Akhirnya Matahari Itu Pun Terbit (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Sangat beralasan kenapa hal tersebut diambil oleh Tim SOS, mereka berpikir karena suatu saat mereka akan memegang tampuk kepemimpinan SPV juga yang tanggung jawabnya sangat berat. Mereka satu divisi dan tugasnya mereka adalah me-management tim di bawah mereka sehingga para team dapat mencapai target penjualan yang diinginkan oleh perusahaan dan bukan rebut mencari posisi aman. Oleh karena itu posisinya tim SOS sebagai tim yang membantu para SPV area dan bukan malah mencari kesalaahan yang dicari-cari sehingga para SPV Area bisa turun dan akan digantikan oleh mereka.

Kesadaran itu sangat penuh sekali ketika team Budi bergabung di Tim SOS. Dia yang sangat keras sekali membantah untuk mencari kesalahan-kesalahan toko. Ditambah oleh kehadiran senior mereka yang baru bergabung di tim SOS yaitu Pak Herman. Herman sebelumnya adalah Spv Area Garut yang hanya dikarenakan ketidaksukaan salah seorang owner franchise dengan beliau pada akhirnya Management memutuskan menurunkan jabatannya menjadi tim SOS.

Kini giliran Budi yang merasakan tampuk Jabatan Spv Area. Tidak ada yang istimewa, semuanya tertempa ketika masih menjadi kepala toko dan tim SOS. Management Sumber daya Manusia. Kontrol segala aspek operasional toko dari buka toko sampai tutup toko, kontrol segala transaksi yang terjadi di kasir dan program semuanya sudah dikuasai. Spv merupakan satu kesatuan tugas trouble shootingnya operasional, dimana ada masalah seorang spv toko harus tahu apa permasalahannya dan mencoba untuk mengatasinya.

Segala cara dicoba untuk mengatasinya terutama mengenai masalah complain kostumer, program kassa error, acara promosi yang tidak berjalan di program, semuanya sudah terbetik di pikiran semua Spv Toko jika tidak bisa program maka lakukan manual serta lakukanlah koordinasi dengan tim teknisi IT dan terakhir konfirmasi ke tim audit dan buat surat berita acara agar di lain hari tidak dipermasalahkan karena miss komunikasi. Beginilah resiko perekerjaan, segala sesuatunya yang berhubungan dengan asset dan uang harus melibatkan orang banyak dan tepat koordinasinya, agar tidak bisa disalahkan.

Tidak terasa sudah satu tahun Budi menjabat sebagai Spv Area, senang dan sedihnya sudah dirasakan. Tetap saja hampir seperti dahulu tidak berubah sama sekali, loyalitas waktu, biaya, tenaga dan pikiran semuanya dicurahkan demi kemajuan perusahaan. Pagi ini kantor divisi operasional ramai sekali, “Hm, hari senin, hari meeting divisi operasional, seperti biasa Budi melepaskan jaket motornya dan menggantungkannya di kursi duduknya, sambil meletakkan tasnya yang penuh berisi cek list control toko, list promo minggu ini yang diprint Budi dari email-emailnya md untuk dibagi-bagikan ke toko sebagai informasi. Serta bahan-bahan permasalahan yang ada di masing-masing toko.”

“Budi, sebentar ke ruangan saya,” seru Pak Herman. Aku pun dengan segera beranjak keruangan beliau yang berada di ujung ruangan operasional. Setelah menutup pintu ruangan aku dipersilahkan duduk oleh Pak Herman. “Budi, sebentar lagi kamu akan dipanggil oleh pihak lost preventage serta tim Audit.” Kata beliau sambil memandang tajam ke arahku. “Entahlah apa yang akan dibahas oleh mereka, sepertinya kau harus mengingat-ingat kejadian yang baru kau tangani,” lanjut Pak Herman melanjutkan. Budi pun hanya menghela napas mengingat kasus yang baru aku hadapai. Kasus tersebut adalah terungkapnya penyalah gunaan wewenang kasir dan penggelapan penjualan pulsa yang dilakukan oleh salah satu pramuniaga di suatu cabang yang masih wilayah control Budi.

“Baiklah Pak, saya akan berusaha mengumpulkan data terlebih dahulu. Bukankah kasusnya sudah ditutup dengan dibayarkanya ganti rugi oleh pihak keluarga dan yang bersangkutan juga sudah merasakan dinginnya penjara selama 3 hari di tahanan polsek?” tanyaku menyelidik dan ingin tahu. Aku yakin Pak Herman pasti tahu tetapi enggan untuk membicarakannya. Aku pun merasa curiga bahwa hal ini pasti ada kaitannya dengan prosedur yang salah aku terapkan. Ataukah memang ada kesalahan besar yang aku perbuat.

Aku pun tertegun berusaha mengingat-ingat namun deheman Pak Herman mengingatkanku untuk segera beranjak ke luar ruangan menuju meja kerjaku sambil berusaha mengingat-ingat apa yang telah ku lakukan dalam kasus tersebut. Tidak beberapa lama aku pun berada di ruang interogasi terlihat di depanku berada kepala divisi Audit dan lost preventage (LP) Pak Alex, di sampingnya berada Pak Herman kepala divisi operasional atasanku serta salah satu tim audit dan tim LP.

Semuanya sudah ku kenal karena aku sering berhubungan dengan mereka dalam memecahkan beberapa kasus yang terjadi di cabang. Aku pikir mungkin aku salah satu karyawan dari kepala toko sampai spv area yang banyak berurusan dengan divisi Audit dan LP. Seringnya aku menemukan berbagai penyelewangan apalagi sehabis mutasi area ataupun area yang baru aku pegang. Biasanya aku yang berada bersama mereka di depan tersangka, sekarang aku yang berada dan duduk di kursi tersangka.

“Selamat siang Pak Budi, saya harap Pak Budi kali ini dalam keadaan sehat dan berpikir sehat juga,” kata-kata pembukaan dari Pak Alex. Aku pun hanya menatap dan berkata dalam hati.
“Emang lo pikir gue lagi gila kali ye,” aku pun hanya mengangguk dan berkata pelan kalau aku dalam keadaan baik-baik saja baik fisik maupun batin.
“Saya harap, Bapak Budi dapat mengkonfirmasi mengenai salah satu sms yang Bapak berikan kepada saudara Yudi pramuniaga bermasalah di cabang TCI (salah satu toko di cabang yang masih dalam control saya, kasus yang baru saja selesaikan tentang penggelapan pulsa dan penyalahgunaan jabatan kasir) benarkah ini salah satu sms Bapak ke dia?” tanya Pak Alex sambil menyodorkan salah satu ponsel coorporate.

Aku pun menerimanya dengan mengernyitkan dahi berusaha untuk berpikir keras, sms apa yang ku kirimkan sehingga harus disidang seperti ini. Aku membaca isi sms dan benar, aku pun langsung mengenali kata-kata yang berbunyi dalam ponsel tersebut. Tidak memakan waktu lama aku pun segera mengembalikkan ponsel tersebut ke tangan Pak Alex. Semua wajah terpaku menatapku dan menunggu jawaban yang akan aku utarakan. Bergetar seluruh persendian tubuhku, teringat akan segera hilangnya tautan nafkah hidup yang sekarang aku geluti selama ini. Aku tahu konsekuensi yang akan terjadi, aku pun tidak akan mengharapkan adanya belas kasihan ataupun pertolongan dari siapa pun. Karena aku sendiri menyadari dan mengetahui segala sesuatu dari akibat yang aku lakukan sendiri.

Sms itu sendiri berisi ucapan yang menyuruh Yudi untuk segera resign dan menghindari undangan dari perusahaan untuk penyelidikan selanjutnya. Secara moral aku pun sadar bahwa aku sms tersebut sedang dalam keadaan kalut. Keadaan dimana aku memikirkan nasib kedepannya salah satu teamku yang harus ditahan polisi karena masalah penggelapan. Walaupun secara keluarga hal ini bisa dihindari dan dapat dilunasi oleh pihak keluarga, namun dari pihak perusahaan menginginkan hal ini untuk diproses pada pihak berwajib. Hal tersebut sangat bertentangan dengan keinginanku. Aku menginginkan kejadian seperti ini diselesaikan secara kekeluargaan. Karena sudah jelas kalaupun ada penggelapan, secara tertulis yang terkait harus mengganti 5 kali dari jumlah penggelapan yang terungkap.

Lalu yang bersangkutan juga segera resign secara tidak hormat. Namun aku pun harus mengikuti instruksi dari atasan, segalanya ku persiapkan mengenai masalah pengaduan ke polisi, proses undangan dan proses verbal BAP (Bukti Acara Perkara). Semua pikiran ku tumpahkan untuk mengurus masalah seperti ini, belum lagi terror dari pihak keluarga yang tidak menginginkan proses ke polisi. Dalam keadaan seperti inilah aku pun mengirimkan sms di tengah malam. Secara moral aku pun setelah mendapatkan masalah ini tidak bisa tidur semenjak keputusan dari pihak manajemen bahwa setiap permasalahan penggelapan harus diproses di kepolisian. Aku pun sadar hal tersebut adalah kesalahan besar dan sangat tidak bijak. Aku yakin kalaupun aku mengungkapkan hal seperti itu tidak akan ada yang mengerti posisiku.

Aku pun tertunduk, “Ya benar, itu adalah smsku, alasannya adalah demi kemanusian. Bapak-bapak mungkin tahu bahwa keluarganya telah beberapa kali menerima kesalahan dan siap mengganti beberapa lipat dari kerugian perusahaan. Namun dari pihak perusahaan kita tidak ingin menyelesaikan secara kekeluargaan namun secara kriminal melibatkan kepolisian. Padahal kerugian hanya sekitar Rp.250.000 kalaupun dikalikan dengan lima tidak lebih dari Rp.1.500.000. Bapak-bapak mungkin tidak akan tahu kalau teror dari pihak keluarga terus menggangguku karena tidak ingin anaknya ditahan polisi.” Seruku berusaha untuk menjelaskan dan bersikap tegar.

Mataku menatap satu per satu bapak-bapak yang ada di depanku, namun mereka balik menatap diriku sepertinya bahwa masalah ini adalah masalahku dan mereka berusaha untuk mengerti pokok permasalahannya. Walaupun secara perkara, masalah ini sudah selesai. Aku pun mengikuti setiap instruksi yang diberikan perusahaan, Yudi pun tidak kabur dan tetap mengikuti proses sampai dengan akhir bahkan sempat ditahan, namun untuk masalah seperti ini hal itu tidak dianggap. Mereka menganggap bahwa hal ini sudah terjadi berulang-ulang kali.

Mereka tidak sadar bahwa setiap permasalahan mengenai penggelapan sebelumnya tidak ada yang hilang. Setiap atasanku tahu setiap sepak terjangku secara profesional. Tapi sudahlah aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, sudah tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi. Aku tahu konsekuensinya, “Baiklah saya terima kesalahan tersebut dan dengan ini saya pun mengajukan pengunduran diri dari perusahaan.” Sahutku sambil mendorong kursiku untuk ke luar dari ruangan tersebut dan mengambil udara segar. Tindakanku berusaha ditahan oleh Pak Herman dan Pak Alex, namun tidak menghalangiku untuk berjalan ke luar.

Tidak ku sesalkan segala keputusanku. Sudah terlalu lama aku membaktikan diri di perusahaan ini. Aku pun menilai bahwa setiap loyalitas dan pengabdianku pasti akan mendapatkan pahala. Ini ku lakukan demi kebaikanku dan kebaikan setiap tanggung jawabku terhadap team dan kewajibanku menjaga asset perusahaan. Aku sudah terlalu banyak puas dalam mengabdikan diri dalam perusahaan ini, semuanya sudah aku lakukan, setiap ide, setiap permasalahan dapat aku pecahkan, setiap penghargaan, penghormatan dari atasan dan teamku, sudah banyak aku melihat team didikanku sudah berhasil mendapatkan jenjang manajerial di toko.

Sangat puas aku melihat perkembangan mereka dari pramuniaga, bersusah susah payah mendidik mereka, disiplin, kontrol ketat, kerjasama team yang aku bangun, dapat mereka contoh dan terapkan. Aku pun dapat berdiri tegak ke luar dari perusahaan ini, walaupun secara manajemen mereka menganggap resignku adalah tidak terhormat dan cacat moral, entahlah.. hanya malam yang dapat menilai segala yang telah aku lakukan demi perusahaan.

Aku pun hanya bisa tersenyum menatap pagi ini, hari ini aku sudah mulai berkantor di perusahaan baru. Sebuah perusahaan yang juga bergerak di bidang retail namun perusahaan kali ini lebih spesifik yaitu garment. Secara financial memang yang aku dapatkan lebih besar dari perusahaanku pun sebelumnya. Aku pun juga dapat berkeliling Indonesia untuk mengurusi cabang-cabang yang ada di luar kota dengan akomodasi dan transportasi ditanggung perusahaan. Setiap perkerjaan tetap sama saja namun sekarang aku lebih detail dan dalam skala yang besar. Segala sesuatu yang terjadi di belakang biarkan berlalu dan menjadi sejarah namun tetap menjadi pengalaman yang dapat menjadi guru yang paling baik untuk masa depanku.

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Akhirnya Matahari Itu Pun Terbit (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menembus Kelabu

Oleh:
Xenia hitam yang sedang ku tumpangi menerobos pagi buta bergelayut embun. Keadaan di sekitar jalan belum menampakkan hiruk pikuk aktivitas manusia atau deru mesin kendaraan yang memekakkan telinga. Mata

Pencuri

Oleh:
Perempuan berambut pandek itu kau peluk, lalu menuntunnya masuk ke rumahmu. Malam sebelumnya berambut panjang, sepertinya memang kau punya banyak koleksi perempuan. “Ayah, ayo kita tidur,” Anakku, mengagetkanku. Suaranya

Uang Kemana?

Oleh:
Suasana mencekam pada malam itu, Aku dan Warga Desa Sukamaju berbondong-bondong datang ke balai desa untuk menemui pak Kades. “Pak di sini ada tuyul, Pasti perbuatan Pak Amir!”, “Iya

Mukena Untuk Ibu

Oleh:
“selamat beraktifitas dan tetap semangat” aku mengakhiri siaranku di salah satu stasiun radio swasta di kota Bogor. Ku tancapkan sisa-sisa semangatku sore itu, sutera jingga di langit barat terpintal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *