Air Mata Ke Seribu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 June 2016

Kabar pernikahanmu sudah sampai padaku, sayang. Undangan merah jambu dengan motif bunga-bunga kecil terasa manis menghiasi pinggiran kertas. Tak terasa sudah 25 tahun sejak hari itu. Bahkan aku tidak tahu bagaimana wajahmu. Kau masih terlalu kecil, sayang. Untuk mengerti keadaanku ataupun untuk menerima nasibmu.

Aku sudah di dalam bus saat ini, surat kecilmu yang memintaku datang adalah satu-satunya keberanianku untuk datang ke pernikahanmu. Surat itu pun masih ku genggam saat ini di tanganku. Tanganmu menyentuhnya beberapa hari yang lalu. Tangan kecil dulu yang ku lepas. Aku tau tangan itu telah berubah menjadi tangan seorang wanita anggun, terpelajar dan cantik.

Tapi sayang, bagaimana aku harus menghadapimu nanti. Bagaimana jika kau bertanya mengapa aku meninggalkanmu? Bagaimana seorang ibu bisa meninggalkan bayinya yang baru berusia 40 hari? Ah, sayangku. Apa yang harus ku katakan padamu. Bahkan aku pun tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Tidak ada yang tau betapa menderitanya diriku hidup tanpamu. Kau berada di rahimku selama 9 bulan, kau adalah satu-satunya hal terbesar yang pernah ada di hidupku yang sangat sempit.

“Lalu, mengapa kau meninggalkanku ibu?”
Itu pertanyaan yang sampai sekarang aku tidak tau jawabannya. Andai kau tau, aku hanya gadis miskin perantauan yang tak tau bahwa kota itu sangat kejam. Ke kota, pekerjaan yang bisa ku dapatkan hanyalah sebagai seorang pembantu. Baca tulis sangat minim, tanpa pendidikan memadai. Seseorang memberiku pekerjaan di sebuah rumah mewah dengan membayar beberapa uang. Itulah rumah ayahmu. Ayahmu seorang tuan yang sangat kaya dan ternama. Aku tak menyadari kalau suatu hari dia mendatangiku dalam keadaan mabuk. Nyonya rumah saat itu sedang pergi. Nyonya rumah memang selalu pergi. Aku membopong ayahmu sampai ke dalam kamar. Lalu hal buruk terjadi padaku. Todongan sebuah pistol membuatku bungkam. Membiarkan ayahmu melakukan dosa yang sangat besar. Berkali-kali dosa itu terjadi namun aku tetap diam.
Hingga suatu hari aku tau kalau aku sedang mengandungmu. Bukan perlakuan baik tapi cacian dan umpatan sumpah serapah yang keluar dari mulut lelaki itu. Tapi lagi-lagi aku hanya diam. Mungkin akulah perempuan terbodoh di dunia ini. Aku memilih untuk tidak lari dan menerima perlakuan buruk dari ayahmu.

Air mata ke seribu ini adalah air mata terakhirku. Ku teteskan untuk yang terakhir disini, di dalam bus ini. Saat aku melihatmu menikah nanti, dan kau memanggilku ibu, aku berjanji tidak akan ada airmata lagi dalam hidupku.Tak peduli semua orang di bus ini melihatku.. Aku pun tak menjawab pertanyaan lelaki yang duduk di sebelahku, mengapa aku terus menangis. Lelaki yang baik, pikirku. Dia terlihat sangat lusuh menenteng tas plastik hitam penuh di pangkuannya.

Saat aku sampai di kotamu, aku akan datang dengan senyuman. Bukan tangisan seperti perpisahan kita saat itu. Tangisan mungilmu, yang ku tinggalkan di depan rumah ayahmu dengan kereta bayi lengkap dengan perlengkapan mewah ang diberikan ayahmu. Aku tak membenarkan perbuatanku yang meninggalkanmu. Tapi ayahmu adalah seorang terpandang dan kaya. Dan kau adalah putrinya. Kau berhak mendapatkan nama baik ayahmu. Apa jadinya dirimu kalau kau ku bawa serta. Rasa lapar dan terhina adalah kehidupan kita sehari-hari. Biarlah tuhan menghukumku asal kau tidak menjadi sepertiku. Biarlah dosa ini menjadi milikku tapi aku melihatmu bahagia.
Ku dengar kondektur bus berteriak untuk bersiap-siap turun karena bus akan segera tiba di terminal kotamu.
Ibumu ini akan segera dapat melihatmu sayang. Ibu akan datang.

Terdengar kegaduhan dan teriakan ngeri disana. Orang berteriak menyebut nama tuhan. Kobaran api tersebar di segala penjuru. Darah-darah kering karena terbakar menjadi anak sungai yang berserakan. Belum lagi daging-daging manusia berceceran. Di suatu sudut, seorang gadis muda dengan pakaian pengantin menangis memanggil ibunya. Di sampingnya telah terbujur mayat seorang perempuan paruh baya yang tak lagi utuh. Perempuan miskin dengan sebuah undangan dan note kecil di tangannya bertuliskan, “Datanglah ibu…”. Bus Mekar Jaya Sakti menjadi sasaran teroris kali ini. Diduga pelakunya adalah seorang lelaki dengan pakaian lusuh membawa tas plastik hitam yang diduga adalah sebuah bom rakitan. Lelaki itu tewas setelah melakukan aksi bom bunuh diri.

Cerpen Karangan: Ella Hamada

Cerpen Air Mata Ke Seribu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pica

Oleh:
Malam itu, tidurku diganggu dengan suara tangis Insan yang hampir merobek gendang telinga. Aku segera mengambil bantal untuk menyumpal telinga; berisik. Insan memang anak tidak tahu aturan, aku membenci

Abu Ibu

Oleh:
Aku melamun di pinggir jendela kamar sembari mengingat peristiwa yang telah membuat kehidupanku menjadi kelam, gelap, tenggelam, hingga karam. Melihat anak-anak kecil mungil sedang bermanja-manja dengan ibunya, aku sempat

Si Kembar Go To Paris

Oleh:
“kak, kira kira bisa gak ya kita ke paris?” ucap jaky “bisa kalau ada uangnya” jawab jake. “yahhh aku coba aja gratis” sambung jaky “jaky zaman sekarang itu gak

Satir

Oleh:
Kumandang Adzan shubuh merobek ufuk fajar membangkitkan jasad serta insan, mereka yang sadar akan kewajiban tak akan, tersumbat kemalasan oleh bising bisik sayitan, berkat adzan shubuhlah ruhku dapat terseret

Dibalik Duka ku ada Duka yang lain

Oleh:
Saat itu rencana keluargaku berlibur ke Pulau Bali. Aku sangat bahagia, karena selama ini aku hanya bisa mendengar cerita teman–temanku yang pernah ke sana, atau melihat di internet situs–situs

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *