Aku Pernah Jatuh Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

Hari ini, setelah libur kuliah sedikit lama, Aku berencana kembali ke kota Malang. Perjalanan yang cukup menguras tenaga, karena memerlukan 4 jam waktu tempuh dengan menggunakan motor. Tapi, perjalanan itu menyenangkan bagiku: karena di setiap sisi jalan kita disuguhi pemandangan pohon rindang yang hijau. Terlebih saat melewati gunung Pujon dan Ngantang. Dengan jalan yang berliku, udara sejuk, pohon pinus, dan jurang yang dalam, kita bisa melihat kota-kota yang berada di bawah kaki gunung. Aku sangat menikmati perjalanan ini.

Tapi perjalananku terhenti, karena tiba-tiba saja terjebak macet, entah di desa apa ini. Aku tidak tahu jika karnaval peringatan kemerdekaan masih belum usai, padahal sekarang sudah awal september. Ya sudahlah! Aku coba untuk bersabar dan berjalan pelan mendahului rombongan karnaval itu. Setengah jam sudah aku berjalan pelan dan akhirnya ku dapati diriku makin kecewa, karena ku temui aspal jalan yang bertuliskan kata “Start”. jadi mulainya dari sini! Oh tidak! Belum lagi macetnya sangat parah karena jalanan ini memang sempit.

Kalau terlalu lama macet di sini bisa telat kuliah ini. Aku putuskan untuk mencari jalan alternatif saja dengan bertanya pada seseorang yang sedang asyik menonton parade karnaval itu kemana arah jalan yang bisa mendahului parade karnaval tesebut. Akhirnya, aku ditunjukkan sebuah gang kecil tepat di belakang tempat ia berdiri.
“Lewat sini saja bisa Mas, Mas lurus saja, nanti belok kanan ada mushola, nah! Mas belok kanan lagi, itu sudah jalan raya lagi kok.” Jelasnya.
“Ohh gitu Mas ya, makasih Mas.” jawabku.

Dengan sedikit usaha akhirnya aku bisa menembus kerumunan orang yang sedang berjubel menutupi gang dan melanjutkan perjalanan sesuai petunjuk dari pria tadi, dan memang ku temui jalan raya. Tapi, parade karnaval itu masih saja membuat jalanan macet hingga aku mencoba lagi cara tadi untuk yang kedua kalinya. Oh tidak! Sepertinya usahaku sia-sia saja, parade ini masih sangat panjang. Sudah terlalu banyak waktu ku habiskan di sini, agak sedikit jengkel sebenarnya lalu ku putar balik saja arah motorku dan mencari rute lain dari dalam kampung, “Kalau bisa berjalan hingga 2 km pasti aku bisa melewati parade itu.” Batinku.

Ku perhatikan banyak juga pengendara motor yang ku rasa melakukan hal yang sama sepertiku, mereka berkendara dengan kecepatan tinggi padahal ini jalanan di dalam kampung, dan ku perhatikan mereka semua berbelok ke suatu gang yang menuju jalan raya. Tapi, Aku abaikan saja dan tidak mengikuti mereka, daripada nanti putar balik lagi mungkin lebih baik jika aku terus saja mengambil rute dalam kampung ini agar lebih hemat waktu. Lama sudah aku menyusuri jalan ini dan yang ku dapati adalah jalan buntu. Lengkap sudah! Kalau berbalik arah butuh waktu lama lagi, jadi ku putuskan beristirahat sejenak di sebuah pos kamling untuk melepas penat sekedar untuk minum dan menghisap sebatang rok*k yang ku simpan dalam tas ranselku.

Tapi, ada sebuah kejadian yang mengusik perhatianku sedari tadi. Dari arah jalan yang barusan ku lewati tadi, terlihat seorang anak laki-laki sedang berjalan sendirian. Ia memungut sesuatu dari tanah, yang bisa ku pastikan itu adalah buah mangga. Ia mengelapnya dengan kaus yang ia kenakan dan memakannya. Lalu tiba-tiba saja datang seorang wanita paruh baya ke luar dari dalam rumah tepat di mana anak laki-laki itu memungut buah mangga tadi, dengan langkah cepat wanita paruh baya itu menghampiri si anak lantas menjewernya sembari berteriak.

“Kamu maling ya?” Dengan wajah ketakutan si anak itu pun menjawab.
“Tidak Bu, saya cuma mengambil ini di jalan.”
“Itu mangga punya saya dan kamu mengambilnya tanpa izin, kalau bukan maling apa namanya!” Teriak ibu itu.
“Maaf Bu, saya kira ini sudah tidak ada yang mau soalnya ini sudah busuk, jadi saya ambil dan saya makan.” timpal si anak kecil.

Dengan masih menjewer telinga anak kecil itu, Si wanita paruh baya pun masih menghardik anak kecil itu dengan sebutan maling berkali-kali yang membuat telingaku sangat risih, lantas saja aku menaiki motorku dengan niat ingin membawa anak itu pergi, paling tidak untuk menyingkirkan dia dari hardikan wanita paruh baya itu, aku sangat tidak tahan mendengarnya. Tetapi, belum juga sampai ku nyalakan motor, ku lihat ada seorang perempuan berlari dengan sekuat tenaga menghampiri wanita paruh baya itu dan menampel tangannya.

Dengan teriakan yang sangat keras Ia berkata, “Apa yang Ibu lakukan!” Lantas wanita paruh baya itu terlihat menceritakan kronologi kejadian tadi dengan maksud ingin mendapat pembelaan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, perempuan itu terlihat marah besar mendengar ceritanya tadi, dengan menunjuk muka wanita paruh baya itu si perempuan berteriak, “Astaghfirullohhaladzim. Apa yang Ibu lakukan, otakmu kau taruh di mana? Dia ini anak yatim piatu.”

Mendengar teriakan perempuan itu, tubuhku seakan terguncang, badanku serasa membeku dan otakku sulit sekali untuk mencerna kejadian ini, karena kejadian seperti ini pertama kali ku temui di sepanjang hidupku. Sebenarnya, aku belum pernah melihat seseorang semarah ini, terlebih ini dilakukan oleh seorang perempuan. Yang aku tahu, perempuan itu sangat marah karena anak yatim piatu tersebut dihardik dan disakiti, padahal harusnya ia kita asuh dan kita sayangi. Tapi, ekspresi marahnya perempuan itu masih saja menimbulkan pertanyaan di batinku. Perasaan apakah ini?

Sekejab aku memutar balik waktu, mengingat-ingat apakah aku pernah mengalami perasaan ini sebelumnya. Ku kenang segala hal tentang setiap orang yang pernah singgah di hidupku, sepertinya ini cinta, tapi ada yang berbeda. Dari semua kriteria wanita yang ku ketahui sepertinya Ia tidak tergolong dari satu pun itu. Apakah ia cantik? Tidak juga, apakah ia kaya? Aku tak tahu, apakah ia anak dari keturunan orang terhormat? Lebih-lebih itu, bagaimana aku bisa tahu.

Yang aku tahu hanyalah ia benci melihat apa yang dibenci Allah. Apakah karena itu? Apakah itu yang namanya benci karena Allah? dan aku suka melihat itu semua, melihat seseorang membenci apa yang dibenci oleh Allah. Ataukah ini yang namanya mencintai karena Allah? yang pada sebelum-sebelumnya aku sudah sering mendengar kalimat itu. Namun, aku tetap tidak mengerti apa maksudnya. Tapi hari ini sepertinya aku sudah menemukan jawaban yang selama ini ku cari.

Entah itu hanya sekedar kekaguman semata ataukah lebih, yang pasti perempuan itu telah mengajariku tentang sesuatu yang sangat berharga, ia telah menunjukkan padaku sebuah kejadian tentang bagaimana harusnya seseorang itu membenci apa yang dibenci Allah dan rasa cinta yang seharusnya diawali dengan perasaan ini, bukan karena materi, bukan karena kecantikan semata dan bukan karena garis keturunannya. Ia memiliki lebih dari pada itu. Saat itu pula aku berjanji pada diriku sendiri jika suatu saat nanti aku jatuh cinta, aku ingin jatuh cinta kepadanya karena Allah dan bila aku membencinya, aku juga ingin membencinya karena Allah pula.

Kala itu ku dapati diriku masih saja tertegun hingga ku lihat perempuan itu beranjak pergi bersama anak kecil meninggalkan wanita paruh baya itu. Ku hidupkan motorku dan mengejarnya. Ku hampiri mereka dan bertanya pada perempuan itu, “Mbak ndak apa-apa?” Sejenak perempuan itu menoleh sinis dan membuang mukanya tak menghiraukanku. Oh iya! Yang barusan dimarahi tadi kan anak kecil ini, kenapa aku malah tanya si perempuan itu, bodohnya aku. “Ehh, Adek ndak apa-apa?” Tanyaku singkat, berharap salah satu dari mereka mau menjawab.

Tapi, anak kecil itu juga diam seribu bahasa, mungkin karena ia masih terpukul dengan kejadian tadi. Aku diam sejenak membiarkan mereka berlalu. Tapi sejenak ku lihat mereka memasuki sebuah warung kecil. Pas sekali, aku bisa sambil pura-pura minum kopi dan mendekati mereka. Dan tak ku sangka, ternyata perempuan itu adalah si pemilik warung, terlihat dari saat ia masuk ia lantas membuatkan segelas es untuk anak kecil itu dan segera menawariku minuman. “Kopi saja Mbak.” jawabku.

Sejenak kami mengobrol dan ia menanyakan asalku dari mana. Ku ceritakan padanya bahwa aku sedang tersesat di sini, lantas ia menunjukkan padaku jalan untuk kembali ke gang sebelumnya karena tak ada jalan lain lagi selain gang itu untuk menuju jalan raya. Sejenak pula aku bertanya tentang anak kecil di sampingku ini, dengan siapa ia tinggal dan bagaimana kesehariannya. Seperti dugaanku, jawaban yang ku terima begitu membuatku sangat terpukul.

Anak kecil ini, ku perhatikan selalu diam dan sangat murung sedari tadi, ia duduk bersebelahan denganku dan selalu menundukkan muka sambil mengayun-ayunkan kakinya. Bagaimana cara agar bisa membuatnya senang ya? Paling tidak agar ia bisa tersenyum sedikit saja. Diam-diam aku membuka tas ranselku dan merogohnya mencari sesuatu yang bisa ku berikan padanya untuk dijadikan mainan. Tapi tak ada barang satu pun yang bisa ku berikan padanya. Hanya ada baju, buku-buku kuliah dan radio kecil. Ahh! Mungkin radio kecil ini dia mau.

“Dek, ini mau, buat mainan, ada senternya juga loh.” bujukku sambil menyodorkan sebuah radio kecil milikku itu.
Tapi ku perhatikan ia melihat radio pemberianku itu dengan raut wajah yang aneh sambil berkata, “Kok kecil Om?”
“Haduh, kalau besar ya bukan radio dek, tapi komodo.” jawabku. Lantas saja ia tertawa dan menerima radio pemberianku itu sambil memain-mainkan senternya. Ku lihat juga perempuan itu ikut tersenyum melihat anak kecil ini sudah tak murung lagi.

Sebenarnya ingin sekali aku berlama-lama di sini, tapi mau bagaimana lagi, nanti ada ujian kuliah dan sepertinya aku harus pergi sekarang. Akhirnya, aku melanjutkan perjalananku menuju rumah kost dan masih terjebak macet lagi. Tak apalah, aku akan bersabar.

Cerpen Karangan: Al iz Kusuma
Facebook: www.facebook.com/aliz.kusuma

Cerpen Aku Pernah Jatuh Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alasan

Oleh:
Pahit begitu terasa di pengkal tenggorokannya setiap kali ia menelan air ludah. Suara bergemuruh selalu muncul dari arah perutnya memprotes kepada sang pemilik yang tidak kunjung memberikan haknya. Entah

Tikus-Tikus Negeri


Trotoar ini rasanya dingin, kulitku serasa membeku diatas dua lembar koran bekas yang kujadikan alas, tidak sampai mati rasa, namun yang lebih kejamnya lagi, suara kendaraan tak pernah berhenti

Halal Bersamamu

Oleh:
“Assholatu Khairun minan naum” Kalimat adzan yang hanya dapat didengar ketika subuh itu membangunkan herman dari tidur pulasnya. Hanya membuka mata dalam hitungan 5 detik saja dan dengan mulut

Dikira Musibah Ternyata Berkah

Oleh:
Mahasiswi disuatu Perguruan Tinggi di provinsi Lampung ini selalu membuat masalah. Tiada keadaan tanpa masalah. Bagaimana tidak? Dia selalu memperbesar suatu masalah. “Gimana coba kalo dia marah? Aku gak

Sirup Sequosdelik

Oleh:
Pernahkah kalian melihat melihat atau merasakan sirup? (maaf tidak bisa saya sebutkan merek-nya) Di luar kemasannya terbaca sirup squash delight? Jika kalian belum pernah merasakan atau melihat sirup dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *