Akhirnya Bahagia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 November 2021

Kaca jendela terbuka setengah, gorden ikut melontar keluar dengan ritme tiupan angin dari dalam. Televisi tetap menyala, kaleng minuman soda tergeletak di lantai membasahi karpet pemberian ibunya. Perlahan membekas besar seperempat warna karpet berubah kemerahan. Asbak sudah penuh abu hingga meleper keluar. Sampah kacang kulit telah menjebak setiap sisi ruangan, perlahan bergerak karna dorongan angin. “Dingin” sambil meraba sesuatu agar menghangatkannya.

Pintu rumah tidak terkunci, ruang depan lampu tetap menyala, tanah pot biasa mengering, air aquarium menggelap satu dan dua ikan mengapung ingin terbang menggunakan sirip. Debu kaca foto keluarga menebal, jadi terlihat buram. Jam dinding terlalu cepat lima menit tidak sesuai aturan. Suasana rumah begitu mati seakan tidak dihuni beberapa tahun. Alarm ponsel berdering kuat mengalahkan volume siaran televisi yang kecil.

Odan memaksakan diri keluar dari kenyamanan tidur, menghempas selimut, menggerakkan kedua kaki, menegakkan badan dan berupaya membuka kedua kulit bola mata.
“astaga, rumah apa ini, siapa yang bisa tinggal disini”
Seketika ia tertawa, berdiri, melakukan gerakkan strecing melenturkan seluruh badan dari kepala, tangan dan kaki. Odan membuka jendela, menyampingkan gorden, mematikan kipas angin, televisi, lalu pergi mandi.

Odan melihat seisi ruangan begitu jorok. Seperti pria tua yang ditinggal keluarga sendirian dan ia tidak bisa apa-apa karena ia tua, sebenarnya ia bisa bergerak namun lamban dan ditambah setiap gerakan itu begitu menyakitkan dirinya sendiri, dan ia biarkan begitu, jorok dan bau, namun itu tidak apa-apa. Yang mengalaminya hanya dia sendiri dan ia tanggung sendiri.

Dan bagaimana kehidupan orang cacat, yang gagal mengharapkan kehidupan bahagia. Di masyarakat dianggap remeh, di dunia kerja kurang diakomodir dan percintaan tidak masuk kategori. Maka mereka putuskan dan memantapkan diri untuk tetap bernapas dan membiarkan dunia berjalan sendirian menatapnya dengan keagunggan. Kukira mereka begitu.

Dan bagaimana kehidupan orang normal, yang seharusnya begitu. Mereka mereka yang tidak memiliki kemampuan dan kemauan. Siapa yang akan mengiring mereka ke kehidupan yang bahagia, yah, mereka sendiri. Maka mereka putuskan dan memantapkan diri untuk tetap bernapas dan membiarkan dunia berjalan sendirian menatapnya dengan keagunggan. Kukira mereka begitu.

Galon dispenser kosong. Padahal ia sudah menabur bubuk kopi dalam gelas yang bagian luarnya bedebu. Odan melihat sekitar, membersihkan ruangan satu persatu, menyingsih sampah sampah, menyapu bersih debu yang bertebaran, mengepel lantai, mengosok peralatan kemudian selesai. Ia pergi dengan stelan rapi.

Odan membuang sampah tersebut mengandengnya dengan plastik ukuran sedang. Di perjalanan ia bertemu seseorang yang lama tidak jumpa.
“weh, mas gugun baru keliatan sekarang, kemana aja?”
Tampilannya kusam, kulitnya kekuning kuningan sekarang, matanya cekung bulat dengan pinggiran ruas bola matanya menghitam. Gugun mengangguk tersenyum lalu berjalan seperti biasa. Odan pertama tama kesal dengan responnya yang begitu dingin namun dengan melihat perawakkannya yang sekarang berubah, ia menertawakannya. Mungkin dia sering begadang dan bisa jadi karena Manchester United kalah di kandang lawan Liverpool. Seketika pikiran Odan tergelitik untuk memberitahunya namun setelah berbalik badan Gugun tidak terlihat lagi. Apa mungkin ia takut aku sindir dan Odan lanjutken tertawa.

Di kantor Odan diperlakukan sepertia biasa, jarang ada rekan sekantor mengajak bicara. Terlebih mungkin karena zodiaknya scorpio dengan ciri khasnya yang pendiam. Rekan rekan di kantornya terlihat sibuk menatap layar monitor, membolak balik kertas, ada yang kipasan memanfaatkan kertas A4 setebal satu jari, ada juga yang sesekali melihat tab yang lain hanya melihat profit perkembangan saham perusahaan yang ia tanam.

Setelah kerja Odan mampir di salah satu tempat makan langganannya, namun saat itu begitu rame jadi tidak ada tempat untuk duduk, untuk mengantri saja ada delapan orang yang tegak berdiri menunggu makanannya dibungkus. Odan pergi lagi melewati makan disana. Ia teringat masih ada beberapa mie instan di rumah, dan mungkin kali ini makan mie saja, sesekali berhemat untuk menambah uang cicilan motor yang kini telah berjalan empat bulan.

Sesampai di rumah, Odan melihat tikus yang biasa saja melihat kehadirannya bahkan ia dicuekkan, bukannya takut, kan seharusnya pas ada pergerakkan dan bunyi buka pintu membuat hewan penggerat ini lari cipirit. Odan langsung dengan gaya berjalan cepat meghampiri tikus, dengan harapan ia takut dan ngedrift seperti di Fast And Furios Tokyo. Namun ternyata tidak malah bertolak belakang, tikus itu mengarah padanya dua atau tiga detik lalu mengacuhkan Odan, dan yang takut malah dia sendiri saat si tikus juga berjalan dihadapannya.

Odan melihat seisi rumah begitu jorok karena tahi tahi tikus yang ada disudut bawah dinding yang begitu bau. Desiran angin meniup ke dalam ruangan dari jendela yang setengah terbuka, hingga bertebar butir butir halus yang pekat mengarahnya.

Seketika Gugun datang dibelakang punggungnya, dengan enggel ngezoom seratus dua puluh persen, dengan raut muka bahagia seperti tertawa, mulutnya perlahan melebar melebar dan melebar hingga sudut mulutnya mengenai daun telinga sendiri, Gugun tertawa. Odan ketakutan setengah mati melihatnya dengan terjungkal duduk memandangnya sekilas merangkak dengan empat tumpuan menghindari Gugun.

“kau akan bahagia disini”
“aku juga bahagia disini”
“kita akan bahagia terus menerus disini”
“ada juga yang lain, mereka bahagia disini”
Tangan Gugun yang seketika elastis menyetuh pundak Odan dan memaksanya memutarkan badan menghadap dirinya.
“dan tidak ada yang namanya tidak bahagia disini”
Gugun menjelaskan kenapa bisa disini dan Odan juga kenapa bisa disini.
“disini emangnya apa gun?”
“aku juga tidak tahu, yang kutahu dari yang lain kita disini akan bahagia”
“karena kita tidak mempunyai kegiatan yang harus dilakukan, kita ditakdirkan untuk bahagia, dan menyalurkan kebahagian ke lainnya, bisa dengan membantu memotivasi yang lain bagaimana cara untuk bahagia. Kau tau bahagia itu kan”
“apa emang?”
“ayo kita lihat sekitar sini”

Dari kejauhan, Odan dan gugun melayang pergi mengikuti desiran angin yang perlahan lahan menjauhkannya dari rumah. Dan ia melihat. Jendela yang terbuka setengah dan gorden melontar keluar mengikutin dorongan kipas angin, dan meninggalkan ruangan yang jorok dan bau itu, televisi tetap menyala debu bertebaran menghiasin ruangan.

“akhirnya aku bahagia”
“ehh, gun, MU lawan Liverpool nonton ga lu?”

Cerpen Karangan: Zalmi Novriwan
Blog / Facebook: Zalmi Novriwan

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 25 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Akhirnya Bahagia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan, Kenyataan Dan Waktu

Oleh:
“Teruslah berjuang meskipun harus mengorbankan tangan dan kakimu, berjuanglah, hadapilah, sampai kau mendapatkannya.” Itu adalah kata-kata yang didapat Risceal dari film yang baru saja ditontonnya. Setelah mendengarnya Risceal langsung

Pemicu Semangat

Oleh:
Pukul 5 pagi, Abdi telah terjaga dari tidurnya. Segera saja, Abdi kembali membuka alamat e-mailnya dengan harapan ia mendapatkan kabar dari perusahaan yang 2 minggu lalu memanggil Abdi untuk

Ujung Jalan Sunyi

Oleh:
Dedaunan melambai-lambai gemulai di atas ranting-ranting pohon yang demikian kecil. Seirama dengan desiran angin lirih di tengah kesunyian malam. Kutulis kalimat dengan hati-hati, mencoba untuk merangkai deskripsi suasana. Kulemparkan

Pertimbangan

Oleh:
Apalah artinya pendidikan jikalau semua telah tersedia. “Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Camat, DPR, Guru, Dokter, ABRI, bahkan yang menuju bulan pun telah ada.” Terserah bagaimana tanggapanmu dan siapa saja

Kelompok Pemain Musik dan Kakek Tua

Oleh:
Pukul 10 lewat 10 malam. Ini sudah waktunya bagi anak-anak maupun orang dewasa untuk pergi tidur. Kupadamkan lampu di samping kasurku, kututup kerai jendela dan menarik selimut. Saat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *