selesai.

Cerpen Karangan: Affiantara Marsha Yafenka
Facebook: Amy (Affiantaramarshayafenka[-at-]rocketmail.com)

Cerpen 06.15.30 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nasihat Terindah

Oleh:
Sekitar tujuh tahun yang lalu, aku dan keluargaku tinggal di daerah pedesaan yang amat ramai dengan banyaknya tetangga. Di rumah tersebut aku tidak hanya tinggal dengan keluargaku, namun ada

Pelangi Yang Hilang

Oleh:
Tujuh belas tahun… Bukan waktu yang singkat jika dijalani dengan kehidupan yang tidak normal. Ya, aku menganggapnya waktu yang tidak normal. Karena aku hidup di tengah-tengah keluarga yang menjijikan.

Adik Yang Malang

Oleh:
Arini, dan Ristrina adalah dua adik kakak yang sangat serasi, kompak dan saling menyayangi. Mereka terlahir dari keluarga yang sederhana dan amat memahami soal agama. Mereka tinggal di sebuah

Seorang Lelaki Tua Dan Anjingnya

Oleh:
Kakek itu tinggal, tepat di sebelah rumahku, tunggal -seorang diri sendiri. Sebulan kemarin, ia kehilangan istri yang amat dicintainya sejak dahulu di sebuah taman kanak-kanak, yang tidak aku tahu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *