Aku Borneo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 16 August 2017

Hijau ialah warnaku. Batu batu berharga itulah kulit kulitku. Sungai sungai itulah nadiku, di sana aku hidup, di sana aku mengalir, di sana aku memberikan apa yang ada pada diriku. Aku berada di tengah tengah di antara saudara saudaraku. Di Nusantara aku terlahir. Terlahir sebagai seorang yang penuh kekayaan. Aku sumbangkan kulit kulitku untuk Nusantara, aku alirkan hasil dariku kepada saudara saudaraku. Terutama saudaraku yang ada di bagian barat. Karena aku tahu mereka perlu banyak hasil daripada diriku, karena merekalah yang paling sering dilihat oleh dunia, karena itulah mereka berbenah. Aku hanyalah onggokan hutan hijau nan rimba. Aku hamparan tanah luas yang terjarah. Aku adalah rumah besar bagi flora dan fauna dunia. Aku adalah tempat kecantikan alam berada. Akulah Borneo.

Hidup di tengah-tengah mereka. Ditengah-tengah saudara-saudaraku, saudara-saudara dari barat, saudara-saudara dari timur. Akulah tempat peradaban tertua di Nusantara. Jauh sebelum Sriwijaya, jauh sebelum Majapahit dan lainnya. Diriku yang sekarang tidak lebih baik dari yang dulu. Dulu aku diagungkan, dulu aku didatangi oleh Cina dan Belanda dan meraka takut akan pendudukku yang masih berpersepsi rimba takut dengan keganasan kami di dalam belantara hutan. Aku sumbangkan oksigen untuk Nusantara dan juga dunia melalui rimbaku. Di dalamku tidak ada gunung api seperti yang ada pada saudaraku yang di barat. Sehingga aku menjadi pulau yang cukup aman untuk dihuni. Sangat berpotensi tinggi untuk menciptakan kesejahteraan bagi pendudukku. Ya, pontensi yang tinggi namun tidak tercapaikan. Kami sering berkumpul bersama-sama. Aku, Sumatera, Java, Bali, Nusa tenggara, Celebes dan saudaraku di timur Papua. Kami mempunyai kekayaan dan keunggulan masing-masing, dan kami sering mengagung-agungkan diri kami masing-masing. Kami saling berbincang mengenai apa yang ada pada diri kami. Terkadang kami bertengkar namun kembali bersatu karena kami Nusantara. Kami hidup di laut yang sama, di tanah yang sama dan di bawahnya langit yang sama.

“akulah Sumatera saudara kalian dari arah paling barat, aku punya kemiripan dengan engkau wahai Borneo. Kita sama-sama luas, kita sama-sama mempunyai alam yang subur dan isinya yang berharga. Jika kau punya batu hitam berharga aku pun juga demikian, jika kau punya emas akupun demikian, namun tahukah engkau apa yang tidak engkau punya dariku?.” Sumatera bertanya kepadaku, sedikit membanggakan dirinya terhadapku. “ya betul sekali engkau tidak memiliki gunug-gunug yang tinggi wahai Borneo, melainkan aku mempunyainya, pendudukku sangatlah senang mendaki gunug-gunung indah daripadaku, di kaki-kaki gunung tinggi itu aku hamparkan tanah yang subur agar mereka bisa menanam segala kebutuhan pangan mereka, dan di puncak gunung-gunung tinggi itu pula aku hamparkan bagi mereka panorama indah sisi barat Nusantara. Tidak hanya itu udara segar nan sejuk aku hembuskan ke dalam rongga hidung hingga paru-paru mereka hingga mereka merasa senang berada di atasku.”

Sumatera menyudahi kisah daripada apa yang ia miliki, aku hanya tersenyum mendengarkan kisah darinya sambil menatap dirinya yang kini terus terberangus masalah-masalah dan sakit-sakit yang ditimbulkan oleh letupan-letupan gunung yang dia banggakan. Namun aku bangga dengannya sebagai saudaraku, begitu banyak masalah yang dia bendung. Tanaman haram, gelombang tinggi pantai, letupan gunung adalah masalah klasik dari alam yang dia miliki, yang aku pun tidak tahu, mengapa dia selalu marah dengan penduduknya dengan letupan-letupan dan masalah-masalah itu, mungkin itu adalah balasan darinya karena dia menolak apa yang telah diperbuat oleh penduduknya.

“Dengarkan aku wahai saudara-saudaraku!.” Java menghela kisah daripada Sumatera. Si Sumatera boleh berbangga dengan gunung-gunung tingginya, namun aku. Aku juga memiliki apa yang dimiliki Sumatera, aku juga punya gunung-gunung tinggi. Ya walaupun aku tidak memiliki banyak batu-batuan seperti yang kalian miliki wahai Borneo dan Sumatera. Namun lihatlah aku sekarang. Sekarang di Nusantara aku menjadi pusat perhatian dunia, lantaran aku adalah pusat daripada negeri ini. Aku hampir memiliki semuanya, di dalamku adalah gedung-gedung tinggi yang menantang langit luas, di dalamku ada banyak hal-hal yang bagus yang kalian semua tidak punya, aku punya jalan-jalan yang bagus nan mulus. Banyak orang-orang asing datang kepadaku untuk bekerja. Selain hal-hal bagus yang aku punya, aku juga memiliki kearifan-kearifan lokal yang aku sisakan di pinggiran pulauku. Di sana banyak terdapat pantai-pantai yang biru dan hamparan laut yang luas dan juga aku gunakan untuk jalur mengalirkan perputaran uang di negeri ini. Tidak sampai disitu sahaja, aku juga punya bangunan-bangunan kuno sisa-sisa daripada raja-raja yang pernah bermukim di dalamku. Mereka meninggalkanku candi-candi dan kuil-kuil indah yang dibangun hanya dalam semalam, apakah itu luar biasa wahai saudara-saudaraku. Akulah pemimpin di Negeri ini, akulah pusat perhatian di Negeri ini, akulah garda terdepan daripada Nusantara ini.”

Java membeberkan kehebatannya di Nusantara, cukup panjang kisah yang dia sampaikan kepada kami hingga kami melamun memperhatikan kisahnya. Dia memang luar biasa dialah pengatur di Negeri ini. Dialah pemimin di Negeri ini. Sekali lagi aku tertegun mendengar kisah dari salah satu saudaraku ini, aku hanya bisa tertunduk dan tersenyum mendengar kisah-kisah hebat dari saudaraku dari arah barat.
Aku pun mengangkat wajahku dan menatap Java yang masih saja terlihat bangga dengan apa yang dia miliki saat ini. Aku bersabda dalam hati, “aku bangga dengan pencapaianmu wahai saudaraku dari barat, engkau penuh dengan germerlap kemajuan dan kesibukan kehidupan modern, gedung-gedung penentang langit yang engkau punya, jalan-jalan bagus nan mulus yang engkau tapaki sunggu membuat aku iri dan juga mungkin membuat saudara-saudara yang lain ingin menjadi seperti engkau.” “namun sadarkah engkau dari manakah kehebatan itu berasal?”.

“sekarang adalah giliranku.” Saudaraku bernama Bali menyambung kehangatan perbincangan kami. “aku adalah Bali, pulaunya para devata. Aku sangat berkerabat dekat dengan Borneo kuno, yaitu pada masa sang maharaja Mulawarman masih memimpin Borneo, karena kami memiliki kepercayaan yang sama pada masa itu. Tidak banyak yang bisa aku banggakan kedapa kalian. Aku tidak seperi Sumatera yang memiliki banyak gunung-gunung tinggi, aku tidak seperti Java yang punya kehidupan modern, aku juga tidak seperti Borneo yang punya batu-batu berharga dan hutan rimba. Aku hanya punya pantai yang indah, biru, luas dan gelombangnya yang sangat dikagumi oleh mereka orang-orang berkulit putih. Mereka datang ke pantai-pantaiku untuk mengendarai ombaknya yang bagus. Aku tidak pernah sepi dari kedatangan orang-orang itu, mereka selalu datang sepanjang tahun hanya untuk berjemur dan menikmati ombak-ombakku. Hingga aku dijuluki pulau wisata, aku menyumbang banyak devisa Nusantara lewat keindahan alamku, lewat aku orang-orang asing mengetahui Nusantara, lewat aku orang-orang kulit putih mencintai Nusantara, lewat aku Nusantara terlihat begitu indah.”

Kami semua kagum mendengar kabar dari Bali, memang hebat dia dengan alamnya yang indah meski kecil badannya dia menawan dan menarik mata dunia. Dia juga banyak menyumbangkan devisa untuk Nusantara, tidak ada keraguan lagi tentang saudara kami yang satu ini Bali adalah rumah para pecinta keindahan sisi tengah Nusantara.

Sedang di sisi timur adalah saudaraku yang bernama Celebes. Banyak orang yang tidak mengetahui apa itu Celebes. Celebes adalah saudaraku yang berada di sisi timur Nusantara, dia juga memiliki nama lain yaitu Sulawesi, namun aku lebih suka memanggilnya sebagai Celebes. Nama Celebes adalah pemberian dari orang Portugis yang kala itu baru saja menginjakan kakinya disalah satu tanah saudaraku. Kala itu orang Portugis itu bertanya dalam bahasa Portugis “apakah nama dari tempat ini?,” dia bertanya kepada salah seorang yang sedang mengasah sebilah baja (badik), karena si pribumi tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh orang Portugis, maka dengan seadanya si pribumi menjawab ini “cele-besi atau sebilah besi” yang menyatakan sebilah besi/baja (badik) yang sedang dia asah. Si pribumi beranggapan bahwa orang Portugis itu menanyakan apa yang sedang dia kerjakan. Mendengar jawaban tersebut maka orang Portugis pun beranggapan bahwa nama dari tempat ini adalah “Celebesi”, namun orang Portugis tidak bisa mengucapkan kata “Celebesi” secara benar maka orang Portugis mengucapkannya dengan kata “Celebes”, dan sejak hari itulah saudaraku yang berada di sebelah timurku itu bernama Celebes. Celebes pun memandang kehadapan kami semua.

“akulah Celebes. Aku berada tepat di sebelah Borneo, sebenarnya aku, Borneo dan Sumatera adalah hampir mirip. Tidak banyak bisa aku kabarkan kepada kalian wahai saudara-saudaraku yang hebat. Aku hanyalah pulau kecil, namun aku memiliki garis pantai yang cukup luas, pantai yang indah juga salah satu dari ciriku. Aku juga tidak punya banyak sumberdaya alam yang bisa aku banggakan seperti yang kalian miliki, namun berkat laut yang luas yang dianugerahkan tuhan kepadaku, aku menjadi penghasil ikan yang banyak untuk Nusantara. Pendudukku rata-rata adalah pelaut dan mereka sangat mencintai lautku yang luas dan biru. Di sana mereka hidup dan mati”. Dengan singkat Celebes bercerita. Dia adalah saudara yang paling dekat denganku secara geografis. Dihuni oleh pelaut dan sebenarnya kaya rempah sama dengan Sumatera yang dari jaman Portugis hingga Belanda mereka terkenal. Di sisi tenggara aku menyapa saudaraku, “wahai Nusa bagaimana kabarmu, dan bagaimana keadaanmu saat ini?”. Nusa menoleh dan menatap kami semua dengan bangga.

“aku bangga dengan kalian yang hebat-hebat. Kalian punya semuanya. Akulah tempat para komodo, salah satu keajainan dunia yang terlupa. Aku tidak punya hal bisa dibanggakan seperti kalian, aku hanya kepualauan kecil di antara kalian. Akulah juga rumah bagi bunga-bunga dalam laut yang berwarna, banyak pulau-pulau kecil di sekitarku, mereka adalah bagian dariku. Pantai., laut, biru, itulah aku Nusa Tenggara bagian dari Nusantara”. Pendek saja kisah dari saudaraku Nusa. Dialah yang menawan dari salah satu saudaraku dengan pulau-pulau kecilnya, dengan bunga-bunga bawah lautnya, dengan hewan yang mirip dengan naga yang melegenda. Dibalik keiindahannya, saudaraku yang satu ini sebenarnya memiliki banyak permasalahan yang dipendam. Entahlah, apakah memamang sengaja mereka redam, atau mereka sudah muak untuk bersuara ke arah barat. Gelap sebenarnya masih merangkul mereka di beberapa bagian, bahkan hampir semua. Sungguh merista batinku melihat keadaannya, mereka sangat butuh bantuan kalian wahai saudaraku terkhusus saudaraku dari arah barat. Dengarkanlah suara minor mereka, dengarkanlah raungan pulau mereka, yang lapar, yang gelap, percuma hidup di tanah surga namun hati merista.

Aku adalah sedih, aku adalah rasa, aku adalah peduli dengan apa yang dirasakan saudara-saudaraku dari timur. Terus menyeru dan serulah mereka yang dari barat hingga mereka bosan, hingga mereka berikan apa yang pantas bagimu. Meratap sedih aku kepadamu wahai si timur saudaraku, Nusantara tak akan menjadi Nusantara jikalau tiada kalian, namun apa yang diberikan Nusantara kepadamu hingga saat ini?, namamu adalah bagian dari Nusantara, “NUSA-antara”, begitulah bunyinya. Apakah itu cukup?, apakah rangkaian huruf-huruf yang berbaris membentuk sebuah kata yang dulu mampu membakar semangat untuk menginjak penjajah di tanahmu itu cukup bagimu?, apakah kamu merdeka, apakah kamu bahagia dan apakah kamu sejahtera, wahai saudaraku timur. Aku tidak tahu jawabannya hanya engkaulah yang mengetahuinya. Seru dan terus serulah mereka yang dari barat hingga kau temukan jawabannya.

Di tengah hening kami, saudaraku timur yang paling timur memecah hening dan mulai beretorika. “Jangan kalian lupakan aku, akulah saudara kalian yang paling timur, salah satu yang paling luas daerahnya dan yang berbatasan langsung dengan negara yang dulu pernah menjadi bagian dari kita. Aku adalah punya banyak potensi, banyak, sangat banyak. Akulah sang mutiara hitam dari timur, aku adalah lumbung emas Nusantara. Pesonaku tidak terbatas gunung-gunung, lembah-lembah dan laut-laut sahaja, namun berikut juga isinya. Aku bahagia bersama-sama kalian di Nusantara, aku berada paling jauh dari ibu Nusantara, sehingga aku pun berharap bisa menikmati apa yang kalian nikmati di arah tengah dan barat, aku ingin seperti kalian namun tetap menjaga hijaunya rimbaku. Tidak banyak aku bicara kepada kalian, aku hanya berharap semoga kalian tetap hebat dan jangan seperti diriku yang masih gelap, belum ada listrik yang mengalir, semuanya tidak mampu aku dapatkan, karena semua begitu mahal bagiku, inilah salamku dari arah paling timur Nusantara, wahai saudaraku dari arah tengah dan arah barat”.

Mendengar akhir dari kisah Papua, kami semua saling menatap seolah bertanya apa yang akan kami lakukan selanjutnya agar semuanya merata di Nusantara. Aku sunggu bangga dengan saudaraku Papua, garda ter-timur dari Nusantara. Yang berani menyuarakan lantang menyatakan untuk bergabung dengan Nusantara (Indonesia) dengan sebutan IRIAN yang merupakan akronim dari “Ikut Republik Indonesia Anti Netherland”. Sebuah akronim yang tidak banyak orang mengetahuinya dan merupakan semangat, suara dan perasaan bangga Papua akan Nusantara. Aku bangga terhadapmu wahai garda tertimur Nusantara, tetaplah menyuarakan apa yang seharusnya engkau dapat. Tetaplah tagih janji daripada orang-orang yang pernah menginjakan kakinya ke tanahmu, tetaplah tuntut janji itu hingga memekakan telinga mereka yang tuli, hingga pecahlah batu yang menghalangi pandangan mereka terhadapmu, hingga mereka melihat sengsaramu, hingga mereka menjatuhkan air matanya ke tanahmu dengan sungguh-sungguh. Tetaplah tuntut dan bersabar dengan jawaban mereka wahai garda tertimur Nusantara. Tetaplah menggaung bersama wahai tertimur Nusantara.

Kami pun akhirnya berhenti berbicara dan kembali mengurus diri kami masing-masing. Sangat banyak yang kami dapat dari pembicaraan singkat kali ini. Kami saling menyadarkan masing-masing dan mengingat apa yang seharusnya kami lakukan terhadap saudara-saudara kami di Nusantara. Terlepas dari itu semua, aku pun sedang berbenah, aku berbicara kepada hatiku. Aku adalah Borneo, orang hanya mengetahui aku adalah kaya, aku adalah sumur minyak, aku adalah rimba Nusantara, aku adalah hamparan hijau di Nusantara. Aku hampir semuanya, pantai dan laut yang biru, bunga-bunga bawah laut, aliran minyak dan gas, bongkahan batu-batu berharga tertanam rapi di diriku. Namun sebentar lagi itu semua adalah sirna, kini aku berkawah-kawah wahai saudaraku. Kini rimbaku satu persatu gugur, berganti dengan rimba yang lain, yang berorientasi keuntungan perorangan. Aku tidak tahu apakah aku nanti masih diseru dengan panggilan Borneo sang penghasil oksigen bagi dunia dan Nusantara apakah tidak?. Aku tidak tahu apakah yang akan terjadi jika kita kehilangan zat yang begitu penting untuk kehidupan itu. Bagaimanakah Nusantara, bagaimanakah Dunia?.

Kini rimbaku telah berkurang wahai saudaraku. Berganti dengan kawah-kawah dalam nan curam, kubangan lumpur yang di dalamnya tertanam batu-batu yang berharga. Dan itulah alasan orang-orang rakus itu membuat kawah-kawahnya di badanku. Kini aku renta, kini aku rapuh. Setelah dicabut rimba itu daripada badanku, maka runtuhlah kulitku karena tak ada yang mengikatnya. Runtuhlah kulit-kulitku kepada mahakamku, hingga marah mahamkamku. Hingga dia luapkan kemarahannya sampai menggenangi badanku yang renta. Wahai saudara-saudaraku yang hebat, aku tidak seperti apa yang kalian pikirkan. Aku yang sekarang adalah aku yang luka, aku yang sakit dan aku yang tergerus. Terus tergerus, diberangus. Namun tidaklah mengapa, semua dariku adalah untuk Nusantaraku. Supaya tercapai citanya, supaya tercapai mimpinya yang kuharap bukanlah mimpi yang semu dan bias akibat tekanan dunia. Aku berteriak lantang bersama Nusantara, di garda tengah aku bersuara. Menyuarakan lantang senandung elegi nan satir. Berharap kalian membalas sedikit dari apa yang aku berikan. Janganlah terpaku dengan sisi kalian, lihatlah kami yang ada di tengah dan timur. Kami inilah penyumbang bagimu, kami inilah saudara sedarahmu di Nusantara. Wahai saudaraku, benar katamu aku adalah kaya, aku adalah surga, namun surga yang temaram.

Cerpen Karangan: Ron
Ron adalah urang Kutai

Cerpen Aku Borneo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hidupku Atau Hidupmu

Oleh:
“hey lihat, itu anak barunya!” kata salah satu siswa. “cantik tapi terlihat pendiam dan dingin ya?” kata siswa yang di sebelahnya lagi. Itulah kata-kata yang ku dengar ketika aku

Duri Duri Tumpul

Oleh:
Bulan sabit muncul dan langit tidak terlalu bercahaya. Berjalan tergopoh, berpakaian lusuh dan ada goresan benda tajam melukai badannya, sehingga terlihat jelas darah mengalir dan membasahi lengan baju kirinya.

Hidup Kedua

Oleh:
Pada suatu hari, ada seorang anak yang sedang bermain di pohon beringin. Sedang asyik bermain, tiba-tiba ada seorang nenek-nenek memanggil dirinya dari belakang. “Nada, Nada… tolong bantu saya!” spontan

Hikayat Penciptaan Bintang

Oleh:
Dulu ketika peri peri hidup di bumi dan jumlah manusia masih sedikit, pada batang pohon oak berdaun rindang dalam belantara, tinggallah peri yang selalu durja. Tiap hari kerjanya hanya

Bunga Miracle

Oleh:
Dahulu kala, ada satu kerajaan yang memiliki berbagai jenis bunga, Kerajaan Florafia. Namun, ada satu jenis bunga yang sangat unik dan berbeda dari yang lainnya, dan hanya dapat tumbuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Aku Borneo”

  1. Arifah Kaifah Yasak says:

    Sangat menginspirasi.. ^_^

  2. Rhema Yuniar says:

    Aku juga Borneo! Salam dari selatan; urang banjar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *