Ada Yang Pergi dan Kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 20 September 2014

“Mereka selalu berjuang demi beberapa lembar rupiah yang halal. Dengan cara apa pun asalkan halal. Setiap harinya berjuang demi menafkahi keluarga. Mereka bukan kepala atau Ibu rumah tangga, tapi mereka anak-anak dari keluarga sederhana yang selalu terdesak kemiskinan. Apakah mereka sempat bahagia di kala peluh menetes seraya rasa nyeri dan pegal memenuhi tubuh setelah seharian membanting tulang demi lembaran rupiah. Sempatkah?” by Rain.

Gadis itu terbangun saat suara adzan subuh menyelinap di sela-sela tembok anyaman bambu. Sudah banyak sela-sela lembar bambu yang tidak lagi mengait kuat dan rapat, karena itulah angin sering menyusup licik yang setiap malam membuat Wulan meringkuk menggigil kedinginan di atas ranjang bambu. Rumah reyoknya ini tak ubahnya seperti gubuk bambu tua yang kapan saja bisa roboh karena hujan badai atau gempa bumi.

Gadis bernama Wulan ini masih belia. Masih bersetatus pelajar di tingkat SMA, mungkin inilah perjuangannya dalam menuntut ilmu. Ia tinggal bersama Ibu dan kakaknya. Ibunya yang sudah hampir sepuh itu telah letih dan teramat lelah untuk sekedar mercari sekeping atau selembar uang, apalagi suaminya telah meninggal sejak Wulan duduk di bangku satu sekolah dasar. Begitu besar beban yang harus dipikul orangtua itu, tapi ia bersyukur mempunyai dua anak yang begitu berbakti kepadanya. Tanpa sedikit pun mengeluh Wulan dan Marni kini menjadi tulang punggung keluarga.

Dengan tubuh menggigil Wulan beranjak mengambil air wudhu kemudian Ia tunaikan sholat subuh dengan kusyuk. Di keheningan pagi yang teramat dingin, dipanjatkannya do’a untuk Sang Pencipta. Dalam do’anya terucap permintaan ampun terhadap dosa-dosanya, sekeluarga dan puji syukur yang sangat besar kepada Allah, Tuhannya. Tidak lupa ia sebutkan permintaannya, agar diberi kesabaran dan ketakwaan yang teguh, serta rezeki yang diridhai oleh Allah. Ia juga meminta agar keluarganya selalu dalam lindungan-Nya dan selalu diberikan kesehatan, serta kesembuhan untuk Ibunya yang tengah sakit. Air mata pun sempat menetes beberapa kali, membuat mata indahnya sebab dan wajah cantiknya basah. Ia akhiri do’a-nya seraya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Ia hapus air matanya sembari bangkit, dirapikannya rukuh dan sajadah yang kemudian dimaksukkannya ke dalam ransel agar nanti ia bisa menunaikan ibadah sholat di sekolah. Baginya tidak ada waktu untuk bermalas-malasan atau bermelankolis dengan pedihnya hidup ini.

Waktu sangatlah berharga, sebentar saja ia bermalas-malasan maka rugilah dia di hari ini, sebab hidupnya tidak semudah para remaja lain. Wulan berbeda. Bagi keluarganya setiap hari adalah perjuangan hidup untuk merauk sesuap nasi, yang kadang sangat sulit didapat. Jadi seperti inilah Wulan. Tanpa ia sadari dirinya telah terdidik sangat mandiri dalam menjalani kehidupan yang kian hari kian terasa pahit di hati.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi dan kini Wulan sudah rapi dengan potongan seragam sekolah serba putih bersih, sangat cocok dengan kulit kuning langsatnya yang bersih. Ia melirik jam dinding tua hasil pungutannya di tempat sampah yang ditempelkan di dinding bambu. Agak sulit ia melihatnya, sebab sumber penerangan yang ada di kamarnya hanyalah sebatang lilin yang dinyalakan sejak ia akan sholat subuh tadi. Sesaat cahaya api lilin yang temaram menerpa wajah cantik nan manis yang dibalut rapi kerudung putihnya.

“Mak, Wulan berangkat sekolah ya.” kata Wulan sambil mencium tangan Ibunya.
“Iya Is, hati-hati di jalan ya.” jawab sang Ibu.
“Assalamu’alaikum.” Wulan tersenyum khawatir saat akan berangkat, sebab ia tak tega meninggalkan Ibunya yang sedang terbujur lemas di atas ranjang bambu itu. Sakit yang diderita wanita tua itu memang terkadang kambuh dan seperti inilah jika penyakitnya kambuh.
“Wa’alaikum salam.” jawab Ibunya lirih dan sedikit serak, seperti mengisyaratkan pada Wulan agar tetap tinggal untuk menemaninya. Membuat Wulan menjadi berat melangkahkan kakinya menuju sekolah. Namun Wulan harus segera berangkat, Lagi pula masih ada Marni yang akan merawatnya.

“Wulan, ini soerabinya.” ujar Marni sambil menyondorkan tampah wadah serabi yang masih hangat.
“Iya Kak.” sahut Wulan menerimanya sambil menyunggingkan sebesit senyum.
“Semoga hari ini laris ya Is.”
“Iya Kak, amin. Ya udah Wulan berangkat. Assalamu’alaikum.” Wulan mencium tangan kakaknya.
“Wa’alaikum salam. Hati-hati.” Wulan mengangguk pelan dan beranjak melangkahkan kaki menuju sekolahannya. Setiap hari ia membawa serabi buatan Marni, kakaknya untuk dijual di sekolah sewaktu istirahat atau setelah pulang sekolah. Inilah salah satu pekerjaannya yang bisa menghasilkan beberapa lembar rupiah penyambung hidup. Sedangkan Marni sendiri berkerja serabutan seperti mencucikan dan menyetrika baju tetangga. Walau hasilnya tidak seberapa, tapi yang pasti ia akan mendapatkan beberapa keping atau lembar rupiah yang sangat berharga. Namun sekarang ia tidak bisa kerja serabutan seperti itu, karena Ibunya sedang sakit dan ia harus selalu menjaga dan merawatnya.
Terkadang Wulan dan Marni merasa semakin hari semakin sulit mencari rupiah, namun semangat mereka tidak pernah padam. Seakan terus terbakar bersama kesabaran dan ketekunan yang menghasilkan sebuah kenikmatan bagi keluarga sederhana mereka.

Perjalan menuju sekolah adalah salah satu dari sekian banyak kepedihan yang selama ini ia rasa, karena ditempuh hanya dengan jalan kaki. Padahal jarak rumah ke sekolah tidaklah dekat. Ia selalu bersyukur, karena telah diberi dua kaki yang kuat dan kesabaran yang kian melatihnya untuk semakin memperkuat imannya kepada Tuhan hingga kini menjadikannya seorang wanita sholeha, idaman para ustad muda. Bukan hanya jarak tempuh yang jauh saja, tapi terkadang fisiknya juga tidak kuat untuk berjalan terlalu lama. Apalagi ia membawa tampah, tempat mejajankan serabinya.
Jika dirasa kakinya mulai pegal atau tubuhnya terasa lelah, ia akan berhenti barang sejenak di tempat teduh, pinggir jalan. Waktu istirahatnya pun tidak boleh lama, apalagi bermalas-malasan. Bisa-bisa ia terlambat masuk sekolah.

Kini pun ia tengah beristirahat di pos ronda dekat jalan raya. Wulan meminum beberapa teguk bekal air minumnya. Keringat membasahi wajahnya yang nampak letih dan khawatir. Ia bersihkan peluhnya dengan sapu tangan dan mulai bangkit untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin semua ini sudah takdirnya, namun tidak dipikirkannya, yang ada di pikirkannya hanyalah terpunuhnya kebutuhan keluarga.

Sebenarnya ada angkot sebagai transportasi alternatif dan tarifnya pun lumayan ekonomis. Namun menaikinya seminggu sekali saja sudah menjadi hal mewah baginya, karena tidak adanya biaya. Pada hari seninlah ia bisa merasakan hal mewah itu. Wulan merelakan uang jajan hasil keringatnya sendiri untuk bisa menaiki angkot. Ia memilih hari senin karena pada hari itu pasti ada upacara bendera dan agar menghemat waktu dan tenaga.
“Assalamu’alaikum.” ujar Wulan sembari menyalami guru yang tengah mengajar di kelasnya.
“Wa’alaikum salam.” jawab sang guru dan teman-teman sekelas Wulan.
“Maaf saya terlambat lagi.” Wulan tertunduk.
“Iya tidak apa-apa, silahkan duduk.” ujar guru itu sambil tersenyum mengerti. Lantas Wulan bergegas menaruh tampah wadah serabi di meja belakang yang tidak ditempati dan menutupinya dengan kain. Tidak ada yang melarang Wulan untuk berjualan di sekolah, asalkan ia berjualan pada jam istirahat. Bahkan banyak yang menyukai kue serabinya dan setiap hari selalu saja laris. Membuahkan beberapa keping atau lembar rupiah penyambung hidup. Berapa pun yang didapatnya ia selalu bersyukur kepada Allah atas nikmatNya ini.

Hari ini kue serabinya ludes diserbu para teman-temannya dan beberapa guru. Ia hitung hasil jualannya hari ini. Matanya berbinar dan sebesit senyum merkah di wajah cantiknya.
“Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah. Akhirnya aku bisa membelikan Emak obat.” tuturnya sambil menyimpan uang hasil jualan serabi itu di dompetnya. Sepulang sekolah ia langsung menuju apotik. Ia berjalan dengan pasti dan penuh semangat. Sembari tadi senyumnya terus saja merkah bersama angan tentang kesembuhan Ibunya. Sore ini jalan yang menuju apotik itu lenggang, hanya ada Wulan yang berjalan sendirian. Entah apa yang dia rasakan, tapi tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.
“Auwww!” rintihnya. Jari Ibunya tergores oleh sebitan bambu yang tajam mencuat lepas dari kaitannya. “Pertanda apa ini, kenapa perasaanku tidak enak seperti ini.” tiba-tiba pundaknya disentuh oleh tangan seseorang dari belakang. Langkah kaki Wulan terhenti seketika dan ia menoleh ke belakang. Seketika terkejutlah dia. Wajah yang tadi ceria sekarang berubah drastis menjadi mimik ketakutan yang teramat. Tubuhnya bergetar ketakutan, tampah yang sembari tadi ia bawa kini melesat jatuh menggelinding sesaat di jalan.
“Abang mau apa dengan pisau itu?” tanya Wulan terbata-bata ketakutan sembari menelan ludah.
“Berikan uangmu!” bentak pria penodong itu.”Cepat!”
“Sa… Saya tidak punya uang!” sahut Wulan lirih dengan suara bergetar.
“Dasar wanita jal*ng keras kepala!” maki preman jalanan itu sambil mendekatkan pisau tajamnya ke wajah Wulan.
“Saya benar-benar tidak punya uang Bang!” ujar Wulan semakin ketakutan.
“Dasar keras kepala kau! Terpaksa ku gunakan cara kasar!” bentak preman itu sambil menggigit pisaunya dan mencengkram tangan Wulan. Dengan cepat dikuncinya kedua tangan Wulan di belakang punggung. Wanita malang itu meronta-ronta sekuat tenaga sambil berteriak. Tidak bisa ia tahan lagi, dan tangisnya pun pecah bersama ketakutan yang teramat sangat. Dengan cepat preman itu membungkam mulut Wulan dengan telapak tangan kanannya yang terbalut sarung tangan kulit.
“Awww, gigit aja terus itu kulit buaya, hehehe!” sentak preman itu dengan tawa jahat dari mulutnya yang sengaja didekatkan di samping telinga kiri Wulan. Wanita itu terus saja memberontak sekuat tenaga untuk berusaha mencari celah dari cengkraman jahat si preman jalanan ini.
“Percuma sayang, aku sudah terlatih dengan cara kasar seperti ini, hahaha!” ujar preman itu. “Maaf jika ini akan sedikit membuatmu sakit, tapi tenang aku bukan preman yang suka merampas keperawanan wanita, bahkan aku masih perjaka hingga detik ini.” tambahnya sambil membenturkan kepalanya ke kepala Wulan dengan keras, membuat wanita malang itu berkunang-kunang dan akhirnya tidak sadarkan diri. Preman itu bergegas menggledah saku-saku pakaian Wulan dan ditemukannya dompet lusuh yang berisi beberapa lembar uang. Walau hanya sedikit, tapi tetap saja ia mengambilnya.
“Dasar wanita jal*ng yang miskin. Tapi lumayan buat pesta nanti malam, hahaha!” gumam preman itu sambil membopong tubuh Wulan yang lemas tidak berdaya menuju sebuah taman yang indah, tapi sepi. Dibaringkannya tubuh Wulan di sebuah kursi panjang yang ada di taman itu. Preman itu merapikan pakaian dan krudung Wulan sambil tersenyum aneh.
“Maafkan aku Wulan.” ujar preman itu lirih sembari mengecup kening Wulan dengan penuh kasih sayang. Preman itu pergi meninggalkan Wulan yang terkulai lemas tidak sadarkan diri dengan langkah gontai dan sesekali menoleh ke belakang untuk sekilas melihat Wulan.

Malam menampakan kegelapan dan kesunyiannya. Tidak ada purnama atau pun gemintang, yang ada hanya kumpulan awan hitam, pertanda akan hujan. Wulan melangkah gontai menyusuri jalan menuju rumahnya dengan mata sayu dan nyeri yang masih terasa di kepala, karena kekasaran preman yang menodong dan merampas uangnya tadi sore. Sembari tadi saat ia mulai tersadar, air mata terus saja membasahi wajahnya. Ia sangat kecewa dan merasa bersalah karena tidak bisa membelikan obat untuk Ibunya.
“Maafkan anakmu ini Emak, aku pulang tanpa obat untukmu.” tutur Wulan dengan rinai air mata yang kian deras.

Tampak aneh. Rumahnya dikerumuni para warga desa. Cahaya-cahaya terang dari beberapa lampu nion yang panjang membuat area rumah itu terang. Kepala Wulan kini dipenuhi tanda tanya besar tentang apa yang terjadi di rumahnya. Rasa penasarannya bagai kilat yang menyambar dirinya. Membangkitkan sebuah kekuatan yang mampu membuatnya berlari. Banyak wajah-wajah sedih saat ia ada di tengah-tengah kerumunan tetangga yang berada di teras, membuat hatinya semakin getir akan apa yang sedang terjadi.

“Pak ada apa ini?” tanya Wulan pada tetangganya. Namun tidak ada jawaban. Sesaat ia pandang wajah-wajah sedih orang di sekitarnya.
“Kamu yang sabar ya Nak.” ujar beberapa tetangganya sembari meninggalkan rumahnya. Semakin getir hatinya, air mata yang tadi sempat terbendung sesaat kini kembali mengalir deras bersama apa yang ia pikirkan tentang keadaan Ibunya.
“Tidak! Jangan-jangan Emak!” Wulan langsung berlari ke dalam rumah. Namun di ruang utama sudah banyak sekali para tetangga yang mendo’akan sebuah mayat yang berada di tengah-tengah ruangan yang sekujur tubuhnya ditutupi dengan kain jarik. Marni yang melihat Wulan datang langsung menghampirinya dan memeluknya erat.
“Itu bukan Emak kan Kak?” tanya Wulan lirih dengan tubuh bergetar.
“Wulan, Emak sudah tiada. Allah sudah memanggilnya.” jawab Marni dengan air mata yang mengalir deras di wajah penuh kepedihan. Wulan menghampiri Ibunya yang telah terbujur kaku tidak bernyawa dengan tangis yang semakin jadi. Tangis yang sangat miris. Siapapun yang mendengarnya pasti akan ikut kalut dalam kepedihan yang dirasakan kakak beradik itu.
“Maafkan anakmu ini Emak, Wulan tidak bisa membelikan obat untukmu. Dan apa aku…”
“Wulan, sudah.” ujar Marni lirih sembari merangkuh tubuh adiknya yang bergetar. “Ikhlaskan Emak, agar beliau bisa tenang di alam sana.” Wulan mengangguk pelan sambil menutupkan kembali kain jarik pada mayat Ibunya. Ia peluk lagi kakaknya. Perasaan mereka sama, perasaan kehilangan yang sama. Kehilangan satu-satunya orangtua yang masih ada. Mereka hanya bisa mengikhlaskan kepergian Ibunya, karena ini adalah sebagian dari rencana Sang Pencipta.

Hujan, entah mengapa turun ke bumi saat wanita tua tanpa nyawa itu dikebumikan. Tempat pemakaman umum itu ramai dengan orang-orang berpakaian gelap yang terlihat sedih wajahnya. Banyak yang menitikan air mata. Tanah kuburan orangtua itu baunya semerbab wangi bunga mawar.

Setelah acara do’a bersama selesai, pemakaman itu kembali lenggang. Tinggal Wulan dan Marni yang sembari tadi air matanya mengalir deras bersama semua rasa kehilangan.
“Wulan, sudah. Ikhlaskan Emak, kita tidak boleh sedih-sedihan terus. Agar Emak tenang dan bahagia di alam sana. Kita do’a-kan saja, semoga Emak ditempatkan di surga terbaikNya.” kata Marni menghapus semua air matanya dan menahannya. Wulan yang melihatnya ikut melakukan hal yang sama seperti kakaknya dan kemudian mereka panjatkan lagi ayat-ayat do’a yang diakhiri dengan kata ‘Amin’. Wulan kembali tersenyum seraya redanya rinaian hujan yang meninggalkan hawa dingin. Mereka bangkit dan beranjak meninggalkan pemakaman itu, tapi saat mereka berbalik ada seorang pemuda berpakaian lusuh layaknya preman jalanan. Ia diam memaku, matanya merah, air mata terus mengalir keluar dan menetes di tanah. Dialah yang kemarin menodong Wulan saat akan membeli obat untuk Ibunya.
“Kamu?” ujar Wulan dengan tatapan tajam menyelidiki. “Kenapa kamu di sini? Mau memeras aku lagi? Dan kenapa kau menangis?” tiba-tiba pemuda itu bersujud di depan Wulan dan Marni. Ia merangkul kaki mereka.
“Maafkan aku.” ujar pemuda itu dengan air mata yang terus mengalir deras. Dengan kasar Marni, menendang pemuda itu dengan kaki kanannya. Membuat pemuda itu tersungkur ke belakang, walau begitu ia tidak putus asa. Ia kembali merangkak mendekati mereka, sekali lagi kaki mereka dipeluknya.
“Adik-adikku, maafkan kakakmu ini.” ucapnya memohon. Seketika Wulan terkejut mendengarnya dengan beribu tanda tanya di kepala.
“Hah, kamu bilang apa tadi? Adik? Kakak? Sebenarnya kamu ini siapa?”
“Aku Mahmad, anak dari almarhum Emak Inah dan almarhum Pak Darman.” ujar pemuda yang bernama Mahmad itu. Air mata menetes lagi dari mata Marni yang sejak tadi memandang Mahmad. Wulan hanya terdiam dengan beribu pertanyaan di kepala yang ia tahan.
“Kau benar-benar tau apa kesalahanmu selama enam belas tahun ini. Di mana kau selama ini?” ujar Marni.
“Aku mengakui selama enam belas tahun ini, aku tak ada untuk keluarga. Aku durhaka, hina, keparat, tak tau diuntung, dan bajingan yang merampas uang orang lain. Maafkan aku. Kakak menyesal telah mengambil jalan yang salah.” Mahmad semakin mempererat rangkulannya. Sesaat mereka hanya terdiam bersama isak tangis. Marni, wanita yang dulu melihat sendiri kakaknya itu pergi kini merasa iba. Hatinya hancur, terbakar api amarah, tapi mata pria yang bersujud kakinya ini meredam semua amarah. Hingga muncul rasa iba dan kasihan. Hening sesaat. Mereka masih setia dengan tangis masing-masing.

“Kakak. Kami selalu memaafkanmu. Selalu ada tempat untukmu di sisi kami, tapi mintalah maaf dulu dari Bapak dan Emak.” kata Marni sembari merendahkan diri dan melepaskan pelukan tangan pemuda itu di kakinya.

Mahmad merangkul nisa Ibunya seraya menciuminya dengan air mata yang terus mengalir deras dari dua mata sayu kemerah-merahan karena efek dari miras yang diminumnya saat pesta miras semalam. Air matanya menetes ke tanah kuburan yang masih baru itu dan meresap ke dalam, lebih dalam, lebih dalam lagi. Dan hingga menyentuh Ibunya yang ada di liang kubur. Setelah dirasa sudah puas memeluk nisan Ibunya, ia berganti peluk nisan Ayahnya. Air matanya menetes jatuh di nisan Ayahnya dan mengalir ke bawah menuju tanah, mungkin juga meresap hingga menyentuh Ayahnya.

“Bapak, Emak. Maafin Mahmad yang durhaka kepada kalian. Aku menyesal dulu telah meninggalkan rumah setelah Bapak pergi. Dan sekarang aku semakin durhaka, karena aku tidak ada disaat Emak pergi. Maafkan anakmu ini Bapak, Emak. Mahmad benar-benar menyesal.” Mahmad berhenti sejenak seraya merangkak ke tengah-tengah, di antara kuburan Ayah dan Ibunya. Ia rangkul erat tanah kuburan mereka sambil tertunduk bersujud dan dilantunkannya do’a untuk mereka. Wulan dan Marni yang menyaksikannya ikut kalut di antara perasaan yang bercampur aduk tak menentu. Air mata keharuan menetes perlahan, mengalir di wajah mereka dan senyum mulai merkah seraya cahaya sang mentari menyapa dari balik awan.
“Kakak.” panggil Wulan.”Kemarilah.” Mahmad yang sudah puas dengan permintaan maaf dan do’anya itu beranjak bangkit dan menghampiri kedua adiknya dengan langkah gontai dan mata sayu, serta air mata yang masih membasahi wajahnya.
“Kakak.” panggil Marni. “Kemarilah.” tubuh Mahmad langsung didekap dua wanita itu dengan hangat.
“Maafkan kakak.” pinta Mahmad. “Maafkan aku yang hina ini, adik-adikku.”
“Kita selalu memaafkanmu.” jawab Marni.
“Terimakasih, Wulan kau juga memaafkan kakakmu yang kasar ini kan?” kata Mahmad sambil merenggangkan pelukan mereka.
“Iya Kak, sudah Wulan memaafkan sebelum Kakak memintanya.” jawab Wulan seraya menghapus semua air matanya.
“Terimakasih, kalian adik-adikku yang baik. Aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian lagi. Aku berjanji.” ujar Mahmad seraya menghapus air matanya. “Mari kita pulang ke rumah.” tambahnya dengan sebesit senyum.
“Mari.” sahut Marni juga menghapus semua air matanya. Dengan penuh keharuan mereka mengucapkan salam, berpamitan pulang pada orangtua mereka yang telah bahagia di alam sana.

Ada perasaan kehilangan yang teramat dalam di hati mereka, tapi ada seseorang yang kembali ke dalam keluarga mereka. Menjadikan obat kepedihan untuk mereka yang kini telah yatim piatu. Sekarang telah kembali, sang Kakak yang dahulu pergi entah mengapa dan kenapa? Mereka bertiga kini saling melengkapi satu sama lain, berjuang bersama dan merasakan kepedihan hidup bersama-sama. Hingga mereka lupa tentang kepedihan, karena gelak tawa kebersamaan selalu mewarnai hari-hari sederhana mereka.

Kebahagiaan tidak datang setelah semua seperti yang diinginkan terwujud, akan tetapi bahagia datang karena ada seseorang yang melengkapi kekurangan hidup dengan kebersamaan yang erat, serta cinta yang ada di hati digunakan untuk saling menyayangi satu sama lain. Hingga mewujudkan ikatan hati yang erat. Akan tetapi ada yang lebih tepat dari untaian itu. Yaitu, kebahagiaan ada karena rasa bersyukur atas apa yang telah ada dan tidak berfikiran bahwa Tuhan itu tidak adil, karena Tuhan selalu adil pada semua mahkluknya.

Cerpen Karangan: Garin Afranddi
Facebook: Garin Afranddi

Cerpen Ada Yang Pergi dan Kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takkan Sama

Oleh:
Namaku Andi, aku adalah siswa kelas 8. Aku memiliki seorang kakak laki-laki bernama Adit. Dia 4 tahun lebih tua dariku. Tapi hubunganku dengannya tak seharmonis yang dibayangkan. Mungkin banyak

Impian dalam Karantina

Oleh:
“Mereka bilang impianku terlalu besar. Aku bilang mereka yang berfikir terlalu kecil” Dulu, aku membuka telingaku untuk mereka. Tapi sekarang.. Tidak! Aku tak ingin mendengarnya lagi. Aku yakin, proses

Wasiat Cinta

Oleh:
Putra namamu. Untuk pertama kalinya kau titip salam kepadaku lewat sahabatku, Maya namanya. Waktu itu dan sekarang sangat berbeda. Kali ini aku bahagia, aku telah tahu semua kebenarannya. Aku

Itu Bukan Milik Mu Nak

Oleh:
Suatu hari di pagi itu sekitar pukul 06.30 saat dimana anak sekolah semuanya mulai bergegas berangkat menuju ke sekolahnya. Namun tiba-tiba ada terdengar suara orang yang dipukul, dan ternyata

Simpul Senyum di Dusun Bengalun

Oleh:
Sebagai hati yang tertinggal di dusun bengalun, ada simpul senyum yang menanti di seberang lautan sana. Sudah dua hari Renita habiskan waktunya untuk menganyam. Daun pandan kering yang entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *