Akan Kuhapus Air Matamu, Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 31 July 2021

Awan putih menggumpal bergerak sedikit demi sedikit di bawah selembar langit luas berwarna biru cerah. Aku terduduk di atas kasurku dengan kepala menoleh keluar menatap ke langit indah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Ibu sudah berkali-kali memanggilku – anak satu-satunya – untuk menuju dapur, menyantap sarapan pagi yang sudah 20 menit dia siapkan.
Aku belum berkutik, mataku masih berkutat memperhatikan indahnya karya Tuhan. “Wow” Batinku sembari melihat pergerakan awan.

“Ibu sudah bilang kan dari tadi. Kenapa kamu belum turun?” Aku menoleh kaget ke arah pintu terbuka dengan wajah marah Ibu.
Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal, lalu lekas turun dari kasur.

“Negara menghabiskan banyak dana untuk masalah virus ini.” Ujar Ayah setelah membersihkan mulutnya dengan tisu bersih 3 lembar.
Aku hanya mengangguk malas. Wajar saja, aku baru akan menuju kursi kelas 1 SMP. Aku belum begitu peduli dengan masalah keuangan atau apalah itu.
“Jadi, Ayah akan tetap bekerja?” Tanyaku sembari melihat Ibu yang sibuk merapikan dasi Ayah.
“Lalu, mau dapat banyak rupiah darimana kalau nggak kerja?” Ibu menjawab setelah menepuk bahu Ayah pelan.
Aku hanya cengengesan.

Aku duduk di depan laptop hitam bekas Ayah yang dia berikan untuk menunjang belajarku selama pandemi. Aku belum menghidupkan laptopnya, pikiranku masih penuh dengan masalah lain. Padahal, anak seusiaku tidak mungkin punya beban hidup seberat itu.

Ibu duduk mendekatiku, memberikan sepiring biskuit cokelat dan segelas susu vanilla. Aku menoleh ke arah Ibu lalu cepat-cepat menghidupkan laptop.
“Ada masalah apa?” Tanya Ibu dengan suara pelan.
“Bu, Ibu Pertiwi itu Indonesia ya?”
Ibu tersenyum kecil.
“Pertanyaanmu persis seperti pertanyaan Ibu kepada nenek. Saat Ibu seusiamu, Ibu sering sekali mempertanyakan siapa itu Ibu Pertiwi.”

Bola mata cokelat redup milik Ibu menatap lekat ke arahku. Aku tak bisa berhenti menatap mata seorang Ibu yang sudah merawatku sampai usiaku sekarang. Kupikir, Ibu Pertiwi adalah panggilan untuk seluruh Ibu di dunia. Ternyata, hanya milik Indonesia seorang.
Aku teringat dengan pelajaran IPS, pelajaran paling membosankan menurutku. Padahal, sejarah Indonesia adalah hal penting yang harus ada diingatan setiap insan di Indonesia.

Aku berbaring di atas kasurku setelah menyelesaikan tugas karangan. Aku menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih bersih. Aku mulai menyukai pelajaran IPS semenjak aku hanya terdiam di rumah saja.
“Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Cut Mutia….” Batinku mengingat nama-nama pahlawan wanita Indonesia.
Menurutku, perjuangan seorang wanita memang berat. Apalagi di zaman berpuluh-puluh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan.
Setiap mendengar kata Ibu Pertiwi, hanya wajah Ibu yang ada di pikiranku.

“Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada periode Agustus 2020, jumlah pengangguran di Indonesia menunjukkan peningkatan sebanyak 2,67 juta orang.”
Aku tertoleh setelah mendengar Ibu membaca berita tahun lalu. Jika pengangguran sebanyak itu di tahun 2020, apa kabar dengan tahun ini?

Sebenarnya, anak seumuranku hanya akan menonton kartun di stasiun swasta. Tapi, aku malah mempermasalahkan masalah keuangan negara dan hal-hal yang seharusnya dipikirkan oleh anak seumuran sepupuku yang sudah tamat SMA tahun ini.
Negara tanpa rakyat memang tiada artinya, namun jika Negara dengan beratnya masalah perekonomian? Masalah hutang saja tidak ada habis-habisnya apalagi dengan masalah keuangan karena pandemi.
Beban Ibu Pertiwi sudah terlalu berat jika harus menampung masalah ini juga.

Aku membuka celengan ayamku yang sudah dibuat penutupnya oleh Ayah karena aku pernah memecahkan buntutnya.
“Dua puluh lima ribu?” Aku menghitung seluruh uang tabunganku.
Uangku tersisa 2 lembar sepuluh ribuan, 2 lembar dua ribuan, dan selembar uang seribu rupiah. Apakah ini cukup untuk membantu Ibu Pertiwi?

“Ibu” Panggilku ke arah Ibu yang masih berkutat dengan ponselnya -membaca berita-
Ibu menoleh dan memasang wajah tanda tanya.
“Utang Negara ada berapa banyak?” Tanyaku dengan wajah polos.
“Untuk apa kamu bertanya perihal orang dewasa?”
“Apa arti rupiah jika kita tidak membantu Ibu Pertiwi?”
Ibu hanya tersenyum tipis lalu menggeleng pelan, membuatku bingung dengan arti jawabannya itu.

“Ibu, apa aku boleh bertanya lagi?” Aku duduk di teras rumah dengan berbaring di paha Ibu, kami menatap ke arah langit -memperhatikan indahnya pergerakan awan-
Ibu menoleh ke arahku lalu mengelus pelan kepalaku.
“Tentang apa?”
“Ibu Pertiwi.”
“Kenapa Ibu Pertiwi?”
“Sekarang, dia sedang tersenyum atau menangis?”
“Kulihat Ibu Pertiwi… sedang bersusah hati… Air matanya berlinang… Emas intannya terkenang….” Ibu menyanyikan lagu yang baru kudengar hari ini, detik ini. Sembari mengusap kepalaku pelan, air mata Ibu tumpah mengenai pipi kiriku.
Ternyata, Ibu Pertiwi sedang bersusah hati. Aku tak mengganggu Ibu, aku hanya menatapinya dengan mata berlinang air mata.

Kita tidak bisa menyalahkan seluruh orang atas apa yang terjadi pada Negeri tercinta kita. Kita juga tidak bisa menyalahkan Negara tertentu atas masalah yang sudah kita lewati selama 1 tahun 1 bulan ini.
Ibu Pertiwi tengah menghadapi masalahnya yang juga masalah kita. Keuangan Negara yang makin mengerucut ke bawah akibat pandemi dan pengangguran dimana-mana membuat Ibu Pertiwi semakin bersusah hati.
Kita hanya perlu mengembalikan senyumnya, membangkitkan keindahannya, karena kita rakyatnya. Kita insan yang ada di tubuhnya.

Senja mulai muncul, aku yang sedang bermain sepeda di halaman rumah buru-buru masuk ke dalam rumah karena Ayah akan pulang sebentar lagi. Ibu yang sedang membuat sambal terasi kesukaan Ayah di dapur membuatku berkesempatan untuk lari diam-diam menuju kamar mandi. Ibu memang agak cerewet jika aku baru mandi di jam seperti ini.

Kami bertiga berkumpul di meja makan. Setelah berdoa untuk bersyukur atas rezeki yang sudah kami dapat dari-Nya hari ini, kami juga berdoa untuk kembalinya senyum Ibu Pertiwi yang kami cintai.
Aku menyantap lahap ikan goreng yang Ibu sajikan tak lupa dengan kecap manis yang Ibu bubuhkan di atas nasiku.

Ibu Pertiwi, setelah semua ini berakhir. Aku hanya berharap senyummu kembali dan cerianya keindahanmu akan bangkit kembali.

Aku masuk ke dalam kamarku setelah mengisi ruang kosong di dalam perutku. Kurasa, cacing-cacing sehat sedang memproses makananku supaya menjadi energi untuk tubuhku.

Aku membuka jendela kamarku.
“Malam ini bulan purnama.” Batinku.
Bulan besar terang dengan bintang-bintang di sekelilingnya membuatku tersenyum takjub menatap keelokan ciptaan-Nya. Aku tak pernah bosan menatap langit malam yang indah seperti ini. Sayangnya, suasana indah seperti ini hanya bisa kudapat di tiap tanggal 15 atau 16 saja di setiap bulannya.

“A.A.Maramis?” Aku sedang membaca buku sejarah melalui tablet baru yang Ayah belikan. Karena aku sedang merasa kasihan dengan Ibu Pertiwi yang tengah menangis sedih, akhirnya kuputuskan untuk menghabiskan malamku dengan membaca-baca tentang Negara.
“Emisi pertama o-e-a-ng?” Wajar saja, aku hanya seorang anak kecil yang baru tahu dengan Kartini yang menulis buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ternyata, Indonesia bukan sekedar Pahlawan besar seperti Bung Karno dan Bung Hatta atau Ibu Kartini.
Tapi, Ibu Pertiwi seluas itu. Seindah itu.

Ibu Pertiwi, senyummu akan kembali. Negara ini akan menyelesaikan masalah-masalahnya dan membuatmu tersenyum kembali. Aku akan menghapus air matamu dengan tangan kecilku secara langsung.
Aku tersenyum penuh tekad sambil menggenggan uang tabunganku yang sudah kuhitung tadi siang.

Cerpen Karangan: Tintanyareta
Blog / Facebook: Erven M P

Nama: Erven Mp
Agama: Islam
Cita-cita: TNI Al/Menteri Perikanan
Hobi: Menulis Cerpen, Puisi, Pantun, Bersepeda, Belajar
Media Sosial =
Instagram: ervenmp7
Twitter: @reta_twt
Tiktok: @ervenmp7

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 31 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Akan Kuhapus Air Matamu, Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nyaman

Oleh:
“Maaf, Mas, belum Ada lowongan. Coba lain kali, ya.” Tubuhku kembali lemas, mendengar jawaban dari petugas keamanan yang berjaga di sebuah perusahaan swasta. Entah kenapa, matahari tampak lebih garang

Skill Merendahkan Orang Lain (Part 2)

Oleh:
Suasana Kastil tempat kediaman Zic hari itu sangat tenang, ditambah dengan sinar matahari sore yang lembut menyentuh wajah Chinoz yang tengah asik dan larut dalam perbincangan kuda. “Nah thoroughbred

Sepotong Daging Buat Asih

Oleh:
Angin sepoi berhembus menggoyangkan daun-daun kangkung. sinar matahari mulai meredup tak seperti waktu siang hari yang terik. sengatanya membuat kulit serasa terbakar. Marni. seorang wanita tua, masih sibuk memotong

Tabik Sang Pahlawan

Oleh:
Sebagian orang menganggap hari Senin adalah hari yang menyebalkan dan menjengkelkan, bahkan ada yang menjuluki hari Senin sebagai Monster Day. Tapi tidak untuk Kiana, baginya hari Senin merupakan hari

Bulan Yang Merangkul Malam

Oleh:
Di sebuah kota yang padat, dimana jumlah kendaraan lebih besar dari pada jumlah manusianya, hiduplah seorang pria penyendiri yang sedang sibuk membersihkan gitarnya. Gitar yang menjadi saksi bisu kehidupannya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *