Ada Cerita di Balik Nama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 1 July 2015

Terlihat seorang anak laki laki yang sedang memikul beban berat di punggungnya. Wajahnya terlihat lebam di beberapa daerah. Matanya terlihat sayu lelah mendalam. Tidak tampak sedikitpun binar kebahagiaan masa kecil dari matanya. Ia datang dengan langkah kecilnya ke arah rumah kecil yang berada di tengah hutan. Tidak lama kemudian seorang gadis muda datang dengan sedikit berlari, menjadikan tasnya sebagai payung. Gadis itu terlihat panik sambil mengeluarkan satu per satu kertas yang sedari tadi didekapnya, kertas itu terlihat basah, dengan warna biru keungu-unguan sepertinya tulisan itu luntur.

“kenapa mbak, luntur ya?” tanya anak kecil laki laki yang tiba tiba mendekati gadis itu.
Gadis itu tampak ragu menjawab. Tak percaya di hutan seperti ini ada seorang anak kecil. Tapi kenapa anak kecil ini tampak sangat mengerikan. Wajahnya memar, bajunya kusut sekali sepertinya awalnya berwarna putih berubah menjadi coklat keabu-abuan dengan sobekan sobekan kecil yang membuat gambar robot dan bertuliskan transfomer berubah, di bagian belakang bertuliskan ‘JULIO’ mungkin itu namanya. Ia juga memakai celana dengan motif garis garis vertikal, celananya juga terlihat ada robekan kecil kecil.
“iya dek” akhirnya gadis itu menjawab pertanyaan anak laki laki itu.
“memang itu kertas penting banget ya mbak, kok kayaknya panik” tanya anak itu lagi
“iya dek, ini bahan skripsi” jawab gadis itu.
“G -E GE NNY N.. mbak ini bacanya apa sih hurufnya kok dobel dobel” kata anak itu sambil melihat tulisan di kertas yang tak sengaja ku jatuhkan.
“bacanya geni dek, tapi hurufnya emang GENNY” jawab gadis itu.
“ini nama mbaknya ya” tanya anak itu dengan penasaran.
“iya dek Ju…lio” jawab Genny dengan ragu saat menyebut nama yang tertera di baju anak kecil itu.
“eh.. mbak geni pasti baca di baju saya ya, baju ini saya nemuin di tong sampah orang, kalau nama asli saya Karno” kata anak kecil itu dengan polos, tutur katanya yang sedikit kejawen dengan bahasa yang santai menekan rasa canggung Genny.
“maaf ya saya enggak tahu, tapi kok masih ada ya di jaman sekarang ada anak kecil yang namanya karno” tanya Genny tak menyangka
“kalau nama karno yang memberi almarhum ibu saya, waktu nenek masih hidup dulu nenek pernah cerita ibu saya memberikan nama karno karena menginginkan saya menjadi anak yang sukses seperti bapak soekarno, dan setelah nenek sudah tidak ada saya baru merasakan jika nama Karno menguatkan saya saat saya berada pada masa masa sulit, saya selalu berjanji suatu saat nanti saya pasti bisa seperti bapak Soekarno atau bahkan lebih” kata Karno panjang lebar.
“wow.. nama kamu punya makna yang keren, tapi kamu harus tahu nama bukan jaminan sifat pemilik nama tersebut, banyak anak dengan nama yang bagus dan bermakna indah tetapi dia memiliki perilaku, sifat yang buruk, benar benar tidak sebanding dengan arti nama yang dia banggakan” nasihat genny panjang lebar sambil sesekali menikmati pemandangan yang masih bertabur air hujan.
“terus kalau nama mbaknya punya arti apa?” tanya Karno penasaran
“enggak tau dek, saya udah tinggal di panti asuhan sejak lahir, dan di panti asuhan enggak ada yang pernah bercerita tentang keluarga saya atau bahkan nama saya, kalau anak panti asuhan mayoritas dikasih nama asal asalan sama pengasuhnya, yang penting punya nama” kata genny dengan sedikit senyum
“o… gitu, tapi kalau anak panti asuhan kok bisa kuliah sih mbak, siapa yang membiayai semuanya?” tanya Karno
“begini ceritanya. Dulu saya diadopsi oleh seorang pengusaha saat smp kelas satu, tapi 1 tahun kemudian perusahaan ayah tiri saya bangkrut, saya dipaksa untuk berhenti sekolah dan dipaksa meminta minta di lampu merah tapi saya membangkang dan akhirnya melarikan diri. Saya bertemu dengan tukang parkir, bapak itu yang membiayai saya sekolah sampai lulus sma, awalnya saya berfikir enggak mungkin lah saya bisa ke perguruan tinggi, sekolah saja dibiayain orang lain tapi bapak itu selalu meyakinkan saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, dan sampai saya bekerja di pagi sampai sore hari dan kuliah malam hari” jelas Genny panjang
“ah andai saja aku bisa seperti mbak geni, aku takjub dengan mbak geni yang bekerja pagi dan kuliah sore”
“kamu bisa…” kata Genny meyakinkan
“saya yakin saya bisa” teriak Karno disusul dengan senyumnya yang sepertinya sudah lama tak pernah ia tunjukan kepada siapapun.
“kita pasti bisa menggenggam dunia” kata Genny
“meninggalkan nama yang tak terlupakan” sambung Karno
“hujannya sudah reda mbak, saya pulang dulu ya mbak” kata Karno
“kok buru buru” tanya Genny
“iya mbak takut nambah luka memar lagi mbak, kasihan bapak kalau harus mukul aku setiap hari” kata Karno tetap tersenyum, kata kata karno benar benar membuat Genny kaget
“ya sudah hati hati ya.. satu pesan dari saya jangan pernah takut untuk melangkah kamu harus lebih sukses dari pak Soekarno” kata Genny menutupi rasa tak percayanya
“saya janji mbak, saya beruntung bisa bertemu mbak geni di sini walaupun Cuma sebentar tapi saya bisa dapat inspirasi, makasih mbak” kata Karno sambil mengangkat keranjang besar yang berisi kentang
“sama sama Karno” salam Genny sambil melambaikan tangan pada Karno yang berjalan menjauhi rumah itu.
“hati hati nak doa ibumu ini selalu menyertaimu, ibu selalu ada di sampingmu” kata Genny yang sekarang berubah pada wujud aslinya yaitu sebagai orang yang telah memberi nama KARNO.

Cerpen Karangan: Idfia Mireda
Facebook: Idfia Mireda

Cerpen Ada Cerita di Balik Nama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Violet Magenta

Oleh:
Violet magenta. Betapa anganku terpenjara olehnya. Serupa lembayung langit mengurung cakrawala. Serupa alga-alga melukis kebiruan samudera. Di depan sana, warna itu mengelana. Sore bergelora. Pada geligir pasir. Pada geladak

Biarkan Waktu Yang Berbicara

Oleh:
Senin pagi, matahari yang baru beberapa waktu membuka matanya menampilkan sinar kuning terang menerobos lobang-lobang tirai jendela kamar kostku, yang aku sendiri pun tidak mengerti kenapa tirai ini berlobang.

Khayalan Masa Tua

Oleh:
Di kesunyiaan malam yang pekat tanpa bintang, tiba tiba secercah cahaya lewat di pandangan mata yang kini mulai menua. “ini masa laluku, ketika aku masih menjadi pemuda yang tangguh

Surau Yang Diwariskan

Oleh:
Sudah dua tahun, Tun ditinggal suaminya. Bukan uang dan juga rumah mewah yang diwariskan oleh suaminya, melainkan hanyalah sebuah gubuk yang dijadikan Surau oleh mendiang suaminya dan juga warga

Malin Tambang

Oleh:
“Nak, ingek pasan Bundo, satinggi-tinggi tupai malompek pasti jatuah juo. Kok hujan batu di nagari awak, hujan ameh di nagari urang, nagari awak tetap nan utamo. Dek ulah tangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *