Aku dan Pak Kos

Judul Cerpen Aku dan Pak Kos
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 31 May 2012

Mungkin bukan sekali ini Pak Kos memarahi anaknya, Dimas. Sepengetahuanku beberapa hari ini Dimas dan adiknya, Bayu selalu berwajah murung.

“kamudah ini kan sudah besar, sudah SMA, masak di suruh beli tepung gitu aja salah, ho… alah le.. apasih isi kepalamu itu…! kata Pak kos. “Kanji di warung masih banyak, kalo kamu beli banyak lagi begini, bisa jamuran nanti…dasar, mana uang bapak sudah habis , belum lagi buat bayar sppmu!”
Dimas hanya menunduk lesu. Bukankah tadi Pak e yang nyuruh beli kanji, bukan tepung, atau ia yang salah dengar. Batin Dimas dalam ketakutannya. Ya mungkin ia memang salah dengar.

“Ya pak, nanti saya tukar lagi… Kata dimas Pelan.
“Ndak usah…, biar aja.. moga aja laku…” jawab Bapaknya ketus. Orang separuh baya itu dengan lesu lalu meninggalkan anaknya yang juga measa tertekan.

Pak kos kulihat lalu duduk dengan lesu di kursinya, sebelum duduk sepertinya ia hendak berbicara denganku, tapi ia terlihat ragu. Ia hempaskan tubuhnya dengan berat di kursi bambu itu, menimbulkan suara berkeriut. Aku yang sedari tadi duduk di depan kamar, dan mengamati kejadian itu, segera masuk ke kamar. Ku ambil buku dan ku coba membaca sesuatu. Pikiranku tidak mampu berkonsentrasi dengan bacaan itu. Ku ambil dompetku, ku lihat tinggal recehan di dalamnya, mungkin cuma tiga ribu.

Dari dalam kamar, melalui kaca cendela, kulihat Pak Kos mondar mandir di teras rumahnya. Ia terlihat resah. Sedang anaknya telah hilang.
Ku teruskan membaca novel lawas itu sebisa mungkin….

” Apa ku bilang tadi. Teriak Pak Kos tiba-tiba, kulihat Bu Kos sedang berada di warung nya, di dekat rumah. Rupanya Pak kos berbicara dengannya.” Jangan meletakkan minyak dekat pintu itu, tumpah kan..!
Ku lihat bu kos tidak menjawab, sambil membersihkan sisa tumpahan minyak, kulihat bibirnya bergumam sesuatu, sepertinya bukanlah hal besar tentang minyak yang tumpah itu.

Sudah beberapa hari ini suasana hati Pak Kos terlihat suram, kelihatannya ia melampiaskannya pada orang-orang di sekitarnya.
Sore itu aku pergi ke kos temanku, sampai beberapa hari aku tinggal di sana, hutang sana sini untuk biaya hidup. Aku belum berani pulang ke kosanku sendiri. Aku mau mehindar dulu sementara sampai kirimanku datang.

Sore itu suasana Jogja sangat cerah, kulihat matahari di barat sana masih terang menyinar. Budi kulihat tersenyum mendekatiku. “Tidur di mana aja kamu?” tanya teman satu kosku itu.

” Kosan Supri.” Jawabku singkat sambil tersenyum.”Pak kos nanyakan aku..?”
Budi menggeleng.”Bud, ada uang nggak, pinjem dong, barang sepeluh ato ma belas ribu ja..?
Budi terdiam dan mengeluarkan dompetnnya, ia mengambil uang lima belas ribu dan menyerahkan padaku. Aku mengucapkan terimakasih padanya. Aku tahu uang budi juga tidak banyak untuk saat ini, iapun belum pulang ke Gunung Kidul untuk ngambil jatah bulanan dari rumah. Tapi Budi memang orang Jogja asli, sama seperti Pak Kos, penuh tenggang rasa dan sungkan. Kulihat ia melangkah pergi sambil memikirkan sesuatu. Semoga bukan soal uang, bathinku.

Sore itu aku dengan penuh harap mendatangi ATM di jalan masuk kampus, dengan hati berdebar penuh harap kulihat saldoku di mesin itu, ada Rp. 200.000, aku merasa cukup puas. Meskipun tidak senang-senang amat, karena dikurangi hutang dan bayar kos, mungkin tinggal Rp.50.000. dan aku akan segera minta lagi beberapa hari lagi. yah beginilah perjuangan pikirku, memotivasi diri, meskipun saja tetap kurang tenang rasa ini. Terbanyang orangtua dirumah pontang panting ke sana ke mari mencari biaya untuk kehidupanku ini.

Segera setelah itu aku pulang ke kos dan menuju rumah Pak kos. Semoga dengan kedatanganku ini beliau bisa segera menutupi kebutuhannya, dan tidak lagi mencari-cari kambing hitam ntuk melampiaskan keresahannya karena sungkan untuk menarik uang kos dariku.

Cerita Aku dan Pak Kos merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mam

Oleh:
Padang rumput itu sudah tumbuh sepenuhnya. Tidak seperti terakhir ku tinggalkan. Gersang dan hanya ada satu pohon yang berdiri di sana. Pohon yang selalu ku datangi setiap aku mempunyai

Simpul Senyum di Dusun Bengalun

Oleh:
Sebagai hati yang tertinggal di dusun bengalun, ada simpul senyum yang menanti di seberang lautan sana. Sudah dua hari Renita habiskan waktunya untuk menganyam. Daun pandan kering yang entah

Kecup Cium Untuk Ibu

Oleh:
Namaku Aisyah, gadis remaja biasa yang baru bangun dari tidur lelapnya. Sudah menjadi kebiasaan bagiku meletakkan jam alarmku bersebelahan dengan kamar mandi. Supaya mau tidak mau aku harus berjalan

Penggerebekan

Oleh:
Imamudin datang lebih kurang tiga minggu yang lalu, saat senja hari kamis ketika matahari dengan senang melukis langit dengan warna jingga seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *