Ada Cinta di Ampera

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 January 2014

Dini hari begini, masih saja kendaraan berlalu-lalang di jalan arah Jakabaring. Hembusan AC yang semilir ini membuat bulu romaku berdiri. Sudah tepat pukul dua, mata yang sebenarnya berat ini tak bisa kupejamkan. Aku baru saja selesai menerjemah buku dan mengedit sebuah majalah sekolah. Teman satu kamar juga sudah tertidur pulas. Hanya saja aku dan suara-suara kendaraan itu yang tersisa. Ampera kian indah bila malam hari. Sungai Musi di bawahnya memantulkan cahaya lampu dari Ampera, terasa seperti air yang kelap-kelip.

Kalau tidak ingat besok aku harus kuliah, kalau tidak ingat besok ada presentasi, kalau tidak ingat besok harus ke kantor penerbitan dan kalau tidak ingat besok masih banyak aktivitas yang kulalui, malam hari ini saja aku tidak akan tidur. Aku ingin memanfaatkan mataku untuk melihat pemandangan dini hari yang masih gelap gulita. Melihat kegelapan dini hari yang nampak terang karena cahaya lampu. Indah memang, terlihat seperti bintang dan kunang-kunang. Tapi aku harus tidur. Pukul sembilan harus sudah ada di tempat presentasi. Di depan dosen pula!

Hembusan AC yang dingin membuat selimut kutarik lebih tinggi. Fikiranku terasa terbang melayang entah kemana. Hingga sepertinya aku mendengar deringan sebuah alarm dan sedikit gemersik yang tiba-tiba membentak.
“Nda, bangun. Udah pagi tau!” seruan itu. Spontan aku langsung duduk.
“Astaga, kurang ajar banget sih loe. Jantungan nih lama-lama gue!” sahutku tak kalah seru.

Seketika itu aku langsung meraih handuk warna biru muda milikku. Hari ini aku kesiangan, seharusnya aku bangun pukul 5 tadi. Ini sudah lewat dua jam. Tak salat subuh, juga tak sempat mencuci baju. Aku hanya fokus dengan bahan-bahan presentasiku. Satu per satu barang yang akan kubawa kumasukkan dalam tas ransel. Sudah berisi laptop, flashdisk, buku-buku dan majalah yang baru saja selesai kuedit.

“Nda, please deh! loe tu kenapa sih? bisa pelan-pelan nggak? mata gue julingan, nih ngeliatin loe melulu!” ujar Desti, teman satu kamarku yang, yah bisa dibilang cerewet.
“Ya udah, nggak usah diliatin geh, susah amat!” sahutku tak kalah hebohnya juga.
Keadaan menjadi hening.
“Des, sepatu gue mana?” seruku memecah keheningan.
“Yee… mana gue tau! loe ‘kan yang punya, masa tanya sama gue” jawab Desti sewot.
“Makanya, loe kalo naro’ barang jangan asal. Tuh, gue taro’ di lemari paling bawah. Loe naro’nya di depan pintu kamar. Nanti kalo diambil orang loe juga yang kelabakan” jelas Nila, yang lebih perhatian padaku. Dia sudah seperti kakakku sendiri.
“Hee.. gue lupa naro’nya. Makasih ya, La” jawabku seraya meringis dan langsung meluncur ke luar.
“Huu, salam dulu kali, Nda. Langsung nganclong aja!” ujar Desti yang masih kudengar. Lalu kusahut, “Telat! yang penting kan loe tau gue udah berangkat!”

Sudah hampir setengah delpan pagi. Pantas, mobil pribadi sudah memenuhi jalur Ampera. Biasanya pukul tujuh lewat dua puluh lima bus trans Musi lewat sini. Aku kuatir tertinggal bus, karena ini sudah lebih dari jadwal kedatangan. Tapi aku berharap bus akan lewat, aku juga tahu bahwa jalanan sedang macet, pasti bus sedikit terlambat. Tapi aku beralih pikiran. Lebih baik aku memutar, naik angkutan umum saja lebih cepat. Meski aku tidak melewati Ampera. Kurasa waktunya cukup untukku menyerahkan majalah ini ke SMP Dharma Bhakti II-2, lalu aku meluncur lagi ke kampus dan siap presentasi.

Aku mulai memacu langkahku lagi. Tas yang cukup membeban ini membuat pundakku sedikit nyeri, belum lagi gulungan proposal di tangan kananku. Mungkin karena aku terlalu fokus melihat sebuah angkutan umum, juga karena aku berjalan dengan cepat dan tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. Tiba-tiba,
Braaakk!!
Aku menabrak seorang laki-laki, hingga lembaran proposalku tercecer di pinggir jalan. “OMG! proposal gue!” seruku. “Wah, gila loe. Jalan lihat-lihat dong! maen tabrak aja. Tu lihat! proposal gue kabur semua. Mana gue mau presentasi lagi. Wah, kacau nih. Tanggung jawab loe!” tambahku lagi dengan nada memuncak.
“Waduh, waduh… Mbak, saya juga lagi buru-buru nih. ini, juga mesti ada meeting sama klient. Maaf ya Mbak. Saya cuma bisa bantu mengambil lembaran kertas Mbak yang masih saja” sahutnya dengan lembut dan wajah yang tenang meski sedang terburu-buru. Ia lantas membungkuk di hadapanku, memunguti lembaran proposal milikku.
“Haaa… ni cowok baik banget ya, cakep lagi” pikirku.

Pria itu masih saja memunguti kertas yang berserakan di bawahku. Sedangkan aku hanya memandanginya sampai tak berkedip. Dia tampan, dari wajahnya dia terlihat cerdas dan pembawaannya tenang. Bicaranya halus, sekali lagi dia tampan! Hemm, benar-benar meluluhkan hatiku.
“Mas, Mas… nggak usah dipunguti kok. Saya masih punya software-nya. Maaf ya, saya nggak sengaja” tuturku. Baru pertama kali ini aku menyebut diriku ‘saya’ kepada orang yang belum kukenal. Apa lagi dia adalah laki-laki yang masih muda. Tapi yang ini benar-benar beda.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Maaf, Mbak. Saya permisi dulu” katanya lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum. Merasa kurang puas melihatnya, aku memutar kepalaku. Jalannya tegap dan postur tubuhnya tinggi. “Sempurna!” pujianku untuknya.

Tiiinn, tin… tin…!!!
“Mbak, buruan jalan dong!” keluh salah satu pengemudi.
“Astaga!!” kataku seraya meneplak dahiku sendiri.
Suara klakson mobil dan seruan pengemudi Pajero Sport mengejutkanku. Rupanya sedari tadi klakson mobil itu berseru, tapi aku baru sadar. Huft, gara-gara laki-laki tak kukenal itu, aku jadi seperti ini. Mudah sekali cinta membuai seseorang. Pantas saja, banyak yang gila karena cinta. Entah mengapa aku merasa telah jatuh cinta pada laki-laki itu. Padahal aku baru melihatnya. Bahkan aku tidak tahu namanya. Tapi kalau jodoh, aku pasti bertemu lagi dengannya di sini, di Jembatan Ampera. Jembatan penuh cinta yang pernah kusambangi.

Cerpen Karangan: Uli Mawaddah
Blog: http://ulimawaddah.blogspot.com

Nama: Uli Mawaddah
TTL: Lampung Tengah, 03 Mei 1998
Alamat: Tanjungsari, Lampung Selatan
FB: Anagara Uli
Twitter: @anagara_uli

Cerpen Ada Cinta di Ampera merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Terakhir Dari Surga IBTABU

Oleh:
Lihatlah ke arah pohon besar yang menancap di tanah itu, di sana terdapat bocah yang sedang memainkan seruling bambu dengan lambaian angin sepoi. Tanah yang disinggahi bocah berusia tidak

Sahabat Menjadi Cinta

Oleh:
“Selamat pagi anak-anak.” sapa seorang guru bahasa indonesia yang cantik berbadan kurus tinggi dengan kepala yang terbalut jilbab cokelat itu ketika memasuki ruangan kelas. “Pagi miss..” jawab murid-murid serentak.

Persahabatan yang Sempat Terputus

Oleh:
Pagi yang cerah bersama kabut dan air embun membuat hati merasa gembira.rasa gembira itu ada di dalam hati tiga remaja ini.mereka adalah tika,aliya,dan iva. Mereka bertiga sudah sahabatan sejak

Gadis Berpayung Senja (Part 2)

Oleh:
Aku mulai tersadar, dan telah terbangun dari perjalanan indah mimpi semuku bersama gadis berpayung mendung senja. Aku telah membuka mata setelah sekian lama terpejam menikmati malam indahku, berkelana menanti

Bukti Cintaku Yang Tulus

Oleh:
Malam itu seperti biasa aku bermain dengan BB bold ku sambil tidur-tiduran di atas kasur kecilku yang selalu memberi kenyamanan disaat aku kelelahan, sembari menunggu pacar ku pulang kerja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *