Aku Bukan Seperti Ayahku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 10 February 2014

Banyak orang bilang, air cucuran atap jatuhnya ke pelimbangan juga. Sifat orangtua selalu menurun pada anaknya. Namun Andy menyangkal itu semua. Ia mencoba meyakinkan, dan membuktikan bahwa dirinya tidak memiliki sifat buruk yang dimiliki ayahnya itu. Yakni panjang tangan. Namun tak ada satu pun orang yang mau mempercayainya. Dari kecil ia selalu di jauhi dan di ejek ejek temannya. Ia di juluki “anak maling” oleh temannya. karena perbuatan buruk ayahnya, ia dan ibunya harus menanggung malu dan di kucilkan oleh lingkungan sekitar.

Andy tetap berusaha mengubah pandangan orang tentangnya. Ia aktif dalam kegiatan-kegiatan di desanya. Seperti karang taruna, kerja bakti setiap minggu, ikut piket ronda, dan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Ia tidak ingin di kucilkan lagi. Semenjak ayahnya masuk penjara karena perkara mencuri seekor lembu milik tetangganya, hidup Andy dan ibunya mulai tenang. Ia bisa bersekolah, dengan aman, tanpa harus sembunyi-sembunyi dari ayahnya. Ia juga jualan Koran sepulang sekolah, dan jualan gorengan kalau malam. Sementara ibunya, jadi tukang cuci.

Saat Andy mengunjungi ayahnya di sel tahanan, mereka tampak adu mulut. Ayah Andy tersinggung oleh ucapan Andi.
“akhirnya ayah, setelah ayah masuk sini aku dan ibu jadi hidup tentram tanpa harus menanggung malu karena kebiasaan buruk ayah itu”, ujar Andy.
“oh, jadi kau senang aku menghabiskan sisa umurku disini”, ujar ayah Andy. Andy hanya tersenyum sinis.
“bangsaatt…!!! Anak tidak tau diri. Delapan belas tahun aku membesarkanmu, ini kah balasanmu. Anak tidak tau terima kasih. Aku memberimu air susu, tapi kenapa kau membalas air tuba”, geram ayah Andy.
“apa ayah bilang, ayah yang membesarkanku. Tidak ayah, ibu lah yang membesarkanku. Dia mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara ayah, ayah mencuri dan uangnnya untuk mabuk-mabukan, berjudi, dan bersenang-senang dengan wanita lain. ayah tidak pernah tau, setiap pagi aku harus menjemur bantal yang basah, karena air mata ibu. Setiap malam beliau menangisi orang bejat seperti ayah”, terangnya panjang lebar. Ayahnya marah besar dan hendak memukulnya. Untung polisi yang berjaga menahannya. Ia pun di suruh pergi.

Andy adalah anak yang rajin, ia selalu bekerja keras untuk mendapatkan apa yang di maunya. Baginya bersakit-sakit dahulu itu tidak apa-apa, jika nanti di kemudian hari ia bersenang-senang karena telah mencapai apa yang di inginkannya. Siang malam ia bekerja, belajar dan berdoa tiada henti. Berkat ketekunannya, ia berhasil memperoleh beasiswa berprestasi. Di mata orang kini Andy mulai di anggap, ada yang bilang “biarpun anak maling, tapi dia bukan maling”, ada juga yang bilang “ia berbeda jauh dengan bapaknya, bagaikan langit dan bumi”, “ia sangat rajin, cerdas, dan senang bekerja keras”, dan masih banyak lagi pujian-pujian yang di lontarkan.

Siapa yang menabur benih, dia lah yang akan menuai. Itulah yang di rasakan oleh Andy, berkat usaha kerasnya, pandangan orang terhadap dirinya berubah ternyata segala sesuatu yang dilakukan sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil yang maksimal. Mari kita belajar dari Andy…

Cerpen Karangan: Yuni Maulina
Blog: yuni-maulina.blogspot.com
Facebook: yuni Lindsey
Bersekolah di SMKN 01 LUMAJANG

Cerpen Aku Bukan Seperti Ayahku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesal

Oleh:
Hari mulai petang, Fera baru pulang dari latihan pramuka. Penat sangat terlihat dengan hanya sekali pandang. Sendinya bagai tak mampu menahan bobot tubuhnya. Namun, entah kekuatan apa yang menggerakkan

Tuhan Bilang Jangan!

Oleh:
“Jangan bilang kalau Tuhan itu baik!” Ucap Supardi “Kenapa? bukankah Tuhan yang memberikan kita kehidupan, Ayah” balas Gendis Gendis tahu rasanya kehilangan hak yang sangat berharga atas apa yang

Perbicangan Senja

Oleh:
Senja itu, awan mendung dan mulai mengeluarkan amarahnya yang biasa disebut petir, Ratni dan sang Ibu duduk di teras rumah menikmati hembusan angin dengan ditemani secangkir teh manis buatan

Si Jal*ng

Oleh:
Ia menyeka wajahnya dengan kapas basah. Ia menyeka wajah yang sudah seperti tanah tak bertuan, jerawat tumbuh dengan liar seperti belukar. Atau mungkin lebih serupa dengan pemukiman kumuh di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *