Aku Dan Gelar Sarjana Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 20 February 2016

Sudah separuh jalan ku tapaki, seiring panas matahari yang semakin membakar kulitku yang kecokelatan. Ku genggam map dalam tanganku, ku usap peluh yang mengucur lewat dahiku. Ku lepas pandanganku menuju lalu lalang kendaraan bermotor yang tak peduli dengan keputusasaanku siang ini. Kemeja lusuhku sudah hampir banjir keringat, namun tak ada satu pun perusahaan yang mau menampung kemampuanku.

Sudah setengah hari ku habiskan untuk mengitari jalan Ahmad Yani, untuk menemukan satu perusaahaan, setidaknya, yang mau memberiku lowongan pekerjaan. Namun sepertinya usahaku hanya dihadiahi dengan caci maki dan bentakan security yang hampir menendangku ke luar pintu masuk karena bos dari perusahaan itu sudah menolakku mentah-mentah, bahkan tak melirik sedikit pun ijazah yang ku bawa. Huh, aku sudah lelah. Menyusuri jalanan penuh debu ini untuk mencari sumber nafkahku nanti, namun tak ada sedikit pun hasil dari usahaku ini. Ku sandarkan tubuhku di kursi panjang di sudut taman kota. Menatap sayu orang-orang yang mondar-mandir dalam keramaian, entah melakukan apa, dan punya tujuan ke mana, aku tak peduli.

“Mas, nggak pengen minum es? Mumpung panas-panas gini loh, paling enak minum yang seger-seger,” sebuah suara mengagetkanku, menyadarkanku yang sempat terbawa dalam lamunan.
“Oh.. eh, iya deh bang, boleh..” balasku akhirnya. Lelaki berkumis tipis itu meletakkan barang dagangannya di depanku. Ku cermati tubuhnya yang kurus, dengan topi dan handuk kumal yang dikenakannya. Aku tertegun. Bulir-bulir keringat menetes satu per satu dari keningnya yang mulai sedikit keriput.

“Mau yang mana Mas? Ada banyak pilihannya, silahkan pilih.. tadi saya baru beli produk minuman baru,” tawarnya dengan seulas senyum ramah. Aku merogoh kantongku. Tinggal selembar lima ribuan yang tersimpan Di sana. Ku sodorkan selembar lima ribuan yang baru ku ambil dari kantong pada lelaki berkumis tipis itu. Ia menerimanya dengan senang hati. Lalu memberiku selembar dua ribuan, ketika aku memutuskan mengambil sebotol soft drink.

“Mas ini.. habis dari mana?” Tanya lelaki itu sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan topi yang dikenakannya. Aku meneguk minumanku sebentar, lalu menghela napas panjang.
“Saya mau cari kerja bang,” balasku setengah memelas. Lelaki itu mengangguk beberapa kali dengan ber-ooh panjang.
“Udah dapat kerjanya Mas?” tanyanya sambil mengusap peluh dengan handuk kumal yang bertengger di balik lehernya. Aku menggeleng lemas.
“Mas ini sarjana apa?” tanyanya tanpa henti. Sepertinya tidak memikirkan hatiku yang sedang galau siang ini.
“Teknik Informatika,”

“Wah, hebat banget ya Mas ini. Bisa jadi sarjana Teknik Informatika.. saya saja, dulu pengen kuliah tapi nggak ada dana,” balas lelaki itu. Aku berpura-pura tidak mendengarnya.
“Tapi, saya masih bersyukur sampai detik ini saya bisa mendapatkan pekerjaan yang halal dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Saya malah kasihan dengan teman saya. Dulu, dia seorang sarjana hukum, tapi sampai saat ini dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Beberapa pekerjaan sudah dia lakukan, mulai dari tukang sol sepatu, pedagang asongan, buruh bangunan, sudah dia lakoni setiap hari. Tapi suatu hari, dia sudah tidak tahan lagi dengan hidupnya yang tidak menunjukkan kemajuan karena pekerjaan yang tidak tetap itu. Sebulan kemudian, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di rumah Ibunya,” cerita lelaki itu. Aku yang baru saja menyadari isi cerita itu, mulai terhanyut dan ingin mengetahui kisah selanjutnya.

“K.. kenapa bisa begitu bang? Kenapa dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan?”
“Dia bilang, dulu waktu kuliah, dia tidak terlalu serius. Banyak waktu yang dihabiskannya dengan melakukan hal-hal yang mubazir. Dia sering bolos dan hura-hura dengan teman-temannya. Setahu saya, dia itu orangnya pintar Mas. Tapi.. entahlah Mas, saya juga tidak begitu paham, mengapa hanya gara-gara itu, dia jadi frustasi dan gantung diri,” ucap lelaki itu. Aku merasa tersindir dengan ceritanya. Hal yang dilakukan temannya itu sama persis dengan apa yang selama ini ku lakukan. Mataku menerawang, mencoba mengingat masa laluku saat 6 tahun duduk di bangku kuliah.

Ku langkahkan kakiku menyusuri koridor kampus. Mataku berkeliling mencari seseorang. Hari ini aku akan membereskan tugas-tugasku yang sudah menggunung gara-gara beberapa hari ini aku tidak mengikuti beberapa mata kuliah. Langkahku terhenti begitu sampai di perpustakaan. Bola mataku mengawasi isi ruangan ini. Setelah melihat apa yang ku cari sedari tadi, aku menghampirinya.

“Tom,” sapaku dengan memukul pundaknya pelan. Cowok berkacamata super tebal itu menoleh ke arahku. Dari caranya menatapku, sepertinya dia sudah tahu apa maksudku menemuinya.
“Maaf Nas, gue lagi sibuk,” balasnya sambil memalingkan wajahnya dariku, dan meneruskan membaca buku setebal kamus oxford di depannya.
“Eh, jangan cari gara-gara sama aku ya!” ujarku setengah membentak. Ku cengkeram kerah bajunya. Lalu mengucapkan beberapa sumpah serapah yang meluncur ringan dari mulutku.
“Kalau kamu masih mau hidup, aku mau kamu kerjain tugas-tugas ini secepatnya, inget! Dalam waktu seminggu, kalau belum kelar juga, aku gak akan segan buat ngabisin kamu detik itu juga!” ancamku sembari melepas cengkeramanku dari kerah bajunya. Ku sodorkan selembar lima puluh ribuan padanya. Dia tak bergeming sedikit pun.

“Ok. Lo bisa tinggalin gue sekarang. Tugas lo gue yang urus,” balas Tom akhirnya. Ku sunggingkan senyum penuh kemenangan sebelum akhirnya ku angkat kakiku ke luar ruangan pengap ini. “Thanks,” balasku sambil bersiap ke luar dari perpustakaan. Tom meraih selembar lima puluh ribuan di meja, lalu mengepalkan tinjunya di meja. Mencoba merutuk nasibnya sebagai mahasiswa super culun dan rajin namun selalu dimanfaatkan.
“Gue sumpahin kalau lo udah sarjana entar, lo gak bakal bisa dapet pekerjaan!” sumpahnya. Lalu beranjak pergi dari meja sambil menenteng buku-bukunya. Ku gelengkan kepala, mencoba sadar dari lamunanku. Lelaki berkumis tipis itu masih di depanku. Menatapku sebentar, lalu mengipas-ngipaskan tubuhnya lagi.

“Kenapa Mas? Lagi mikirin sesuatu?” tanya lelaki itu. Aku menggeleng bohong.
“Saya pergi dulu ya bang, mau ngelanjutin perjalanan,” balasku akhirnya.
“Ya sudah Mas, saya juga mau ngelanjutin berdagang. Semoga sukses ya Mas, saya doakan cepat mendapat pekerjaan,” ujar lelaki itu sambil menenteng lagi barang dagangannya.
“Terima kasih bang,” balasku sembari mengangkat kaki untuk menyeberang jalan raya.

Mataku menyipit begitu terik mentari menyapa mataku. Refleks ku tutup separuh mukaku dengan map yang ku bawa. Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Huh, sudah hampir dhuhur… tapi belum juga ada perusahaan yang mau menampungku. Sabar, terus berusaha Anas… kamu pasti bisa, semangatku dalam hati. Kakiku berhenti di salah satu toko komputer yang terlihat ramai. Beberapa orang memenuhi setiap ruang di toko ini. Hatiku tergelitik untuk menengoknya sebentar.

“Mas…” sapaku pada seorang cowok yang sepertinya lebih tua dariku.
Ia menatapku sebentar lalu melanjutkan kesibukannya lagi.
“Hmm,” ia berdehem. Rasa grogi membuatku berkeringat dingin.
“S…saya mau cari pekerjaan,”
“Maaf Mas, nggak ada lowongan,” balasnya cuek.
“Saya bisa komputer kok Mas. Saya bisa apa saja kok, tolonglah Mas…” ucapku memelas.
Lelaki itu menatapku sebentar. Lalu mengusap dagunya berkali-kali. Namun akhirnya ia berkata padaku setengah berteriak. “Maaf Mas… Tidak ada lowongan!!!”

Aku melangkah mundur. Lalu meninggalkan tempat itu. Rasa kecewa terselip dalam hatiku. Mengingat kembali masa laluku yang sangat kelam, dengan kemalasan dan ketidakpedulianku dengan kuliah. Aku menyesal. Aku sadar sekarang. Aku harus berusaha lebih giat. Tapi, tentu saja, semuanya sudah terlambat. Aku terlalu mengandalkan gelar sarjanaku ketimbang kemampuanku yang masih tidak seberapa. Aku salah. Aku memang salah. Kakiku melangkah pelan menghampiri mesjid yang berdiri megah di hadapanku. Sudah berapa lama aku sudah tidak menjejakkan kakiku lagi di sebuah mesjid. Ku mantapkan hatiku untuk beribadah padaNya, memohon kesuksesan, meminta maaf atas segala kekhilafan. Aku sadar, aku bukanlah sarjana muda yang beruntung. Terlalu banyak dosa yang ku perbuat. Namun terlambat, penyesalan selalu datang di akhir kisah.

THE END

Cerpen Karangan: Igant Erisza Maudyna
Blog: igantmaudyna.blogspot.com

Cerpen Aku Dan Gelar Sarjana Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jali

Oleh:
Bocah laki-laki kecil itu tertatih-tatih mencoba mengejar beberapa anak ayam yang sedang berkeliaran di bawah pohon jambu air. Sesekali ayam-ayam itu berkeciap merasa terusik, namun mereka tetap saja tak

Jakarta Oxygen

Oleh:
Senja mulai melukiskan diri di langit. Pertanda jika waktu kerjaku telah usai. Aku segera melangkah untuk kembali pulang ke rumah. Saat aku akan ke luar dari tempatku bekerja, samar-samar

Dalam Bayangan Eksekusi Mati

Oleh:
Di Kabupaten Sukoharjo yang berjarak sekitar 10 km sebelah selatan Kota Surakarta, tempat Presiden ke-7 Republik ini dilahirkan. Hiduplah seorang wanita yang pernah menjadi TKW bernama Merri Utami. Merri

Derai Air Mata Untuk Sang Ibu

Oleh:
Di sebuah rumah, tinggal seorang anak muda bersama Ibunya. Hari masih dalam keadaan pagi. Anak tersebut buru-buru ingin sampai ke Sekolah, alasannya bukan karena giat atau rajin, itu karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *