120 Detik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 17 November 2019

Azan magrib baru saja selesai berkumandang, tapi aku masih harus menunggu lampu merah ini, “arghh sial gara-gara bajai itu lama jalannya jadi kena lampu merah, padahal masih sempet” gerutuku dalam hati. Mungkin sebagian warga kota pernah mengalami hal ini. Ketika kita sedang capek capeknya menuju rumah hal sepele pun menjadi besar. walau hanya 120 detik tapi mengapa terasa lama.

Hmm aku bernyanyi pelan sambil melihat sekitar, mataku tertuju pada seorang pemuda yang sedang menawarkan dagangannya walau ku tahu mereka tidak mempedulikannya. Kulirik kiriku Abang angkot sedang menghitung uang yang terlihat lecak lecak. Kulirik kananku lelaki tua yang diam dan sabar menunggu lampu hijau menyala.

60 detik, tiba tiba suara sirine dari mobil jenazah membuyarkan lamunanku, 30 detik menuju warna merah berganti menjadi kuning lalu hijau, aku berpikir sesuatu entah apa yang kupikirkan, tiba tiba suara klakson mengagetkanku. Aku sadar lampu sudah berganti hijau. Kugas motor matik ini, pikiranku masih terganggu entah kenapa aku menjadi orang yang sangat sensitif, ku terus memikirkan semua yang kulihat di lampu merah tadi.

Sambil terus menjaga konsentrasi kuputuskan untuk bernyanyi kecil berharap semoga pikiranku tak terus memikirkan hal itu. Ya aku adalah tipe orang yang jika berkendara hanya diam saja malah membuatku ngantuk terlena oleh angin jalanan, tapi semua itu percuma saja, hal itu masih terbayang di pikiran ini hingga entah kenapa aku menghubungkan hal yang kulihat di lampu merah tadi dengan hidupku, aku beruntung nasibku lebih baik dari pemuda tadi. Aku beruntung penghasilanku lebih baik dari Abang angkot tadi. Aku beruntung usia mudaku dibanding usia bapak tua tadi. Aku beruntung aku masih hidup dibanding dengan orang yang terbaring tak bergerak di dalam mobil jenazah tadi.

Ku terdiam sejenak, sial hal hal itu seperti menamparku. seperti Tuhan sedang mengajarkanku bersyukur keadaan kita saat ini. Aku yang suka mengeluh dan menggerutu seperti diajari oleh mereka bahwa hidup ini pemberian kita harus memanfaatkan dan membuat hidup kita juga bermanfaat. Sebelum Tuhan mengambil kembali sesuatu yang telah ia beri yaitu kehidupan.

Aahh malam ini aku mendapat pelajaran kecil tetapi sangat penting yaitu bersyukur. Terimakasih tuhan untuk 120 detiknya. Terima kasih Abang bajai hehehe…

Cerpen Karangan: Iyas Nur Hakim
Blog / Facebook: Iyas Nurhakim

Cerpen 120 Detik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesialan di Malam Jumat

Oleh:
Kau menghela napas panjang. Bola matamu bergerak ke kanan dan kiri, menyapu setiap jengkal taman ini. Kau menggerakkan tangan kanan, mengetuk-ngetuk kursi besi berwarna merah, yang diduduki sedari tadi.

Suci, Hidup Tak Selayak Nama

Oleh:
Suci namanya. Seorang gadis mungil berparas ayu, berusia 23 tahun. Ia telah hidup sebatang kara di ibu kota sejak usianya baru menginjak 18 tahun. Hidupnya berubah semenjak kepergian kedua

Menuntut Ilmu Itu Nggak Penting

Oleh:
“Bangun! Berangkat sekolah!” Rutinitas menuntut ilmu lima hari dalam sepekan, empat minggu dalam sebulan, sebelas bulan dalam setahun, dua belas tahun dalam hidup. Bangun selagi gelap, pergi menjelang terang,

Pudarnya Kejujuranmu

Oleh:
Hari terakhir Ujian Nasional (UN). Huda kembali diminta “mencoret-coret” lembaran soal sembari mengawasi siswa kelas VI yang tengah melaksanakan Ujian Nasional di Sekolah Dasar tempatnya mengabdi. Tak ada prasangka

Jalan Samping Rumah

Oleh:
Rusman tampak mondar-mandir di sebuah klinik bersalin. Ia dan Mirna, istrinya, sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Wajah Rusman tampak kuyu dan lelah. Tepat saat kentongan di pos ronda bertalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *