Aku, Langit dan Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 November 2016

Namaku Senja. Bukan karena orangtuaku suka senja atau karena aku terlahir di sore hari. Tapi karena bu Lilis menemukanku saat senja. Ya, bu Lilis seorang janda paruh baya yang hidup dengan kesederhanaan. Makanya ia memberiku nama Senja. Aku tak tau mengapa ia melimpahiku kasih sayang, ia memberiku cinta seorang ibu dan perlindungan seorang ayah. Aneh bukan, ia yang tidak ada hubungannya denganku malah merawatku dengan baik. Sedangkan orang yang mengandungku selama 9 bulan malah membuangku. Oh bukan, mungkin ia menitipkanku di tempat pembuangan sampah itu. Karena sebab-sebab yang mungkin aku tak mengerti. Tapi ya sudahlah, sudah pasti inilah takdirku bersama ibuku bu Lilis.

Sejak usiaku 6 tahun bu Lilis sudah mulai menceritakan padaku tentang siapa aku sebenarnya. Dan sekarang umurku 19 tahun. Aku tak mempunyai siapa pun selain bu Lilis. Aku tak berteman, lagi pula mana ada yang mau menjadikanku teman, anak yang tak jelas asal usulnya. Setiap hari aku hanya punya satu keinginan saja, semoga aku bisa melihat senja. karena mungkin saja ia tau mengapa orangtuaku tega meninggalkanku di tempat itu. Atau mungkin saja ia bisa memberi tau kan ku siapa ibu kandungku. Bukankah ia satu-satunya saksi di tempat itu?, begitu fikirku.

Hari sudah hampir sore, aku bergegas menuju tempat pertapaanku untuk kembali menginterogasi senja. Tidak banyak yang tau tempat itu, eh salah cuma aku yang tau tempat itu. Untuk menuju kesana aku harus melewati hutan, memang bukan hutan yang lebat. Tapi tetap saja menurut orang-orang itu adalah hutan. Dari tempat tersebut aku bisa melihat sang surya kembali ke peraduannya, meninggalkan rona-rona jingga. Seperti wajah gadis yang sedang jatuh cinta. Ahhh mungkin aku sedikit berlebihan mengatakannya. Toh aku kan belum pernah jatuh cinta!. Tapi mana bisa aku jatuh cinta jika bertemu orang lain saja aku jarang. Ada-ada saja aku ini (sambil tertawa geli karena sangking konyolnya).

Kunikmati setiap hembusan angin di tempat ini, dan terkadang aku membuat lelucon untuk menghibur diriku sendiri. “Aku juga suka senja.” Tiba-tiba terdengar ada suara lain dari arah belakang dan yang pasti dia berbeda denganku. Aku bangkit dari dudukku dengan detakan jantung yang lumayan kencang karena kaget. “Kau juga suka senja?” tanya laki-laki itu. Aku hanya diam sambil kuperhatikan ia dari ujung kaki ke ujung kepala, mana tau kakinya tak menginjak tanah. Kemudian laki-laki itu tersenyum padaku, sepertinya ia tau apa yang sedang aku fikirkan. Sambil mengulurkan tangannya ia kembali berkata, “Tenang, aku ini sama sepertimu. Bukankah kau sudah melihat kaki ku menginjak tanah?, kenalkan aku.. Saat ia hendak mengenalkan diri aku berlari meninggalkannya di tempat itu. Kurasa ini hal yang wajar, karena sebelumnya tidak ada yang mau berkenalan denganku. Tapi tunggu, mengapa ia bisa tau tempat itu, dan sejak kapan ia di situ?. Kupikir hanya ada aku, langit dan senja di sana.

Sudah 1 minggu kutinggalkan rutinitasku melihat senja dan hari ini aku ingin kembali ke tempat tersebut dengan harapan benar-benar hanya akan ada aku disana. Sesampainya disana aku duduk manis seperti biasa, menikmati senja dan merasakan sepoi-sepoi angin mengelus rambutku. Dan tiba-tiba laki-laki itu sudah berdiri di sampingku. “Apa kau masih takut padaku, atau kau akan berlari lagi?” tanyanya datar. Aku tetap pada posisi diam ku dengan tak sedikitpun memalingkan wajahku. “Mengapa kau begitu suka senja?” ia masih mengajukan pertanyaan yang sama seperti 1 minggu yang lalu. “Siapa bilang aku suka senja?” balasku dengan nada bertanya juga dan itu agak membuatnya bingung. “Jika kau tak suka senja, lalu mengapa kau selalu ke tempat ini? bukankah kau kesini untuk melihat senja?” rasanya ia tak akan membiarkanku berlari lagi sehingga ia melemparku dengan beberapa pertanyaan sekaligus. “Tunggu, dari mana kau tau kalau aku sering ke tempat ini?” aku balik bertanya. karena pertanyaan ia tadi membuatku merasa aneh, bukankah aku bertemu dengannya 1 minggu yang lalu, bagaimana ia tau aku sering kesini, batinku. “Apa kau sering menjawab pertanyaan orang lain dengan balik bertanya?” Aku tersenyum mendengar ucapannya, dan kali ini aku berniat menjawabnya. “Tidak, ini pertama kalinya karena memang kau orang pertama yang mengajakku bicara selain ibuku.” Mendengar jawabanku ia terdiam, bisa kurasakan dengan jelas kebingungan pada dirinya. Tak lama kemudian ia kembali memecah keheningan di antara kami. “Jadi, mengapa kau tak suka senja tapi selalu menyempatkan waktu untuk melihatnya? oh ya aku Langit” ucapnya. “Apa kau punya banyak waktu untuk mendengar? karena jawabanku akan cukup menyita waktu” jawabku dengan sedikit tersenyum.

Cerpen Karangan: Wirdatun Jannah
Facebook: Wirdatun Jannah

Cerpen Aku, Langit dan Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf.. Aku Bukan Penculik!!!

Oleh:
Sudah dari kemarin, sepanjang jalan aku keliling mencari gelas plastik, botol plastik atau apa saja asalkan plastik. Atau mungkin kalau lagi beruntung saya dapat besi-besi bekas. Tentu tidak gratis,

May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)

Oleh:
Pagi yang cerah, puluhan sepeda motor berjejer, berbaris rapi di depan PT MCS, sebuah pabrik perakitan komputer yang konon terbesar di jawa timur, puluhan satpam pabrik berkumpul, berbaur dengan

Sepotong Daging Buat Asih

Oleh:
Angin sepoi berhembus menggoyangkan daun-daun kangkung. sinar matahari mulai meredup tak seperti waktu siang hari yang terik. sengatanya membuat kulit serasa terbakar. Marni. seorang wanita tua, masih sibuk memotong

Hari Pertama di Ibu Kota

Oleh:
Tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Aku segera mengambil koperku berniat ingin keluar dari pesawat yang kutumpangi semalam. Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki beranjak dari bangku yang aku duduki semalam, menuju pintu

SMS Lailatul Qadri

Oleh:
Setelah shalat Subuh, aku baru kembali mengaktifkan hp yang semalaman di off kan. Malam ke 27 bulan suci Ramadhan aku sempatkan beri’tikaf di masjid dekat rumah. Sebenarnya, ingin sekali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *