Abu Abu Setelah Biru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 May 2014

Aku terdiam di sudut ruangan menyandarkan tubuhku yang kurasakan amat lelah. Lututku ku tekuk kemudian ku peluk. Pandanganku kosong. Aku sibuk menikmati suasana hati yang bergemuruh. Teringat semua ucapan Mama yang berhasil membuatku terkoyak. Aku tak akan bisa setegar Mama menghadapi semua ini. Perlahan air mataku menetes membasahi pipiku. Aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi padaku, pada keluargaku.

Dengan berat aku melangkahkan kakiku menuju gedung megah yang dihiasi kain serba putih. Terlihat beraneka macam rangkaian bunga disana. Di sekitarku banyak sekali orang yang berusaha masuk ke dalam gedung tersebut. Mama meraih tanganku lalu dipegangnya erat-erat seolah ia berusaha menegarkanku menghadapi semua ini. Dengan sangat enggan aku mengikuti langkah mama memasuki ruangan yang sangat megah itu. Mataku menangkap sesosok laki-laki yang dulu amat berarti bagiku duduk di kursi singgasana bak seorang raja. Di sampingnya duduk manis seorang wanita, perenggut kebahagiaanku. Papaku telah memilih meninggalkanku dan Mama demi wanita bejat tersebut. Setetes air bening menggenang di sudut mataku, namun aku mencoba menahannya agar tak jatuh di pipiku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri tak akan pernah meneteskan air mataku untuk lelaki penghianat itu. Aku sadar tak seharusnya aku bersikap seperti itu, namun kekecewaan yang begitu dalam membuatku sulit untuk memaafkannya, amat sangat sulit.

Mama menghentikan langkahnya. Kulirik Mama, kutatap wajah sendunya. Tatapannya lurus mengarah pada lelaki bejat itu. Namun tak kulihat ada setitik kebencian pun di raut wajahnya. Oh Ma, andaikan aku bisa setegar engkau. Mama menghela nafas berat. Aku tahu ia sedang berusaha mengatur perasaannya. Aku tau ada segurat luka di hatinya yang pasti lebih dalam daripada luka di hatiku. Ingin ku ucapkan sepatah kata penghibur hati untuknya, namun mulut ini tetap terbungkam tak mampu untuk mengucapkannya. Mama mulai menarik tanganku mengajakku melangkah kembali. Ku ikuti langkah kakinya. Kini Mama mengajakku mendekati lelaki dan wanita bejat itu. Jika bukan karena Mama, aku tak akan sudi bertemu dengannya lagi.

“Selamat ya mas, semoga apa yang telah engkau pilih ini adalah yang terbaik untukmu. Akan ku do’akan semoga hidupmu yang baru nanti penuh dengan kebahagiaan. Dan aku minta do’amu agar kelak aku dan Ara menemukan jalan kebahagiaan kami.”
Mama menyalami lelaki bejat itu. Kutatap wajah wanita bejat di sampingnya. Angkuh. Di wajahnya tersirat seulas senyum jahat yang sarat dengan kemenangan. Kemudian kutatap wajah lelaki bejat itu, berbeda. Rasa hormatku yang dulu amat besar untuknya, sosok Papa yang sangat aku banggakan, yang sangat aku sayangi, kini telah hilang. Seolah tak ada rasa hormat lagi untuknya. Benci, ya, yang ada hanya benci.
“iya Wid, semoga engkau mendapatkan yang terbaik, lelaki yang bertanggungjawab dan menyayangi keluarga. Terimakasih ya Wid sudah meluangkan waktu untuk hadir di pernikahanku.” Lelaki bejat itu menyambut tangan Mama. Sejurus kemudian ia memandangku. Secepat kilat aku mengalihkan pandanganku. Enggan aku bertatapan muka dengannya. Hanya akan menambahkan luka di hatiku saja.
“Ara tak ingin bersalaman dengan Papa?” kalimat itu terlontar dari mulut besarnya. Aku tak sanggup lagi. Kusentakkan tanganku hingga terlepas dari genggaman Mama. Aku berlari sekuat tenaga. Masih kudengar teriakan Mama memanggil namaku ketika aku keluar dari gedung tersebut. Aku tak sanggup, benar-benar tak sanggup. Setetes kristal bening mengalir di pipiku. Aku terus berlari membawa kepedihan hati ini. Entah kemana arahku berlari, yang pasti aku hanya mengikuti kemana kaki ini akan melangkah.

Aku menghentikan langkahku di tepi danau. Air mataku semakin deras. Hatiku terasa perih. Tak sanggup aku melewati semua ini. Sesaat terlintas bayangan Mama di benakku. “maafkan Ara, Ma. Maafkan, aku benar-benar tak sanggup.” Mama pasti kecewa. Amat sangat kecewa. Terlalu berat beban yang harus aku pikul. Ku pejamkan mataku. Ku hirup dalam-dalam udara sekitar danau. Tenang, aku merasa tenang. Nyaman sekali. Ku buka mataku, ku pandang segala sesuatu yang ada di hadapanku. Ajaib, sangat indah. Sudah sejak satu jam yang lalu aku duduk disini, baru ku sadari betapa indahnya tempat ini. Aku memandang dalam kejauhan. Terbayang sosok Papa yang dulu ku kenal. Begitu berwibawa dan bertanggungjawab. Disela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan waktu untuk keluarga. Setiap ada kesempatan berlibur, ia selalu menanyakan kepadaku tempat apa yang ingin aku kunjungi. Aku merasa akulah satu-satunya orang yang paling bahagia di dunia. Aku mempunyai apapun yang di inginkan semua orang. Aku memiliki keluarga yang sangat peduli kepadaku, rumah megah, mobil mewah, berbagai macam mainan modern, aku memiliki semuanya. Aku pun bisa pergi keliling dunia kemanapun aku mau bersama orang-orang tercintaku, Mama dan Papa. Tiupan angin menyadarkan lamunanku. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Mataku terbelalak. Sudah sesore ini? Aku beranjak pergi, meninggalkan tempat yang indah ini. Mama pasti menghawatirkanku.

Ku langkahkan kaki menuju halaman rumahku. Sejenak aku berhenti. Kupandangi kursi hias di tengah taman depan rumahku. Terlihat sekelebat bayangan masa lalu. Masa kecilku yang bahagia, bercanda ria bersama mama papa. Meskipun aku tak punya saudara, namun aku cukup bahagia karena aku dilimpahi kekayaan yang luar biasa dan keluarga harmonis. Disitu, di kursi itu, kami sering duduk bertiga bercanda ria mengurai tawa. Papa yang hebat, yang selalu kubanggakan, sosok pahlawan bagiku, dan berwibawa di hadapan semua orang. Hanya tinggal kenangan. Aku tak ingin mengeluarkan air mataku lagi. Perlahan aku meninggalkan taman, beranjak melangkahkan kaki melewati halaman rumahku yang begitu luas.

Kuedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan. Kudapati Mama sedang berdiri di depan jendela yang berhadapan langsung dengan taman. Kudekati Mama.
“Maafin Ara, Ma. Ara tahu Mama sangat kecewa dengan sikap Ara tadi. Ingin sekali Ara mengikuti keinginan Mama untuk menghormati Papa. Namun sulit Ma, gejolak hati Ara mengatakan tidak. Ara tak sanggup.” Ku peluk Mama dari belakang. Pinggulnya kini tak seberisi dulu ketika aku masih sering sekali memeluknya, ketika Papa masih ada di tengah-tengah kami. Tubuhnya kini semakin kurus. Mama membalikkan badannya, menarik tanganku kedalam genggamannya.
“Mama mengerti perasaanmu Ara. Tak mudah bagimu menerima semua ini. Namun ini semua kenyataan, ini yang terjadi. Kamu harus menerimanya dengan ikhlas.” Mama mengusap air mataku. Air mata itu mengalir begitu saja di pipiku. Kupeluk Mama erat-erat. Kubisikkan sebuah kalimat di telinganya. “andaikan aku setegar Mama.”

Aku bersimpuh di atas sajadah merahku. Kubiarkan tangisku pecah malam itu. Mengadukan nasibku kepada penciptaku. Aku tahu semua ini adalah takdirnya. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya.
“Ya Allah yang maha pengasih penyayang, yang maha pemurah, yang maha adil, yang maha segalanya. Hamba ini hanyalah seorang yang lemah, yang tak akan mampu menjalani hidup tanpa rahmat dan hidayahMu. Hamba tau semua ini adalah yang terbaik untuk hamba. Engkau biarkan hamba mengerti semua itu, namun kenapa tak Kau biarkan hamba mengerti tentang keikhlasan ya Allah. Ikhlaskanlah hati hamba Ya Allah, kuatkanlah hamba menghadapi semua ini. Engkaulah yang maha membolak balikkan hati ya Allah. Hanya kepadaMu lah hamba memohon pertolongan. Robbana aatina fiddunya khasannah wafil akhiroti khasannah waqinaa ‘adzaa bannar.” Aku bersujud di atas sajadahku. Menangis tersedu-sedu. Gemuruh angin kencang malam ini, menemani sujud panjangku. Aku tahu Allah mendengar do’aku. Dan itu pasti.

Kusambut kehidupan baruku. Hanya ada aku, Mama, pekerjaanku, dan Tuhanku. Aku akan mencoba mensyukuri apa yang telah aku punya, mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Kini aku mengerti bahwa yang telah hilang itu memang bukan hakku. Aku tersenyum memandang dunia. Ya, awal dari segalanya, tak akan pernah kubiarkan senyum ini sirna kembali.

Cerpen Karangan: Aris Nazillah
Facebook: Arnaz Zilla

Cerpen Abu Abu Setelah Biru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mentari Pergi

Oleh:
Di sebuah desa terpencil di pinggir jalan hidup seorang gadis yang cantik dan periang. Dia tak mengenal kata putus asa. Setiap hari dia selalu membantu pekerjaan kakeknya. Gadis tersebut

Bukan Untuk Ditangisi

Oleh:
Hari itu aku ingin tersenyum selebar mungkin. Bukan karena ada sebuah kebahagiaan mendalam dibaliknya, aku ingin hari itu segalanya berjalan dengan lancar, tanpa aku harus melihat adanya tangis ataupun

Tanah Merah

Oleh:
Aku masih diam membisu, berteman dengan duka aku sendiri. Melihat keramaian kota di atas bukit paling tinggi, hamparan rumput hijau dan angin merdu sudah lama menjadi temanku. Duduk di

Kasih Sayang

Oleh:
Hai! Kenalkan namaku keke. Keke anak primary 5. Keke mempunyai kakak bernama tita. Tita elmentry 2. Tita dan keke tidak pernah akur. Setiap hari mereka selalu berantem. Hari ini

Jangan Pernah Berubah Lagi Bunda

Oleh:
Namaku Nigita Amelsa, panggil aku Gita. Aku mempunyai kakak bernama Synta Agta, panggilannya Agta. Nama bundaku Dinda Syafniah, biasa dipanggil Dinda, sedang papaku alm. Harisy Futur, dipanggil alm. Harisy.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *