Alam Kita Alam Rasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 December 2020

Kita semua yang sekarang masih hidup di dunia ini akan terus merasakan dua hal hidup ini sedang suka atau sedang benci, sedang merasa bahagia atau sedang merasa menderita. Dua hal tersebut akan terus menemui setiap diri yang masih hidup di dunia ini.

Siang hari Minggu ini Kang Lucif yang sedang berdiri di belakang etalase makanan jualan istrinya, sekedar menemani berjualan.
Istri Kang Lucif diluar warungnya berkata, “Bapa ada yang nanyain pa nih!”.
“Siapa bu… ini bapak di dalam warung bu sedang membuat kopi bu, suruh masuk saja bu.” Kang Lucif menjawab pelan.
Dan seorang lelaki kira kira berumur 38 atau 40 tahun masuk menemui kang Lucif sambil menyodorkan tangan kanan menyalami tangan kang Lucif.

Setelah berbicara mengenalkan diri lelaki tersebut oleh kang Lucif diajak ke dalam rumah, karena kurang baik ngobrol diwarung kopi istrinya.
“Pa Nto, kalau aku boleh tanya, dari siapa bapa tahu tempat dan nama aku pa, bapa jauh dari kota hingga mau datang ke sini?” Kang Lucif membuka pembicaraan setelah berdua duduk di ruang tamu rumahnya.
“Kang lucif, saya mendapat petunjuk dari teman saya, pak De temannya Pak Ed kang, dan Pak De memberi petunjuk untuk bertanya kepada akang tentang persoalan saya.” Pa Nto menjawab sambil menatap kang Lucif.
“Dan pa De itu sebagai temannya Pak Nto, kenapa bisa memberi petunjuk harus menemui aku pak, coba sedikit jelaskan pak.” Kang Lucif tetap penasaran dengan kedatangan Pak Nto.
“Begini kang, Pak De tiga bulan yang lalu sedang mengalami masalah di rumahtangganya, dan setelah berbicara dengan Pak Ed temannya Pak De berhasil mengatasi persoalan rumah tangganya kang, malah hari ini Pak De menikah lagi dan itu direstui oleh istrinya kang, dan dengan aku sendiri saat ini sedang mengalami masalah dalam rumah tangga kang, makanya pak De memberi arahan kepada aku untuk bisa menemui akang.” Pak Nto menjelaskan apa adanya.

“Oh… begitu ya Pak, dan dengan Pak Nto sendiri sedang mengalami persoalan dengan rumah tangganya, emang bapak bagaimana dengan masalahnya, terus bapak sudah memiliki anak berapa sekarang?” Kang Lucif terus menggali perkara dari tamunya.
Pak Nto kembali menjawab apa yang ditanyakan oleh Kang Lucif tanpa ragu, sambil mengeluarkan dua lembar Photo istrinya dari tas gendongnya.
“Ini kang istri saya, alhamdulillah saya dengan istriku telah dikaruniai Dua orang anak kang, namun setelah usaha saya bangkrut sikap istri saya berubah kang, sepertinya ia tidak lagi menyukai saya kang.” Pak Nto berhenti bicara sambil menarik napas dalam.
Kang Lucif hanya tersenyum sambil menatap tamunya yang kelihatan semakin berat dalam persoalan yang menimpa pikirannya.

“Kang aku sudah bertanya kesana sini, malah ada yang mengatakan kalau istri saya sudah ada yang menggoda diluaran sana, terus aku sudah melaksanakan petunjuk dari orang yang didatangi, namun tidak ada perubahan dengan sikap istri saya kang, malah makin terasa dingin kang, kurang peduli dengan saya lagi kang, duh.” Pak Nto semakin terbawa dengan pikirannya yang sedang tertekan.

Kang Lucif tetap tersenyum menanggapi sikap tamunya, terus berkata pelan, “Pak Nto, maaf ya, sesungguhnya bapak datang ke aku kurang tepat, sebab aku bukanlah termasuk orang yang bisa atau dukun, atau kyai atau apalah namanya, namun tiada salahnya aku memberikan pendapat, semoga Pak Nto datang ketempat aku tidak salah, tidak seperti sebelumnya Pak Nto mendatangi orang dan memberi pekerjaan harus begini harus begitu, namun tetap tidak ada perubahan, malah jelek jeleknya Pak Nto di mintakan biaya untuk syarat ini, itu lah…”.
“Ya Kang… aku tetap ingin kembali harmonis dalam rumah tangga bersama istriku kang.” Pak Nto menegaskan kepada Kang Lucif penuh harap.
“Oh itu harus diupayakan Pak, apalagi anak anak kita berharap kalau kita sebagai orangtuanya jangan memberikan contoh hidup penuh masalah, itu tidak baik pak, dang coba Pak Nto pikir apakah orang orang yang saat ini hidup di dunia itu tidak memiliki masalah, coba pikirkan.” Kang Lucif kembali bertanya.
“Ya kang…” Pa Nto menjawab singkat sambil menatap Kang Lucif.

Kang Lucif tetap tersenyum, lalu meneruskan bicaranya, “Pak Nto, aku sendiri sesungguhnya memiliki persoalan dengan sikap istriku sendiri, kadang pikiranku tidak mau menerima dengan tingkahnya, namun aku selalu cepat bertanya dengan perasaanku sendiri, jangan jangan diriku terlalu egois… dan aku selalu lebih dulu bertanya kepada istriku apakah ada yang salah dengan sikapku, hingga istriku berbuat begitu, jangan biarkan berlarut larut masalah hingga menumpuk berbagai persoalan…”.
Pak Nto terus mendengarkan apa yang di katakan kang Lucif

“Dan yang pak Nto perlu ketahui adalah kekuatan dan kesaktian itu bukanlah ada di dukun, di kyai atau paranormal, itu sesungguhnya semua ada pada diri kita sendiri, ada pada diri Pak Nto sendiri, yang paling utama adalah Pak Nto sendiri mau merubah segala suasana dengan sungguh sungguh, itulah kuncinya pak.” Kang Lucif berhenti bicara sambil menatap Pak Nto.
“Ya kang…” Pak Nto menjawab singkat.
“Nah insya Alloh mulai saat ini akan ada perubahan suasana rumah tangga kamu, sedatangnya di rumah nanti Pak Nto pertama meminta maaf kepada istrinya, dan terus bersabar karena hanya dengan waktulah persoalan bisa teratasi dengan penuh perjuangan tentunya.” Kang Lucif kembali berhenti sambil menatap tamunya.

“Pak Nto… ingat segala perjuangan itu harus dilandasi keyakinan dan terus berdoa, dan ingat dunia kita sekarang adalah RASA, berapa banyak manusia yang di siksa dengan perasaannya, termasuk Pak Nto, aku… ingat dunia kita sekarang adalah Dunia RASA, makanya kita harus bisa merawat dan menjaga RASA, jangan sampai terjajah, tersiksa dengan rasa.” Kang Lucif kembali berhenti sejenak.
“Ya Kang… terima kasih atas arahan dan petunjuknya, insya Alloh aku akan laksanakan apa yang akang arahkan.” Pak Nto kelihatan sedikit bersemangat.
lalu pak Nto berpamitan untuk pulang, dan Kang Lucif kembali mengingatkan bahwa, “Pak Nto jangan berputus asa, terus berupaya, berjuang, landasi dengan doa yang penuh keyakinan, pelihara dan jaga Rasa…”.

Cerpen Karangan: Ahmad Muhammad Alawi
Facebook: facebook.com/aji.rasha.5

Cerpen Alam Kita Alam Rasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Foto Kusam

Oleh:
Bintang-bintang gemerlap penuh cahaya, dilengkapi oleh sang rembulan yang menghiasi malam itu penuh dengan kesunyian. Aku yang masih duduk terpaku di teras rumah kosku sambil memandangi foto kusam yang

Oemar Bakrie

Oleh:
Guru, sebuah profesi yang jarang diminati karena gajinya yang sedikit, sedangkan biaya kuliahnya cukup mahal, itulah pandangan masyarakat terhadap guru, begitu juga menurut Anto Mulyanto, dia begitu menyesal menjadi

Kesederhanaan Yang Hakiki

Oleh:
Tidak punya bukan berarti tidak mampu. Mampu sudah pasti punya tapi belum tentu bahagia. Banyak teman-temanku yang hidupnya mampu atau bisa dibilang kaya, tiap harinya hanya mengeluh dan mengeluh.

Dinding Es Mencair

Oleh:
Aku percaya semua dapat berubah termasuk rasa. Dua orang saling berhadapan seorang pria dan seorang wanita. Pria menatap wanita wanita membalas tatapannya. Mereka berdua dikelilingi oleh banyak orang yang

Sahabat Slamanya

Oleh:
Senja yang dulu indah sekarang seakan tak berarti lagi pada seorang gadis yang sedang merenung karena telah kehilangan sahabat-sahabatnya yang slalu menemani suka maupun duka. Dulu sewaktu aku duduk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *