17:00

Judul Cerpen 17:00
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 3 December 2016

Wanita tua itu masih terdiam di beranda runahnya bersama secangkir teh hangat di kanannya. Tangannya yang telah keriput telah menunjukkan umurnya yang telah lama, setengah abad lebih enam tahun kira-kira.. Seperti ada yang membeban saat ia memandang jauh ke utara, seperti ada segunung masalah di pundaknya.. Namun ia masih terdiam dalam lamunannya yang jauh ke arah utara itu. Entahlah… apa yang sedang ia fikirkan tetapi aku merasakan juga apa deritanya.
Detum jam yang berbunyi telah menunjukkan pukul 17:00 WIB tapi ia masih terdiam di dalam lamunannya dan mengabaikan semua yang ada di dunia nyata…

Samar-samar terdengar suara kereta tua milik suaminya tiba.. yang kira-kira berada pada kurang lebih 30 M di hadapannya, ia menyambutnya dengan senyum sendu menyimpan duka.. entahlah apa maksud yang ada dibalik senyumnya.. mungkin ia bahagia, tetapi sadarkah? Setiap kebahagiaan selalu ada ganjalannya, itulah sebab dari sendu yang terlukis di raut wajah tuanya.

Wanita tua ini hidup bersama seorang lelaki yang lebih tua 3 tahun darinya. Ia sangat mencintai laki-laki itu meskipun ia sadar bahwa laki-laki itu bagaikan benalu yang melilit ia sebagai dahan.. Ia sadar namun ia tak dapat meninggalkannya.. Mungkin karena cinta ia terlihat bodoh. Selalu menuruti apa perintahnya yang kadang tak masuk akal dan malah merugikan dirinya sendiri tanpa pernah membantah untuk tidak setuju. Tapi apakah ini yang dinamakan cinta sesungguhnya? Yang dapat membuat siapa saja melupakan dan membuat wanita tua ini seperti terbodohi dengan tidak keberdayaannya yang selalu mengucap “Iya” disetiap kemauan laki-laki itu? Oh tuhan sungguh malang nasib wanita itu.. Bahkan saat ketika laki-laki itu memberi segunung beban di pundak wanita ini, ia hanya dapat tersenyum dan merasa bahagia walau semu.. yang diam-diam dapat mematikan.

Darinya saya belajar betapa tulusnya kasih sang wanita itu.. Mungkin ia adalah wanita paling mulia bagi anak-anaknya dan laki-laki yang ia sebut suami itu. Ia dengan tulus memberikan seluruh hidupnya untuk laki-laki itu, selama hidup bersama ia rela berdarah demi benalu itu, ia rela memikul bebannya sendiri yang seolah-olah ia sembunyikan dari setiap bantuan orang lain..

Tangisku menitih melihat pengorbanannya tapi apa daya aku hanya seorang gadis yang hanya dapat diam-diam melihat dan mengamatinya dari jauh. Andai aku dapat meringankan sedikit dari peluh yang ia rasakan dari deritanya inginku melakukannya.

Cerpen Karangan: Allia Putri
Facebook: Allia P

Cerita 17:00 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Berlian… Bukan Sampah

Oleh:
Makanan. Satu hal yang sebelumnya sangat jarang kuperhatikan. Padahal, makanan adalah bagian yang cukup penting untuk kelangsungan hidupku. Sampai akhirnya, Aku mengerti apa itu makanan. Sesuatu yang sangat berarti

Lampu Taman

Oleh:
Lampu taman di pojok jalan itu belakangan ini mengganggu pikiranku. Memang sudah hampir beberapa minggu lalu taman sepanjang jalan kompleks dihiasi lampu-lampu taman yang seragam. Taman-taman itu sendiri adalah

Jalan Samping Rumah

Oleh:
Rusman tampak mondar-mandir di sebuah klinik bersalin. Ia dan Mirna, istrinya, sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Wajah Rusman tampak kuyu dan lelah. Tepat saat kentongan di pos ronda bertalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *