34 (1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 June 2017

Aku melihat bapak dari kejauhan. Duduk di kursi kayu depan rumah kami yang lapuk. Beliau tertunduk. Memperlihatkan rambut yang telah tertutup uban. Entah apa yang dipikirkannya. Memikirkan apa yang akan aku dan adikku makan hari ini, musim kemarau yang membuat sungai surut, catatan bon hutang yang berderet rapi di lembaran buku warung Bu Ani atau desas desus perkampungan kami akan digusur. Beliau mengenakan baju partai yang diberikan secara percuma saat kampanye Pilkada Kalimantan Selatan beberapa bulan lalu. Di bagian tangan kiri baju itu ada sobekan besar menganga. Terlihat jelas dari sini. Aku akan menjahitnya nanti.

Ku hampiri beliau. Kucium tangan beliau yang kulitnya kasar. Beliau tersenyum menampakkan guratan di wajahnya. Pak, wajahmu semakin digerogoti keriput.
“Bagaimana sekolahmu hari ini, Bayu?” Beliau meraih tanganku untuk duduk di sebelahnya.
“Alhamdulillah, Bayu senang sekali, Pak. Puisi yang Bayu buat dapat nilai sempurna. Untung saja Bapak mengajarkan Bayu kemarin. Bapak memang hebat.”
“Syukurlah, anak bapak memang pintar. Masuk dan sholat dzuhur. Bapak akan belikan makanan.”
“Lili sudah pulang, Pak?” Bapak menjawab pertanyaanku dengan anggukan lalu tersenyum. Beliau kemudian beranjak dari tempat duduknya. Kemudian meraih jala yang tergantung di sebelah rumah. Jala itu sudah banyak lubangnya. Beliau melangkah pergi menuju sungai.

Rasa-rasanya ingin sekali kupeluk bapak. Kupeluk beliau dengan erat. Aku ingin meringankan beban di pundaknya. Sejak Ibu meninggal karena asma setahun lalu. Bapak terlihat sangat terpukul. Lebih banyak diam. Beliau seperti kehilangan separuh jiwanya. Kehilangan semangat hidupnya. Terlebih saat perahu kesayangan beliau dijual untuk biaya ibu di rumah sakit. Tapi, Bapak tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di hadapan kami. Tak pernah menampakkan kelemahannya. Bahkan beliau tidak pernah mengeluh. Tak pernah berucap aduh. Beliau memang idola kami. Beliau adalah pahlawan kami. Beliau yang melindungi kami. Aku ingin menjadi kuat seperti bapak. aku ingin memiliki pundak yang tegak seperti bapak.

Kulihat Lili sedang tidur di kamarnya. Badannya makin kurus saja. Lili adalah adikku, umurnya baru delapan tahun. Selisih enam tahun denganku. Aku yakin dia belum makan. Dia memang jarang makan atau karena kami yang tidak punya makanan.

Aku bergegas menganti baju seragam SMP-ku. Kemudian berjalan menuju sungai di belakang rumah untuk berwudhu. Ya, rumahku memang di pinggiran sungai, di kota Banjarmasin. Itulah alasan pemerintah ingin menggusur rumah kami. Karena rumah kami katanya menutupi aliran sungai, mempersempit badan sungai.

Setelah selesai berwudhu, tiba-tiba hujan datang mendadak. Sangat lebat. Aku segera berlari ke dalam rumah. Aneh tadinya matahari sedang cerah-cerahnya. Alhamdulillah, ada hujan selebat ini saat kemarau. Sungai kami tentu akan terisi penuh. Bapak pasti akan senang.

Aku terbangun dari tidurku. Kepalaku sakit sekali rasanya. Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku ada di kamar bapak?
Sayup-sayup terdengar suara. Kenapa ramai sekali? Seperti melantunkan ayat suci. Perlahan aku bangkit dari ranjang kayu bapak yang berlubang di sana-sini. Kemudian kulipat selimut coklat milik bapak. Apek! Aku akan mencucinya nanti. Aku melangkah pelan menuju ruang tamu. Kenapa perasaanku tidak enak. Perlahan kubuka tirai korden penghalang antara kamar dan ruang tamu. Deg! Apa yang aku lihat ini?

Ada seseorang terbaring di sana, seluruh tubuhnya kaku ditutup kain. Ia dikelilingi banyak tetangga yang sedang membaca surah yasin. Ada pak Dodo, tetangga kami yang paling baik, ibu Ani, Pak RT juga masih banyak tetangga yang lain. Mataku melirik Lili yang sedang duduk di samping jasad itu. Lili menangis. Matanya sembab, wajahnya bengkak. Tiba-tiba seluruh orang menatapku, wajahnya menampakkan rona kasihan, mata mereka menyimpan kesedihan. Apa ini! Apa yang terjadi! Apa yang sedang terjadi! Ya Allah, apakah orang yang terbaring itu adalah..

Bruk! Aku terjatuh, kakiku lemas, aku tak mampu bangkit. Air mataku tiba-tiba mengucur deras. Serasa banyak sekali pisau yang menghujam dadaku. Kepalaku berat. Mataku tak dapat berkedip. Badanku bergetar hebat. Darah seakan berhenti mengaliri jantungku. Aku sulit bernapas. Kenapa ini? Kenapa ini terjadi? Kenapa!

Pak Dodo segera menghampiriku, Beliau memelukku. Mengusap kepalaku. Beliau ikut menangis bersamaku. Beliau berulang kali menyebut namaku. Memintaku untuk tabah. Tidak! Ini tidak benar! Ini hanya mimpiku, hanya imajinasiku!

“Bapak!”

“Kamu langsung pingsan saat diberitahu pak Dodo, Bapakmu terpeleset saat ingin menaiki perahu kemudian beliau jatuh dan hanyut terbawa arus sungai yang sedang deras karena hujan.”
Aku hanya diam tak menghiraukan omongan Bu Ani. Beliau kemudian melangkah pergi setelah menaruh teh hangat dan kue Bingka Kentang untukku di samping ranjang bapak.

Ya, aku ingat. Aku ingat saat itu aku baru selesai sholat dzuhur. Aku dapat mendengar deru hujan yang begitu lebat di luar rumah. Aku tiba-tiba terpikir bapak, semoga bapak baik-baik saja.
Ada yang mengetuk pintu, aku bergegas ingin membukanya. Bapak sudah pulang, bapak pasti membawa banyak perolehan ikan hari ini, pikirku.
Setelah kubuka pintu, ternyata pak Dodo yang berkunjung. Beliau kehujanan, matanya merah, aku mempersilahkan pak Dodo masuk. Aku menawarkan teh hangat untuk beliau, namun beliau menolaknya. Ekspresi beliau aneh dan mata beliau terlihat seperti menyimpan sesuatu. Akhirnya dengan gemetar beliau menyampaikan berita pahit itu padaku. Dan detik itu juga, aku tidak mengingat apapun lagi.

“Bagaimana sekolahmu hari ini, Lili?”
“Senang sekali kak, Ibu guru terus saja memuji puisiku. Itu semua berkat kakak yang mengajarkannya padaku.” Wajahnya merona, aku tersenyum padanya.
“Ini makan dulu. Kita makannya berdua ya, Dik.” Aku membuka nasi bungkus yang aku beli di perempatan jalan tempatku biasa bekerja. Pekerjaanku adalah menyemir sepatu. Aku putus sekolah. Badanku semakin berwarna hitam. Sendal pun aku tak punya. Beginikah rasanya mencari uang. Seperti inikah lelahnya bapak bekerja untuk kami. Sudah 2 tahun bapak pergi meninggalkan kami. Bukan berarti aku harus putus asa. Aku harus menyekolahkan adikku. Adikku harus sukses nantinya. Adikku harus lebih baik dariku dan dia harus bermanfaat untuk orang lain.

Perkampungan kami sudah digusur, diganti dengan dibangunnya siring yang katanya untuk wisata menyusuri sungai. Kami bersyukur pak Dodo memperbolehkan kami tinggal di gudang bekas beliau berjualan kain di pinggir jalan Hasanuddin HM. Beliau pulang ke kampung halamannya, Bandung. Kuucap banyak terima kasih pada beliau yang telah banyak membantu kami.

Kuajak Lili untuk duduk di bawah pohon pinggir jalan. Perlahan kulihat Lili melepaskan gelang karet di nasi bungkus yang akan kami santap. Sangat perlahan dan hati-hati. Dia sangat lapar. Terlihat dari caranya menatap nasi bungkus itu. wajahnya kusam, seragam Sd-nya kucel, sepatunya pun tak lagi layak untuk dipakai. Aku harus lebih giat lagi bekerja.

“Kakak, coba baca ini.” Lili tersenyum kecut, terlihat tatapan matanya kosong padaku, tangan mungilnya menunjuk kalimat di sudut koran yang menjadi pembungkus nasi. Aku membacanya perlahan.

“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Pasal 34 ayat (1) UUD 1945”

Cerpen Karangan: Rhema Yuniar
Facebook: rhemyun.blogspot.co.id / facebook.com/rhemayuniar
Twitter: @rhema_yuniar, Instagram: rhemayuniar_ Line id: rhemayuniar_
Tulisan saya ini jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran saya terima dengan tangan terbuka. Terima kasih sudah membaca. 🙂

Cerpen 34 (1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Pisau (Part 2)

Oleh:
Sesampainya di rumah, Eva langsung menemui ayahnya dengan kegembiraan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata sambil membawa hadiah berupa piala, sejumlah uang, dan 1 set peralatan masak. Ayah harus

Rencana Kita Rencana Allah

Oleh:
Cuaca malam itu mendung, sekeliling langit terlihat gelap tanpa ada satupun bintang dan bulan, lalu rintikan air hujanpun mulai terdengar. Tik… tik… tik… begitu jelas terdengar suara cucuran air

Bullyan Kakak Kelas

Oleh:
Tanggal 29 November 2013 tepatnya pada hari Jumat akan menjadi sebuah peristiwa dan pengalaman yang takkan aku pernah lupakan sampai kapan pun. Beberapa hari yang lalu ketika pulang sekolah,

Mengerti

Oleh:
“Dari dulu aku selalu penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan seperti… kenapa kita gak bisa terbang kayak burung, atau kenapa bulan berubah-ubah bentuknya, atau yang paling pingin kutanyain itu kenapa bumi berputar,”

Kanaria dan Putih

Oleh:
Kalimat itu pendek saja, namun artinya terasa amat panjang bagi hidupku. Sekilas saja pernah diucapkan, namun sepanjang hari aku telah mengingatnya. Waktu itu, entah kesekian kali dalam tahun di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *