Aku Pulang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 March 2016

Keluarga, sebuah tempat yang sangat nyaman untuk berlindung. Keluarga, adalah tempat yang dapat menerima kita apa adanya. Keluarga, adalah tempat kita bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus. Keluarga, adalah tempat yang dapat membangunkan saat kita terjatuh. Tapi semua itu tidak bagiku. Lebih tepatnya bohong bagiku. Karena menurutku, keluarga bukan tempat yang nyaman bagiku. Bukan tempat di mana aku dapat diterima. Bukan tempat aku menerima kasih sayang. Dan jika aku terjatuh.. itu mungkin karena keluargaku sendiri.

“Bang, aku berangkat ya?” Suara adikku membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahnya. Ku dengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali. Gaduh, mungkin karena engsel pintu itu telah berkarat. Aku masih berdiri di depan jendela besar sambil memandangi matahari yang seakan tersenyum padaku. Ku ambil tas sekolahku di atas meja usang. Lebih tepatnya satu-satunya meja di rumahku. Inilah kehidupanku, hidup yang menurut orang-orang hina. Langkah kaki ku rasakan sangat berat saat aku sedang berjalan ke sekolah.

Rasa lelah dan mengantuk berusaha ku lawan. Rasa yang ku dapat dari semalam. Bekerja, itu yang aku lakukan saat sepulang dari sekolah, pekerjaan apa saja ku lakukan asal aku dan adikku bisa makan untuk hari ini. Aku dan adikku, ya hanya aku dan adikku. Kedua orangtuaku, aku sudah tidak mempedulikan lagi. Mungkin terlalu kejam aku berkata dan bersikap seperti itu. Tapi lebih kejam mana dengan seorang ayah yang menelantarkan anak-anaknya? Lebih kejam mana dengan seorang ibu yang tidak hanya menelantarkan anak-anaknya, tapi juga merasa sial dengan telah melahirkan anak-anaknya?

“Roby..” Aku menoleh ke arah pemilik suara yang sudah tak asing bagiku.
“Bareng yuk!” Ajakan Cecep tidak aku sia-siakan. Malah dalam hati ku sambut dengan sangat senang, karena artinya aku tidak mengeluarkan ongkos untuk ke sekolah hari ini. Motor Vespa milik Cecep melaju kencang karena memang sudah siang. Dan tentunya hari ini kami tidak mau bertemu dengan guru BP yang terkenal seantero sekolah. Kalau ia ceramah bisa menghabiskan waktu satu jam nonstop tanpa jeda.

Hari ini sekolah berjalan seperti biasa. Dan seperti biasa juga aku harus berlari mengelilingi lapangan basket. Aku melakukannya dengan santai. Karena memang ini sudah menjadi rutinitasku. Aku sudah menjadi pelanggan tetap untuk hukuman ini. Aku langsung duduk sambil meluruskan kakiku. Mataku melirik Pak Giarto yang sudah berjalan masuk ke ruangan guru. Guru Matematika itu masuk karena melihatku sudah selesai menjalani hukuman darinya.

Hari ini aku ketahuan tidur di dalam kelas lagi. Lagi? Ya, lagi dan lagi sampai mungkin para guru pun sudah bosan menghukumku. Aku pun tidak mau seperti ini, aku juga mau dengan tenang mengikuti pelajaran di sekolah. Tapi kondisi kehidupanku tidak mengizinkan. Setiap malam aku mengamen dan sesekali membantu mencuci piring di salah satu warung makan di tengah kota Metro. Rupiah yang aku dapatkan memang tidak seberapa untuk orang-orang, tapi bagiku amat sangat berarti. Karena dengan inilah aku dan adikku bisa mengisi perut dan bisa meneruskan sekolah.

“Minum bro,” Tangan Ofan memberikan sebotol air mineral kepadaku.
“Thanks,” Aku langsung mengambil minuman itu.
“Rob, apa lo gak bosen lari-lari tiap hari?” Aga bertanya dengan nada kasihan.
“Sehat,” Jawabku singkat sambil tersenyum kepada keempat sobatku. Menunjukkan bahwa aku tidak apa-apa.
“Sehat sih sehat bro, tapi lihat tempat dan waktu dong,” Sugeng menambahi. Aku tertawa lepas, keempat temanku saling berpandang-pandangan.
“Temen kita udah gila ya?” Tanya Cecep setengah berbisik.
“Mungkin, efek lari tiap hari,” Kata Ofan sambil tertawa dan diikuti oleh kami berempat.

Lelahku hilang ketika bercanda dengan mereka. Mereka adalah teman-teman terhebat yang pernah aku miliki. Berawal dari acara sekolah, kami secara tidak sengaja menbentuk sebuah band. Kazmel, nama band kami yang sampai saat ini masih rajin mengikuti festival-festival. Tak jarang pula kami masuk dalam tiga besar dan mendapatkan honor dari manggung. Honor yang mungkin tidak seberapa untuk teman-temanku yang lain, tapi untukku sangat berharga. Karena dari uang itu bisa aku gunakan untuk makan sehari-hari aku dan adikku.

Selain dari uang honorku, untuk mencukupi kebutuhan aku dan adikku sehari-hari aku bekerja. Pulang dari sekolah biasanya aku latihan bersama teman-teman bandku. Setelah itu aku ke ke toko Haji Ahmad, aku biasanya memanggilnya dengan sebutan wak Haji untuk membantu angkat-angkat barang di tokonya dan aku mendapat upah yang lumayan. Biasanya aku bisa bekerja di toko wak Haji sampai sore hari.

Selepas Maghrib aku ke luar mencari uang lagi dengan bermodalkan gitar tuaku. Aku biasa mengamen di warung-warung makan pinggir jalan di sekitar rumahku. Ketika tengah malam, aku berhenti mengamen dan membantu mencuci piring di warung makan Uda Zainal. Dan aku biasa pulang pukul 3 pagi. Aku biasa mendapati adikku sudah tidur lelap berselimut mimpi indahnya. Sekejap aku menutup mata untuk mengistirahatkan badanku, namun mulai terdengar ayam berkokok tanda pagi telah dimulai.

“Roby, kamu dari mana?” aku tersentak mendengar suara itu.
“Inget pulang juga? Masih inget kalau di sini punya anak?” Aku balik bertanya dengan sinis.
“Ibu mau ngajak kamu sama Ibnu pindah ke Palembang,” perempuan yang menyebut dirinya ibu itu berkata dengan santainya.
Aku terdiam. Ku tatap wajahnya yang sudah tidak muda lagi.
“Kalau mau pergi ya pergi aja sendiri,” Aku menjawab asal sambil masuk ke kamarku.

Aku jatuhkan tubuhku di atas tempat tidurku. Lelah, tapi mata ini tak bisa menutup. Aku mendengar suara pintu kamar ibu. Sepertinya ia sudah masuk ke kamarnya. Sejujurnya, aku memiliki rasa cinta kasih yang besar kepadanya. Tapi nyatanya ia sendiri yang menghancurkan rasa itu. Aku menghormatinya sebagai seorang wanita mulia yang telah mengandung, melahirkan dan merawat aku dan adikku. Tapi nyatanya ia sendiri yang menjadikan dirinya wanita yang jauh dari kata terhormat.

Palembang, kota yang kata kebanyakan orang adalah kampung halamannya pempek. Walau di dalam hatiku aku sangat berat meninggalkan kota kelahiranku, Lampung. Tapi nyatanya aku menurut pada ibu untuk ikut pindah ke sini. Ya, di sinilah aku sekarang. Duduk di salah satu warung kopi di pasar. Tanganku masih memetik gitar. Mataku pun ikut asyik memperhatikan lalu lalang orang di depan warung ini. Dan aku membiarkan pikiranku melayang sesukanya.

“Anak baru ya?” seorang laki-laki seumuranku datang dan duduk di sebelahku.
“Eh, iya gue baru seminggu pindah ke sini,” jawabku.
“Pindahan dari mana lo?”
“Lampung,”
“Oh,” jawabnya singkat sambil mencomot tahu goreng di atas meja. Dan memasukkannya langsung ke dalam mulutnya.
“Gue Sigit,” Katanya sambil mengulurkan tangannya yang berminyak karena tahu goreng, tanpa mengelapnya terlebih dahulu.
“Roby,” Aku menyambut uluran tangannya. Kami mengobrol banyak hari itu. Dan aku tahu bahwa Sigit juga bukan asli orang Palembang. Tapi ia dari Surabaya.

“Jadi lo belum lulus sekolah?” Sigit bertanya sambil meminum kopinya.
“Iya, rencananya pengen kerja aja,” jawabku sambil masih memetik gitar.
“Ngamen lo tiap hari?” tanya Sigit sambil memperhatikan gitar tuaku. Aku hanya tersenyum.
“Lo mau gak kerja sama gue? Duitnya lumayan gede!”
“Kerja apa?” Jawabku cepat.
“Gini aja, kalau lo mau lo temuin gue aja ya. Gue cabut dulu ya. Bi, utang dulu ya,” Katanya santai kepada pemilik warung. Pemilik warung hanya geleng-geleng kepala.

“Bang, makan dulu yuk,” Ajak Ibnu ketika aku baru pulang.
“Kamu makan aja duluan, abang mau mandi dulu,”
“Bang, tadi ketemu Ibu gak?” Aku pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan menuju kamar mandi.

Selesai mandi aku ke luar kamar, Ibnu tidak terlihat, mungkin dia sudah tidur di kamarnya. Aku kembali masuk ke kamarku. Aku jatuhkan tubuhku ke atas kasur. Aku mengingat kejadian tadi ketika aku mengamen. Biasanya selepas maghrib aku mengamen di dekat salah satu Mall besar di Palembang. Saat aku mengamen, ada seorang lelaki turun dari mobil dan memberiku uang sepuluh ribu, aku kaget bercampur senang. Aku mengucapkan terima kasih kepada lelaki yang dari penampilannya aku bisa tahu bahwa dia adalah orang dari kalangan menengah ke atas.

Sambil tersenyum dia membukakan pintu mobilnya, dan turunlah seorang wanita separuh baya dengan dandanan yang cukup menor dan pakaian yang terbilang seksi, membuat ia terlihat muda dan cantik. Sambil merangkul tubuh wanitanya, lelaki itu mebimbingnya masuk ke Mall. Sekilas aku melihat senyum nakal di wajah pria itu. Aku terpana, tubuhku tak bergerak beberapa detik. Aku masih tidak percaya apa yang ku lihat.

Wanita itu, wanita yang berdandan menor seperti wanita pegh*bur itu. Wanita yang bergandeng mesra dengan pria tua itu.. adalah wanita yang melahirkanku. Ibu kandungku. Kata orang, surga di bawah telapak kaki seorang ibu. Pertanyaanku, apakah tetap ada surga di bawah telapak kaki seorang ibu seperti ibuku? Oh, mengakui ia sebagai ibuku saja sangat sulit bagiku. Aku memejamkan mataku, untuk melupakan kejadian itu. Tentu Ibnu tidak ku beritahu. Aku tidak ingin Ibnu membenci ibu, cukup aku saja yang membenci ibuku.

Aku sudah bersiap untuk pergi bekerja pagi ini. Saat aku akan ke luar pintu rumah. Aku mendengar suara benda dipecahkan, dan terdengar dua orang sedang berdebat. Disusul suara tangis seorang wanita. Karena aku sudah biasa mendengar ini, aku anggap santai dan melenggang ke luar rumah seperti tidak terjadi apa-apa. Menurutku ini masih terlalu pagi untuk bertengkar. Tapi terselip rasa lega, karena ayahku sudah kembali kepada kami setelah lama ia pergi meninggalkan kami. Ya.. walaupun dia datang hanya untuk bertengkar dengan ibu.

Aku berdiri di lorong dekat pertokoan di dekat pasar. Sambil menghisap rok*k, aku menyandarkan tubuhku ke tembok. Pikirku melayang, apakah benar pekerjaan yang ku pilih ini? Jujur saja pekerjaan yang diberikan oleh Sigit ini membuatku mendapatkan uang yang sangat lumayan. Itu terbukti dengan uang yang aku tabung di Bank terbilang sangat lumayan jumlahnya. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan pekerjaan haram ini. Selain melanggar hukum, juga melanggar agama. Aku berniat ingin ke luar dari pekerjaan ini. Ya, ini yang terakhir kalinya aku menjadi kurir barang haram ini. Lelaki bertato terlihat mendekatiku. Orang yang ku tunggu telah datang, yang kami sebut pembeli.

“Lo mau keluar dari sini?” Bang Doy membentakku sambil menggebrak meja.
“Iya bang,” Jawabku sambil tertunduk.
“Enak banget lo ya! Udah dapet uang banyak terus lo mau keluar gitu aja?”
“Saya mau cari kerjaan laen bang. Kerjaan yang saya bisa jawab kalau adek saya tanya,”
“Kurang ajar lo ya..!! dasar,” Bang Doy tidak meneruskan kalimatnya, karena Sigit membisikkan sesuatu ke kupingnya. Tak lama ia tersenyum.
“Oke kalau memang lo maunya gitu, tapi sebelum lo pergi dari sini perpisahan dulu dong sama temen-temen di sini. Kita minum-minum dulu, gue yang traktir,” Kata Bang Doy tiba-tiba. “Sorry bang, gue mau langsung pulang aja nih,”
“Rob, Rob, ayolah minum dikit doang. Bentar aja,” Sigit coba meyakinkanku. Dan tidak bisa membuatku menolak.

“Halo, bang! Abang di mana?” suara Ibnu terdengar di ujung telepon.
“Lagi tempat temen, bentar lagi pulang, kenapa?”
“Cepet pulang ya bang, nggak tahu kenapa Ayah sama Ibu minta maaf tadi sama aku, katanya Ayah sama Ibu mau mulai dari awal lagi. Mau kita jadi keluarga utuh lagi bang,” terdengar suara Ibnu begitu gembira. Aku pun tersenyum simpul. “Iya, abang pasti cepet pulang,” ku tutup telepon sambil tersenyum. Terima kasih Tuhan, engkau memberikanku hadiah yang selama ini aku impikan.
“Bro, minum dulu dong. Kan ini acara lo,” Sigit menyodorkan minuman keras padaku.

Aku menerima dan meminumnya. Aku sudah terbiasa minum-minum seperti ini. Tapi hanya sebatas ini. Aku sama sekali belum pernah dan tidak akan pernah mau mencoba barang haram yang selama ini aku jual. Dari yang bubuk, suntik, atau yang lain-lainnya. Tanpa sadar aku terus dipaksa minum oleh Sigit dan teman-temanku yang lain. Tubuhku jatuh ke lantai. Terlalu banyak minum membuat kepalaku pusing, pandanganku sudah tidak jelas. Aku melihat beberapa orang mendekatiku dan menyuntikkan sesuatu kepadaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pandanganku mulai gelap. Tapi aku masih bisa mendengar mereka tertawa ketika busa ke luar dari mulutku.

“Hahaha… mampus lo,” terdengar suara, tapi aku tidak tahu itu suara siapa.
“Berapa banyak lo kasih ke dia?” tanya seorang lagi.
“Gak tahu juga, asal aja,” jawab yang lain sambil tertawa disusul tawa yang lain.
“Kita langsung buang aja ke sungai ujung jalan,” perintah salah satu, yang aku rasa suara Sigit. Setelah itu aku tidak mendengar apa-apa lagi. Pandanganku gelap. Ayah, ibu, Ibnu.. aku pulang.

Cerpen Karangan: Kartika
Facebook: Kartika

Cerpen Aku Pulang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Seorang Sahabat

Oleh:
Hari ini cuaca sangat cerah. Seperti hari-hari biasanya, aku menyusuri jalanan untuk berangkat sekolah, aktivitas pedagang dipinggir jalan dan para pengamen dilampu merah sudah menjadi pemandanganku setiap hari. Letak

Mentari Pun Masih Tetap Tersenyum

Oleh:
Pagi ini langit bergelayut cuaca yang sangat cerah, dengan cahaya matahari menatap tajam ke arah bumi. Sinarnya yang tajam menyengat lembut menyapa tubuh tubuh manusia yang berkerumun di pinggir-pinggir

Liburan Sharmilla

Oleh:
Namaku Sharmilla aku tinggal di sebuah kota namanya kota Virvale dan aku bersekolah di sebuah Sekolah Dasar yang terkenal favorit, aku punya 2 orang saudari, satu kakakku namanya Rashel

Kepergian Sahabatku

Oleh:
Di pagi hari yang cerah. Aku dan sahabat ku berjalan bersama kesekolah. Di setiap perjalanan kami selalu tertawa dan bercanda. Hari-hari ku pun ku jalani bersama nya. Di setiap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *