100 Meter

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 2 September 2012

10 Km

Matahari pagi itu begitu terik, membakar kulit yang notabenenya belum di mandikan. Pagi itu suasana lumayan ramai di depan rumah Ummi, begitu kami menyebut ibu angkat kami karena selama beberapa hari rumahnya kami gunakan sebagai tempat menginap saat kegiatan Bakti Sosial yang kami lakukan di desa setempat. Namanya desa Pa’bentengang yang terletak di daerah Limbung, kecamatan Bajeng, kabupaten Gowa.
Pagi itu terlihat beberapa aktifitas yang dilakukan, ada yang mengecat pagar rumah Ummi, menyapu halaman rumah dan para warga yang lain pun juga tak ketinggalan ikut serta melakukan kerja bakti, ada juga yang sedang asik bercengkrama sambil ditemani teh hangat.
Pagi itu, saya dan 3 orang teman lainnya, sebut saja Shul, Echa dan Ina ingin pergi ke pasar Limbung untuk membeli beberapa tandang pisang sebagai sarapan pagi buat warga yang memang juga ikut serta dalam kegiatan kerja bakti pagi itu.
Shul orangnya asik di ajak bercandaan, seru di ajak ngobrol. Tapi yang saya suka, dia lebih suka bergaul sama cewek. Lain lagi dengan Inha, Inha orangnya dewasa, dan pastinya pengertian. Kalau Echa, orangnya baik, enak di ajak curhat, satu lagi dia kayak Shul orangnya suka bercandaan. Tapi dengan kacamatanya, pandangan orang secara pintas, menganggap kalau dia itu orangnya serius. Padahal lain.

———————————–

Jarak pasar memang lumayan jauh dari tempat kami. Kurang lebih 10 km. Dengan modal dasar yang bisa di bilang coba-coba, saya mengajak mereka untuk menemaniku ke pasar Limbung. Awalnya saya hanya mengajak Echa, tapi berpikir kalau bawaan sangat banyak, saya pun mengajak Shul dan Ina untuk ikut bersama kami. ‘Shul, kamu ikut ke pasar yah. Ina kamu juga’. Seruku kepada mereka.
‘Ngapain ke pasar?’ tanya Shul, heran.
‘Mau beli pisang buat sarapan warga’. Jawabku singkat.
‘Oh, iya bentar. Saya ambil jaket dulu’. Responnya sambil berjalan memasuki rumah.
Ina mengikut saja kepada seruanku tanpa banyak bertanya.
Seteleh beberapa menit, Shul pun keluar dari rumah. Kami pergi dengan mengendarai sepeda motor. Saya dibonceng sama Echa sedangkan Ina dibonceng sama Shul. Sebenarnya kalau mau jujur saya pun tidak tau benar jalan menuju ke Pasar Limbung, tapi dengan modal ingatan kalo kita belok itu Cuma 2 kali kalo dari arah kampus menuju tempat kami, kami pun jalan. Shul juga percaya kalau memang saya tahu betul jalan menuju ke sana. Jadi intinya disini adalah kami hanya saling percaya satu sama lain.
Perjalanan dimulai dengan saya dan Echa berada di depan, sedangkan Shul dan Ina dibelakang sembari mengikuti kami yang kata mereka saya sebagai penunjuk jalan. *miris
Diperjalanan, yang ku ingat hanyalah ‘kalau ada jembatan belok’. Saya juga tak berpikir benar kalau harus belok kanan atau kiri. Tapi karena terlalu percaya diri, belok kanan pun menjadi pilihan.
‘Habis ini belok mana Nay?’.Tanya Echa sambil terus mengendarai motor.
‘Belok kanan Cha’’. Seruku sambil menunjuk ke arah kanan.
Tujuanpun menuju ke arah kanan, Shul dan Ina hanya megikuti kami. Yang katanya lagi sebagai penunjuk jalan.
Semakin ke sana, semakin hati bertanya-tanya: ‘Kenapa dari tadi tak menemukan ujung sama sekali?’. Jalanan begitu sangat dan semakin panjang terasa.
‘Nay, gak salah jalan nih kita?’ tanya Echa sambil memperlambat kecepatan motornya.
‘Kayaknya enggak deh, bener nih jalannya’. Dengan sedikit ragu kata-kata itu keluar.
Terlihat dari jauh Shul dan Ina masih mengikuti kami. Tapi terlihat juga kalau kecepatan mereka mengendarai motor semakin menjadi-jadi. Ada yang salah nih.
‘Cha, kayaknya nih jalanan gak ada ujungnya deh’. Endusku lemas.
‘Iya nih, gunung semua. Sudah jarang ada rumah penduduk’. Jawab Echa semakin meyakinkan kalau sebenarnya kita nyasar.
‘Iya yah…’ jawabku dengan ada sedikit rasa bersalah.
‘Iya, perasaan gak sejauh ini deh’.
Kami berhenti, menunggu Shul dan Ina.
‘Kita gak nyasar nih?’ tanya Ina dengan wajah sedikit nyengir.
‘kayaknya sih, perasaan gak sejauh ini’. Tambah Shul.
‘Saya mah ikut Naya saja, kan dia sebagai petunjuk jalan’. Lagi dan lagi saya dihadapkan dengan kata-kata itu.
‘Iya, sory. Seingatku sih jalan ini’. Dengan rasa bersalah yang tadinya sedikit, kini mulai membesar sehingga menimbulkan rasa malu.
Suasana saat itu lumayan menegangkan, karena kami telah menghabiskan waktu selama hampir 1 jam hanya untuk berkeliling yang kiranya jelas tapi ternyata tidak jelas sama sekali. Banget.
‘Kayaknya kita nyasar nih, seharusnya tadi kita belok kiri dari jembatan tadi’. Kata Shul di tengah-tengah ketidakjelasan.
‘Kita bertanya saja’. Sambar Ina.
Kebetulan saat itu kami tepat berada di depan rumah penduduk yang di depan rumahnya ada sekerangjang jambu putih, sepertinya itu adalah dagangan. Rumah itu terletak di pinggiran hamparan sawah yang begitu luas tanpa di temani dengan rumah-rumah penduduk lainnya. Yah, seperti itulah, rumah sudah sangat jarang.
Di depan rumah itu berdiri seorang laki-laki dengan pakaian lusuh, tampaknya dia baru saja menanam padi. Kami pun menghampirinya.
‘Permisi pak, numpang nanya. Pasar Limbung di mana ya?’
‘Wuuuuu…. masih jauh dek’. Sambil menujukkan jari ke arah yang berlawanan kami tempuh. ‘masih jauh dek, kurang lebih 10 km ke arah sana’. Tambahnya sambil menunjuk ke arah kiri.
Mendengar seruan kata “WUUU…”, sontak, hati langsung menanggapi. ‘haaaah? Berarti jauh dong?’.
Ku lihat wajah teman-temanku yang kecewa bukan main, tapi serius. Melihat ke arahku, seakan-akan akan di terkam oleh mereka. Saat itu pun aku mau lari, tapi ke mana? Pikirku membodohi diri.
‘Tuh kan, kita salah jalan….’ eluh mereka.
‘Makasih ya pak’. Sambil senyum kepada bapak itu, kami pun berbalik ke arah yang ditunjukkkan oleh bapak tadi. Arah yang benar.
Suasana semakin menegangkan dan memanas kurasa, panas matahari yang begitu teriknya menambah keletihan di antara kami. Seakan tak ingin tersesat lagi, gantian Shul yang menjadi penunjuk arah.
Di sepanjang perjalanan, beberapa warga di jalan kami tanyai. Kami memegang prinsip bahwa “Malu bertanya sesat di jalan”.
‘Permisi bu, pasar Limbung di mana ya?’. Tanya kami kepada salah seorang ibu yang sedang berjalan kaki di pinggir jalan.
‘Masih jauh nak, sekitar 5 km ke sana’. Sambil menunjuk ke arah kiri.
‘Makasih yah bu’. Senyum.
‘Wadooh, masih jauh bangettttt…hahaaaaaaaa.’ Seru Ina.

——————————

Kami melanjutkan perjalanan tanpa meninggalkan bertanya beberapa kali kepada beberapa penduduk yang kebetulan kami temui di perjalanan. Sampai kami bertanya pada orang terakhir, yaitu seorang bapak penjual ayam potong di pinggir jalan raya.
‘Permisi pak, mau nanya. Pasar Limbung di mana ya?’. Tanyaku setelah turun dari motor.
‘Oh, udah dekat dek. Kurang lebih 100 meter’. Jawab bapak itu mantap.
‘Alhamdulillah…. sudah dekat’ kataku. ‘makasih ya pak ?’. Tambah.
Telah ku temukan kepuasan tersendiri setelah ku dengar kata ‘’Kurang lebih 100 meter lagi”. Seakan rasa malu telah terurai satu persatu, aku pun menghampiri yang lainnya.
‘Udah dekat kok, 100 meter lagi’. Seruku kepada mereka sambil nyengir sedikit. ‘Heheeee ?’
Ku lihat di wajah mereka yang seakan tak penuh dosa karena lelah, (tapi sebenarnya banyak dosa. Heheeee kidding ?), semangat menuju ke pasar yang katanya 100 meter lagi itu. Di perjalanan, kepala masih menengok kanan kiri. Belum terlihat pun wajah-wajah pasar di sekitar situ. Tapi aroma menyengat kotoran ayam potong di pasar meyakinkan kalau pasar sebenarnya sudah di depan mata. Tepat di depan pasar, kami berhenti dan turun dari motor.
Echa dan Shul menunggu di parkiran pasar, sedangkan saya dan Ina masuk ke Pasar mencari penjual pisang.

Suasana di pasar Limbung sangatlah aneh kurasa, keadaanya lain dengan pasar tradisional yang biasa kudatangi di Makassar ketika menemani ibu ke pasar. Pasar di Makassar terstruktur, mulai dari penjual bumbu dapur, sampai penjual perabotan dapur tersusun rapi. Pasar di sana dimulai dengan gerombolan pedagang ayam potong yang aroma ayam yang ditemani tai-tainya menusuk hidung. Memaksa kami yag baru datang menutup hidung sampai merah, bahkan hilang nafas. Baunya, bukan bau lagi, tapi bau sekali. Banget.
Selanjutnya diikuti dengan penjual bumbu-bumbu dapur, yang di depannya ada penjual barang barang kaki lima. Seperti sepatu plastik dan kawan-kawannya. Di arah pembelokan ke kanan, kami menemui penjual buah-buahan. Dan penjual accessories wanita, tak ketinggalan pakaian dalamnya. Selanjutnya ada lagi penjual baju, penjual sayuran dan dipembelokan kedua kami baru menemui penjual Pisang. Rumit nih pasar.
Saat itu saya berpikir kalau aturan struktur penjualan di sana tidak lah etis menurut pemikiran yag lahir dari otakku. Orang-orang akan berpikir, “sebaiknya pasar yang baik adalah pasar yang memberi kesan yang baik sejak pengunjungnya baru saja memasuki pasarnya”. Nah ini apa?, bukan kesan yang didapat tapi kritik. Pengunjung akan kehabisan nafas kalau-kalau mereka tidak kuat dan memang sangat tidak kuat mendapatkan sambutan yang mematikan nafas. Apalagi ditambah dengan keadaan pasar yang membuat linglung (Astagfirullahhh, istigfar Nay!).

Lanjut, di tempat penjualan pisang kami menawar harga pisang. Yang menawar adalah Ina, bukan saya. Karena memang biasanya yang menawarkan barang-barang ketika ada yang ku mau di pasar adalah ibu saya. Lain dengan Ina, ia mahir sekali dalam tawar-menawar. ‘Calon ibu rumah tangga yang baik nih Ina.’ Bisikku dalam hati.
Bawaan pisang yang kami bawa ada 3 kantong. Berat. Pasti. Kami pun menelfon dan menyuruh Echa dan Shul masuk ke dalam pasar untuk mengangkut belanjaan kami. Mereka datang. Kami pulang.

——————————————

Di perjalanan pulang yang menjadi penunjuk jalan adalah Shul, katanya dia sudah ingat betul jalan pulang. Dan kami menjadikannya sebagai kompas kami untuk pulang. Tapi, kenapa lagi dan lagi kami nyasar. Kami sepertinya kembali ke tempat orang yang menunjuki jalan yang berkata “10 km lagi ke arah kiri dek”.
‘Loh, ini kan tempat yang tadi. Saya ingat sama jambu ini. Tadi saya perhatikan waktu nyasar tadi. Artinya kita nyasar lagi’. Sambar Ina yakin.
Wadoh, nyasar lagi deh. Lupa juga kejadiaanya kayak gimana pas pulang sampai-sampai nyasar lagi. Kami kembali berbalik lagi.
Di tengah perjalanan pulang, kami kembali bertanya kepada salah seorang ibu yang sedang bercengkrama dengan ibu-ibu lainnya.
‘Permisi bu, desa Pa’bentengang di mana ya bu?’ tanyaku pada ibu itu.
‘Ini dek, yah di sini desa Pa’bentengang”. Balas ibu itu semangat.
‘Rumahnya pak Kades di mana bu?’
‘Masuk saja terus nak, nanti dapat kok’.
‘Oh, iya bu. Makasih banyak’.

——————————–

Di perjalanan setelah itu, Echa berkata: ‘Nay, dalam ilmu psikologi, ingatan seorang pria itu memang lebih kuat daripada ingatan wanita. Makanya terkadang saya lebih cenderung mengikuti kata-kata pria dalam hal mengingat sesuatu. Seperti itu’.
‘heheee, iya Cha’, sorry’.

Alhamdulillah, atas petunjuk Allah melalui ibu itu, kami pun sampai ke rumah Ummie. Sesampai disana, kami menceritakan kejadian yang kami alami kepada teman-teman yang lain. Tak ada yang lain yang kami peroleh selain tertawaan, dan kejadian ini adalah kejadian yang saya anggap unik, karena baru terjadi dalam hidupku. Heheeeee ?.
Dari kejadian ini, ada hikmah yang ku dapat. Bahwa, terkadang kepercayaan diri yang sangat tinggi dapat menjadi hantu yang meninggikan diri sampai-sampai jatuh juga.

Salamku senyumku, ?

Inayah Natsir

Profil Penulis:
Nama Penulis: Inayah Natsir
Inayah natsir lahih di Makassar 25 Mei 1992. kini sedang berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Bercita-cita ingin jadi seorang penulis hebat. Fb: Inayah Natsir, Twitter: @inayahnatsir, e-mail: inayahnatsir(-at-)ymail.com

Cerpen 100 Meter merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Simpul Senyum di Dusun Bengalun

Oleh:
Sebagai hati yang tertinggal di dusun bengalun, ada simpul senyum yang menanti di seberang lautan sana. Sudah dua hari Renita habiskan waktunya untuk menganyam. Daun pandan kering yang entah

Aku Mengetahuinya Sedari Dulu

Oleh:
Jujur aku bingung harus memulai cerita ini darimana. Terlebih tidak semua orang mengalami apa yang aku alami. Memang betul, awalnya aku enggan memberitahu kepada siapa pun. Karena butuh waktu

Simpanan

Oleh:
“ini mas tehnya” ucap Sarah dengan lembutnya pada sang suami, Sarah kemudian duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami yang baru saja pulang. Tangan suaminya

Perjuangan Anak Tukang Gula Mendulang Juara

Oleh:
Jilbab putih menutupi wajah bundar, berkulit hitam manis, bertengger tahi lalat menghiasi pipinya yang lesung. Dengan kepolosan dan keluguannya mewarnai keayuan Siti Saodah. Ia rajin serta disayang kawannya. Terlahir

Apakah Si Miskin Berhak

Oleh:
Namaku Ahmad, aku seorang Yatim piatu. Orangtuaku meninggal dunia karena kecelakaan, dan sekarang aku hanya hidup sebatang kara di tempat yang mungkin tak asing lagi bagi kalian. Yaa.. aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *