Aku Mengetahuinya Sedari Dulu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 30 May 2017

Jujur aku bingung harus memulai cerita ini darimana. Terlebih tidak semua orang mengalami apa yang aku alami. Memang betul, awalnya aku enggan memberitahu kepada siapa pun. Karena butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk menguatkan hati, supaya bisa menyampaikan semuanya. Tunggu dulu, aku masih bingung. Bukan karena tidak hafal detail ceritanya, tapi aku sulit mencari kata yang tepat untuk memulainya.

Baiklah aku memulainya dengan memperkenalkan diri. Namaku Riza, umurku sudah kepala tiga. Tidak perlu kau tahu betul angkanya. Cukup kepala tiga saja. Yang pasti aku lebih lama menghirup napas di bumi ini dibandingkan dirimu. Eh, atau jangan-jangan kau lebih tua dariku, ya?

Seperti dirimu, aku juga pernah mencintai seseorang. Sampai detik ini pun aku masih mencintainya, tidak berkurang sedikit pun. Yang ada setiap detik yang berlalu, cinta itu semakin bertambah, terus membesar bagai bola salju yang menggelinding.

Tujuh tahun silam ada seseorang yang tidak sengaja berkenalan denganku di sebuah cafe. Ya, aku sering datang ke cafe paling ramai di Ibu Kota itu. Setiap hari ratusan orang mengunjunginya: ada yang hanya makan siang lantas pergi, ada yang bercengkrama dengan teman kantor, menikmati waktu istirahat, berkumpul dengan keluarga, dan tidak sedikit yang menikmati kebersamaan dengan kekasihnya.
Jujur aku malas untuk berlama-lama duduk di cafe itu. Namun, semenjak berkenalan dengan gadis itu, aku bersenang hati untuk menikmati waktu. Sebelumnya, boleh dibilang hanya hitungan jari saja, aku menyediakan waktu lama mencicipi makanan di sana. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi…

Di pertemuan pertama aku hanya berkenalan saja, namanya Riani. Dia lebih suka dipanggil Ria. Walau sebentar, tapi pertemuan itu tidak bisa aku lupakan begitu saja.
Hari berganti, aku pun bertemu lagi dengan Riani. Pada pertemuan kali ini, aku berkesempatan bertukar kata lagi, berbicara lebih banyak dari sebelumnya.

“Akhir-akhir ini aku sering lihat kamu, padahal sebelumnya tidak sekali pun batang hidungmu nampak,” ucap Ria mengawali pembicaraan.
“Hmm… soalnya aku dengar dari teman katanya makanan di cafe ini enak. Karena penasaran, makanya aku coba, dan aku ketagihan hehe,” kataku diiringi senyum. Kau jangan memberitahu Ria kalau aku berbohong, ssttt.
“Bener sih, red valvet di cafe ini rasanya luar biasa,” ucapnya mantap. tangannya mengaduk-ngaduk jus jeruk yang tinggal setengah.
“Selain red valvet, apalagi daya tarik cafe ini? Aku dengar setiap minggu kamu datang ke tempat ini.” Meskipun bukan detektif, tapi aku tahu betul siapa saja yang sering datang ke cafe ini.
“Karena cafe ini sangat istimewa bagiku,” Ria berbicara tidak semangat.
“Istimewa?” Aku menyelidik.
Belum sempat Ria menjawab. Seseorang berseragam putih menghampiri kami.
“Maaf, cafenya mau tutup. Silakan untuk melakukan pembayaran di kasir,” ucap pelayan cafe ramah.
Tanpa disuruh dua kali, Ria beranjak ke kasir. Namun, secepat mungkin aku menahannya. Biar aku saja yang membayar semua pesanannya. Meskipun tersipu malu, akhirnya dia menyerah oleh bujukkanku. Aku mempersilakan Ria untuk keluar terlebih dulu.

“Lain kali kalau saya sedang ngobrol dengan perempuan itu, jangan dulu tutup. Tidak peduli sampai tengah malam sekali pun.”
“Tapi bos… ”
“Tidak apa-apa ini pengecualian.”

Aku hanya bertemu dengan dia empat kali saja. Selebihnya berkomunikasi lewat dunia maya. Ada perasaan aneh yang mengerami hatiku. Padahal baru dua bulan aku mengenalnya. Tapi kenapa rasanya seperti ini?
“Ria, mungkin ini terlalu cepat untukmu, kamu baru mengenalku beberapa bulan saja. Tapi aku sudah memperhatikanmu dari dulu. Jauh sebelum kamu mengenalku. Kamu tahu, terkadang cinta itu tidak bisa dimengerti oleh logika. Dan sekarang aku merasakannya sendiri.
“Aku merasa nyaman bertukar kata denganmu. Setiap minggu, aku datang ke cafe ini karena dirimu. Ria, maukah kamu…” kata yang ingin aku ucapkan mendadak menghilang. “Maukah kamu menikah denganku?” Lega sekali rasanya kata-kata itu berhasil keluar dari bibirku. Namun, di saat yang bersamaan, jantungku berdetak kencang tak terkira.
Ria menghela nafas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
Tanpa perlu membuatku menunggu lebih lama. Dia mengangguk. “Aku bersedia.” Jawabannya berhasil membuatku sangat bahagia.

Tiga minggu setelah aku melamarnya, kami menikah. Memulai kehidupan yang baru. Aku harus berbagi tempat tidur dengannya. Menikmati secuil waktu yang disediakan malam, mewarnai setiap detik yang disuguhkan siang. Rumahku yang biasanya dingin, kini terasa hangat oleh kehadirannya. Jangan kau tanya ke mana keluargaku, karena sedari dulu, sejak aku melihat cahaya di bumi ini, aku sudah terbiasa hidup sendiri.
Selayaknya keluarga bahagia, tiada hari tanpa canda dan tawa yang menemaniku. Ria –istriku– tertawa bahak dicampur kesal kala dia tahu, kalau aku stalker setianya. Dia menggeleng-geleng kepala, tak percaya kalau aku menyimpan potongan video dirinya dari cctv.

Kebahagiaanku bertambah sempurna saat seorang anak laki-laki –yang aku beri nama Aldi– hadir di tengah keluarga kami. Dia membuatku menangis dan tersenyum dalam satu helaan nafas yang sama. Malam itu, tangisannya menggema ke setiap sudut Ibu Kota. Malam itu aku resmi mejadi seorang ayah.
Aldi tumbuh dengan baik. Rasanya aku tidak ingin berangkat kerja demi menatap dirinya tidur. Dan aku buru-buru pulang hanya karena ingin mendengar permataku menangis. Satu tahun terlewati, Aldi semakin manja saja. Dia selalu menangis kala ditinggal ibunya, padahal ada aku di sampingnya. Dua tahun berlalu, Aldi mulai memanggil pa-pa. Aku sangat senang dipanggil Papa olehnya.

72 jam lalu, Aldi berangkat sekolah, hari pertamanya. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengantar anakku pergi sekolah, memakai seragam putih merah, topi dan dasi merah menggantung di lehernya. Dan hal ini yang sebenarnya ingin aku certikan.
Bukan ketika aku mengantar anakku berangkat sekolah, tapi setelah aku mengantarnya. Kejadian yang akan membuat siapa pun terkejut, sekaligus tidak percaya. Terjadi begitu cepat. Beberapa meter sebelum aku tiba di tempat kerja, hpku berdering. Suara istriku terdengar di seberang. Ia menyuruhku untuk segera pulang. Tanpa berpikir dua kali, aku membanting setir, berbalik arah, kembali ke rumah.

Setibanya di rumah. Baru beberapa langkah masuk, aku benar-benar terkejut.
“Maafkan aku, sayang.” Ria memelukku erat. Buliran air jatuh dari matanya.
“Kamu kenapa sayang?” tanyaku penasaran.
“Aldi.” Suara Ria hilang ditelan tangisan.
“Kenapa dengan Aldi? Tadi saat aku mengantarnya sekolah dia baik-baik saja.”
Aku sedikit bingung dengan apa yang tertangkap oleh mataku. Aneh betul tiba-tiba istriku memeluk lantas menangis seperti ini.
“Dia, dia…”
“Dia kenapa?”
“Bukan…” susah sekali Ria untuk melanjutkan perkataannya.
“Bukan apa sayang?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
Dan yang paling membuatku bingung, ialah Aldi. Kenapa pula istriku menangis kala menyebut namanya.
“Dia.. dia.. bukan anakmu.” Tangis Ria pecah. Dia tersungkur di depanku.
Bagai patung pancoran, aku diam tak bergerak sedikit pun. Sayangnya, aku tidak terlihat bahagia sebagaimana patung pancoran. Aku hanya menatap Ria yang sedang menangis tersedu-sedu di depanku.

“Maafkan aku. Dulu saat kamu menikahiku, aku sedang hamil muda. Lelaki yang menghamiliku tidak mau bertanggung jawab. Dia menghilang seakan ditelan bumi,” Ria semakin terisak, “beberapa kali aku sempat mencoba untuk menggurkan kandungan itu. Namun, selalu saja gagal. Hingga akhirnya kamu datang di kehidupanku.”
Sempurna aku membisu. Semua kata yang biasanya keluar dari bibirku hilang entah kemana.
“Maafkan aku. Seharusnya sedari dulu aku memberitahumu,” suara Ria patah-patah, dipatahkan tangisnya. “Agar kita tidak menikah. Dan aku tidak akan menghancurkan hidupmu.
“Tujuh tahun lamanya aku menyimpan rahasia ini erat-erat, rasanya sangat menyakitkan.” Ria mencapai klimaks. Dia menangis tersedu-sedu demi memohon maaf padaku.

Aku termangu. Mencoba mencerna kata-kata Ria. Tanpa sadar mataku basah. Hatiku terasa sakit. Walaupun aku tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Tapi kenapa harus secepat ini?
Aku memeluk Ria, mengusap air matanya dengan tanganku yang membeku.
“Hapus air matamu, sayang. Tidak perlu ada air mata sebanyak itu. Karena aku… aku… karena aku tahu itu sedari dulu.” Aku tersenyum sangat tipis.
Ria mendongak. Dia berani melihatku demi meminta penjelasan. Padahal sedetik yang lalu dia menunduk dalam tangisannya.
“Dulu, kamu sering datang ke cafe dengan seorang lelaki. Melihat kedekatan kalian, aku menyimpulkan, kalau dia adalah kekasihmu. Kamu terlihat sangat bahagia, Ria. Wanita terbahagia.” Aku mengembuskan nafas panjang.
“Sayangnya itu tidak lama. Hanya bertahan tiga bulan saja. Setelah itu kamu duduk sendiri di kursi pojok cafe. Tidak ada semangat yang nampak dari dirimu. Ada dua kemungkinan kamu menjadi seperti itu. Pertama, kamu sedang menunggu pacarmu yang tak kunjung datang. Kedua, kamu dikhianati olehnya.
“Melihatmu seperti itu, aku datang. Pertemuan pertama kita hanya sebatas skenario saja, bukan kebetulan, sudah aku rencanakan.”
Suasan di rumah sederhana ini hening beberapa lama.

“Memang terasa ganjil. Hanya hitungan jari kita bertemu tapi kamu menerima lamaranku. Dan aku tahu jawabannya setelah Aldi lahir. Aku tahu catatan kehamilanmu. Aldi lahir tiga bulan lebih cepat dari seharusnya. Dia lahir saat pernikahan kita baru berumur enam bulan.”
Ria semakin terisak dalam tangisnya.
“Tapi jujur aku sangat bahagia mendengar tangisan Aldi, aku menjadi seorang ayah Ria, seorang ayah.” Tanpa diminta, air mata membanjiri pipiku. “Malam itu aku menjadi ayah, walau Aldi bukan darah dagingku, Ria.”
Aku memeluk erat Ria. Menyisakan suara tangis di langit-langit rumah ini.
“Aku menyayangimu dan juga Aldi. Kalian tetap menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Hapus air matamu, Ria. Kita isi rumah sederhana ini dengan canda tawa. Kita rawat Aldi dengan baik, supaya kelak, dia bisa berbuat banyak hal untuk membuat kita bahagia.”
Tangisan sempurna membanjiri rumah sederhana itu.

Sebuah pertanyaan selalu menggelayuti pikiranku. Kenapa aku bisa menyayangi Aldi meski bukan anakku. Yang pasti aku peduli pada Ria dan Aldi. Aku tidak ingin hidup mereka hancur.
Dulu ibuku bunuh diri, selang beberapa jam setelah aku lahir. Tragisnya, dia membuangku di depan masjid. Sebelum darah di tubuhku kering, beruntung ada yang memungutku, menyimpan aku di panti asuhan. Berkatnya, aku bisa tumbuh hingga sekarang. Namun, terlepas dari apa pun alasannya, aku sangat bahagia, mereka ada di hidupku.
Jika aku bisa menyayangi kucing yang tidak memiliki hubungan darah denganku, kenapa pula aku tidak bisa menyayangi Aldi, yang dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang amat aku cintai.

Cerpen Karangan: Nasrul M Rizal
Facebook: facebook.com/nasrul19
Nasrul M Rizal lahir pada tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Menulis adalah cara untuk memafaatkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Berkeinginan mempunyai perpustakaan pribadi dan melahirkan karya yang bermanfaat. Komunikasi lebih lanjut bisa melalui email: mr.nasrul19[-at-]gmail.com

Cerpen Aku Mengetahuinya Sedari Dulu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luki Mencuri Jambu

Oleh:
Hari itu hari minggu. Langit mendung dan hujan mulai turun. Semakin lama, hujan turun semakin deras. Luki yang sedari tadi hendak pergi bersama teman-temannya terlihat kesal. Ia memajukan bibir

Kesabaran Dan Perjuangan Putri

Oleh:
Pada sore itu Putri bermain dengan teman temannya di perkampungan yang ia tempati selama bertahun tahun itu. Banyak orang menyebutnya dengan Desa Pusi. Ia bersyukur bisa bertempat tinggal di

Nasihat Sahur Ibu

Oleh:
“Zuraaa…” “Azzura Najwatunnisa!!” Suara Ibu mulai terdengar di mimpi Zura. Dia memang mendengar dengan jelas bahwa Ibu sedang marah karena memanggilnya dengan nama panjang. Segera ia bangun sambil mengucek

Untuk Ayah

Oleh:
Sepintas Kareen melewati rumah itu. Matanya berbinar ketika sesosok bidadari cantik tepat di depan rumah tersebut. Di ingat sosok bundanya yang telah pergi 3 tahun lalu. “Bunda.. sayangnya itu

Nasihat Ayah

Oleh:
Aku adalah siswi kelas XI di SMPN 121 JAKARTA UTARA. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa indonesia, karena aku sangat menyukai pelajaran di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Aku Mengetahuinya Sedari Dulu”

  1. David Aji says:

    Ketika membaca separuh cerpen ini aku lupa apa judulnya. Aku terlalu terbawa suasana dalam cerita.

    Sosok Riza adalah sosok yang sangat bijaksana dalam menghadapi rintangan yang ada di dunia ini.

    Thanks. Cerpennya sangat berbobot.

  2. Nanda Insadani says:

    BIG LOVE! Kasih adalah bibit kebahagiaan! Good (y)
    Saya kira seraya membaca cerpen ini, penulis adalah si tokoh utamanya. Karena namanya agak sama.
    Setelah melihat profilnya dibawah, ternyata ini fiksi.

    Rekayasa berjiwa nyata!

    • Nasrul M. Rizal says:

      Terima kasih atas respon positifnya. Saya menulis cerita ini berdasarkan frasa: Jika manusia bisa menyayangi kucing, yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, kenapa pula dia tidak bisa menyayangi seorang anak dari perempuan yang ia cintai, walau bukan darah dagingnya.

  3. Nani hardiani says:

    Woooowwww….. sampai terhayut suasana sya membaca’y,, semoqa ada dalam dunia nyata.

Leave a Reply to Nasrul M. Rizal Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *