Aku Rindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 March 2018

Debu-debu berserakan, seakan menjadi penghias di kampung sudut kota. Menuangkan diri ke suasana desa yang cukup ramah dan penuh kesunyian.
Entah apa yang para penduduk itu lakukan, mungkin sebuah pekerjaan yang sedikit menghasilkan uang. Yang bisa membeli makanan pokok dan membiayai sekolah anak mereka masing-masing.

“salam, kemari!”
“sebentar mak,”
“apa katamu? Sebentar? Ke sini kau.” Bentak seorang wanita setengah baya sambil menyeret anak yang kira-kira berumur 10 tahun dari belakang dapurnya yang kumuh. Telapak kaki mereka hitam bagaikan alas kaki. Tanah memang selalu dekat dengan mereka, Seakan tidur pun harus dibawa.

“kau kerjakan itu.” Tutur limah sambil menunjuk pinang yang berhamparan di sudut rumah. Pinang yang dulunya berwarna kuning langsat kini berubah menjadi pucat pasi.
“huuh..” lenguh bocah itu tanda mengiyakan. Diambilnya parang yang tak jauh dari pinang terhampar. Mulailah ia membuka satu persatu pinang pucat itu penuh kejengkelan.

“apa yang kau lihat?” bentak limah seperti hendak memakan, ketika ia melihat salam meliriknya.
“kuambil kau dari tong sampah orang orang kaya, lalu apa balasanmu? Tak mau sedikitpun membantuku?” sambungnya lagi sambil mendorong-dorong kepala anak yang ia beri nama salam dengan kasar. Jika tak pandai bocah kecil itu memegang golok tajam, bisa saja tangannya putus dihantam besi tersebut.
Salam tak bergeming ia seperti telah biasa menerimanya.
Memang berkat limahlah salam bisa hidup sampai saat ini, dulu sekitar 6 tahun yang lalu limah menemukan anak kecil yang menangis di tumpukan sampah.

Bulan terlihat amat terang, menghiasi langit malam. Gerlab gerlib bintang membuat langit seperti tersenyum dengan tenang.
Salam duduk sambil bertengkuk tangan di jendela rumahnya yang reyot. jendela yang terbuat dari kayu itu terlihat amat usang, sudah hampir keropos dimakan rayap. Ia tatap pohon jati yang tak jauh dari samping rumahnya dengan tatapan iba. Entah apa yang bocah itu rasakan. Mungkin sakit, atau kasihan pada dirinya sendiri.
Kasihan lantaran tak pernah mengecap pendidikan selama hampir 10 tahun ia hidup. Apa itu salah ibunya? Atau memang ibunya tidak punya uang untuk menyekolahkannya?

Terkadang salam iri pada teman-temannya yang bisa memakai baju merah putih, sama dengan lambang bendera negara mereka. Walau baju-baju yang dipakai temannya tak sebagus baju-baju anak kota yang ia lihat tiap hari senin, ketika ia membantu ibunya menjual karet di perlelangan. tapi ia tetap ingin memakai baju kebanggaan itu.

“apa yang kau lakukan di sini? tak mau kah kau tidur? Atau hendak menghitung bintang di langit?” sergap limah ketika melihat salam. Salam tak menjawab kata-kata ibunya. Ia langsung beranjak ke tempat tidurnya yang lusuh. ia tarik selimut yang sudah robek dari ujung kakinya, dan langsung memejamkan mata seakan tak mendengar wanita itu mengoceh dari tadi.

“ibu-ibu…” teriak salam. tetapi tak ada jawaban. Ia langkahkan kaki mungilnya ke luar rumah, diliriknya sekeliling rumah yang tampak berantakan.
“ke mana ibu?.” batinnya. Ia juga tak melihat anak-anak berangkat ke sekolah yang biasanya melewati jembatan baru dibangun pemerintah yang berjarak 20 meter di samping rumahnya. Berarti hari memang sudah siang.

Salam tak mengerti apa yang terjadi, biasanya ibu selalu membangunkannya dengan kasar jika ia telat bangun sebentar saja. Tapi hari ini tidak, limah ibunya malah meninggalkan salam begitu saja di tempat tidur.

Ia ambil pisau pendodos karet, dan langsung menutup rumah papannya, tanpa mengisi perut sedikit pun. Cacing-cacing di perut salam yang kecil tidak pernah berkomentar atau memberontak, mungkin karena telah terbiasa menerima keadaan seperti itu.

Sesampai di kebun karetnya yang tak terlalu luas mata salam tidak berkedip sedikitpun mencari sosok ibunya, tapi ia tak melihat apapun, kecuali bebatangan karet yang berjajar rapi. langsung saja ia dodos batang karet itu dengan keras, sekeras tenaga yang ia punya. Batang perbatang ia habiskan dan akhirnya ia pun selesai. Bocah itu pun langsung pulang, berharap akan menemukan ibunya di rumah. tapi lagi-lagi ia tak menemukan wanita separuh baya itu, bahkan bayangannya pun tak terlihat.

salam duduk di tepi tungkunya. Memandang api yang menyala berharap cepat memasakan ubi yang baru ia rebus. pikiranya selalu kembali ke masa-masa yang lalu. Ketika ibunya mengatakan ia binatang, anak yang tidak berbudi, bahkan ketika ia sakit atau terjatuh di jalan setapak ketika hendak ke kebun, ibunya tidak pernah membantu atau menanyakan apa yang terluka. Tetapi malah mengatakan.
“dasar bodoh, berdiri kau.”

Salam Tidak pernah mendapatkan manjaan atau belaian dari ibunya seperti anak-anak orang kota yang ia jumpai. Kecuali ketika malam itu, malam ketika salam benar-benar sakit parah. Entah itu mimpi atau bukan, yang jelas salam melihat ibunya mengusap wajah dan kepalanya dengan air dari akar lundang, air itu amat dingin. Sedingin wajahnya kala itu.
Mata ibunya menatap salam penuh sendu.

“salam kau harus berdiri sendiri, menata hidup sendiri dan tak akan pernah menyerah dalam keadaan apapun.” Tutur wanita itu penuh kelembutan.
Salam pun mengangguk dan terpejam di dalam hangatnya dekapan ibu. Namun ketika salam terbangun pagi-pagi ia tak menemukan kehangatan yang ibunya berikan tadi malam. malah wanita berkulit hitam itu memukul pundak salam dengan kasar, dan menyuruhnya bangun. “mungkin tadi malam hanya mimpi.” Batin salam.

“salam…. salam…” seseorang memanggil salam dengan nada suara yang agak keras, ia tersadar dari lamunannya. Air yang menyelimuti ubi terlihat telah mendidih. Tapi ia tak peduli, langsung saja ia keluar menuju suara, berharap itu adalah ibunya. Namun ternyata bukan. Mak kasim yang datang. Salam tertunduk, entah mengapa ia amat merindukan ocehan ibunya, bahkan ia ingin wanita itu memukulnya kala ini. Rasanya sudah terlalu lama ia meninggalkannya.

“ada apa mak?” tanya salam agak kecewa.
“kubawakan kau ubi yang telah masak.” Jawab mak kasim, sambil mengulurkan kantong asoi berwarna hitam pekat.
“terima kasih mak.” Ucap salam dengan nada suara sedikit tertekan.

Salam melirik ke luar rumah seakan ada yang ingin ia lihat, mentari sudah hampir menghilang, cahaya merah senja telah memancar di ufuk langit. Burung-burung kecil berterbangan di bawah awan. Seakan menikmati waktu pergantian tuhan.

“apa yang kau cari lam?” tanya mak kasim. Salam tak bergeming, matanya seakan memancarkan warna kerinduan.
“salam, apa yang kau cari?” tanya mak kasim lagi.
“ibu.” Lirih salam.

Mak kasim langsung memeluk salam dengan erat. Ia tahu bahwa salam amat terpukul atas kepergian ibunya sebulan yang lalu.
“ibumu telah bahagia di sana bersama tuhan salam, sekarang aku lah ibu mu.” Tutur mak kasim penuh kehangatan.
“apa ibu menginginkanku mandiri dan bisa bangkit sendiri?” tanya salam seakan telah memahami apa alasan perlakuan ibunya selama ini.
Mak kasim hanya menjawab pertanyaan salam dengan anggukkan. ia masih mendekap salam dengan erat, air mata wanita yang telah lanjut usia itu mengalir di kedua pipinya yang keriput.

“ibuku tak sejahat yang kupikirkan, ia wanita yang benar-benar hebat, aku masih ingin mendengar ocehanya, aku masih ingin mendapat pukulan ibu mak.” jelas salam hampir tak terdengar.

Mak kasim langsung melepas dekapan mereka, ia pegang bahu salam dengan kedua tanganya yang mulai menua. “kau pasti akan mendapatkanya kelak nak, percayalah. Tuhan akan mengembalikanmu ke ibumu, dan mengembalikan ibumu ke kamu ketika kau sudah menyelesaikan semuanya, serta ketika tuhan memang telah berkehendak. Kau mengerti?”
Salam hanya menganggukan kepalanya tanda bahwa ia memahami.

Cerpen Karangan: Milnadiatul Hasanah
Facebook: Nadya Sherly
TTL: Jambi 22 Juli 1998

Cerpen Aku Rindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persembahan Untuk Sang Kakak

Oleh:
Termenung ia dibuatnya, memikirkan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Laras namanya, gadis cantik, baik, pintar, dan sangat piawai bermain piano. Taburan bedak kini telah merekat di wajahnya, sisir

Indahnya Perbedaan

Oleh:
Siang ini terik matahari begitu menyengat kulit. Sebentar aku melongok ke atas. Silau sinarnya menerpa wajahku. Langsung saja ku tutup mata dengan tangan kiriku. Kulangkahkan kaki berjalan mencari tempat

Best Friend

Oleh:
Siapa aku? aku adalah sesosok yang bisa berubah kapan saja. Tapi aku hanyalah sesosok manusia yang lemah, lemah dari segala macam yang sensitif terhadap segala yang membuatku terluka. Kadang

Percayalah

Oleh:
Langit mendung. Tapi belum ada setetes pun air kehidupan yang turun dari langit. Rasanya, hujan itu masih menggantung enggan untuk turun. Awan itu muram. Mungkin menahan tetesan air agar

Kontes Dangdut Semilyar (Part 1)

Oleh:
“KONTES DANGDUT SEMILYAR Sesion 7!! … datang dan ikutilah kontes dangdut terbesar tahun ini,” Riri membaca keras-keras. Mungkin sebuah brosur online. Ia sangat serius membaca dan memahami isi dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *