Aku Ingin Pulang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 4 June 2021

Aku berada di antara orang-orang yang menampakkan raut keceriaan di wajahnya. Mereka tampak riang dan gembira ketika aku menyapanya. Hanya aku disini, terbawa arus kesedihan yang tiada hentinya. Merdunya suara mereka membuat aku semakin tertunduk dan memalingkan wajah darinya.
Apakah ini yang dinamakan luka tapi tak berdarah?

Sakit yang kurasakan, perih yang mendalam, keinginan yang tertahan, ucapan yang tak terlontarkan. Ingin sekali aku berteriak Ingin sekali aku marah, tapi, kepada siapakah hendak aku melakukannya?
Haruskah aku melampiaskan amarahku kepadamu?
Atau kepada kau?
Atau kepada siapa saja yang mendekatiku?
Atau dengan melempar barang yang berada disekelilingku?
Atau dengan menangis?

Saat kata-kata tak mampu lagi terucapkan, itulah yang menjadi kebiasaanku selama ini. Ayah.. Ibu… Aku ingin pulang…
Hari-hari kujalani dengan penuh tanda tanya. Kulalui dengan penuh rasa, rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasa halu, khayal, yang menghiasi fikiranku seakan tak tersimpan dan tak terekam oleh memoriku.
Oh Tuhan, sampai kapankah aku harus bertahan? Sampai kapan?
Haruskah maut yang datang menjemputku sebelum kalian?
Haruskah aku disini selamanya sampai raga sudah tak lagi bernyawa?

Sampai detik ini masih terus kufikirkan. Mencari jalan keluar yang tidak mudah kulakukan terasa sulit untuk diperjuangkan. Tembok raksasa yang membatasi komunikasi antara aku dan kau kini semakin menjadi besar.
Orang-orang disekitar pagar depan tampak menyeramkan. Saat-saat suasana sepi lengang, aku melirik seperti orang kebingungan.
Arah manakah yang harus aku tempuh sekarang?
Jalur manakah yang semestinya dilewati banyak orang?
Aku tertegun diam.
Menundukkan pandangan. Mencari jalan. Kemana lagi aku harus berusaha?

Aku yang menjadi subjek perhatian orang-orang sekitar. Mata mereka terlihat seperti buaya yang sedang kelaparan. Mencari mangsa yang siap untuk diterkam. Kini, aku kah yang menjadi korbannya sekarang?
Aku yang menjadi bahan perbincangan, siap untuk dijual-belikan. Tak mudah menerima semuanya hanya karena tidak ada siapa-siapa. Berdiam seorang diri, di tempat seperti ini, membuat aku tidak bisa menghindarinya semuanya.

Terkadang orang diam itu bukan karena tidak tau, tapi ada sesuatu hal yang tak bisa diungkapkan olehnya dengan kata-kata. Dan terkadang, banyak hal yang harus dilakukan tanpa suara. Andai datang seorang malaikat berwujud manusia, aku pasti langsung memeluknya, kupegang erat lengan bajunya, takkan kulepas dan kuikuti jejak langkah kakinya, kemanapun, dan dimanapun, aku akan setia bersamanya.

Suasana disini gelap, hanya ada beberapa orang yang lalu-lalang untuk berjaga. Lampu yang entah berapa watt itu tidak cukup untuk menerangi penuh ruangan ini. Tidak kudengar suara orang-orang di sekitar, hanya suara jangkrik yang menemaniku malam ini. Kubuka jelas bola mataku yang masih menahan kantuk ini untuk bangun dari mimpi dan pergi meninggalkan tempat yang membuat diriku tidak nyaman. kuperhatikan sekitar ruangan, tiada tanda-tanda orang berjalan, sepertinya mereka sedang ketiduran, yaa kuharap ini benar terjadi.

Gerak-gerikku tampaknya tidak mencurigakan, semoga apa yang kulakukan hasilnya memuaskan, kupandangi satu-persatu pundi-pundi bangunan yang sudah tua ini, gelapnya malam membuatku hampir menabrak tiang. Suasana sunyi tanpa dihiasi suara-suara kutukan manusia itu, aku lega. Semoga ini menjadi awal langkahku untuk pergi dari sini.
Ah, sialan, tak sengaja aku menendang pot bunga yang berada di halaman belakang, suara pecahan kacanya dapat membangunkan singa-singa yang sedang tertidur pulas itu.
Ceroboh sekali kau, dasarr!!! Apakah kau tidak tau ini bisa membahayakan dirimu? Rileks okay, jangan terburu-buru, proses tidak pernah menghianati hasil. Tenang saja! Kau pasti berhasil!

Aku pun berjalan menyusuri halaman belakang yang tampak sepi lengang, merahnya mata burung hantu yang sangat menyeramkan itu ditambah dengan suasana yang bisa dibilang seperti film horror membuat aku hampir berteriak saat itu juga, kututup rapat-rapat mulutku hingga aku bisa berjalan dengan tenang tanpa gangguan apapun, ah, ternyata hanya burung hantu guys.

Kulihat jam di tanganku yang menunjukkan pukul 00:00. Entah apa yang sedang kufikirkan saat ini, perasaan campur aduk menyelimuti malamku ini, rasa sedih, gelisah, takut, semuanya berbaur menjadi satu. saat anak-anak yang lain tertidur pulas di rumahnya dengan selimut tebal dan kasur yang nyaman, juga suasana yang tenang tanpa gangguan, aku disini sendirian, memikirkan banyak hal yang tidak seharusnya difikirkan. Banyak hal yang menjadi kewajiban, banyak hal yang harus dipertanggungkan jawabkan. Walau bukan keinginan, walau bukan paksaan, tapi tetap harus aku lakukan.

Ingin aku bercerita kepada semua orang, kepada semua benda yang di langit dan yang di bumi, kepada semua tumbuhan dan kumpulan hewan-hewan, bahwa aku merindukan kalian, bersabarlah sebentar, tunggu aku disana, aku datang untuk kalian, aku datang membawa kabar, kabar suka maupun duka, biarlah sekarang aku bertahan, bersabar sebentar untuk kebahagiaan yang lama, aku tahu, aku pasti bisa, melewati ini tanpa mereka, biarkan ini menjadi cerita, kenangan suram di masa sekolah, sebuah kenangan yang tak terlupakan dan menjadi pelajaran di masa yang akan datang. bukan maksud menjadikan beban, hanya ingin berbagi pengalaman.

Derap langkahku semakin melaju mengikuti alur garis jalanan ini, tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari belakang,
Hey kau, jangan lari. Aku yang mendengar suara itu, semakin takut jika khayalanku tadi tidak sampai tepat pada sasarannya. Aku berlari sekencang mungkin, mengeluarkan tenaga dalamku agar bisa lolos dari mereka.

Bruk, kakiku tersandung batu. Aku yang tadinya berdiri dan berusaha lari dari mereka, kini terjatuh membaringkan diri di tanah yang lapang ini. Aku berusaha untuk tetap lari dan melanjutkan perjalanan, tapi sayang sekali, mereka kini berdiri tepat dihadapanku. Tersenyum lebar melihat wajahku yang polos ini berhasil menyerahkan diri kembali.

Ahh, sialan, lagi-lagi aku gagal, saat aku mulai berusaha kenapa ada aja rintangannya? aku yang baru mulai bangkit dari kegelapan dan berharap menemukan titik terang kehidupan, Kini harus menempuh dan bertemu kembali dengan kehidupan yang sangat tidak diinginkan ini, kalau disuruh memilih, aku rasanya lebih baik mati daripada harus hidup seatap dengan makhluk yang tidak ada jiwa kemanusiannya ini.

Ya tuhan… cobaan seperti apa lagi yang kau berikan kepadaku??? Aku tau, kau tidak akan menguji seorang hambanya diluar batas kemampuannya. Tapi, sungguh, sebenarnya aku tidak mampu untuk menjalani ini semua, aku tak sanggup, aku tak kuat, aku tak rela, jika di sisa-sisa umurku ini aku harus menjalani hidup dengan sia-sia. Apa gunanya keberadaanku di bumi ini jika tidak bisa membahagiakan orang-orang yang kusayang, apa gunanya aku disini, lebih baik mati daripada harus hidup begini.

Bumbu-bumbu kehancuran mulai menghampiriku. Bau-bau ketidaksenangan itu mulai datang mendekatiku.
Lambat laun ini pasti akan terjadi.
Iya, aku yakin itu.

Aku harus menerimanya walau dengan kecil hati. siap tidak siap, mau tidak mau, walau dengan keadaan yang sangat terpaksa dan tidak ada celah sedikitpun untuk aku tidak mengakuinya.

Percuma saja kau berbunyi dari belakang, hey… tidak ada yang mau mendengar ocehanmu disini, sekarang hanya kau seorang diri, tanpa orang lain, tanpa orang yang kau sayang, tanpa bantuan dan mereka pun tidak akan pernah mau membantumu, isak tangisku dalam hati. Dan Sejak malam inilah aku mulai mengurungkan diri, menatap langit-langit bangunan yang tua ini, menunggu maut agar segera datang untuk membawaku pergi.

Cerpen Karangan: Desi Ramadani Safitri
Blog / Facebook: desi ramadhani
Hai, aku Desi Ramadani Safitri. Lahir 20 tahun yang lalu tepatnya di kota Tanjung Pinang pada tanggal 14 desember 2000. Saat ini sedang menempuh Pendidikan tinggi Strata I prodi PGMI di STIT Hidayatullah Batam. Hobiku Reading, Writing, and Travelling, hehe. Memiliki cita-cita menjadi seorang motivator seperti Miss Merry Riana sekaligus Entrepreneur muda. Do’ain yaa …
Contact me at :
Email: desivaghela14[-at-]gmail.com
Fb: desi ramadhani
Ig: desi_rs14

Cerpen Aku Ingin Pulang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Kulangkahkan kaki keluar kelas yang sangat membosankan dan suntuk. Siang hari yang cukup terik di kampus, hanya segelintir orang yang rela berpanas-panas di jalan, sementara yang lain sepertinya nyaman

Takdir Teridah

Oleh:
Separuh nyawaku terasa hilang, buliran bening air mata turun tak terbendung membasahi pipi, hati kalut dan dipenuhi kekawatiran yang dalam, ketika engkau melambaikan tanganmu di dalam bis yang akan

Chip Robot (Part 3)

Oleh:
Aku terbaring di atas sebuah kasur lantai yang sedikit koyak. Perlahan aku buka mataku. Lalu bangun dengan perlahan sambil menahan sakit di tanganku ah.. Ah.. Aw.. Dan terlihat seorang

Panorama Rupawan

Oleh:
Malam itu, api semakin menyalak. Romna bergegas memasukkan anak laki-lakinya yang berumur delapan bulan ke dalam baskom plastik. Tanpa pikir panjang, wanita muda itu mencemplungkan dirinya ke dalam Sungai

Temuilah, Hanya Untuk Bertemu

Oleh:
“Kamu dari mana?” “Dari sana, bu.” “Dari mana Nak? Ibu tidak pernah mengajari kamu berbohong.” “Hm, aku dari rumah Ayah.” Suasana menjadi hening. Sebelum akhirnya ibu menunduk dan terisak.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *