Akhirnya Matahari Itu Pun Terbit (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

“Kebenaran adalah apa yang tahan menghadapi ujian pengalaman,” (Albert Einstein)
“Mari kita turun ke dasar fakta-fakta. Awal mula segala tindakan mengetahui, dan karena itu titik tolak segala ilmu, haruslah terletak di dalam pengalaman pribadi kita sendiri,” (Max Planck)
Heart Calling. “Kebenaran itu sendiri.. hanya dapat disadari di dalam kesadaran terdalam seseorang,” (Budha)

Gagahnya merah putih tersebut berkibar, di sekeliling tiang bendera tersebut dipenuhi anak anak berpakaian seragam merah putih, ada yang berlari-lari mengejar para temannya, ada yang bermain sepak bola, ada beberapa anak yang sedang bergerombol mengobrol di taman dekat tiang bendera tersebut, sangat riuh sekali siang itu. Keriuhan tersebut mengundang mata Budi untuk memandang anak-anak yang sedang bermain tersebut dari jendela kost-nya yang memang berbatasan dengan sekolah tersebut. Sekolah tersebut merupakan sekolah negeri, di mana seperti sekolah negeri lainnya di daerah ini dindingnya hanya terbuat dari sebagian semen beton sedangkan dinding ke atasnya terbuat dari kayu.

Dengan eternit asbes yang banyak berlobang tergerus oleh air hujan karena genteng yang bocor dan beratapkan genteng tanah lihat, lantainya pun hanya bertehelkan semen kasar yang di haluskan sebagian juga memakai keramik kasar. Cat warna biru yang menyelimuti semen dinding bawah pun sudah terkelupas menampilkan luka-luka yang berwarna putih kelam, begitu pun juga kayu di bagian dinding atas pun sudah mulai lapuk dan cat putih yang melapisinya pun sudah tidak mampu menahan terpaan cuaca dingin karena hujan yang terus menerus mengguyur. Sangat berbeda sekali dengan keadaannya sekolah di kota-kota yang pernah Budi kunjungi. Namun hal tersebut tidak merubah keceriaan anak-anak yang berlarian ke sana ke mari seakan akan masa-masa ini tidak akan mereka jumpai lagi di kemudian hari.

Mata-nya memandang memperhatikan segala tingkah laku anak-anak tersebut. Sambil tersenyum, pikiran Budi pun melayang ketika dia masih kecil, “Akhh, indahnya masa kecil,” mengingat tersebut membuat Budi menghembukan napas, ada sesuatu di hati Budi yang membuatnya rindu, sesuatu yang terasa seperti melepas sesuatu beban yang berat di pundak, sesuatu yang menjernihkan pikirannya dari tali yang mengikat pikirannya selama ini.

Namun tidak lama mukanya pun kembali berubah keruh, dahinya kembali mengerut seperti memikirkan seribu masalah yang tidak terpecahkan sama sekali, pikirannya melayang dan mengambang memikirkan sesuatu yang menghantuinya selama ini, sesuatu yang menggangu tidur nyenyaknya di malam hari. Bahkan dia tidak tau lagi kapan dia terakhir tidur dengan nyenyak. Pikiran takut gagal dalam hidup, hidup dalam kemiskinan, hidup tidak punya sesuatu yang untuk dicintai, sesuatu yang tidak bisa membuat bangga orang tuanya. Pikirannya teralihkan ke sesuatu yang dia pegang. Matanya lekat menatap tiap huruf yang tertera di selembar kertas yang ia pegang. Lalu matanya ia alihkan lagi ke luar jendela kamarnya, sambil pikirannya liar mengembara entah ke mana, namun yang pasti satu hal yang dipikirkannya, apa yang harus ku lakukan selanjutnya?

Apakah harus begini nasib setiap anak bangsa mencari nafkah dengan menggadaikan ijazah kepada perusahaan yang pada akhirnya tidak tertebus dikarenakan toko tempatnya berkerja mempunyai nilai kehilangan yang besar. Apakah salahku semua? Salah kami semua yang menjadi anggota tim toko tersebut hal itu terjadi. Padahal selama berkerja aku selalu jujur dan tidak pernah sekali pun berniat untuk mengambil ataupun memakan barang-barang yang ada di dalam toko.

Pikiran Budi mengawang ke beberapa hari sebelum dia mengajukan pengunduran diri di toko tersebut. Budi berusaha mengingat kejadian sekecil apa pun yang dia alami selama berkerja. Di hadapannya berserakan kertas photocopy ijazah, surat lamaran, photocopy ktp dan beberapa helai pas photo berbagai ukuran. Ruangan kost yang hanya berukuran 3×4 dipenuhi asap rok*k yang dibiarkan menyala di asbak kayu buatan sendiri. Sambil menghela napas Budi memperhatikan sehelai kertas yang berisi surat bebas administrasi dari kantor tempat dia berkerja sebelumnya.

Tertera beberapa hal yang harus dipenuhi Budi setelah dia mengajukan surat pemberhentian kerja. Salah satu yang menarik perhatiannya yaitu dia harus melunasi sejumlah uang dimana uang tersebut adalah jumlah kerugian perusahaan diakibatkan kehilangan beberapa barang di toko tersebut. Jika tidak melunasi ijazah dan surat keterangan pengalaman kerja tidak akan diberikan oleh perusahaan tersebut. Budi pun mengalihkan perhatiannya kepada surat kabar yang menumpuk di samping tempat tidurnya. Ada beberapa coretan bulatan pena di beberapa tempat. Setelah diperhatikan bulatan tersebut adalah lowongan perkerjaan yang sejalan dengan latar belakang perkerjaan yang Budi pernah lakukan dalam 4 tahun terakhir ini yaitu retail.

Setiap lowongan perkerjaan yang diperhatikan Budi semuanya mempunyai syarat harus menyetorkan ijazah asli untuk ditahan di perusahaan sebagai jaminan untuk berkerja. Pikiran Budi pun kembali merenung liar, marah, kesal, campur aduk jadi satu. Diisapnya rok*k yang tadi dibiarkan mengepul dengan meninggalkan abu yang cukup panjang di asbak. “Apakah harus begini nasib orang jujur, harus bagaimanakah nasibku nanti,”

pikiran itu selalu menghantui setiap isapan rok*k dan membuang asapnya seperti membuang kekesalan yang ada di dalam hatinya. “Tidak bisa disalahkan perusahaan seperti ini, mereka juga harus mempertahankan asset perusahaannya, tetapi apakah hanya karena kesalahan beberapa orang ataukah kesalahan sistem ataukah kesalahan input karena human error, kenapa semuanya yang kena?” beberapa pertanyaan tersebut berkecamuk di dalam pikiran Budi. “Harus ke mana saya mencari uang 7 juta untuk menebus ijazah saya ini?” Uang 7 juta tersebut merupakan total keseluruhan dari kehilangan perusahaan di beberapa counter yang pernah Budi pimpin.

Budi merupakan seorang kepala toko yang sudah 4 tahun mengabdi di perusahaan retail ternama di kota bandung. Awal karirnya dimulai dari asisten kepala toko di kota kecil di luar bandung. Setelah itu karirnya menanjak menjadi kepala toko setelah satu tahun bergabung di perusahaan tersebut. Awal masuk memang perusahaan retail tersebut tidak menerapkan beban shrinkage (beban kehilangan barang) kepada karyawannya, namun setelah Budi menjabat sebagai kepala toko dan setelah satu tahun bergabung kebijakan tersebut diterapkan perusahaan. Dengan alasan sebagai shock therapy untuk para karyawan agar bisa mengontrol ketat setiap kehilangan barang, sedangkan alasan lainnya adalah memperkecil timbulnya penyalahgunaan penjualan barang untuk memperkaya diri sendiri.

Sebenarnya alasan yang diberikan oleh perusahaan masuk akal dan bisa diterima oleh semua karyawan. Namun hal tersebut tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang membuktikan bahwa suatu toko tersebut terjadi kehilangan barang, baik dari sistem program komputer, prosedur pengiriman dan penerimaan barang, standar operasional prosedur di dalam tokonya juga belum diatur secara professional. Intinya semuanya masih diatur secara manual. Hal tersebut banyak dikeluhkan oleh semua karyawan toko, termasuk Budi sendiri. Setiap 3 bulan sekali hasil stock opname yang dilakukan oleh tim Lost Prevention tidak memuaskan hati Budi dan timnya. Walaupun Budi sudah membuat peraturan sendiri untuk prosedur datang dan terima barang, prosedur laporan jika terjadi selisih barang dengan laporan ke Distribusi, analis data serta tim LP, pengawasan di kassa jika terjadi antrean, pengawasan di dalam toko juga.

Namun masih saja jumlah kehilangan sering tidak masuk akal. Terkadang Budi sendiri yang melakukan penelusuran barang hilang dengan compare data fisik dan data program berdasarkan hasil laporan yang ada di toko seperti laporan selisih barang. Apakah memang laporan toko diterima oleh pihak distribusi dan dikembalikan nominalnya sesuai dengan data fisik yang diterima oleh toko. Namanya masih manual tentu saja masih banyak kesalahan dan itu pun kerap kali terjadi karena ternyata memang masih banyak selisih yang tidak direspon oleh distirbusi dan tim analis data.

Kerja pun harus dua kali kalau terjadi hal seperti itu, dengan melakukan konfirmasi ulang atas hasil so bahwa ada sebagian selisih barang tidak difollow up oleh pihak yang bersangkutan. Hal ini pun selalu terjadi berulang-ulang kali. Hal seperti ini pun kalau dipikirkan dan diamati dengan seksama memang masih rentan karena pasti masih banyak yang bermain dengan mempermainkan inventory setiap tokonya. Namun walaupun Budi menyadari hal tersebut, dia tidak pernah terlintas untuk melakukannya. Semuanya dilakukan dengan kejujuran, dedikasi serta loyalitas yang tinggi. Selalu tiap hari melakukan briefing untuk memperingatkan para bawahannya, memberikan contoh yang baik dan selalu membuat keputusan dengan transparan. Namun sesuatu di pertengahan tahun, 2 bulan sebelum ulang tahun Budi yang ke-30 tahun. Sesuatu yang membuat dia akan memikirkan kembali tindakannya untuk tahun-tahun berikutnya.

KEJADIAN DI AKHIR BULAN JUNI..

“Kegagalan dan kehilangan adalah para pendidik dan pemurni yang terbaik,” (Albert Einstein)

Tidak terasa 4 tahun mengabdi dan atas atas jasa-jasa Budi di akhir tahun 2010 dinobatkan sebagai kepala toko terbaik. Hal tersebut membawa karir Budi ke pusat yang pada akhirnya menjabat sebagai spv Area untuk daerah Bandung Selatan. Membawahi 15 toko di kawasan Bandung Selatan dengan total karyawan 54 orang. Setiap satu toko mempunyai kepala toko dan asisten kepala toko yang mempunyai wewenang penuh atas toko tersebut serta mempunyai tanggung jawab koordinasi penuh terhadap Budi.

Namun dalam kasus kasus tertentu kepala toko menyerahkan sepenuhnya tugas kontrol tersebut ke Supervisor seperti dalam hal audit stock toko dan kasus pencurian. Walaupun memang dalam hal tersebut perusahaan mempunyai departemen khusus dalam menangani masalah audit yaitu divisi legal and Procurement (LP). Di tingkat departemen operasional juga dibentuk tim audit toko sebagai pembekalan managemen dalam mencari kendala, pemecahan masalah dan pemantapan menuju jenjang Supervisor di kenal dengan nama tim SOS (SAFE OUR STORE).

Tim SOS ini dibentuk dari para kepala kepala toko yang mempunyai prestasi terbaik di areanya masing masing. Budi juga sebelum memgang jabatan Spv pernah merasakan panasnya bertugas di tim SOS selama 3 bulan yang pada akhirnya pertengahan tahun 2011 Budi menerima sk pengangkatan sebagai Spv Area. Tugasnya tim ini tidak saja mencari permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam toko, namun menemukan solusi atau formula dan masukan yang pada saat nantinya dapat diusulkan di meeting operasional setiap bulannya. Namun hal ini menjadi beban tersendiri bagi spv bersangkutan jika memang permasalahannya terdapat di dalam toko yang menjadi tanggung jawabnya.

Karena menjadi penilaian miring management terhadap supervisor bersangkutan yang pada akhirnya akan berakibat punishment terhadap spv bersangkutan. Temuan-temuan kasus di toko oleh tim operasional juga biasanya akan difollow up oleh tim lp juga. Tidak heran jika para spv area bersitegang dengan para tim SOS mengenai permasalahan yang terjadi di areanya masing-masing. Namun pada masa Budi menjabat sebagai Tim SOS diambil kesepakatan bahwa setiap kunjungan mereka akan memberitahu spv area bersangkutan mengenai kunjungan mereka, sehingga para Spv Area akan mengambil antisipasi tertentu mengenai kunjungan tim SOS tersebut ke areanya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com

Cerpen Akhirnya Matahari Itu Pun Terbit (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Swalayan

Oleh:
Daun-daun bekas lapak pedagang berserakan di mana-mana. Berpindah ke sana kemari dimain-mainkan angin. Debu batu kapur menyebar memenuhi udara di sekitar pasar. Emplek-emplek yang dibangun oleh pedagang meliuk-liuk tertiup

Tuhan Memang Suka Begitu

Oleh:
Aku masih bimbang. Jika ku curi motor ini, tentu dosaku tak akan segan menghantarkanku menuju neraka. Tapi jika tidak, kapan lagi aku bisa punya motor dengan keadaan seperti ini.

Kartu Nama

Oleh:
“Hei, pada minggir semua. Jangan main di jalan raya”, hardik seorang pengemudi mobil ke sekumpulan remaja yang sedang bermain di tengah jalan. Begitulah keadaan yang setiap hari terjadi pada

Kau Sudah Sukes Nak

Oleh:
Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu seseorang yang sangat penting bagi perusahaanku di sini. Dialah Pak Ardianto, seseorang yang akan mengivestasikan uangnya ke perusahaanku. Aku dan dia berjanji

Mappadendang Di Tonrongnge

Oleh:
Namanya Sriwahyuni, nama yang pasaran bagi orang-orang di daerahnya, Sriwahyuni gadis cantik berhijab dengan kulit berwarna kuning langsat dan dua buah lesung pipit menghiasi senyumnya, perempuan itu mendatangi salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *