Aku, Hidup, dan Dina

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 July 2012

Suara sirene itu membangunkanku, aku harus segera pergi dari sini. Petugas penertiban sebentar lagi akan datang dan menjerat kami, menjerat aku dan puluhan gelandangan lain yang sedang terlelap. Aku berlari menjauhi suara sirene, dan berusaha lari secepat mungkin. Aku takut petugas akan menemukan botol minuman keras yan kupunya atau jarum suntik yang kugunakan. Namun, wajah anak itu menggangguku, dia berdiri di hadapanku, wajahnya ketakutan dan kesepian. Aku memandanginya pelan, anak gelandangan yang mana ini, dan kemana ibunya, pikirku kesal. Suara sirene yang mengaum-ngaum mengganggu telingaku dan membuatku bergerak reflek, menggendong anak itu, berlari menjauh, dan bersembunyi.

Anak itu masih ketakutan dan berdiri diam di sampingku. Dia sangat kesepian dan kehilangan sepertinya. Aku berusaha ramah padanya, kuusap kepalanya, dan kukenalkan namaku padanya. “Vito,”kataku pelan sambil menjulurkan tanganku padanya. “Panggil saja bang Vito, nama kamu siapa, kenapa kamu tadi sendirian,”tanyaku pada anak itu. Anak itu masih saja diam dan ketakutan, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Mungkin ia takut melihat rambut gondrongku, dan baju rombengku. Aku berusaha tersenyum kaku dan agak sedikit resah, akan kuapakan anak ini.

Setelah tiga hari ikut bersamaku, anak itu baru mau buka suara. Tadinya kupikir dia bisu, ternyata dia hanya penakut saja. Dina, namanya. Dia berumur enam tahun, ditinggalkan oleh ibunya di pingir jalan saat sedang jalan-jalan sore, dan sejak itu ia jadi menggelandang dan tak punya rumah. Dia juga sempat mengira aku adalah penculik yang berusaha menculiknya dan akan menjualnya ke orang jahat. Karena selama ia sendirian di jalanan, ia sudah hampir tiga kali diculik untuk dijual. Hatiku sangat sedih mendengar cerita malangnya. Ternyata ada ibu sejahat itu di dunia ini, entah apa yang dipikirkan ibu itu saat meninggalkan anaknya sendirian di jalan ramai. Entah mengapa, aku memutuskan untuk mengajak Dina ikut bersamaku sampai dia menemukan keluarganya kembali.

Aku sudah kehabisan uang, dan tak ada cukup uang untuk memenuhi kebutuhan makanku dan Dina. Biasanya sebelum bertemu Dina, bila sudah kehabisan uang, aku akan mencopet, memalak orang, atau mengemis di pinggir jalan, meminta belas kasih orang-orang yang lewat. Dan sekarang itu menjadi hal terakhir yang akan kulakukan. Namun saat aku hendak melakukan itu kali ini, aku ditahan oleh tangan mungil Dina. “Jangan Bang, jangan mengemis, kata ibu, kita harus bekerja bila hendak mendapat uang. Jangan hanya menadahkan tangan seperti orang lumpuh. Kita harus punya harga diri, Bang,”katanya polos, namun begitu meusuk ke hatiku. Harga diri, kata yang hampir tak pernah ada dalam sejarah dua puluh lima tahun aku hidup di dunia ini.

Sejak kecil, aku sudah menjadi anak jalanan , yang tak jelas dimana rumahku, atau siapa orang tuaku. Tak ada yang kuingat pernah menjadi orang tuaku, kecuali Bang Andi yang ‘mengasuhku’ untuk menjadi copet yang nantinya akan diberi makan olehnya. Bang Andi tentu tidak dapat dikategorikan sebagai orang tua yang sesungguhnya. Masa kecilku diisi oleh belajar mencuri, mengemis, mencopet, ataupun memalak anak sekolahan yang lewat. Sungguh aku tak punya harga diri sejak kecil. Namun aku tak peduli. Untuk apa harga diri, kalau tak bisa dapat uang, keluhku sambil menatap kesal Dina yang masih saja mengingat pesan ibunya padahal ibunya telah meninggalkannya sendirian.

“Tapi kita butuh makan, bukan butuh harga diri, Dina. Lagian menadahkan tangan kan juga kerja namanya. Sudah biar aku cari uang, kau duduk saja disana,”kataku dengan nada bicara yang agak keras pada Dina, gadis kecil yang malang itu. Setelah mendapatkan cukup uang hasil mengemis, aku menghampiri Dina yang duduk melamun di bawah pohon rindang. Aku membawa dua bungkus nasi uduk dan dua gelas air mineral. Satu untukku, dan satu untuknya. Kusodorkan bagiannnya, namun Dina menggeleng. “Aku tidak lapar, Bang. Terima kasih,”katanya pelan sambil menolak pemberianku. Aku sangat bingung. Dina tak mungkin tak lapar, dia sudah dari semalam tidak makan dan minum, sama sepertiku. Aku saja yang orang dewasa begini sudah lapar setengah mati . Namun aku hanya diam, tak bertanya apapun lagi pada Dina.

Sore itu, airmata Dina mengalir deras. Bukan karena ia lapar, atau karena tempat kami tidur sekarang hanyalah trotoar sepi, tidak seperti kemarin di lantai gedung lama itu. Aku berusaha menenangkannya, perlahan tangisnya mereda dan dia bercerita sambil sesenggukan. Ternyata Dina merindukan ibunya, yang telah lebih dari tiga bulan meninggalkan dirinya. Aku menenangkan Dina, walaupun aku tak pernah merasakan kasih sayang ibu, namun aku juga merasakan pedihnya tak punya ibu. Ah, ibu, entah siapa dan dimana engkau sekarang. Tiba-tiba saja Dina memelukku dan berkata, “Aku berharap Bang Vito akan menjadi abangku selama tak ada ibu disisiku”. Tanpa sadar, air mataku menetes.

Malam itu, aku meninggalkan Dina yang sedang terlelap di masjid itu. Aku menuju rumah seorang teman lamaku , seorang teman yang menawarkanku untuk bekerja. Pekerjaan yang katanya akan menghasilkan banyak uang, namun membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Aku berpikir cukup lama untuk menerima pekerjaan ini, namun aku mengingat Dina, yang kelaparan, yang bajunya kumal, dan setiap malam kedinginan karena kami tak punya tempat tinggal. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja dengan temanku itu.

Aku bekerja sebagai pembalap, alias joki malam yang dijadikan taruhan bagi para pecinta judi dan balap. Aku dibekali sepeda motor yang sangat kencang jalannya. Aku memang suka ngebut di jalanan, tapi aku tak pernah menjadi joki malam sebelumnya. Pada awalnya, aku takut pada polisi dan kematian yang bisa datang iba-tiba merenggut nyawaku. Namun, semakin sering aku memutar gas, maka semakin tenang aku dalam berlomba. Tentu saja aku harus balapan pada malam hari, karena jalanan kota baru akan sepi diatas pukul dua belas malam. Aku seringkali khawatir pada Dina tiap kali aku meninggalkannya. Namun, ini semua pun kukerjakan untuk Dina, dan bila aku menjadi pemenang dalam tiap balapan, aku akan dapat uang hasil taruhan.

Kehidupanku semakin membaik, begitu juga Dina. Ia tak lagi merasa sedih dan mulai melupakan kerinduan pada ibunya. Aku berhasil mengontrak sebuah kamar kecil dengan uang hasil menjoki selama lima malam. Sekarang aku tak khawatir meninggalkan Dina sendirian, karena kami sudah punya tempat tinggal. Kenapa tidak sejak dulu saja aku bekerja seperti ini, sesalku. Kalau saja aku sudah menjadi joki malam sejak dulu, mungkin aku sekarang sudah kaya.

“Bang, sebenarnya kerja apa sih? Aku kok tak boleh tahu,”keluh Dina padaku. Ia sudah berulang kali mendesak ingin tahu apa pekerjaanku. Namun aku tetap diam, tidak menjawab pertanyaannya. Memang aku tidak mengemis lagi, atau mencuri, namun aku takut Dina akan sedih bila tahu pekerjaanku apa. Namun Dina terus mendesak, akhirnya kukatakan yang sebenarnya.

Seperti dugaanku, Dina sangat takut dan sedih sekali, dia menangis sejadinya. Dia khawatir bila aku kecelakaan ataupun ditangkap polisi karena ngebut di jalan raya. Namun aku menenangkannya, dan berusaha meyakinkannya kalau aku ini adalah seorang pembalap handal yang tak mungkin kecelakaan. “Abang kan hebat, jadi Dina nggak usah cemas deh,” kataku dengan nada santai. Dina hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.

Malam itu, saat aku akan berangkat kerja, Dina menarik tanganku dan berkata, “ Aku ingin Bang Vito tinggal di rumah malam ini, jangan pergi balapan ya,”pintanya pilu. Sangat menyedihkan bila kulihat wajahnya, yang sampai sekarang masih terlihat kesepian. Namun aku terlanjur janji untuk menjoki dengan baik malam ini, karena taruhan malam ini sangat besar menurut temanku. Tatapan mata Dina memintaku untuk tinggal, namun hatiku berkeras ingin pergi dan mendapatkan uang. Anak ini kan makan juga dari uang menjoki ini, pikirku singkat. Kutepis tangan Dina, dan kuhilangkan tatapan matanya dari pandanganku, aku melarikan motorku kencang menembus angin malam yang dingin. Entah bagaimana dengan Dina, mungkinkah dia menangis sekarang?

Balapan liar siap dimulai. Para penonton telah sibuk memasang taruhan dan membunyikan mesin sepeda motor mereka kencang-kencang untuk pamer satu sama lain. Keadaan malam ini, adalah sisi lain dari kehidupan jalanan yang telah kukenal sejak kecil. Seorang temanku menepuk pundakku dan berseru, “Menanglah, uangnya sangat besar”. Aku hanya mengangguk senang, aku membayangkan uang yang akan kuterima bila aku menang nanti.Aku bertekad membelikan Dina boneka dengan uang itu nanti. Semua pembalap jalanan sudah siap di posisi awal, begitu juga aku. Saat tanda pertadinan dimulai, aku langsung menancap gas dengan kencang dan jalanan malam itu begitu sepi dan dingin.

Aku berada di posisi paling depan, sangat jauh dari pembalap yang ada di posisi kedua. Telah kurasakan aura kemenangan mulai menghampiriku. Sampai ketika kulihat wajah anak itu. Wajah yang sepertinya sangat kukenal. Wajah yang ketakutan dan kesepian. Ya, itu wajah Dina. Persis di hadapanku, aku berusaha sekuat tenaga menginjak rem di kakiku dan menarik rem tanganku sekuat mungkin. Ya Tuhan, aku harus berhenti sekarang. Aku tidak boleh menabrak Dina, satu-satunya orang yang dapat kuanggap keluarga dan menganggapku keluarga. AKu tidak mungkin mencelakakan adikku sendiri, tolong aku.

Bragh..Brug..Krekk..krekkk..krekkk..

Aku dapat merasakan bagian depan motorku telah menabraknya dan aku melihat tubuhnya tergilas perlahan oleh ban motorku yang baru akan melambat. Aku merasakan cipratan darah ke sekujur kaki dan wajahku. Aku dapat mencium aroma darahnya, darah yang ketakutan dan kesepian, darah Dina. Aku menelantarkan motorku ke tengah jalan raya. Dan kutatap tubuhnya yang berlumur darah dan sudah setengah hancur. Aku tak dapat menahan air mataku sedikit pun. Aku telah menabraknya, aku telah membunuhnya, padahal aku menyayanginya.

Dan tiba-tiba suara sirene menyadarkanku. Ini persis, persis seperti pertama kali aku melihat wajahnya yang ketakutan dan kesepian. Namun kali ini, aku tak akan lari, aku akan tetap diam disini, mempertanggungjawabkan apa yang telah kulakukan. Aku rela dipenjara sampai mati pun tak apa. Hari ini aku telah membunuh seorang anak yang ditinggal ibunya, yang menginginkanku menjadi abangnya, dan yang melarangku pergi untuk balapan. Tak ada lagi kebahagiaan antara aku dan Dina. Mungkin Tuhan membalasku sekarang, setelah sejak lama aku berlaku jahat dan melupakan-Nya. Ya, selama dua puluh lima tahun, baru kali ini aku menyebut nama Tuhan. Sekarang aku sadar, inilah akibatnya. Tuhan, masihkah kau sudi memaafkanku?

Nama Penulis: Aisyah
Blog / Facebook: Senyumtangis.blogpsot.com

Cerpen Aku, Hidup, dan Dina merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berguna Untuk yang Lain

Oleh:
Hari Senin siang tepatnya pukul 11.00, ada panggilan ketua kelas. Rio selaku ketua kelas 7E segera bergegas menuju ruang guru untuk mendengarkan pengumuman, dan pengumuman yang disampaikan adalah mengenai

Tak Ubah

Oleh:
Galih namanya. Pria kecil itu tengah merenungkan sesuatu. Pria kecil yang pandai namun sombong itu masih terus memikirkan sesuatu. Entah apa yang dia pikirkan. Pikirannya menerawang ke masa dua

Si Bocah Daman Setiawan

Oleh:
Bermula dijalanan menuju sungai aku berpapasan dengannya. Aku menyapanya dengan senyum terhiasi di wajah. Dia hanya diam. Berlalu pergi meninggalkanku. Tak berkata apa-apa, tersenyum pun tiada. Di hari lain,

I Can’t Take it Anymore

Oleh:
Aku sudah tidak tahan lagi mendengar omongan-omongan para anti fansku. Aku sudah tidak tahan lagi mau ditaruh dimana muka ku ini. Perlahan, aku merasa air mataku mengalir begitu saja.

Rindu di Tepi Langit

Oleh:
hufh… badanku seluruhnya rontok, dari atas sampai jempol kaki. mungkin perlu disiram dan diberi pupuk kali y? hehehehhe, yayaya, aku baru saja menyelesaikan studi masterku di bumi east java

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *